Bab 18 — Suara di Balik Dinding
Malam itu berjalan lambat. Rael duduk bersandar pada batu besar, sementara Lira memeriksa perimeter perkemahan baru mereka. Tidak ada gangguan, tidak ada suara mencurigakan. Namun ketenangan itu hanya berlaku di luar.
Di dalam diri Rael, suara itu belum menghilang.
Seperti detak yang menempel pada pikiran.
Seperti bisikan yang tidak diucapkan dengan mulut.
Seperti panggilan… dari sesuatu yang telah lama ada di dalam dirinya.
Rael menutup mata, mencoba memusatkan napas. “Apa kau masih mendengar itu?” tanya Lira, kembali duduk di dekatnya.
Rael mengangguk pelan. “Tidak sekuat tadi… tapi masih ada.”
“Kalau itu semacam efek samping dari buku tua itu, kita harus hati-hati. Buku itu bukan sihir biasa.”
Rael membuka mata, menatap Lira. “Apa menurutmu itu monster?”
Lira menghela napas. “Kalau monster, auranya akan terasa. Tapi yang ini… aku tidak tahu. Rasanya seperti sesuatu yang menempel padamu.”
Rael terdiam.
Lira memerhatikan wajahnya. “Jangan panik. Kita hadapi pelan-pelan.”
Rael mengangguk, meski pikirannya masih berat. Ia menarik napas panjang dan berdiri. “Aku mau berjalan sebentar. Mungkin udara malam bisa membuat kepala jernih.”
Lira berdiri bersamanya. “Aku ikut.”
“Tidak perlu. Kau butuh istirahat.”
Lira ingin membantah, tetapi melihat raut Rael, ia memilih diam. “Jangan pergi jauh.”
Rael berjanji dan berjalan ke arah padang rumput yang diterangi bulan. Cahaya perak jatuh di atas rambutnya, membuat bayangannya panjang di rerumputan.
Saat ia berhenti di tengah padang, suara itu kembali datang.
Lebih jelas dari sebelumnya.
Rael… dengarkan.
Napas Rael terhenti sejenak. “Siapa kau?”
Tidak ada jawaban, hanya hembusan angin.
Rael mengepalkan tangan. “Kenapa kau memanggilku?”
Lalu terdengar sesuatu. Bukan kalimat, bukan kata, tapi… emosi. Gelombang perasaan aneh yang menekan dadanya—campuran marah, kecewa, dan kehausan yang dalam.
Rael hampir mundur, tapi suara itu muncul lagi.
Jangan lari. Kau… dan aku… terhubung.
Rael terengah pelan. “Terhubung… bagaimana?”
Suara itu tidak menjawab langsung. Sebaliknya, sensasi itu menarik Rael menoleh ke arah bukit. Tidak ada apa-apa selain gelap. Namun Rael merasa seolah ada sesuatu yang berdiri di sana, mengamatinya.
Ia melangkah perlahan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga—
Seseorang meraih bahunya dari belakang. “Rael!”
Rael tersentak keras sampai hampir menjatuhkan pedang. Ia berbalik cepat.
Lira.
“Kenapa kau berjalan menuju bukit?” Lira menatapnya tajam. “Aku bilang jangan pergi jauh.”
Rael tidak bisa menjawab. Ada sesuatu dalam diri yang terasa kacau. Seperti ada dua denyut yang saling bertabrakan—satu miliknya, satu lagi entitas asing yang berusaha masuk.
Lira mendekat, memegang kedua bahunya. “Rael, apa yang kau dengar?”
Rael menggigit bibir. “Aku tidak tahu… tapi itu memanggilku. Seakan… itu bagian dariku.”
Lira memandangnya lama, seperti menilai sesuatu. “Rael, dengarkan aku.” Suaranya lembut, tapi tegas. “Benda apa pun yang memanggilmu tanpa wujud, tanpa bentuk, dan tanpa izin… tidak pernah bermaksud baik.”
