Bab 15 — Ombak yang Membelah Langit
Awan kelabu menggulung di atas dataran batu Braylen Cliffs. Dari jauh, suara gemuruh terdengar seperti dentuman langkah raksasa. Rael dan Lira tiba di puncak tebing, angin dingin menyapu rambut mereka.
Lira menatap ke bawah. “Ada sesuatu yang bergerak di balik kabut laut.”
Rael memicingkan mata. “Bukan kapal… terlalu besar.”
Kabut tebal tiba-tiba terbelah, dan dari bawah, muncul makhluk berukuran kolosal. Tubuhnya seperti paus, tetapi bersayap panjang dengan sisik yang memantulkan cahaya keperakan. Matanya menyala biru lembut.
Lira membeku. “Sky-Leviathan… makhluk yang seharusnya hanya muncul seabad sekali.”
Rael memegang gagang pedangnya. “Apa dia musuh?”
“Tidak.” Lira menggeleng. “Makhluk ini penjaga rute angin. Dia tak menyerang kecuali merasa terancam.”
Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka bergetar. Retakan kecil muncul dari arah belakang, bergerak cepat mendekati lokasi mereka. Lira menengok dan wajahnya tegang.
“Rael! Ada sesuatu dari bawah tanah!”
Rael mengangkat pedangnya bersiap.
Retakan itu meledak. Seekor makhluk seperti serigala berkulit batu keluar, melompat ke arah mereka. Lira melesat mundur, Rael memotong jalur serangannya.
“Stonefang!” seru Lira. “Binatang ini selalu mengejar energi sihir kuat. Sky-Leviathan memancingnya ke permukaan!”
Rael menangkis cakar makhluk itu, percikan batu beterbangan. Serangannya keras, tapi Rael menahan semuanya dengan stabil.
Lira memutar tongkat sihirnya, menciptakan dinding angin tipis. “Jebak dia di tepi tebing!”
Stonefang menerjang lagi. Rael menipu dengan langkah ke samping, lalu menghantam sisi makhluk itu dengan tenaga penuh. Tubuh Stonefang terseret ke arah tebing.
Tapi sebelum jatuh, makhluk itu mencengkeram tanah, bertahan dengan satu kaki berbatu.
Rael melompat, menebas cengkeraman itu. “Sekarang!”
Lira mengunci mantra. Angin berputar membentuk pusaran, menyapu Stonefang keluar dari tebing. Makhluk itu jatuh ke laut kabut di bawah, raungannya memudar seiring turunnya tubuh raksasanya.
Ketika semuanya kembali sunyi, Sky-Leviathan bergerak perlahan, turun sedikit seolah menundukkan kepala. Lira berdiri di pinggir tebing, menatap makhluk itu dengan kagum.
“Dia berterima kasih,” bisiknya.
Rael melangkah ke sisinya. “Apa dia bicara padamu?”
“Tidak secara langsung.” Lira menyentuh dadanya. “Makhluk ini berkomunikasi dengan perasaan.”
Sky-Leviathan mengepakkan sayapnya sekali, menghasilkan angin lembut yang menerpa mereka. Lalu makhluk itu terbang tinggi, menghilang di balik awan.
Rael menatap Lira. “Kalau Leviathan muncul, berarti rute angin akan berubah. Dan kita harus menyesuaikan perjalanan.”
Lira mengangguk pelan. “Berarti kita semakin dekat dengan sesuatu yang besar.”
Rael membalas dengan tatapan tenang. “Apa pun itu… aku di sini. Sampai akhir.”
Lira memalingkan wajah, menahan senyum kecil yang tak ingin ia tunjukkan. “Jangan membuat janji yang membebani, Rael.”
“Aku menepati semua janjiku.”
Lira berhenti sejenak. “Itulah yang kutakutkan.”
Angin menyapu tebing lagi, membawa keheningan panjang di antara keduanya, sampai akhirnya mereka melanjutkan perjalanan.
---
Bab 16 — Jejak yang Tidak Terlihat
Hutan bagian utara selalu diselimuti kabut tipis menjelang malam. Biasanya tidak berbahaya, namun kali ini langkah Rael terasa lebih berat dari biasanya. Ada sesuatu yang berbeda di udara—seolah-olah mata tak kasat mata sedang mengamati dari balik pepohonan.
Lira berjalan sedikit di depan, membawa lentera kecil yang memantulkan cahaya lembut pada rambut coklat keemasannya. “Aneh,” gumamnya sambil berhenti. “Jejak monster kelas C biasanya berpasangan. Tapi yang ini… hanya satu.”
Rael jongkok dan menyentuh tanah. Bekas cakar dalam, lebih dalam dari monster kelas C mana pun yang pernah ia lihat. Tanah di sekitar bekas itu seperti hangus meski tidak ada api. “Ini baru pertama kali aku lihat jejak seperti ini,” ucap Rael pelan.
