BAB-23. JATUH CINTA MEMANG…
“Aman.” Sekar menjawab sambil mengangguk pelan. “Sejujurnya aku hampir menyerah. Kalau semester ini aku tidak bisa menyelesaikannya dengan baik, maka aku akan benar-benar menyerah.”
“Seharusnya kamu mengatakan padaku soal kuliah dan Sahila. Aku akan membantumu.”
Sekar mengembuskan napas panjang. “Aku sudah banyak menyusahkanmu. Lagipula kita tidak sedekat itu,” Ia beringsut mundur dan aku balik menariknya lebih dekat.
“Kamu mau kita sedekat apa?” tantangku. “Aku bisa menempel padamu 24 jam kalau kamu kita semakin dekat.”
“Heh!” Sekar melolot sambil memukuli dadaku. “Jangan gila!” bentaknya sambil tertawa lebar. Tawa dan senyum Sekar adalah salah satu yang paling aku rindukan selama ini.
“Aku merindukanmu.” ucapku sambil menariknya ke dalam pelukan. “Maaf t