Setelah menjalani perawatan dalam waktu yang panjang, Lunar akhirnya kembali beraktivitas sebagai Arz. Saat ini, bersama dengan para Arz trainee lainnya, Lunar menjalani pelatihan di planet Orla.
“Aku, mewakili enam dewan penjaga Uricle sangat menghargai keberanian kalian para calon anggota Arz. Setelah pertempuran melawan Darz di kapal 37, kita harus meningkatkan kekuatan kita. Ini adalah pelunucuran pertama kalian, siapkan tekad dan semangat kalian.” Ketua dewan penjaga Uricle, Rez mengakhiri pidato peluncuran anggota baru Arz di Orla.
Bersama dengan anggota baru Arz, Lunar menaiki kapal menuju Orla. Matanya terkagum-kagum melihat Planet Orla dari kejauhan. Planet berwarna hijau dan terlihat sangat damai, dengan awan putih yang menyelimuti planet itu. Terlihat pepohonan hijau memenuhi planet itu dan sungai yang membentang ditengah planet. Lunar dapat melihatnya dari kaca kapal yang perlahan mendekat dan segera memasuki lapisan atmosfer planet.
Planet Orla.. planet seperti apakah itu, terlihat sangat tenang dan damai. Lunar bergumam dalam hatinya.
“Yo, kau sendirian?” Seorang Arz berambut hitam mendekatinya. Usia mereka terpaut jauh, mungkin Arz trainee itu baru berusia lima belas tahun. Terlebih tingkahnya seperti anak-anak tidak cocok dengan rifle yang digenggamannya.
“Ah, namaku Ava. Siapa namamu?”
Hal pertama kali yang terlintas di kepala Lunar, Ava adalah pribadi yang cerewet. Lelaki itu bahkan mampu tersenyum lebar pada orang asing sepertinya. Lunar hanya sekilas melihat anak lelaki itu dan kembali dalam lamunannya, seolah dia tidak ingin terganggu dengan pertanyaan yang diberikan Ava.
“Kau berasal darimana?” Ava kembali bertanya.
“Kapal 37,.” jawab Lunar singkat.
“Wow… kebetulan sekali, aku juga berasal dari kapal 37.” Sekolahmu? Mungkin kita juga satu sekolah.” Lanjut Ava, mengganggu lamunan Lunar.
“Aku tidak mengingatnya.” Lunar mencoba mengingat sesuatu, berharap masih ada yang tersisa di dalam ingatannya. Kepalanya kembali berdenyut saat dia mencoba menggali memorinya.
Apakah aku punya keluarga atau… Teman? Tidak ada yang mencari ataupun menjengukku selama dirumah sakit. Mungkinkah mereka semua juga menjadi korban perang?
Lunar melihat dirinya sendiri. Jaket Arz berwarna hitam dengan lambang Arz berwarna merah membuat seluruh Arz terlihat sama. Seketika, Lunar merasa bersalah pada dirinya sendiri. Sejak perbincangan dengan dokter perempuan, dia tidak berhasil mengingat apa pun tentang dirinya, Arz, juga Uricle. Dia hanya tahu Uricle adalah armada raksasa yang terbagi menjadi beberapa bagian. Dia hanya tahu kalau dirinya adalah Arz yang harus bertempur untuk melindungi manusia dan Uricle.
“Kalian tahu, planet Orla sudah lama ditemukan lho. Dari yang kudengar juga Darz di sana sudah dihabisi oleh enam dewan penjaga dan Arz senior. Planet yang cocok untuk pemula seperti kita.” Seorang Arz muda perempuan berambut pendek coklat mencoba menciptakan keakraban di dalam tim.
“Benarkah? Kalau begitu syukurlah, sepertinya latihan ini akan mudah ya.” Ava merasa tenang mendengarnya.
“Tetapi dari yang kudengar, makhluk asli planet itu sudah terkena energi negatif Darlz dan terkenal liar lho, cukup untuk membunuh Arz lemah sepertimu.” Arz lelaki berambut pirang mencoba menakut-nakuti Ava. Ava hanya menyeringai dan mencoba mengatasi rasa takutnya.
Mereka pun sampai di planet Orla. Lunar, Ava, dan para Arz lain membentuk formasi dan bersiap untuk turun dari kapal. Tim yang beranggotakan sepuluh orang dengan satu kapten tim itu memasuki hutan Orla yang dipenuhi tanaman dan pepohonan tinggi. Seketika mereka mengagumi keindahan planet itu tanpa merasa cemas sedikitpun. Mata mereka dimanjakan oleh keindahan alam Orla.
