Bab 7: Ujian di Tebing Serigala Hitam
Langit sore memerah ketika Rael dan Lira tiba di sebuah tebing curam yang dikenal sebagai Tebing Serigala Hitam. Kawasan itu dipenuhi suara lolongan panjang, gema yang membuat udara terasa lebih dingin dari seharusnya. Tanah berbatu dan akar-akar tua mencuat, memaksa mereka melangkah hati-hati.
“Serigala di sini berbeda,” ujar Lira sambil menunduk, memeriksa bekas cakaran di tanah. “Mereka bergerak dalam formasi, dan pemimpin kelompoknya biasanya monster level B tinggi.”
Rael mengamati jejak itu. Bentuknya besar, jauh lebih lebar dari serigala biasa. Ia merasakan getaran aura samar—agresif dan teratur. Dual Soul Resonance aktif tanpa ia sadari, memberi tekanan halus di dadanya.
“Kau merasakannya?” tanya Lira.
“Ya… mereka sudah dekat.”
Tak lama, lima serigala muncul dari kabut gelap yang mengalir turun dari tebing. Mata mereka menyala biru, bulu hitam berdiri tegak. Pemimpin kelompoknya, serigala dengan luka silang di wajahnya, menggeram rendah.
“Rael, jangan terpancing. Mereka menunggu celah,” kata Lira sambil menyiapkan sihir pengikat.
Serigala-serigala itu menyerbu. Rael bergerak menyamping, menyerang serigala kedua sementara Lira menahan dua lainnya. Pemimpin kelompok melompat ke arah Rael dengan kecepatan yang mengejutkan.
Cakar hampir mengenai wajahnya, namun Dual Soul Resonance aktif seketika—dorongan tak terlihat menarik tubuh Rael ke belakang, membuat serangan itu meleset tipis.
Rael memukul balik, menyerang titik lemah di bawah rahang. Pemimpin serigala terhuyung.
Lira memanfaatkan itu, melontarkan sihir pengikat, menahan gerakan kelompok tersebut cukup lama hingga Rael menghantam kepala pemimpin mereka sekali lagi dengan kekuatan penuh.
Serigala-serigala lain kehilangan kendali formasi. Dua di antaranya melarikan diri, sisanya jatuh setelah beberapa serangan cepat.
Rael tertegun, napas tersengal.
“Kau semakin cepat bereaksi,” ujar Lira sambil tersenyum tipis. “Itu instingmu… atau skill itu.”
Rael menatap tangannya. “Aku tidak tahu apakah itu bantuanku… atau bantuan sesuatu yang lain.”
Mereka mengumpulkan batu sihir yang tersisa lalu bergerak turun mencari tempat istirahat. Di celah besar batu tebing, mereka menyalakan api kecil. Lira duduk bersandar, memeriksa lukanya yang ringan.
“Serigala Hitam jarang muncul sebanyak itu,” katanya. “Ada sesuatu yang mendorong mereka keluar dari habitat.”
Rael hanya diam, namun dalam hatinya muncul firasat buruk.
Bukan hanya monster yang berubah.
Ada sesuatu di dalam dirinya yang ikut bangkit.
Malam itu, sebelum tidur, Rael menulis di buku catatannya:
“Pertarungan hari ini… membuatku sadar. Ada kekuatan lain di dalam diriku. Sesuatu yang menatap dunia lewat tubuhku. Sesuatu yang belum siap kuhadapi.”
Bab 8: Tanda-Tanda yang Mulai Terlihat
Pagi berikutnya, sinar matahari menyusup melalui celah-celah tebing. Rael bangun lebih awal, tubuhnya terasa lebih ringan daripada sebelumnya. Seakan semalam skill pasif itu bekerja memperbaiki seluruh energinya.
Lira masih tertidur, selimut tipis menutupi sebagian tubuhnya. Wajahnya terlihat tenang, jauh dari kerasnya kehidupan yang sering ia tunjukkan saat bertarung. Rael memperhatikan sebentar, lalu bangkit dan mengecek area sekitar.
Tebing itu sunyi, tetapi ketenangan yang ada bukan ketenangan biasa.
Lebih mirip… istirahat sebelum bahaya berikutnya.
Saat Rael kembali, Lira sudah bangun. Ia merapikan rambutnya sambil berkata,
“Kita harus bergerak. Ada desa kecil tak jauh dari sini. Mereka sering memberi informasi tentang aktivitas monster.”
Mereka berjalan melewati jalur berbatu yang menurun. Udara dipenuhi aroma tanah lembap dan suara gemerisik dedaunan. Setiap langkah membawa mereka lebih dekat pada peradaban, namun aura aneh tetap mengikuti.
Di tengah perjalanan, Rael berhenti tiba-tiba.
Ada sesuatu di tanah—jejak kaki. Tapi bukan manusia.
Ukurannya besar, dan bentuknya tidak simetris.
Lira berjongkok memeriksa. “Ini bukan milik monster level B… lebih tinggi. Tapi tidak seperti monster A yang biasa. Ada pola lain.”
