Bab 4: Jejak Jiwa yang Hilang
Hutan gelap menyelimuti mereka ketika Rael dan Lira kembali berjalan setelah evaluasi terakhir. Kabut tipis menempel di tanah, menghidupkan aroma tanah basah dan dedaunan yang lembap. Meski ujian hari itu selesai, Rael masih merasakan detak dalam kepalanya—suara itu, lebih halus, lebih memanggil.
“Rael… kau masih merasa itu?” tanya Lira sambil menatapnya dari samping, cahaya bulan memantul di busurnya.
Rael mengangguk pelan, matanya menatap ke depan tanpa benar-benar melihat. “Iya… tapi sekarang… rasanya ada sesuatu yang lebih.”
Seketika, bayangan samar muncul di antara pohon. Tidak seperti sebelumnya—ini bukan ujian dari Penghapus, bukan ilusi bayangan dirinya sendiri. Bentuknya lebih lembut, hampir seperti… manusia. Bentuk itu bergerak cepat, tetapi tidak menyerang.
Rael menelan ludah, napasnya tercekat. “Lira… itu… sepertinya…”
Lira mengikuti pandangannya, alisnya mengerut. “Itu… energi jiwa. Kuat, tapi… terjebak.”
Mereka mendekat dengan hati-hati. Cahaya ungu tipis menempel di tanah, membentuk jalur seperti bekas langkah yang perlahan menghilang ke dalam kabut. Rael merasakan gelombang emosi—keputusasaan, kesedihan, namun ada kehangatan samar yang familiar.
“Ini… bukan monster,” ucap Lira lirih. “Aku… aku merasa ini milik seseorang yang sudah pergi dari dunia ini, tapi… jiwanya tetap ada.”
Rael menunduk, menyadari sesuatu. “Suara itu… selama ini… apakah kau…?”
Lira menatapnya, mata berkilau. “Rael… ini… mungkin jiwa penerima quest lain. Salah satu yang… tersisa setelah kematian.”
Detak jantung Rael meningkat. “Aku harus… mendekat?”
“Tidak,” tegas Lira, memegang lengannya. “Ini bahaya besar. Jiwa seperti ini… bisa tersedot ke dalam sistem jika kau mencoba menolongnya tanpa persiapan.”
Rael menatap Lira, matanya penuh keteguhan. “Kalau ada yang bisa kulakukan, aku akan melakukannya. Aku tidak bisa… membiarkan seseorang hilang begitu saja.”
Lira menarik napas panjang, lalu tersenyum lemah. “Kau selalu keras kepala, ya… Tapi… aku akan bersamamu.”
Mereka melangkah perlahan mengikuti jalur cahaya ungu itu, hati-hati. Namun semakin jauh, jalur itu menghilang, dan kabut semakin tebal.
Tiba-tiba, sebuah dentuman keras terdengar, dan bayangan ungu itu menghilang, digantikan oleh ruang kosong. Namun di udara, Rael merasakan sentuhan lembut—seperti tangan seseorang menempel di dadanya. Suara itu, bukan di telinga, tapi di pikiran:
Rael… jangan biarkan aku hilang…
Rael menelan ludah. “Aku akan… aku akan menemukanmu.”
Lira menggenggam tangannya lebih erat. “Kita harus kembali… tapi kita akan menemukan jalannya, bersama.”
Rael mengangguk. Di dalam hatinya, sebuah tekad baru muncul—lebih kuat dari sebelumnya. Tidak hanya untuk menyelesaikan quest, tetapi untuk jiwa yang hilang, untuk Lira, dan untuk mereka yang tak bersuara lagi.
Di kejauhan, kabut bergetar, dan bayangan ungu muncul sekali lagi, lebih jelas, seperti menunggu. Rael menatapnya, jantungnya berdegup kencang—sebuah janji tak terucap terbentuk di hatinya:
Aku akan membawamu kembali.
---
Bab 3: Uji Kelayakan
Kubah cahaya putih menelan desa runtuh itu, memisahkan Rael dan Lira dari dunia luar. Udara terasa kental, hampir menekan d**a, dan aroma sihir tua menguar di setiap inci. Rael merasakan denyut di kepalanya—suara asing itu, kini lebih dekat dan lebih jelas, berdesis di balik kesadarannya.
“Rael… fokus,” bisik Lira, tangannya masih menggenggam lengan Rael. “Mereka akan menguji kita.”
Rael mengangguk, pedang di genggaman terasa berat sekaligus hangat. “Siap,” jawabnya pelan, menelan gugup yang tak tampak di matanya.
