Lunar bergegas menggenggam pedang panjang dan Ava siap dengan rifle. Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Dia memerlukan sesuatu untuk melawan mereka. Dia melihat ke sekeliling, mencari-cari sesuatu yang dapat membantu mereka. Suara para Darlz yang memekkan telinga membuat Ava dan Lunar harus menutup telinga. Gerakan mereka yang cepat membuat Ava dan Lunar kewalahan ketika menghindar. Lunar merasa tubuhnya melayang ketika para Darlz itu melompat dengan cepat ke arah mereka. Pikirannya kosong, seakan jiwanya tengah berkelana menjelajah permukaan ingatan.
Kondisi seperti ini … seperti sebuah déjà vu. Namun, Lunar tetap tidak mampu mengingat apa pun. Suara tembakan Ava membuat Lunar tersentak. Ini bukan saatnya untuk meratapi nasib.
Dengan cepat, Lunar mengayunkan pedangnya pada beberapa Darlz yang mencoba menyerangnya. Lunar sadar ini adalah masa hidup dan mati di tengah kepungan para Darlz. Makhluk itu memekik lagi, seakan-akan memanggil segerombol Darlz di sisi lain hutan.
Di luar dugaan, ternyata Ava cukup bisa diandalkan. Selagi Lunar mengatasi bagiannya, Ava mampu bertahan dengan baik. Mereka menjadikan batang pohon yang sudah rubuh untuk tempat bertahan. Sepertinya akan sulit untuk kembali ke kapal mereka secara diam-diam.
“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Ava dengan lutut gemetar, tapi kedua tangannya terus melancarkan serangan.
Lunar berpikir sejenak seraya menghempaskan beberapa Darlz yang menyerang ke arahnya. “Kabur. Kita tidak akan bisa mengalahkan mereka hanya dengan berdua. Sebisa mungkin kita harus membuat celah lalu kembali ke markas.”
Saat ini itulah yang terpikir oleh Lunar. Mungkin sulit melarikan diri dari Darlz yang jumlahnya mencapai ratusan. Apalagi mereka baru berlatih hari ini dan tidak memiliki pengalaman. Mereka hanya bisa bergantung pada weapon yang diberikan para pelatih. Salah satunya untuk kabur adalah bertarung untuk membuat celah melarikan diri.
Ava sedikit terkejut melihat Lunar yang mampu bertarung dengan tenang. Tidak ada raut kekhawatiran atau ketakutan saat mengayunkan pedang pada Darlz. Tidak seperti Arz trainee yang ragu-ragu ketika mengayunkan weapon untuk membunuh musuh. Mendadak Ava jadi terpikir siapa Lunar sebenarnya. Jangan-jangan, Lunar adalah Arz lama yang selamat dari pertarungan sepuluh bulan lalu? Dari cara bertarung dan pola pikir Lunar yang jauh dari Arz trainee membuat Ava yakin akan hal itu.
Pandangan Lunar tertuju pada bagian Darlz yang berwarna merah. Saat dirinya menyerang bagian tubuh Darlz yang lain, efeknya tidak terlalu besar. Namun, ketika dirinya menyerang bagian merah itu, Darlz tersebut langsung mati.
“Titik lemah, ya?” Lunar bergumam, lalu kembali mengayunkan pedang dan menyerang beberapa Darlz sekaligus. Sementara itu Ava terus menembaki Darlz di sekitar.
“Incar bagian merahnya!” Lunar berseru.
Ava terkesima melihat Lunar yang mampu menemukan titik lemah lawan sambil bertarung. Otot-ototnya menegang karena melihat gaya bertarung Lunar yang di luar dugaan. Menakjubkan, tapi ini bukan waktunya untuk mengagumi orang lain.
Sesaat setelah mereka menghabisi sebagian Darlz itu, tanah pijakan mereka bergemuruh hebat seakan terjadi gempa. Bau amis darah itu menghilang, tapi aura kegelapan yang dipancarkan Darlz semakin menguat. Dengan berusaha menyeimbangkan tubuh agar tidak terjatuh, Lunar mendongak. Dia melihat lubang yang memuntahkan para Darlz itu membesar.
Ini buruk. Jarak dengan kapal mereka masih cukup jauh. Mereka juga sudah kelelahan karena menghadapi banyak sekali Darlz. Jika masih terus bertarung, kemungkinan mereka terbunuh sangat besar.