Rael tidak menjawab. Ada sensasi dingin merayap di punggungnya, seperti sedang diperhatikan. Dual Soul Resonance kembali aktif tipis, mengingatkannya pada saat-saat ia hampir mati.
“Rael?” Lira menatapnya.
“Tidak apa-apa. Hanya firasat buruk.”
Mereka melanjutkan perjalanan. Di balik pepohonan, seekor monster kelas C menerjang dari samping tanpa peringatan. Rael menangkis dengan cepat, refleksnya jauh lebih tajam. Gerakan monster itu terbaca jelas, seolah dunia melambat hanya untuknya.
Ia menghindar, memutar tongkat dan memukul tepat di sela rusuk. Monster itu terjatuh, lalu Lira menyelesaikan dengan satu tebasan.
“Reaksimu… berbeda dari kemarin,” kata Lira.
“Aku juga merasa begitu.”
Tidak ada luka yang ia dapatkan. Bahkan napasnya tetap stabil.
Saat mereka tiba di dataran rendah, Rael kembali merasakan sensasi tajam di kepala—bukan sakit, melainkan seperti ada suara yang menekan ingatannya.
Sebuah kata melintas samar.
Bukan suara manusia.
Bukan suara dirinya.
“A—…”
Rael memegangi kepala, namun buru-buru menepis ketakutannya.
Lira berdiri di sampingnya. “Kalau ada yang salah, bilang padaku.”
Rael menatap wajahnya yang penuh kekhawatiran. “Nanti saja. Aku harus memahaminya dulu.”
Mereka tiba di desa menjelang sore. Desa itu kecil, dikelilingi pagar kayu. Penduduk tampak gelisah. Banyak rumah tutup, dan beberapa orang berjaga dengan tombak sederhana.
Seorang pria tua menghampiri mereka.
“Kalian petualang? Bagus. Kami butuh bantuan. Ada makhluk besar berkeliaran di hutan sebelah barat. Bukan monster biasa.”
Rael dan Lira saling bertatapan.
Jejak yang mereka lihat sebelumnya.
Bisa jadi itu.
Pria tua itu menambahkan, “Makhluk itu lebih cepat, lebih pintar. Penduduk kami takut keluar rumah. Kalau kalian bisa menyingkirkannya… kami akan memberikan apa yang kami punya.”
Lira mengangguk. “Kami akan memeriksanya malam ini.”
Saat malam turun dan angin desa mulai mengalir pelan, Rael merasakan sensasi itu lagi—dorongan samar, kehadiran yang bergerak dalam dirinya.
Kali ini jelas.
Bukan sekadar insting.
Ada sesuatu yang bangun.
Bab 7 – “Ruang Tanpa Cahaya”
Aroma lembap menyelimuti ruang bawah tanah ketika Rael membuka matanya. Ia tidak melihat apa pun selain gelap pekat yang seperti menggigit kulit. Nafasnya berat, bukan karena luka, tapi karena sesuatu yang terasa… salah.
Lira berdiri beberapa langkah di depannya, tapi ekspresinya berbeda—tenang, datar, tanpa amarah maupun tawa. Seolah seluruh emosinya disapu bersih.
“Apa tempat ini?” Rael mencoba mendekat, tapi tanah di bawah kakinya seperti bergerak, bergelombang tanpa bentuk.
“Zona netral.” Suara Lira terdengar seperti gema dari banyak arah. “Lokasi di antara realitas dunia kita dan labirin dimensi yang menciptakan anomali.”
Rael mengerutkan alis. “Kau tidak terlihat seperti dirimu.”
“Karena ini bukan tubuhku,” jawab Lira. “Hanya proyeksi agar kau bisa berbicara dengan… penjaganya.”
Saat kata itu keluar, bayangan raksasa muncul dari langit-langit gelap. Tidak memiliki wajah. Tidak memiliki bentuk tetap. Hanya siluet yang terus berubah seperti asap yang berputar.
Rael otomatis bersiap—tapi Lira mengangkat tangan.
“Kau tidak bisa menyerangnya. Ia membaca niat, bukan wujud.” Tatapannya menajam. “Dan ia memanggilmu, bukan aku.”
Bayangan itu membuka “mulut” abstraknya, bersuara rendah seperti bumi retak.
“Pewaris. Kau membawa dua kekuatan yang tak seharusnya bersatu.”
Rael tidak bergeming. “Lalu apa maumu?”
“Stabilitas.” Suara itu bergetar. “Jika energi yang ada di tubuhmu meledak tanpa kendali, dunia di atas akan kehilangan garis batas. Aku menawarkan pilihan.”
Lira tiba-tiba menatap Rael, namun kali ini ada rasa ragu yang sebelumnya tidak pernah terlihat.
“Jika kau memilih menerima tawaran ini,” lanjut suara besar itu, “seseorang di dunia luar akan kehilangan koneksi denganmu… selamanya.”
Rael menegang. “Siapa?”
Bayangan itu menjawab tanpa ragu.
“Orang yang pertama kali membuat kekuatanmu terbangun.”
Lira mengedip. Tersentak.
Rael memalingkan wajah, tidak percaya. “Maksudmu… dia?”
