Bab 20 — Penghapus dan Penerima
Udara di sekitar mereka terasa menekan, seolah gravitasi sendiri memihak sosok berjubah hitam itu. Daun-daun kering di tanah bergetar tanpa angin, dan api unggun di belakang Rael padam perlahan, seperti dihisap oleh sesuatu yang tak terlihat.
Rael mundur setengah langkah. Dadanya terasa sesak.
“Penghapus…?” ulangnya pelan.
Sosok itu menurunkan tangannya sedikit, namun auranya tidak berkurang. “Istilah kasarnya, ya. Di sistem lama, kami disebut Corrector. Kami memastikan alur tetap stabil.”
Lira menajamkan pandangan. “Alur apa?”
“Tak perlu kau tahu.” Mata merah gelap itu kembali mengunci Rael. “Yang perlu kau tahu hanyalah ini—keberadaanmu menyimpang.”
Rael menelan ludah. “Aku tidak meminta buku itu.”
“Tak ada penerima yang pernah meminta,” jawabnya datar. “Namun beberapa… terlalu cocok.”
Kepala Rael berdenyut. Suara di dalam dirinya kembali muncul, kali ini bukan berbisik—melainkan mendesis tajam.
Jangan dengarkan dia. Jika kau tetap di sini, dia akan menghapusmu. Seperti yang lain.
“Kau bilang ‘menyimpang’,” kata Rael, memaksa suaranya tetap stabil. “Apa maksudmu?”
Sosok itu diam sejenak, seolah menilai apakah jawaban itu layak diberikan. “Sistem seharusnya netral. Memberi alat, bukan kehendak. Tapi dalam dirimu…” Ia memiringkan kepala. “…ada sesuatu yang membalas sistem.”
Lira menegang. “Apa yang kau lakukan pada penerima lain?”
“Yang stabil—dibiarkan.” Sosok itu melangkah satu langkah maju. Tanah di bawah kakinya menghitam. “Yang menyimpang—dihapus.”
Rael merasakan dingin menjalar ke tulangnya.
Lira bergerak cepat, berdiri sepenuhnya di depan Rael. “Kalau begitu, kau harus melewatiku.”
Sosok itu menoleh padanya, seolah baru menyadari keberadaannya sepenuhnya. “Pendamping.”
Nada suaranya berubah sedikit—bukan terkejut, tapi… tertarik. “Menarik. Biasanya, pendamping mati lebih dulu.”
Rael menggenggam pedangnya. “Sentuh dia, dan aku—”
“Kau akan apa?” potongnya tenang. “Mengandalkan kekuatan yang bahkan bukan sepenuhnya milikmu?”
Suara di dalam Rael bergetar marah.
Aku miliknya. Dan dia milikku. Jangan biarkan dia merendahkan kita.
Rael memejamkan mata sesaat. Dua denyut itu—dirinya dan sesuatu yang lain—kini hampir selaras. Itu menakutkan. Tapi juga… jelas.
Ia membuka mata.
“Apa pun yang ada di dalam diriku,” ucap Rael pelan namun tegas, “aku tidak akan menyerahkannya padamu.”
Untuk pertama kalinya, sosok berjubah itu tampak ragu. Hanya sepersekian detik—namun nyata.
“Begitu ya…” gumamnya. “Resonansinya sudah sejauh ini.”
Lira berbisik tanpa menoleh, “Rael… kita tidak bisa menang dengan bertarung.”
Rael tahu. Tubuhnya terasa berat hanya dengan berdiri di hadapan makhluk itu.
Sosok itu mengangkat tangannya lagi. Lingkaran hitam samar terbentuk di udara. “Tenang saja. Aku tidak akan menghapusmu hari ini.”
Rael terkejut. “Apa?”
“Bukan karena belas kasihan.” Mata merah itu menyipit. “Tapi karena apa yang ada di dalam dirimu… belum sepenuhnya bangun.”
Lingkaran hitam itu runtuh menjadi partikel gelap yang menghilang ke tanah.
“Aku akan kembali,” lanjutnya. “Saat kau memilih. Sistem… atau dirimu yang lain.”
Dan tanpa suara, tanpa ledakan, tubuh sosok itu terdistorsi—lalu lenyap, seolah tidak pernah ada.
Keheningan jatuh berat.
Rael berlutut, napasnya terengah. Lira langsung memegang bahunya, menopangnya.
“Rael. Lihat aku.”
Rael mengangkat kepala. Pandangannya masih fokus.
“Aku di sini,” katanya pelan. “Aku masih… aku.”
Lira mengangguk, meski wajahnya tegang. “Tapi sekarang kita tahu satu hal.”
Rael menatap tanah bekas lingkaran hitam itu. “Aku diburu.”
“Bukan hanya itu,” sambung Lira. “Apa pun yang ada di dalam dirimu… bukan sekadar kutukan.”
Rael terdiam.
Di dalam dirinya, suara itu tidak berbicara. Tidak berbisik.
Namun untuk pertama kalinya… ia merasakan sesuatu yang menyerupai senyum.
---