Bab 11 – Nafas Sang Penjaga Hutan
Angin lembap hutan utara membawa aroma tanah yang basah ketika Rael membuka matanya. Tubuhnya terasa berat, seperti baru saja melewati mimpi yang terlalu nyata untuk disebut sekadar mimpi. Namun begitu kesadarannya pulih, Rael langsung menyadari sesuatu: Lira tidak ada di sampingnya.
Ia bangkit perlahan, menatap sekeliling. Matahari sore menyelinap di antara pepohonan tinggi, menciptakan bayangan yang bergerak seiring hembusan angin. Hening. Terlalu hening.
Rael menggenggam pedangnya lebih erat.
“Lira…” bisiknya, tanpa sadar.
Tidak ada jawaban. Hanya suara dedaunan yang bergesekan.
Rael mengayunkan langkah menuju jejak-jejak yang tertinggal di tanah. Jejak itu jelas milik Lira; langkah ringan khasnya meninggalkan pola yang teratur. Namun jejak itu berhenti di sebuah akar besar yang mencuat dari tanah, lalu lenyap begitu saja seolah Lira menghilang di udara.
Rael menelan ludah. “Tidak mungkin dia pergi tanpa bilang apa-apa.”
Tiba-tiba sebuah suara lirih terdengar di balik pepohonan. Rael segera menegangkan tubuh, bersiap menyerang. Namun ketika sosok itu muncul, Rael justru terpaku.
Seekor makhluk kecil—seukuran anak serigala, berwarna hijau lumut—muncul sambil terpincang. Matanya bersinar lembut, tidak menunjukkan agresi. Tubuhnya tampak terluka, beberapa garis goresan baru mengering di bulunya.
Rael menurunkan pedangnya sedikit. “Kau… bukan monster kelas A.”
Makhluk itu menatapnya lama, lalu berjalan pelan mendekati Rael. Ia berhenti tepat di kakinya, lalu duduk. Di lehernya tergantung sebuah liontin kecil berbentuk daun. Rael mengenali simbolnya. Itu adalah lambang Penjaga Hutan Tertua, makhluk yang dikenal mampu berkomunikasi dengan penerima sistem tertentu.
Rael berjongkok. “Apa kau melihat seorang gadis… rambut merah muda, pakaian hitam putih?”
Makhluk itu menundukkan kepala, lalu menyentuh kaki Rael dengan hidungnya. Dalam sekejap, sebuah cahaya hijau pekat menyelimuti tubuh Rael.
Rael terkejut. “Ini… apa?”
Cahaya itu menyatu ke dalam tubuhnya, meninggalkan sensasi hangat yang mengalir dari d**a ke seluruh tubuh.
[Sistem: Fragmen Nafas Penjaga (B) telah diperoleh.]
Rael terdiam. Nafas Penjaga adalah kekuatan langka yang hanya muncul dari monster-monster tertua. “Kenapa kau memberiku ini?”
Makhluk itu menengok ke arah utara—arah jejak Lira menghilang—lalu menatap Rael lagi. Sorot matanya penuh kecemasan.
Rael akhirnya mengerti.
“Lira… dalam bahaya?”
Makhluk itu menunduk pelan.
Rael berdiri, aura tubuhnya berubah lebih tegang. “Tunjukkan jalannya.”
Makhluk itu berjalan, walau masih terpincang, namun tujuannya jelas. Rael mengikutinya tanpa ragu, melewati akar-akar besar dan pepohonan raksasa.
Setelah beberapa menit, mereka tiba di sebuah celah sempit di antara dua batu besar. Celah itu terlalu gelap untuk dilihat tanpa cahaya.
Makhluk itu berhenti, lalu menatap Rael dalam-dalam sebelum mendorongnya pelan dengan kepala, seolah berkata: masuklah.
Rael mengambil napas panjang, mengangkat pedangnya, dan melangkah masuk ke dalam kegelapan yang pekat.
Udara di dalam celah itu terasa jauh lebih dingin. Dinding batu menyempit, menekan ruang gerak Rael. Namun di ujung lorong, Rael melihat cahaya lilin yang bergetar.
Ia mempercepat langkah.
Begitu keluar dari lorong, Rael tiba di sebuah ruangan alami yang diterangi lilin-lilin kecil yang melayang. Di tengah ruangan terdapat simbol raksasa berbentuk spiral, menyala samar warna biru.
Dan di depan simbol itu—
Lira berdiri.
Punggungnya menghadap Rael. Rambutnya terurai panjang, dan di tangannya terdapat sebuah gulungan kertas kuno yang memancarkan aura kuat.
“Lira…” Rael memanggil dengan suara pelan.
Gadis itu berhenti. Bahunya bergetar sedikit, sebelum ia perlahan menoleh. Matanya tampak berbeda—lebih dingin, namun di baliknya ada sesuatu yang rapuh.
