BAB-30. SEBUAH JANJI.
“Sudah tidur?” tanyaku seraya melepas kemeja lalu meletakkan di kursi. Kulit seputih salju itu bercahaya di dalam kegelapan. Sekar berbaring membelakangiku, membuatku bisa melihat nyaris sebagian besar tubuhnya dari ujung kaki hingga pahanya. Aku meneguk saliva kasar. Astaga! Godaan macam apa ini?
Aku berbaring di sisi Sekar, menatap langit-langit, menjaga jarak karena takut menyentuhnya dan membuat Sekar salah paham. Entah tubuhku yang mendadak menghangat atau suhu ruangan yang tiba-tiba naik. Tanganku berkeringat tanpa sebab.
“Butuh coklat?” tanya Sekar dengan suara serak, masih membelakangiku.
“Ha?”
Sial! Aku paham maksudnya sekarang.
“Tidak? Oke! Kita tidur!” Sekar menarik selimut untuk dirinya sendiri. Membuatku tidak bisa lagi melihat kulitnya itu. Aku mer