Rasanya sudah sangat lama sekali sejak Lunar melihat pemandangan seperti ini. Saat mendongak, mata Lunar menyipit. Cahaya yang begitu terang dari matahari yang menyusup dari celah dedaunan. Jemarinya menyentuh rerumputan hijau segar yang terasa empuk. Udara Planet Orla membuat Lunar merasa rileks.
Terdengar kicauan burung dan nyanyian Mi..mii.mii..miii… dari kejauhan Lunar mendekati suara itu dan mendapati seekor hewan dengan wajah menggemaskan, telinga cukup panjang dan terdapat bulu halus di ujungnya, tubuhnya menyerupai kucing. Hewan itu sedang bernyanyi bersama dengan kawanannya.
Lunar mendekati hewan itu dan mencari tahu dari database Arz melalui Uricle device sebuah alat berwarna hitam yang berada di tangannya. Lunar memilih menu database. Kemudian sebuah papan hologram muncul dari alat tersebut. Lunar menemukan hewan tersebut dari database Arz. Hewan itu adalah makhluk asli Orla Mimi, seekor kucing hutan yang sangat jinak dan senang bernyanyi. Terdapat banyak Mimi di hutan Orla, seakan tidak merasa takut dengan kehadiran Darlz yang bisa datang kapan saja.
Namun, kedua tangan Lunar yang memegang pedang panjang sedikit gemetar. "Mungkinkah di hutan yang terasa sangat tenang ini, benar-benar aman," gumamnya dalam hati sedikit meragukan ketenangan tempat itu. Saat ini, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sebagai Arz. Dia tidak punya ingatan atau ikatan dengan siapa pun, seperti wadah kosong yang tidak memiliki jiwa dan tujuan.
Lunar, Ava, dan Arz trainee lainnya kembali berjalan berbaris terus memasuki hutan Orla sambil memperhatikan sekitar. Dia membiarkan Ava berjalan di sebelahnya sambil memandangi pemandangan hutan Planet Orla dan Arz lain yang berkelompok.
“ Lunar, apa yang membuatmu bergabung dengan Arz?” Ava kembali dengan pertanyaan dan rasa penasarannya kepada Lunar.
“Ya,” Lunar menjawab singkat tanpa memandang Ava. Dia hanya memperhatikan gerak dedaunan yang tertiup angin. Udara sejuk perlahan menjadi dingin, membuat Lunar merasa janggal. Entah hanya firasatnya saja atau memang hal itu dirasakan semua orang.
“Hei, kenapa hanya ya. Rupanya kau orang yang pendiam ya.” Ava bicara lagi. Kali ini, lelaki itu memandangi Lunar lekat-lekat, memaksa Lunar untuk memandang ke arahnya.
“Kau tidak bergabung dengan mereka?”
“Kau sendiri?” Ava balik bertanya. “Lebih baik kita bergerak berkelompok lho. Bagaimanapun kita masih Arz trainee yang masih mencari pengalaman.”
“Pergilah lebih dulu dengan mereka.” Lunar yang merasa terganggu Ava memalingkan pandangannya dan kembali memperhatikan pepohonan.
“Mana mungkin aku meninggalkan rekan seperjuanganku sendirian.” Ava mengatakannya dengan nada optimis.
Tak ingin berlama-lama, akhirnya mereka berdua menyusul Arz lain yang terus menelusuri hutan. Katanya, Planet Orla merupakan tempat yang bagus untuk Arz trainee berlatih, tapi sampai saat ini mereka belum bertarung satu kali pun.
“Menurutmu, apa yang akan kita hadapi nanti?” Ava bertanya dengan mata berbinar. Sepertinya, anak ini tengah membayangkan sesuatu yang seru dan menyenangkan dibanding sesuatu yang mengerikan.
Lunar mengangkat bahu. “Entahlah, tapi kau tetap harus waspada.”
Semak-semak di balik pohon bergemerisik. Naluri membuat Lunar langsung sigap dengan pedang panjang dan mengarahkannya ke sumber suara dengan waswas. Begitu pula dengan Ava yang siap dengan rifle-nya. Berbagai macam pikiran aneh mulai memenuhi benak mereka. “Mungkinkah monster kegelapan, Darlz? ” Lunar yang waswas membayangkan monster mengerikan akan muncul dari semak-semak.
Seekor hewan berbulu kecoklatan yang terlihat seperti kera berukuran kecil melompat dari semak-semak, membuat mereka semakin siaga. Tadinya, Lunar ingin segera menebas hewan itu, tapi Ava menghentikannya. "Cuma seekor kera.”
Lunar mengangguk, lalu menurunkan pedangnya kembali. Namun, ketika mereka hendak berbalik dan menyusul Arz lain, kera itu menyerang mereka.. Ava dan Lunar bergegas menghindar dengan berguling ke samping dengan kebingungan melanda. Rupanya informasi tentang makhluk Planet Orla yang terkena energy negative Darlz memang benar. Lunar baru menyadarinya saat melihat mata hewan itu yang gelap dan bercahaya merah. Ditambah tindakan agresif yang diakibatkan energi negatif Darlz.