“Ya.”
Keheningan panjang merambat. Suara detak jantung Rael seperti menggema di ruang itu.
Lira menatap Rael dengan sorot yang sulit ditebak—bukan ancaman, bukan dukungan. Lebih seperti… keputusan yang tidak boleh ia campuri.
“Aku tidak bisa membantumu memilih,” ucap Lira lirih.
Rael mengepalkan tangan. “Aku tidak akan mengorbankan siapa pun.”
Bayangan itu diam sejenak, lalu menjawab, “Keberanianmu mengubah jalur prediksi.”
Cahaya tipis mulai muncul dari bawah kaki Rael, semakin terang.
“Tapi konsekuensinya… kau harus menerima beban yang bahkan penjaga pun tidak memahaminya.”
Lantai retak. Dimensi bergetar.
Lira berteriak, “Rael, mundur!”
Tapi cahaya langsung menelan tubuh Rael sebelum ia sempat bergerak.
Dan dalam hitungan detik—
Ia menghilang.
—
Bab 8 – “Fragmen yang Tersesat”
—
Cahaya itu mereda perlahan, dan Rael mendapati dirinya berdiri di tengah lapangan berumput yang asing. Langitnya tidak biru—melainkan seperti potongan-potongan kaca pecah yang tersusun acak, menampilkan cuplikan berbagai dunia di setiap retakannya.
Setiap langkah yang ia ambil menghasilkan gema ringan, seolah tanah hanya ilusi yang meniru bentuk.
“Aku… di mana sekarang?”
Tidak ada jawaban.
Tidak ada Lira.
Tidak ada bayangan penjaga tadi.
Hanya kesunyian yang terasa terlalu rapi.
Saat Rael mencoba menyentuh salah satu retakan di langit, sebuah bayangan meluncur turun dari atas, mendarat tanpa suara. Tubuhnya ramping, gerakannya gesit, dan wajahnya tertutup kain hitam dengan pola simbol samar.
Sosok itu berbicara dengan suara rendah namun tegas.
“Kau bukan penduduk ruang potongan.”
“Aku juga tidak ingin berada di sini,” jawab Rael.
“Namun kau ada di sini. Artinya kau dibuang atau dipilih.” Sosok itu melangkah mendekat. “Keduanya tidak menjanjikan keselamatan.”
Rael mengangkat dagu. “Kau siapa?”
Sosok itu menurunkan penutup wajahnya perlahan. Tampak seorang perempuan berambut hitam pendek dengan mata perak yang bergerak dinamis, seolah memindai setiap detil Rael.
“Namaku Nisha. Penjaga jalur retakan.”
Rael memicingkan mata. “Penjaga lagi?”
“Tidak sama dengan yang kau temui sebelumnya,” jawab Nisha cepat. “Aku mengawasi perpindahan liar antara dimensi. Dan kedatanganmu menyalakan alarm yang biasanya tidak pernah berbunyi.”
Ia memutar lengan, mengeluarkan sebuah bilah tipis yang bergetar seperti cahaya cair.
“Aku butuh memastikan kau bukan ancaman.”
Rael menahan diri agar tidak langsung bereaksi, tapi energi yang tertahan dalam tubuhnya terasa tidak stabil, seperti menunggu meledak.
“Aku tidak ingin melawan,” ucap Rael.
“Semua yang kubersihkan juga bilang begitu,” jawab Nisha datar.
Ia bergerak.
Sangat cepat.
Rael mencondongkan tubuh, menghindar tepat sebelum bilah cahaya itu menyentuh bahunya. Tanah yang teriris bergetar dan berubah warna menjadi merah gelap.
Nisha tidak berhenti. Serangannya bertubi-tubi, akurat, tanpa keraguan.
“Kekuatanmu mengganggu pola ruang!” serunya sambil menerjang lagi.
Rael mengangkat tangan refleks, energi putih-biru memancar dari kulitnya, membentuk perisai setengah bola.
Nisha terpental sedikit, wajahnya berubah serius.
“Stabilitas kacau… seberapa besar kekuatan yang kau bawa?!”
Rael sendiri tidak tahu. Dan itu lebih mengganggunya daripada serangan Nisha.
Tanah mulai pecah. Retakan di langit bergerak lebih cepat. Fragmen dunia berputar seperti badai kaca.
Nisha melompat mundur, menilai situasi.
“Kalau ini dibiarkan, seluruh ruang bisa runtuh.”
Rael mengepalkan tangan, mencoba menahan energi yang terus mendorong keluar.
“Aku hanya butuh satu hal,” katanya dengan suara tertahan.
“Apa?”
“Jalan pulang.”
Nisha menatapnya, membeku sejenak.
Kemudian ia menghela napas pelan.
“Kalau begitu… ikuti aku. Sebelum ruang ini menelan kita berdua.”
Ia membalikkan badan dan berlari ke arah celah cahaya di kejauhan.
Rael mengikuti, energi di tubuhnya bergetar seperti ingin keluar dari kendali—sementara retakan langit terus bergeser mengawasi mereka seperti mata yang tidak pernah berkedip.
—