“Bukan cuma kamu,” jawab Lira. Ia mendekat dan memeriksa dari sudut lain. “Kalau aku tidak salah, ini… bukan monster biasa.”
Rael menoleh. “Maksudmu?”
“Masih belum pasti.” Lira berdiri lagi. “Tapi sesuatu yang bisa bergerak tanpa meninggalkan bau khas monster, lalu meninggalkan jejak sekuat ini… bisa saja sesuatu yang dekat dengan kelas A.”
Rael terdiam sejenak. Kata “kelas A” membuat bahunya menegang. Tanpa sadar, ia memegang lengan kirinya—bagian tubuh yang dulu paling sering sakit saat skill pasifnya aktif.
Keduanya melanjutkan perjalanan mengikuti jejak itu. Anehnya, semakin jauh mereka berjalan, semakin sulit jejak itu dilihat. Tidak menghilang, hanya menjadi samar, seperti sengaja disembunyikan.
Lira memperlambat langkah. “Rael… kau merasakan sesuatu?”
Rael memejamkan mata sejenak. Ada getaran halus di belakang kepalanya—sensasi yang ia kenal, tapi tidak bisa ia jelaskan. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. “Iya. Seperti ada… tekanan.”
Lira mengangguk, seolah itu membuat perkiraannya semakin jelas.
Tiba-tiba, dari sisi kanan hutan terdengar suara rintihan lemah. Rael refleks menghunus pedangnya dan bergerak mendekat. Lira mengikuti dari belakang sambil menyiapkan busurnya.
Mereka menemukan seorang laki-laki tua bersandar pada batang pohon, tubuhnya penuh luka gores panjang. Meski pakaiannya compang-camping, lambang guild di dadanya masih terlihat jelas: itu lambang guild petualang tingkat menengah.
Rael mendekat hati-hati. “Tuan, apa yang menyerangmu?”
Laki-laki itu membuka mata perlahan. Tatapannya penuh ketakutan, dan ia menatap Rael seperti melihat sesuatu yang ia kenali. “Kau… bukan… bukan dia…”
“Siapa?” tanya Lira cepat.
Laki-laki itu menarik napas dengan susah payah. “Bayangan… tanpa suara… matanya… seperti menyala ungu…”
Rael dan Lira saling menatap. Tidak ada monster kelas B atau C yang memiliki mata ungu.
“Apa itu menyerangmu?” tanya Rael.
“Tidak… hanya lewat… tapi setiap yang dilewatinya roboh… seperti ditarik paksa…” Lelaki itu memegang dadanya, gemetar. “Bukan monster… itu kutukan…”
Dan sebelum keduanya bisa bertanya lebih jauh, tubuh lelaki itu melemas. Nafasnya berhenti begitu saja.
Rael mengecek denyut nadi, tapi tidak ada. “Dia sudah… tidak apa-apa sekarang.”
Lira menggigit bibir. Wajahnya menegang, ekspresi yang jarang Rael lihat. “Monster kelas A tidak seperti ini. Tidak meninggalkan korban tanpa luka fatal. Tidak bergerak tanpa suara.” Ia menatap jejak samar di tanah. “Ini sesuatu yang lain.”
Rael menatap jejak yang memudar itu. Untuk sesaat, cahaya ungu tipis terlihat di sela tanah, seperti resonansi kecil yang hanya muncul sepersekian detik. Ia berdiri, napasnya tercekat.
Lira memperhatikan perubahan wajah Rael. “Kenapa?”
“Entahlah. Tapi… aku merasa pernah melihat cahaya seperti ini.” Rael memegang dadanya, di mana papan sistem biasanya muncul. “Di seseorang… atau sesuatu… yang pernah mendekatiku.”
Lira mendekat. “Siapa?”
Rael menatap hutan yang perlahan gelap. Suara dedaunan bergetar seakan memberi peringatan.
“Aku… tidak tahu,” jawab Rael lirih.
Namun dalam hatinya, ada satu nama yang muncul—nama yang tidak pernah ia ucapkan karena ia sendiri belum berani memastikan.
Azeroth.
Dan untuk pertama kalinya, Rael merasakan sesuatu yang bukan ketakutan, melainkan… seolah ada bagian dirinya yang merespons jejak itu.
Seolah ia seharusnya mengenalinya.
Kabut menebal, dan suara burung malam mulai terdengar.
Lira mengencangkan genggaman tangannya pada busur. “Kita harus kembali sebelum terlalu gelap.”
Rael menatap jejak samar itu sekali lagi, sebelum akhirnya berbalik mengikuti Lira.
Namun di belakang mereka, tepat di bekas jejak yang terakhir terlihat… cahaya ungu tipis kembali muncul, berdenyut pelan.
Seakan menunggu.
Bab 17 — Mata yang Mengawasi
Angin malam membawa aroma dingin dari arah lembah. Saat Rael dan Lira kembali menuju perkemahan kecil mereka, suasana hutan terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara serangga, tidak ada ranting patah. Seolah seluruh hutan menahan napas.
