BAB-21. PENGAKUAN.
“Sahabat Sahila yang kumaksud adalah Sekar.”
Setelah kepergian Sekar, kami memutuskan duduk di salah satu kursi panjang di sana. Sekar kembali bekerja, dia mungkin masih terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba. Juga perkelahianku dengan Evron. Semua terjadi begitu cepat. Sekar pasti kewalahan mencerna semuanya sendiri.
“Bang,” Evron menyeka darah yang keluar dari ujung bibirnya. Kami hampir menghabiskan tisu satu kotak hanya untuk membersihkan luka. “Jadi, dia Sekar yang jadi nasabah di kantor kita?”
Aku mengiyakan dengan anggukan. “Benar. Dia mengambil pinjaman sebelum gue bergabung dengan kantor Dante. Kukira sejak awal lo tahu atau minimal pernah melihatnya sekali.”
“Tidak. Aku pun tidak menduga mereka adalah Sekar yang sama. Aku hanya mendengar sekilas dari p