Rael menunduk. “Aku tahu.”
Lira melepasnya, lalu menarik napas. “Mari kembali ke perkemahan.”
Namun sebelum mereka melangkah, Rael merasakan tusukan tajam di kepalanya. Ia memegang pelipis, wajahnya menegang.
“Rael? Apa kau—”
Sebuah suara memotong semuanya. Bukan hardikan, bukan teriakan. Hanya satu kalimat tipis yang mengalun di dalam kesadarannya.
Jangan percaya dia. Kau akan dibunuh olehnya.
Rael terdiam.
Pikirannya menjadi gelap sesaat.
Lira memegang wajahnya dengan panik. “Rael! Hei, lihat aku!”
Rael menatap Lira. Tatapan itu campuran antara sadar dan tidak.
“Lira…” suaranya lirih. “Ada… sesuatu… yang bilang kau ingin membunuhku…”
Lira membeku. Sekejap wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun.
Lalu ia menaruh tangannya di d**a Rael, tepat di atas jantungnya. “Dengar baik-baik. Aku tidak akan membunuhmu.”
“Lalu—”
“Dan jika suatu saat aku harus mengkhianatimu…” Lira menatapnya dalam-dalam. Mata yang biasanya hangat kini mengeras sedikit, namun tetap jujur. “…itu bukan hari ini.”
Rael menelan ludah.
Suara itu hilang seketika. Seolah takut pada sesuatu yang hanya Lira sadari.
Lira meraih tangan Rael. “Ayo. Jangan biarkan suara itu mengatur langkahmu sebelum kau tahu apa itu.”
Rael mengangguk pelan. Mereka berjalan kembali ke perkemahan, tetapi Rael menoleh sekali lagi ke arah bukit.
Di kejauhan…
Sekilas… hanya satu detik…
Ia melihat mata ungu itu muncul lagi.
Lebih dekat dari sebelumnya.
Lebih sadar.
Lebih… hidup.
Bab 19 — Bayangan yang Masih Mengikuti
Keesokan paginya, matahari baru saja melewati garis pegunungan ketika Rael terbangun. Lira sudah duduk di dekat api kecil, menajamkan pisaunya sambil sesekali memandang ke arah hutan. Ia tampak tidak tidur semalaman, namun tidak menunjukkan rasa lelah.
Rael bangkit perlahan. “Kau tidak tidur?”
“Tidak perlu,” jawab Lira tanpa menoleh. “Aku harus berjaga. Kau kemarin hampir terjatuh ke jurang karena suara itu.”
Rael mengusap wajah. “Aku tidak akan sejauh itu kalau kau tidak menunggu terlalu lama datang.”
Lira berhenti mengasah pisau dan menatapnya. “Kalau aku datang lebih cepat, kau mungkin sudah setengah jalan menuju bukit itu.” Nada suaranya datar, tapi Rael tahu itu bentuk kekhawatiran yang tidak ia ucapkan.
Rael tidak membalas. Ia hanya duduk di seberang api.
Sejenak hening.
Hanya suara ranting terbakar.
Namun keheningan itu tidak berlangsung lama. Dari dalam hutan terdengar suara keras—kayu patah, tanah terinjak, dan dengusan berat. Lira berdiri cepat dan mengambil pedangnya.
“Monster,” ucapnya singkat.
Rael mengikuti, meraih pedang sendiri. “Level berapa?”
Lira menutup mata sejenak, merasakan aliran aura dari arah hutan. Ketika ia membuka mata, ekspresinya berubah waspada. “Lebih dari D. Mungkin C.”
Rael menegang. “C? Pagi-pagi begini?”
“Monster tidak punya jam tidur.” Lira melangkah maju. “Ayo.”
Tidak butuh waktu lama sampai sosok besar keluar dari pepohonan. Seekor Fanghorn Boar—babi hutan raksasa bertaring panjang yang biasanya hidup jauh dari pemukiman.