Lira berhenti ketika mereka hampir tiba. “Rael… lihat itu.”
Di depan mereka, perkemahan yang sebelumnya rapi kini berantakan. Tali tenda terputus, api unggun padam tanpa sisa bara, dan bekas goresan panjang membelah tanah seperti sayatan dari sesuatu yang sangat tajam.
Rael langsung mengamati sekeliling, pedangnya terhunus. “Tidak ada bau monster.”
Lira menggeleng. “Dan tidak ada jejak kaki.” Ia berjalan pelan, memeriksa setiap sudut. “Ini pekerjaan sesuatu yang tidak berjalan.”
Rael tersentak kecil. “Maksudmu terbang?”
“Terbang… atau melayang. Tidak semua monster bergerak dengan cara biasa.” Lira menyentuh bekas goresan panjang di tanah. “Tapi yang melakukan ini… levelnya tidak rendah.”
Rael mendekat ke arah barang-barang mereka. Ransel Rael terbuka, namun tidak ada yang hilang. Bubuk sihir, air minum, pun masih sama. Hanya satu hal yang Rael temukan berbeda.
Buku tua itu.
Buku yang membawanya ke dunia ini. Buku yang menjadi awal segalanya.
Kini terbuka satu halaman… meski ia yakin telah menutupnya rapat.
Rael menatap halaman itu dalam diam. Tidak ada tulisan baru, tapi ada tanda seperti bekas sentuhan—bekas jari yang tidak manusiawi, panjang, tipis, dan meninggalkan bayangan ungu samar sebelum menghilang.
Lira memerhatikan dari belakang. “Itu… tidak normal.”
Rael menutup bukunya perlahan. “Lira… apa menurutmu ada sesuatu yang mengikuti kita?”
Lira tidak langsung menjawab. Ia justru mendongak ke langit yang tertutup kanopi pohon. “Aku merasa begitu sejak beberapa hari terakhir. Ada sesuatu yang selalu berada di batas pandangku… tapi hilang ketika aku menoleh.”
Rael merasakan bulu kuduknya berdiri.
Selalu menonton. Selalu ada di dekatnya.
Ia mengambil napas panjang. “Kita harus pindah tempat. Hutan ini tidak aman.”
Lira mengangguk tanpa ragu. Mereka berdua membereskan barang secepat mungkin dan berjalan menuju daerah dataran rendah, tempat yang lebih terbuka dan sulit diserang secara diam-diam.
Namun ketika mereka hampir keluar dari hutan, Rael berhenti mendadak.
“Lira… tunggu.”
Lira menengok. “Ada apa?”
“…Ada sesuatu yang memanggilku.”
Ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan itu. Tapi ada getaran samar di dalam dirinya—tekanan ringan namun jelas berasal dari arah tertentu, jauh ke dalam hutan, ke arah yang berbeda dari yang mereka tuju.
Lira menatap Rael lama. “Apa itu suara? Atau sensasi?”
“Seperti… dua denyut yang bersentuhan.” Rael memegang dadanya. “Seperti ada bagian diriku… yang bereaksi.”
Lira menghela napas pelan. “Itu tidak terdengar seperti hal yang harus kau dekati.”
Rael ingin setuju. Tapi sensasi itu semakin kuat setiap detik ia berpaling.
Seperti ada sesuatu yang memanggil namanya tanpa suara.
Seperti sebuah hubungan yang tidak bisa ia kesampingkan.
Namun sebelum Rael berkata apa-apa lagi, tanah di belakang mereka bergetar pelan. Tidak kuat, tapi cukup untuk membuat dedaunan jatuh satu per satu.
Rael dan Lira langsung bersiap.
Dalam keheningan yang memekakkan telinga, dari balik kejauhan hutan… sepasang mata ungu muncul.
Tidak besar.
Tidak menyala terang.
Namun cukup untuk terlihat jelas dalam gelap.
Rael mematung. Napasnya tercekat.
Mata itu tidak bergerak. Hanya menatap. Dalam. Menembus.
Lira menarik Rael mundur. “Jangan menatapnya terlalu lama.”
“Lira… mata itu...” Rael berbisik. “Aku pernah merasakannya.”
“Ayo pergi.” Lira menarik lengan Rael lebih kuat. “Sekarang.”
Rael akhirnya mengikuti. Mereka berlari keluar dari hutan tanpa menoleh kembali, meski getaran halus di d**a Rael terus berdetak… semakin kuat setiap kali mereka menjauh.
Saat mereka mencapai padang terbuka dan berhenti untuk menarik napas, Rael sempat menatap kembali ke arah hutan.
Mata ungu itu sudah hilang.
Tapi bayangannya masih tertinggal di pikiran Rael, begitu jelas seolah-olah baru muncul di depannya.
Dan di kejauhan, dari balik pepohonan tinggi…
Sebuah suara kecil terdengar. Tidak terdengar di telinga, tetapi di dalam kepalanya.
Pelan.
Membelah kesunyian.
Rael…