Bab 13 – Bayangan yang Mengintai
Cahaya putih itu mengempas tubuh Rael dan Lira keluar dari ruang antara seperti dua daun yang ditiup badai. Tubuh Rael terhempas ke tanah keras, gulungan debu membubung di sekelilingnya. Ia tersedak napasnya sendiri, paru-parunya seperti dipukul dari dalam.
Lira jatuh beberapa langkah darinya, tubuhnya menggigil, cahaya ungu yang tadi menyelimuti perlahan mereda. Ruangan kembali seperti gudang bawah tanah: gelap, lembap, dengan lampu kristal yang redup di sudut.
Rael bangkit duluan, menahan rasa sakit di punggung. “Lira! Kau baik-baik saja?”
Lira membuka mata perlahan. “Aku… masih lengkap. Berarti kita berhasil keluar.”
Rael membantu menegakkan tubuh Lira. Namun sebelum Lira sempat berdiri sepenuhnya—
Gemuruh rendah terdengar. Bukan suara runtuhan, bukan suara langkah raksasa. Ini… suara napas.
Rael langsung menarik pedangnya.
Lira tersentak. “Tidak mungkin… kita belum sendiri?”
Gelap di ujung ruangan bergerak, seolah bayangan itu bernapas. Dua titik cahaya merah menyala, kemudian empat… lalu delapan. Rael menahan napas. Mata-mata kecil itu muncul satu per satu dari gelap, disertai tubuh-tubuh mungil seukuran anjing, tapi dengan mulut penuh taring panjang dan kaki belakang yang bertenaga.
[Identifikasi: Grell Pup – Class D.
Jumlah: 18.]
Rael menghitung cepat. “Dua orang melawan delapan belas… tidak ideal.”
“Delapan belas ekor Class D di ruangan sesempit ini lebih buruk dari lima Class C di ruang terbuka,” Lira memperingatkan, menarik busurnya.
Grell pertama melompat.
Rael mengayun pedang, membelah udara—dan memotong leher Grell bersamaan. Monster itu hancur menjadi debu biru. Dua Grell lain menyusul, tapi Rael telah bergerak lebih cepat, menusuk salah satunya dan menendang yang lain ke dinding.
Lira menembakkan tiga anak panah berturut-turut, masing-masing menancap tepat di dahi monster. Gerakannya cepat, hampir tanpa jeda.
Namun Grell terus berdatangan dari celah-celah ruangan, seperti sudah menunggu mereka sejak sebelum gerbang itu terbuka.
“Aseroth… kau pasti merasakan sesuatu, kan?” gumam Rael dalam hati.
Seketika, sebuah Grell jauh lebih besar muncul dari belakang kawanan. Tubuhnya dua kali ukuran Grell biasa, bulu hitamnya berdiri seperti duri.
[Muncul: Grell Broodling – Class C.]
Rael mundur setengah langkah. “Lira, fokus pada anak-anaknya. Yang besar biar aku.”
Lira mengangguk cepat, melepaskan panah demi panah.
Broodling mengaum dan menerjang Rael dengan kecepatan mengejutkan. Rael menahan tebasan pertama, tapi kekuatan monster itu membuat lengannya bergetar.
Broodling mencoba menggigit kepala Rael. Rael merunduk, lalu menebas perutnya, tapi kulitnya keras seperti baja.
Monster itu mengayuh kaki, menendang Rael hingga terlempar menghantam pilar batu.
Rael bangkit lagi, darah mengalir dari pelipisnya. “Kau keras kepala… cocok untuk dipotong.”
Broodling menerjang lagi.
Dan seketika—
[Skill Pasif: Dual Soul Resonance (A) – Aktivasi Parsial.]
Rael membeku sepersekian detik.
Penglihatan menjadi lebih tajam. Suara detakan jantung Broodling terdengar jelas. Dunia melambat hanya untuknya.
Dan di tengah semua itu… bisikan.
“Maju tiga langkah. Tebas di sendi. Rendahkan tubuhmu saat ia melompat.”
Rael tidak bertanya dari mana suara itu. Tubuhnya bergerak mengikuti arahan itu tanpa ragu.
Broodling melompat.
Rael menunduk ke kiri, menghindar hanya beberapa milimeter dari rahang yang siap merobek tengkoraknya. Rael melangkah tiga kali mundur—lalu mengayun pedang ke arah sendi kaki Broodling.
