Ingatan-ingatan itu perlahan menghilang, bagai gelembung yang muncul ke permukaan sesuatu yang tidak berdasar. Seorang perempuan yang tidak dikenal, tapi terasa familier. Dia menatap perempuan itu dari jarak yang tidak terlalu jauh.
Perempuan itu sangat cantik, mungkin seusianya. Wajahnya tersembunyi di balik untaian rambut ungu yang bergelombang. Tangannya menggenggam sebuah tongkat berwarna putih panjang dengan ujung kristal berwarna biru yang terangkat ke angkasa. Tongkat yang digenggamnya itu seperti sedang menghisap energi kegelapan yang ada di sekitarnya. Dia bisa mendengar deru napas perempuan itu yang tidak karuan, terasa sangat dekat seolah itu adalah miliknya.
Kini perempuan itu berbalik ke arahnya, tapi dia tetap tidak bisa melihat wajah perempuan itu. Secara mendadak tongkat yang digenggam perempuan itu memancarkan cahaya putih yang semakin terang dan semakin terang. Membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat, lalu menghilang dari balik kepingan cahaya. Saat melihat itu, dadanya terasa sesak. Kedua tangannya berusaha menggapai, tapi tidak berhasil. Hal terakhir yang dia lihat hanya sosok perempuan yang menghilang bersama lautan mayat di sekitarnya dan semuanya berubah menjadi cahaya yang menghapus kegelapan.
Mimpi buruk itu berakhir. Tidak ada lagi sekelebat bayangan merah atau monster-monster yang mendekatinya. Tidak ada suara langkah kaki yang terkesan terburu-buru, atau suara orang yang menjerit kesakitan.
Saat membuka mata, dia hanya melihat cahaya putih yang menyilaukan dari langit-langit berwarna putih. Beberapa orang mengelilinginya. Bau tajam alkohol medis yang mengapung di udara dan mesin berbunyi pelan seirama dengan jantungnya.
Seorang perempuan berpakaian serbaputih layaknya tim medis sedang berada di dekatnya sambil memegang sebuah papan hologram. Dia mengerjap beberapa kali, matanya berusaha beradaptasi dengan keadaan sekitar. Dia merasa berada di tempat tidur, tapi bukan di tempat tidur miliknya. Tempat tidur ini kecil, hanya cukup untuk satu orang yang berbaring. Mulanya, dia berpikir dirinya sedang dipindahkan ke suatu tempat. Saat dia berusaha merentangkan kedua tangan, nyeri di sekujur tubuhnya mulai terasa. Kepalanya kembali berdenyut membuatnya mengehentkan usahanya itu. Dia benar-benar tidak punya kekuatan untuk berdiri atau hanya sekadar menggerakkan tangan. Rasa sesak yang dia rasakan masih terasa seakan dia baru saja mengalaminya.
Sudah berapa lama aku tidur? Di mana ini?
Ini jelas bukan apartemennya. Tunggu, memangnya dia punya apartemen atau sejenisnya? Saat ini, dia hanya bisa mengedarkan pandangan. Ruangan serbaputih dengan berbagai alat medis, seperti rumah sakit yang sangat modern. Dia bisa melihat alat penampil degup jantung seperti hologram yang terhubung dengan tubuhnya.
Dia berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya, tapi dia hanya bisa mengenang visi terakhir. Rasanya, dia seperti mengalami mimpi buruk berhari-hari. Bayangan-bayangan penuh warna merah pekat terus berputar dalam benak. Mungkinkah dia adalah korban perang? Jika iya, kemungkinan dia terluka, lalu dipindahkan kemari.
“Anda sudah sadar?” Suara seorang perempuan dengan jas putih dokter mendekatinya.
Degup jantungnya semakin cepat ketika dirinya menangkap suara perempuan. Kepalanya berdenyut-denyut, seperti ada rasa nyeri yang menggerogoti. Dia hanya mengangguk singkat tanpa mengatakan apa pun.
“Apa Anda mengingat sesuatu?” Perempuan itu bertanya lagi. Namun, kali ini perempuan itu bertanya sambil menulis sesuatu di papan hologram.
Dia menggeleng, lagi-lagi tanpa mengatakan apa-apa.
“Siapa nama Anda?”
“Nama?” Itulah kata pertama yang diucapkan olehnya. Dia terlihat kebingungan saat mendengar kalimat itu. Siapa namanya?
Dia memejamkan mata, berusaha menggali lebih dalam di ingatannya. Nama …. Lunar. Nama itu seakan melintas begitu saja.
“Lunar.” Dia menjawab dengan suara lirih. Dipandangi oleh beberapa orang dengan penutup wajah membuatnya sedikit risih, terlihat seperti tidak berdaya dan sedang dihakimi. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Otaknya terlalu lambat untuk merespons saat ini.
“Begitu ….”
“Di mana aku?”