Getaran di tanah mereda. Lubang gelap berbentuk spiral itu kini mengecil, tapi sosok yang begitu besar dan mengerikan muncul. Empat pasang kaki yang tajam seperti laba-laba menancap di tanah. Hampir saja Ava terbunuh seandainya Lunar tidak bergegas menariknya menjauh.
“Jangan melamun!” Lunar berseru. Dia bergegas menarik Ava menjauh dari monster berbentuk laba-laba raksasa dengan mahkota di kepala. Terlihat lebih mengerikan saat monster itu membuka mulut dan menampilkan sederet gigi tajam yang berantakan. Seluruh tubuhnya berwarna ungu kehitaman dengan tanduk-tanduk kecil di sekujur tubuh. Kulitnya keras, memantulkan cahaya matahari yang mulai tenggelam.
Tanah kembali bergetar ketika monster laba-laba itu bergerak. Lunar dan Ava tidak menyangka pertarungan mematikan ini masih berlanjut. Monster itu menoleh pada dua manusia yang mencoba menjauh darinya, lalu melayangkan beberapa serangan berbentuk sihir listrik hitam.
Dengan kekuatan yang tersisa, Ava dan Lunar berhasil menghindari serangan, tapi monster Darlz itu tak mau memberi celah. Sebelum Ava dan Lunar melarikan diri lebih jauh, monster itu melompat sangat tinggi dengan keempat kakinya lalu mendarat tepat di hadapan Lunar dan Ava.
Ava berjengit. Tangannya yang memegang rifle melemas ketika monster itu tepat berada di depan matanya. Melihat reaksi Ava, Lunar tahu kalau ini adalah pertama kali untuknya. Dia bergegas menarik lengan Ava untuk bersembunyi di belakangnya.
“Hei, apa yang kau lakukan!?” Ava berseru ketika Lunar membentuk kuda-kuda bertarung.
“Tidak ada yang bisa dilakukan selain bertarung.”
“Tapi, kau tidak akan bisa mengalahkannya!” Ava semakin khawatir ketika melihat Lunar berlari hendak menyerang monster itu.
“Tidak akan ada yang berubah kalau kau tidak memberanikan dirimu.” Lunar berbicara sambil mengayunkan pedangnya. Dia berusaha merubuhkan keempat kaki monster Darlz yang ternyata sangat kokoh. Meski serangannya berhasil, monster itu menghempas tubuh Lunar hingga menabrak batang pohon. Lunar mengerang, berusaha bangkit dan menggenggam pedangnya kembali.
Seakan tidak tertarik dengan Ava, monster itu mendekati Lunar yang kembali berdiri tegap. Ava tidak mau berdiam diri seperti orang bodoh dan membiarkan Lunar terbunuh begitu saja. Dengan memberanikan diri, dia kembali menggenggam rifle dan menyerang salah satu kaki monster itu. Pertahanan monster Darlz yang kuat tidak tertembus begitu saja, membuat Lunar dan Ava semakin terpojok.
Kaki-kaki monster yang kokoh dan tajam kembali berusaha menyerang mereka. Kali ini, Lunar dan Ava kembali berhasil menghindar. Dengan memanfaatkan pepohonan yang roboh, Lunar melompat dengan tinggi untuk melihat bagian atas monster itu. Jika Darlz biasa memiliki titik lemah, itu artinya monster ini juga memilikinya. Saat melompat tinggi, Lunar menemukan bagian merah yang sangat besar di balik tengkuk. Dengan gerakan cepat, Lunar berhasil berpijak di atas tengkuk monster itu. Dia melancarkan beberapa serangan membabi buta hingga membuat bagian merah itu terburai.
Perlahan, monster itu berubah menjadi kepingan cahaya yang sama seperti Darlz lainnya. Kepingan cahaya itu perlahan membungkus tubuh Lunar, seakan menariknya ke suatu tempat yang dalam. Kesadarannya memudar meski Lunar berusaha mempertahankannya. Pedangnya terlepas dari genggamannya, terjatuh lebih dulu dari tubuhnya.
Saat Lunar hendak membuka mata, semuanya berubah menjadi gelap. Sebuah suara berbisik lembut. Udara sejuk Planet Orla kembali dan aura kegelapan Darlz menghilang. Akan tetapi, Lunar merasa ada sesuatu yang memanggil namanya berulang kali. Suara yang familier, tapi … dia tetap tidak mampu mengingatnya.
“Lunar….”