---
Cahaya di sekeliling mereka tiba-tiba memudar, diganti oleh lantai hitam mengilap yang memantulkan bayangan mereka. Sosok Penghapus berdiri melingkar, masing-masing menyilangkan tangan, memancarkan aura mengintimidasi.
“Evaluasi pertama: adaptasi cepat,” kata salah satu dengan suara datar. “Kalian hanya memiliki waktu satu napas untuk menunjukkan sinergi.”
Tanpa aba-aba, bayangan-bayangan hitam memancar dari lantai. Bentuknya seperti kabut pekat, namun padat, menyebar menuju Rael dan Lira dengan kecepatan yang menakutkan.
Rael menoleh ke Lira. “Bersiap!”
Lira mengangguk, melepaskan busurnya. Tiga anak panah melesat serempak, membelah bayangan yang menyerang dari sisi kanan. Rael mengayunkan pedangnya, membelah kabut yang mencoba menelan mereka.
Namun bayangan itu terus membentuk ulang diri, semakin cepat dan padat.
[Skill Pasif: Dual Soul Resonance (A) – Aktivasi Parsial]
Sekejap, pandangan Rael melambat. Ia merasakan detak jantung Lira, suara napasnya, dan gerak bayangan yang menyerang—semuanya jelas, terpisah tapi terhubung. Tubuh Rael bergerak dengan presisi yang tidak biasa. Pedang dan panah Lira menari bersama, menyingkirkan bayangan tanpa kehilangan ritme.
“Lira, ke kiri!” teriak Rael. Lira melompat, memutar anak panah terakhir, tepat saat bayangan menyerang dari atas.
Satu bayangan memecah diri menjadi tiga, menyerang Rael dari arah berbeda. Rael menendang ke udara, menebas satu, sementara dua lainnya meluncur melewati tubuhnya. Lira menembakkan panah, memecahkan salah satunya, dan yang terakhir hancur ketika Rael menancapkan pedangnya ke tanah, memanfaatkan energi dari setiap gerakan mereka.
Namun kubah cahaya bergetar, memberi tanda evaluasi belum selesai. Penghapus tidak bergerak, hanya menatap, wajahnya tetap tersembunyi.
“Adaptasi… cukup,” kata salah satu, mencondongkan kepala. “Evaluasi kedua: ketahanan mental.”
Seketika, dunia berubah. Desa runtuh menghilang, diganti hutan malam yang pekat, dengan suara-suara yang menakutkan—jeritan, langkah kaki tak terlihat, bisikan asing.
Rael menatap sekeliling, jantung berdegup kencang. “Lira… ini hanya ilusi,” ucapnya, tetapi suara itu menembus pikirannya: Apakah kau yakin? Apakah aku bisa dipercaya?
Lira menggenggam tangannya. “Rael, jangan dengarkan. Itu hanyalah ujian. Kita… kita bersama.”
Namun bayangan di antara pepohonan mulai membentuk sosok familiar: sosok Rael sendiri—dengan mata ungu yang menatap dingin, tubuhnya bergerak seperti menirunya.
“Ini… aku?” Rael terengah. Tubuhnya terasa berat, napasnya terhenti sesaat.
“Bukan kau!” Lira menjerit, melepaskan mantra perlindungan ringan, cahaya merah menyelimuti mereka. “Itu bayangan dari dalam pikiranmu!”
Rael menutup mata, merasakan energi asing berdesak di dalam dadanya. Suara itu—yang selalu memanggilnya—muncul lagi, lebih dekat dari sebelumnya.
Kau bisa… tapi jangan biarkan dia… pergi…
Rael menelan ludah, tangannya gemetar. “Lira… aku… aku bisa… menghadapi ini… bersama kamu.”
Lira menatapnya dalam, dan untuk pertama kali, jarak mereka terasa lenyap. Kekuatan mereka tidak hanya sinkron di medan tempur, tapi juga di hati—detak, napas, bahkan emosi mereka berpadu.
Rael membuka mata. Dual Soul Resonance aktif sepenuhnya.
Bayangan Rael yang menakutkan itu bergerak, mencoba menyerang, tapi gerakan Rael dan Lira terlalu sinkron. Pedang dan panah menari dalam harmoni sempurna, memecah bayangan menjadi butiran cahaya ungu yang menghilang di udara.
Kubah cahaya memudar. Suasana kembali normal. Penghapus menatap mereka tanpa ekspresi.
“Cukup untuk hari ini,” ucap salah satu. “Kalian menunjukkan… sinergi yang tidak lazim. Namun ujian sesungguhnya baru akan dimulai.”
Rael menatap Lira, napas mereka masih tercampur. Tubuhnya terasa lelah, tapi hatinya hangat.