“Rael… kau datang terlalu cepat,” katanya lirih.
Rael mendekat beberapa langkah. “Apa yang kau lakukan di sini?”
Lira memegang gulungan itu lebih erat. “Ini… sesuatu yang tidak boleh kau lihat. Tidak sekarang.”
Rael mengerutkan kening. “Kau menghilang tanpa bilang apa-apa. Kau pikir aku tidak khawatir?”
Lira menutup mata sejenak, lalu tersenyum kecil—senyum yang terlihat lebih sedih daripada lega. “Kekhawatiranmu… justru alasan kenapa aku tidak boleh membiarkanmu terlibat.”
Rael hendak berkata lagi, namun tiba-tiba simbol spiral di lantai menyala terang. Getaran kuat mengguncang ruangan.
Lira melangkah mundur. “Rael! Pergi! Tempat ini bukan untukmu!”
Rael mengabaikannya dan maju. “Lira, hentikan! Apa pun yang kau sembunyikan—”
“Rael!” Lira berteriak. “Jika kau mendekat lagi, sistem akan—”
Namun sebelum Lira menyelesaikan kalimatnya, cahaya biru meledak dari simbol itu, menyelimuti seluruh ruangan.
Rael menutupi wajah dengan lengannya, sementara Lira lenyap dalam cahaya.
Dan dari dalam cahaya yang membutakan itu…
Sebuah suara bergema:
[Fragmen tanpa pemilik terdeteksi. Aktivasi dimulai.]
Bab 12 – Pemilik yang Terpilih
Cahaya biru itu mereda perlahan, meninggalkan hawa dingin yang merayap di kulit Rael. Ketika pandangannya kembali jelas, ia mendapati ruangan itu telah berubah total. Lilin-lilin melayang padam, simbol spiral di lantai retak seperti kaca yang dilempar dari ketinggian.
Dan Lira… tidak ada.
Rael menegang. “Lira!”
Suara panggilannya memantul kosong, seolah ruangan itu menelan setiap gema.
[Sistem: Fragmen Tidak Bertuan terhubung.]
Rael mendongak cepat. “Apa maksudmu?”
Dari retakan spiral, asap tipis berwarna biru naik, lalu berkumpul menjadi wujud humanoid kabur—seperti bayangan yang tidak punya bentuk pasti. Mata Rael membelalak ketika wujud itu mengangkat wajah tak berbentuknya.
“Seseorang telah menyentuh fragmen yang bukan haknya,” bisik suara itu, lembut namun terdengar seperti berasal dari banyak mulut sekaligus.
Rael menarik pedangnya. “Di mana Lira?”
Bayangan itu memiringkan kepala. “Dia berada di tempat yang tidak bisa dijangkau manusia biasa.”
Rael maju langkah. “Bawa aku ke sana.”
Suara itu tertawa pelan, terdengar seperti gema yang pecah. “Keinginanmu besar, tapi tubuhmu rapuh. Hanya pemilik fragmen yang bisa memasuki ruang antara.”
Rael menggertakkan gigi. “Aku punya fragmen Nafas Penjaga. Itu memberiku akses.”
Bayangan itu terdiam beberapa detik, lalu mendekat. “Kau… punya aroma itu. Nafas Penjaga… yang berarti makhluk itu telah memilihmu.”
Rael tidak mundur sedikit pun.
“Kalau begitu,” lanjut bayangan itu, “aku akan memberimu pintu. Tapi apa yang ada di balik pintu itu… tidak akan menunggumu dengan tangan terbuka.”
Rael menegakkan postur. “Aku tidak peduli.”
Retakan spiral menyala kembali, biru gelap, lalu membentuk sebuah lingkaran penuh cahaya di hadapan Rael—seperti permukaan air yang bergetar.
[Gerbang Ruang Tanpa Pemilik – terbuka.]
Rael menelan ludah. “Aku datang, Lira.”
Ia melangkah masuk tanpa ragu.
---
Tepat saat tubuh Rael menembus gerbang itu, dunia di sekelilingnya terhimpit seperti sedang ditarik ke dalam tabung sempit. Suara angin, gemerisik batu, bahkan detak jantungnya sendiri seolah teredam. Tiba-tiba sesuatu menariknya ke bawah, keras.
Rael jatuh, menghantam permukaan yang tidak keras namun juga tidak empuk—seperti tanah berlapis gelombang udara.
Ia bangkit perlahan.
Ruangan ini… bukan hutan, bukan gua, tapi sesuatu di antara dunia: langit tidak punya matahari, hanya cahaya samar ungu-abu yang datang dari arah yang tidak jelas. Permukaannya seperti air tenang, tapi setiap langkah tidak menimbulkan suara.
