BAB-31. RUMAH BARU.
“Rumah siapa ini?”
“Rumah seseorang.”
“Kenapa kita di sini?”
“Kita akan tinggal di sini mulai sekarang.” Sekar turun dari mobil setelah aku membuka pintu untuknya. “Aku juga akan pindah kemari.”
Sekar memandangi rumah itu dari ujung ke ujung lalu atas ke bawah. Ia tampak takjub dengan desain rumah tersebut. Rumah ini resmi menjadi milikku sejak aku kuliah kedokteran tahun pertama. Papa membelinya agar aku bisa pulang dan pergi lebih cepat ke kampus. Letaknya tak jauh dari kampus, dilengkapi dengan seorang supir, bibi, dan satpam. Mereka menyiapkan segalanya agar aku bisa kuliah dengan baik dan hanya fokus belajar.
“Ruma keluarga Evron?” tanya Sekar dengan polosnya.
Aku tidak menjawab. Sampai sekarang aku masih ingin menyembunyikan identitasku sebagai Putra Mahkot