Lira tersenyum tipis, meletakkan tangan di pipi Rael. “Kau… hebat.”
Rael menatapnya lama. “Kau juga. Selalu… bersamaku.”
Mereka berdiri di tengah desa yang kini kembali kosong. Namun jauh di dalam hati Rael, getaran itu tetap ada—sebuah suara yang menunggu, mengamati, dan… menuntut sesuatu yang lebih.
---
Bab 5: Penghapus dan Jalur Terlarang
Rael dan Lira berjalan kembali menuju perkemahan, namun udara malam terasa berbeda. Setiap langkah membawa rasa tegang, seperti ada sesuatu yang mengamati mereka dari bayang-bayang pepohonan.
“Rael… aku bisa merasakan aura gelap itu lagi,” ucap Lira, menunduk sambil menatap tanah. “Tidak seperti monster biasa. Ini… Penghapus.”
Rael menegakkan tubuhnya, tangan di pedang. “Penghapus… itu berarti mereka tahu keberadaan kita.”
Lira mengangguk pelan. “Bukan hanya kita. Mereka mencari penerima sistem yang… menyimpang.” Matanya menatap Rael dalam. “Kau. Aku… kita.”
Langkah mereka tiba-tiba terhenti ketika dari balik pepohonan muncul siluet tinggi berjubah hitam, sama seperti sosok yang pernah mereka temui sebelumnya. Mata merah menyala menatap Rael tanpa berkedip.
“Penerima buku,” ucap suara itu, rendah, serak, namun penuh otoritas. “Aku sudah menunggu.”
Rael menahan napas. “Siapa kau? Apa yang kau inginkan dari kami?”
Sosok itu melangkah maju, aura gelapnya memuakkan udara di sekitar mereka. “Aku adalah Penghapus. Tugas kami memastikan bahwa penerima sistem tidak menyimpang dari tujuan.”
Lira mengangkat pedang, menempatkan diri di depan Rael. “Jika kau mendekat satu langkah, aku akan menebasmu!”
Penghapus berhenti sejenak, kemudian melangkah perlahan. “Kau membawa sesuatu yang bukan milikmu. Energi itu… mengganggu. Terlalu kuat untuk dunia ini, Rael.”
Rael merasakan detak di kepalanya—suara yang terus memanggilnya sejak beberapa malam terakhir. Kali ini, suara itu lebih jelas:
Jangan dengarkan mereka. Aku… aku di sini. Aku akan membantumu.
Rael mengerat genggaman pedangnya, napasnya terengah. “Aku tidak takut,” gumamnya. “Apa pun yang kau bawa, aku tidak akan menyerah.”
Penghapus menatapnya, seolah menimbang. “Kau benar-benar keras kepala. Tapi ini bukan pertarungan biasa. Aku bisa menghapusmu… atau menyerap kekuatan itu sebelum kau memakainya.”
Lira melangkah lebih dekat ke Rael, menyentuh lengannya. “Rael… jangan terlalu cepat bereaksi. Ini bukan tentang kekuatan fisik. Kau harus fokus pada… suara itu, pada jiwanya.”
Rael menutup mata sejenak, mendengarkan detak halus di kepalanya, suara asing yang kini terasa… akrab. Ia merasakan energi ungu yang pernah mereka ikuti di hutan, kini menempel di dirinya, memandu setiap langkah pikirannya.
Tanpa sadar, tubuh Rael bergerak. Langkahnya ringan, refleksnya cepat, aura gelap di sekelilingnya bergetar. Pedang terangkat, tetapi bukan untuk menyerang—untuk melindungi.
Penghapus menatap kaget. “Apa… ini?”
Rael membuka mata, tatapannya membara. “Aku tidak akan membiarkanmu mengambil apa yang menjadi hakku… atau haknya.”
Lira tersenyum samar, hatinya berdegup cepat. “Rael… kau bisa.”
Seketika, energi ungu di tubuh Rael menyala. Aura gelapnya memantul di pepohonan, menciptakan bayangan spiral yang memaksa Penghapus mundur. “Ini… bukan aku sendiri. Ada yang bersamaku.”
Penghapus menunduk sedikit, menahan serangan yang tidak nyata, namun terasa menghancurkan. “Jangan… ini tidak mungkin…”
Rael menatap Lira, senyum tipis di wajahnya. “Aku tidak sendiri lagi.”
Dan dari kejauhan, suara itu—lembut, penuh keteguhan, memanggilnya:
Rael… bersama kita bisa melewati ini.
Pertarungan antara kehendak sistem dan hati manusia baru saja dimulai.
---