Rael mengerutkan kening. “Lira…?” suaranya hilang begitu keluar dari mulut, seperti diserap oleh udara.
Dalam keheningan itu, suara langkah terdengar di belakangnya.
Rael langsung berbalik, mengangkat pedang.
Namun sosok yang muncul justru membuat Rael terpaku.
Lira berdiri di sana.
Namun bukan Lira yang ia kenal.
Rambutnya tergerai, lebih panjang, mengalir tanpa angin. Matanya tidak lagi merah muda lembut; kini berubah menjadi ungu dalam, seakan-akan menyimpan langit malam di pupilnya. Di sekeliling tubuhnya, pecahan-pecahan cahaya biru bergerak seperti serpihan kaca.
Rael melangkah mendekat. “Lira… apa yang terjadi padamu?”
Lira memandangnya lama, seolah sedang berusaha mengingat sesuatu yang hampir hilang. “Kau tidak seharusnya masuk ke sini.”
“Kalau aku tidak masuk, kau berpikir aku akan membiarkanmu terkubur di tempat seperti ini?”
Lira menundukkan wajah, tersenyum tipis. “Rael… ruang ini adalah ‘ruang antara’. Tempat fragmen-fragmen sistem yang tidak bertuan tersesat. Seharusnya tak ada manusia yang bisa menginjakkan kaki di sini.”
“Sistem memilihku,” jawab Rael cepat. “Dan aku memilih untuk menjemputmu.”
Lira menggigit bibir bawahnya, ekspresi yang jarang Rael lihat. “Kalau kau terlalu lama tinggal di sini, tubuhmu akan terjepit oleh lapisan ruang. Kau—”
Rael memotong. “Katakan bagaimana aku bisa membawamu keluar.”
Lira terdiam.
Namun sebelum ia sempat menjawab, gelombang besar terdengar dari kejauhan—seperti sesuatu yang sedang merobek langit. Pecahan cahaya di sekitar Lira mulai bergetar.
Lira melihat ke belakang Rael, wajahnya berubah tegang. “Tidak… Mereka sudah terbangun.”
Rael menoleh.
Dari jarak jauh, tiga sosok kabur muncul dari kabut ungu—tinggi, tanpa bentuk jelas, namun aura mereka menekan udara hingga Rael sulit bernapas.
[Akun Tidak Bertuan: Tiga Fragmen Penjaga Ruang]
Suara sistem itu muncul begitu saja dalam pikiran Rael.
Lira meraih tangan Rael. “Kita harus pergi. Sekarang!”
Rael mengejapkan mata. Kehangatan tangan Lira… masih sama seperti sebelumnya. Ia menggenggam tangan itu lebih erat.
“Tunjukkan jalannya.”
Lira mengangguk, dan untuk pertama kalinya, sorot matanya tampak seperti Lira yang Rael kenal.
“Kau benar-benar keras kepala…” gumamnya pelan.
Mereka berlari—atau lebih tepatnya, meluncur di permukaan kosong itu—sementara tiga fragmen raksasa mengejar dari belakang, setiap langkah mereka membuat ruang sendiri pecah menjadi serpihan transparan.
Rael menoleh sekali. “Apa mereka monster?”
Lira menjawab cepat, “Bukan. Mereka… penjaga. Jika kita tertangkap, mereka akan memisahkan jiwa dari tubuhmu.”
Rael mengencangkan genggaman. “Kita tidak akan tertangkap.”
Namun ketika mereka semakin dalam berlari, ruang di depan mereka mulai bergelombang—seperti dinding tipis yang menolak keberadaan mereka.
Lira memberatkan langkah. “Dinding pemisah… kita hampir keluar. Aku akan buka jalannya.”
Rael menoleh. “Kau bisa?”
Lira mengangguk, lalu melepaskan tangan Rael. Cahaya ungu menyelimuti tubuhnya.
“Rael… setelah keluar dari sini, jangan lepaskan pedangmu. Akan ada sesuatu yang menunggu kita di luar.”
Rael mengerut kening. “Apa maksudmu?”
Namun Lira tidak menjawab.
Ia mengangkat kedua tangannya, dan dinding ruang itu mulai bergetar. Retakan muncul sedikit demi sedikit, bercahaya seperti kristal.
Di saat yang sama, suara langkah raksasa dari belakang semakin dekat.
Rael bersiap bertarung.
“Lira—”
“Pegang aku setelah retakannya terbuka,” kata Lira. “Dan jangan lepaskan apa pun yang terjadi.”
Rael mengangguk.
Retakan ruang itu pecah.
Cahaya putih menyilaukan memenuhi pandangan Rael.
Dan sebelum tubuhnya tercabut dari dunia itu—
Rael mendengar suara Lira.
“Rael… apa pun yang kau lihat nanti… jangan benci aku.”