“Ia sudah terinfeksi ya?” tanya Ava.
Lunar mengangguk. Dia bergerak cepat saat kera itu hendak melompat padanya, lalu mengayunkan pedang. Dengan dua tebasan, kera itu dikalahkan. Cipratan darah kera itu mengenai Lunar dan berubah menjadi partikel hitam yang merasuk kedalam tubuh Lunar. Kera yang terinfeksi itu meninggalkan energi negatif ke tubuh Lunar lalu berubah menjadi kepingan cahaya berwarna merah kehitaman. Melihat kejadian itu, kepala Lunar kembali berdenyut.
Pedang yang dipegangnya terjatuh dan tubuhnya merosot ke tanah. Khawatir, Ava pun menghampiri Lunar yang mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya.
“Hei, kau baik-baik saja?”
Lunar mengabaikan pertanyaan Ava dan fokus menahan rasa nyeri di kepala. Kepingan cahaya dan gelembung hitam itu mengingatkan Lunar pada mimpinya. Sesuatu yang aneh berdesir dalam tubuh Lunar, membuat sekelebat bayangan dalam mimpi kembali berputar dalam benak. Tentang perempuan yang menghilang di balik kepingan cahaya, lautan mayat, dan juga pertempuran dalam mimpinya. Keyakinan Lunar tentang keterkaitan Darlz, Arz, dan Uricle dengan masa lalunya semakin kuat. Namun, meski kepalanya bereaksi terhadap kepingan cahaya, Lunar tidak bisa mengingat apa pun. Tidak ada kepingan ingatan yang mengingat tentang hal-hal yang muncul dalam mimpinya. Hal ini yang membuat Lunar frustasi setengah mati.
Siapa dia sebenarnya?
Setelah beberapa lama menenangkan diri, Lunar mengumpulkan tenaganya kembali untuk berdiri. Dia tersenyum tipis pada Ava yang memasang raut wajah khawatir.
“Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.”
“Wajahmu pucat. Apa sebaiknya kita kembali ke kapal?”
Lunar menggeleng. “Tidak. Tidak perlu. Aku baik-baik saja.”
Lagipula, Lunar tidak bisa bermalas-malasan di room sementara ingatannya belum kembali. Dia harus mencari cara untuk mengembalikan ingatan. Mungkin dengan berlatih di Planet Orla dan bertarung dengan Darlz, bisa menjadi jalannya mengembalikan ingatan. Dia perlu tahu siapa perempuan itu dan apa yang terjadi sebelumnya. Entah hal itu buruk atau tidak, Lunar ingin mengetahuinya.
Dengan sedikit memaksakan diri, Lunar kembali berjalan menyusul Arz lain bersama Ava. Anak yang baru dikenalnya itu terlihat khawatir. Jelas saja karena barusan Ava melihat Lunar yang mengalahkan monster tapi malah mengerang kesakitan.
Mereka bergegas menyusul ketertinggalan mereka pada Arz lain. Akan tetapi, betapa terkejutnya ketika mereka melihat para Arz terbaring tak berdaya dengan luka serius. Terdapat luka goresan yang panjang di tubuh para Arz yang terbaring dan sebagian lain tertimpa pepohonan besar yang tumbang. Pemandangan yang terasa sama seperti mimpinya. Lautan manusia dengan darah di mana-mana, membuat Lunar dan Ava merinding.
Tangan Lunar gemetar, napasnya seolah tertahan di tenggorokan, seperti embusan angin dingin melintas dan membuat udara membeku. Matanya panas. Tanpa sadar, mereka menjerit dan mundur beberapa langkah. Apa yang baru saja terjadi?
Terdengar suara langkah yang cepat dan ramai menandakan sesuatu yang berjumlah sangat banyak mendekat. Udara hutan Orla yang sejuk berubah menjadi dingin menusuk, menerbarkan aura kegelapan yang kuat. Melawan rasa takut itu, Lunar mendongak. Matanya menangkap sesuatu yang aneh, lubang gelap berbentuk spiral yang berputar memuntahkan monster-monster kegelapan berbentuk laba-laba. Selain dari lubang hitam, mereka muncul dari balik pepohonan dan semak-semak. Kaki mereka yang kurus dan tajam melewati tubuh para Arz yang telah mati.
Lunar dan Ava tersentak. Mereka adalah Darlz, makhluk kegelapan yang menginfeksi satwa asli Planet Orla. Mereka terkepung dan tidak ada jalan lain selain bertarung.