Kulitnya tebal, matanya merah, dan tubuhnya penuh luka lama seperti habis bertarung berkali-kali.
Lira mengangkat pedang. “Jangan hadapi dari depan. Serudukannya mematahkan tulang.”
Rael mengangguk dan mengambil posisi mengitari monster itu. Namun sebelum mereka menyerang, Rael merasakan sesuatu. Detakan halus di kepalanya—suara yang pernah memanggilnya.
Tidak terlalu kuat. Jangan takut. Kau bisa mengalahkannya.
Rael menegang. Suara itu tidak sama seperti kemarin. Tidak ada ancaman, tidak ada emosi marah. Justru terasa… menenangkan.
Rael menggeleng cepat. “Tidak sekarang…”
Monster itu menyerbu, tubuh besarnya melesat seperti batu raksasa. Lira melompat ke samping, Rael berguling ke arah kiri. Taring monster itu menghantam tanah dan menciptakan lubang besar.
“Rael! Bagian lehernya! Ada celah di balik bulu tebalnya!”
Rael mengangguk dan berlari mengitari monster itu. Lira menahan serangan depan, memancing perhatian. Monster itu mengamuk, menyerang ke segala arah, membuat tanah bergetar setiap kali kukunya menghantam.
Rael melompat ke samping, mendekati posisi yang Lira sebut. Saat monster itu berbalik menyerang Lira, lehernya terbuka.
Rael mengangkat pedang.
Namun tiba-tiba suara itu muncul lagi.
Lemah. Kau terlalu lambat. Biarkan aku—
Rael mencengkeram gagang pedang lebih keras. “Diam.”
Tetapi tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya. Kekuatan tiba-tiba mengalir melalui ototnya. Rael bergerak bukan seperti biasanya—lebih cepat, lebih tepat, dan lebih brutal.
Ia menebas leher monster itu dengan satu ayunan tajam.
Monster itu meronta keras, kemudian jatuh terkapar.
Lira terkejut menatap Rael. “Gerakanmu tadi…”
Rael terengah, memegang dadanya. “Itu bukan aku…”
Lira mendekat. “Suara itu lagi?”
Rael mengangguk.
Namun sebelum mereka sempat berbicara lebih jauh, sesuatu terjadi.
Telinga Lira bergerak sedikit, menangkap suara halus dari arah belakang mereka.
“Rael… mundur.”
Rael menoleh cepat.
Seseorang berdiri beberapa meter dari mereka. Siluet tinggi, berjubah hitam, wajah tertutup kain. Aura gelap mengalir dari tubuhnya—auranya bukan seperti monster. Bukan juga seperti manusia biasa.
Lebih berat. Lebih padat.
Sosok itu mengangkat satu tangan dan mengarahkannya ke Rael.
“Penerima buku,” ucapnya dengan suara rendah. “Akhirnya aku menemukanmu.”
Rael menelan ludah. “Siapa kau?”
“Penghapus.” Suara itu seperti bisikan yang terdistorsi. “Tugas kami adalah memastikan tidak ada penerima sistem yang menyimpang.”
Lira segera berdiri di depan Rael, pedang terangkat. “Jika kau mendekat satu langkah, aku potong kepalamu.”
Sosok itu tidak bergerak. Namun aura gelapnya semakin tebal, memuakkan, membuat udara seperti menjadi berat.
Rael merasa pusing.
Lira mengetap giginya. “Rael, mundur. Ini bukan monster biasa.”
Sosok itu mengangkat kepalanya sedikit, memperlihatkan mata merah gelap yang menyala seperti bara.
“Rael,” ucapnya datar, “kau membawa sesuatu yang bukan milikmu. Sangat… mengganggu.”
Dan saat mata itu menatap tepat ke arah Rael, suara asing di dalam diri Rael tiba-tiba berteriak—
Pergi dari sini! Orang itu tahu siapa aku!