Monster itu jatuh terseret.
Rael memutar pedang, menusuk tengkuknya dengan presisi yang tidak pernah ia capai sebelumnya.
Broodling mengaum terakhir kalinya sebelum berubah menjadi debu biru.
Dunia kembali normal.
Rael terengah, lututnya goyah. “Itu… barusan…”
Lira menyelesaikan Grell terakhir dan berlari ke arahnya. “Rael! Kau terluka—”
“Tidak… hanya sedikit. Yang penting kau aman.”
Lira meraba lengannya. “Pukulan monster class C ‘sedikit’? Kau… sungguh keras kepala.”
Rael hanya tersenyum tipis.
Namun sebelum Lira sempat berbicara lagi—
Rael melihat kilatan biru gelap di mata Lira.
Seperti pantulan cahaya dari sesuatu yang tidak ada di ruangan itu.
Rael menyipitkan mata. “Lira… apa ruang itu meninggalkan sesuatu di tubuhmu?”
Lira terdiam lama.
Kemudian ia menutup mata rapat. “Rael… ada hal yang belum bisa aku jelaskan sekarang. Tapi apa pun yang terjadi nanti… tetaplah berada di dekatku.”
Rael menelan ludah. “Kau membuat aku khawatir.”
Lira menunduk sedikit. “Kekhawatiranmu… akan sangat berarti bagiku di hari nanti.”
Sebelum Rael sempat bertanya lebih jauh—
Gemuruh besar mengguncang lantai.
Retakan muncul di dinding.
Cahaya biru pekat merembes keluar, seolah ada sesuatu yang sedang bangkit dari balik lapisan ruang.
Lira menarik Rael menjauh. “Tidak mungkin… mereka masih mencoba menembus dunia ini?”
“‘Mereka’? Maksudmu penjaga itu?”
Lira menggigit bibir. “Jika satu saja menembus dunia ini, seluruh kerajaan bisa runtuh.”
Rael mengangkat pedangnya. “Kalau begitu… kita tidak akan membiarkan itu terjadi.”
Lira menatap Rael lama, sorot matanya berubah lembut. “Kau selalu mengatakan hal yang bodoh… tapi entah kenapa, aku suka.”
Rael membeku sesaat, wajahnya panas.
Namun gemuruh itu semakin keras.
Dan dari balik retakan, muncul sesuatu… bukan monster, bukan bayangan—melainkan mata besar berwarna perak, menatap Rael lurus-lurus.
Pandangannya dingin. Kosong. Tak berperasaan.
Rael mengangkat pedang.
Namun suara Lira memanggilnya dengan ketakutan yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
“Rael— mundur! Itu— itu bukan milik dunia ini!”
Bab 14 – Mata dari Luar Dunia
Retakan di dinding melebar, serpihan cahaya perak berjatuhan seperti pecahan cermin. Mata raksasa itu menatap tanpa berkedip, memancarkan tekanan magis yang membuat udara di sekeliling Rael dan Lira bergetar keras.
Rael merasakan lututnya hampir menyerah. “Apa itu…?”
Lira memegang lengannya, menariknya mundur selangkah. “Itu bukan monster. Itu fragmen makhluk penjaga gerbang sistem. Mereka hanya muncul ketika ada sesuatu yang keluar dari jalur takdir.”
Rael menelan ludah. “Dan kita keluar dari jalur itu?”
Lira tidak menjawab. Namun dari cara ia memandangi retakan itu, Rael tahu jawabannya: ya.
Mata perak itu memutar pupilnya—memusat tepat pada Rael. Tekanan itu meningkat ratusan kali lipat, membuat Rael terhuyung.
Lira mendorongnya ke belakang. “Tetap sadar! Jika kau pingsan, itu akan menarikmu masuk ke wilayah mereka!”
Retakan merenggang, membentuk celah besar. Di baliknya, Rael melihat siluet tangan berwarna perak, mencoba meraih keluar. Suara berdengung, seperti ribuan bisikan yang tumpang tindih, mulai bergema di kepalanya.
“Monster… Dual… Jiwa… Terlarang…”
Rael menutup telinganya, tapi suara itu tetap memaksa masuk.