“Anda tidak mengingatnya sama sekali? Tentang latar belakang? Tempat tinggal? Usia? Keluarga atau teman?”
Kepalanya kembali berdenyut ketika perempuan itu mencecarnya dengan beberapa pertanyaan sekaligus. Dia meringis, berharap perempuan itu berhenti bertanya. Tidak bisakah perempuan itu langsung memberitahunya saja?
“Anda berada di Uricle.”
“Uricle ….” Lunar menggumamkan nama itu sambil mengingat-ingat. Dia terasa familier dengan nama itu, tapi apa? Apakah itu adalah nama wilayah? Atau apa? Dia tidak bisa mengingat hal-hal itu sama sekali. Tidak ada kepingan memori yang berhasil dijangkau olehnya.
Lunar merasa seperti orang bodoh. Dia tidak tahu lokasi tempat tinggal, lokasinya saat ini, usia, tujuan hidup, keluarga, teman bahkan Lunar tidak mengerti siapa dirinya ini. Ketidaktahuan itu membuatnya cukup putus asa. Apa yang harus dia lakukan di saat tidak ada sekeping ingatan pun di otaknya?
“Uricle?” Akhirnya Lunar memutuskan untuk mencari tahu. Dia tidak bisa berdiam diri mengharapkan jawaban turun dari langit. Matanya perih karena terlalu lama menatap cahaya yang terlalu terang.
“Armada angkasa yang dibentuk untuk melindungi manusia dan Uricle. Kau adalah salah satu Arz.” Suara perempuan itu sangat tenang dan dingin, tapi memiliki tatapan yang hangat.
Arz. Lunar menggumamkan kata itu. Dirinya adalah Arz yang melindungi Uricle. Mendengar salah satu informasi itu membuat Lunar sedikit ngeri. Apakah mimpinya tentang perang itu benar? Jika memang baru saja terjadi perang dan dirinya hilang ingatan, apakah mimpi itu merupakan sisa-sisa ingatan?
Pikirannya buyar ketika perempuan itu menyentuh bahunya. Kali ini perempuan itu tersenyum. “Jangan khawatir, kami pasti akan mengembalikan ingatanmu. Pertama-tama mari kita pulihkan kondisimu, lukamu sangat parah.”
Meski kalimat yang diucapkan perempuan itu berusaha menenangkannya, Lunar tetap tidak bisa tenang. Ekspresinya saat ini pasti menyiratkan hal itu, makanya perempuan itu bisa berkata demikian. Akhirnya, Lunar hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Perempuan yang terlihat seperti dokter itu selesai menulis, tapi tatapannya tidak lepas dari Lunar yang masih berusaha mengingat sesuatu. Kini salah satu asistennya kembali dengan membawa alat suntik, lalu menyerahkannya pada perempuan itu untuk menyuntikan isinya ke dalam infus Lunar.
“Hanya obat penenang ringan dan membantu menghilangkan rasa nyeri. Anda tidak perlu memaksakan diri untuk mengingat semuanya sekarang. Anda akan baik-baik saja, Mr. Lunar. Jika Anda memerlukan sesuatu, tekan tombol di samping tempat tidur Anda.” Setelah mengatakannya, perempuan itu pergi meninggalkan ruangan bersama para medis.
Lunar kembali memejamkan mata, membiarkan obat penenang itu mulai bekerja. Dalam kegelapan, Lunar merasakan obat-obatan itu menyeret kembali memasuki permukaan sesuatu yang dalam. Dia berusaha memerangi perasaan itu dengan menjaga matanya tetap terbuka, tapi tubuhnya terasa sangat kaku dan berat.
Saat ini, Lunar tidak bisa mengabaikan informasi yang diberikan perempuan itu begitu saja. Dia tahu dirinya bisa disebut hilang ingatan. Tentang Arz, Uricle, dan namanya. Semua yang terasa berkaitan Dia bahkan baru mengetahui itu semua dari perbincangan mereka. Apakah terjadi sesuatu sebelumnya? Perang? Kecelakaan?
Terlebih tentang mimpi buruknya dan perempuan berambut ungu yang bergelombang. Lunar merasa mereka terhubung oleh sesuatu yang tidak diketahui namanya. Apa mungkin perempuan itu adalah saudaranya?
Kepalanya kembali berdenyut setiap memikirkan kemungkinan itu. Dia menarik napas dalam lalu menghelanya perlahan-lahan, berusaha menenangkan diri walau tidak semudah yang dipikirkannya. Saat ini, tujuannya hanya segera pulih, lalu keluar dari tempat ini. Lunar merasa harus mengetahui identitasnya.bali berdenyut setiap memikirkan kemungkinan itu. Dia menghela napas, berusaha menenangkan diri walau tidak semudah yang dipikirkannya. Saat ini, tujuannya hanya segera pulih, lalu keluar dari tempat ini. Lunar harus tahu identitasnya.