Lira mencabut belati pendek dari pinggangnya lalu menancapkan ke lantai, menciptakan lingkaran sihir yang bercahaya merah. “Rael! Masuk ke dalam lingkaran, cepat!”
Rael melangkah ke tengah lingkaran. Cahaya merah langsung melingkupinya, menekan bisikan perak yang merambat di telinganya.
Mata raksasa itu menyempit, seperti marah karena Rael terlindungi. Dari celah retakan, tangan perak itu bergerak semakin cepat.
“Lira, kau sendiri di luar lingkaran!” seru Rael.
“Aku harus menutup celahnya!” Lira mengangkat dua telapak tangannya, memusatkan energi sihir merah ke arah dinding.
Celah itu bergetar, seakan melawan tekanan Lira. Kekuatan perak dari dunia lain mendorong balik, saling bertabrakan dengan sihir merah. Ruangan berguncang bagaikan gempa.
Rael ingin maju membantu, tapi lingkaran merah seperti menahannya. Ia mencoba keluar—namun setiap langkah terasa seperti menabrak dinding tak terlihat.
“Lira! Aku tidak bisa mendekat!”
“Jangan keluar!” Lira menggertakkan gigi, tubuhnya goyah. “Kalau kau keluar… mereka akan menarikmu. Aku punya pertahanan khusus melawan energi ini. Kau tidak!”
Tangan perak raksasa itu menghantam sihir Lira, membuat gadis itu terlempar ke belakang. Rael hampir keluar lingkaran, tapi cahaya merah menahan dirinya seperti tali tak kasatmata.
Lira bangkit lagi, meski lututnya gemetar. Ia kembali mengangkat tangan. “Tidak kali ini… kalian tidak akan menyentuhnya.”
Tangan perak itu bergerak untuk meraih Lira. Pupil mata perak membesar, menyorotkan cahaya yang membakar lantai.
Rael merasakan sesuatu bangkit dari dalam dirinya—panas, asing, namun familiar.
[Skill Pasif: Dual Soul Resonance (A) – Aktivasi Spontan.]
Detak jantung Rael melambat. Dunia sekitarnya kehilangan warna. Suara bisikan perak menyusut. Dan dalam kehampaan itu, muncul suara lain—dalam, berat, tenang.
“Langkahi garis itu… dan biarkan aku keluar.”
Rael terpaku.
“Kau tidak akan mati. Aku tidak ingin tubuh ini hancur. Aku hanya akan mengusir mereka… untuk sementara.”
Rael memandang Lira yang terus berusaha menahan celah dimensi, darah mengalir di bawah matanya.
Jika ia diam, Lira hancur. Jika ia keluar… ia membuka pintu bagi Azeroth.
Rael mengepalkan tangan. “Aku… tidak akan membiarkan dia tersakiti.”
Ia melangkah keluar lingkaran.
Cahaya merah pecah.
Pupil mata perak itu melebar—seolah ketakutan.
Rael mendengar suara tawa tipis, bergema dari dalam dirinya.
“…akhirnya.”
Aura hitam dengan jejak ungu meledak dari tubuh Rael, menyelimuti ruangan. Retakan di dinding membentuk pola spiral, seperti dipaksa menutup paksa oleh kekuatan tak dikenal.
Tangan perak yang tadi hendak keluar justru tertarik kembali. Mata raksasa itu bergetar, lalu mengeluarkan suara melengking—tidak seperti suara makhluk apa pun.
Fana… terkontaminasi… Azer—
Suara itu terputus saat celahnya tertutup dalam satu hentakan.
Ruangan kembali tenang.
Rael terhuyung, lututnya goyah. Aura hitam menghilang secepat kemunculannya.
Lira berlari menghampirinya. “Rael! Apa tadi—”
Lira berhenti. Matanya membesar perlahan.
Di leher Rael, tepat di bawah rahang, tampak garis tipis berwarna ungu hitam… seperti retakan kecil yang memancarkan cahaya redup.
Lira menyentuhnya pelan. “Ini… tanda resonansi.”
Rael menatapnya bingung. “Apa itu artinya buruk?”
Lira tidak langsung menjawab. Ia menatap Rael dengan rasa takut—bukan pada Rael, tapi pada sesuatu yang terhubung dengannya.
“Aku tidak tahu apakah kau masih Rael yang sama,” bisiknya. “Atau… apakah ada sesuatu yang bangun bersamamu.”