Bayangan seorang wanita berpakaian putih, di beberapa bagian tubuh wanita itu terdapat gelembung air berwarna biru yang bergerak berputar. Peremuan itu memiliki rambut berwarna biru seperti yang dimiliki Lunar. Mata berwana biru dan tatapan yang hangat. Wanita itu tersenyum sambil berbisik sangat lembut, seolah wanita itu adalah ibunya.
“ Lunar…Bangunlah Lunar...”
Saat Lunar membuka mata, tubuhnya telah diselimuti cahaya hitam. Kebingungan melanda Lunar. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan dirinya saat ini. Cahaya hitam itu terus membesar dan semakin membesar seolah ingin menelannya. Secara tiba-tiba cahaya hitam itu mengeluarkan sulur-sulur panjang berwarna merah yang membentuk sebuah kurungan berbentuk bola berukuran besar.
Lunar berusaha bangkit dan mengumpulkan kekuatannya, mencoba untuk menghancurkan kurungan itu. Namun Lunar tidak menyangka kurungan itu sangat kokoh.
“Lunar... Lunar... Apa kau baik-baik saja?” Ava terihat sangat khawatir dengan Lunar yang terkurung didalam kurungan Darlz.
Keadaan semakin memburuk , Lunar terkurung dalam Darlzoche, sebuah kurungan yang terbuat dari serpihan monster Ragmoth yang telah dikalahkan Lunar sebelumnya. Ava yang khawatir terus menembakan rifle-nya, mencoba menghancurkan benda itu.
“Hancurlaaah…” Ava menembaki Darlzoche ke segala arah, berharap benda itu segera hancur. Perasaannya sangat kacau, dia tidak bisa membayangkan terjadi sesuatu yang buruk pada Lunar seperti yang dialami Arz lainnya.
“Kumohon bertahanlah Lunar, aku akan menyelamatkanmu.”
“Hei Ava... Tenanglah, kalau kau menembaki seperti itu bisa-bisa pelurumu langsung habis. Tembaklah pada satu titik untuk membuat celah.” Lunar yang terkurung didalam Darlzoche berusaha menenangkan Ava sambil tetap berusaha menghancurkannya dari dalam.
Ketika mereka sedang mencoba menghancurkan Darlzoche, tiba-tiba beberapa Darlz berbentuk nyamuk berukuran besar muncul dari dalam dan menyerang Lunar. Tubuh monster itu berwarna hitam mengkilat, dengan tangan berbentuk capit yang siap mencengkram siapa saja yang mendekatinya. Ekor mengerucut berwarna hitam bercampur coklat tua.
“Ini gawat. Ava tolong kau usahakan untuk membuat celah. Aku harus mengalahkan beberapa Darlz yang ada didalam.” Lunar berbalik dan hendak bertarung dengan pedang kecil yang dikeluarkannya dari dalam tas kecil yang menggantung melingkar di punggungnya.
Lunar yang telah mengetahui kelemahan Darlz langsung mengarahkan pedang kecilnya ke bagian tubuh Darlz yang berwarna merah. Namun hal itu tidak semudah yang dibayangkan. Darlz yang berada di dalam Darlzoche terus menyerang Lunar tanpa ampun. Lunar kalah dalam jumlah dan tubuhnya semakin kelelahan. Keringat membasahi seragam Arz yang dikenakannya. Keadaannya sangat payah. Sebagian tubuhnya berlumur darah Darlz yang telah berhasil dikalahkan.
Sementara itu, Ava berhasil membuat lubang kecil di sudut Darlzoche. Sambil terus menembaki lubang itu agar Lunar dapat keluar dari lubang itu.
“Ayoo, sedikit lagi!” teriak Ava sambil menembakkan rifle-nya.
Tiba-tiba terdengar suara krak dari Darlzoche. Lubang yang dibuat Ava semakin membesar dan memungkinkan Lunar untuk keluar.
“Lunar... Cepat keluar dari sana, ada sebuah lubang disudut sebelah kiri.” Ava berhenti menembak dan mengarahkan Lunar untuk segera keluar.
Darlz mengikuti Lunar keluar dari Darlzoche, mencoba menyerang Lunar dan Ava kembali seakan tidak ingin membiarkan Lunar dan Ava tetap hidup.
Lunar yang telah berhasil keluar kemudian dengan sigap mencari pedang panjang miliknya yang terjatuh. Dengan kuda-kuda yang mantap, Lunar mengarahkan pedangnya bersiap bertarung dengan Darlz yang mengejarnya.
Monster yang berbentuk seperti nyamuk, Eldhamoth tiba-tiba mengeluarkan jarum dari ekornya dan mengarahkannya ke Lunar. Dengan gerakan cepat Lunar melompat lalu berguling ke samping memanfaatkan batang pohon yang tumbang, menghindari jarum-jarum itu. Terlihat ada cairan berwarna keunguan keluar bersamaan jarum itu. Rupanya jarum yang dikeluarkan monster itu adalah jarum beracun. Rumput yang terkena jarum dari nyamuk itu berubah warna menjadi abu-abu lalu hancur seperti debu.
“Ava, hati-hati, jangan sampai kau terkena jarum dari monster nyamuk itu,” teriak Lunar memperingati Ava.
Monster nyamuk itu kembali menyerang Lunar dengan gerakan menyeruduk dari udara. Suara mengerikan keluar dari serangan monster itu, membuat Lunar harus menutup telinganya sambil berguling ke kiri. Pedang panjang yang digenggamnya terlepas dari tangan. Namun, dengan sigap Lunar mengambilnya dan berbalik ingin menebas monster nyamuk yang menyerangnya. Tapi monster itu berputar ke udara menghindari serangan balasan dari Lunar.
Dor... dor... dor... Ava menembaki monster itu dari kejauhan. Namun tembakan itu hanya mengenai pohon yang ada di belakang monster nyamuk itu. Kini monster itu berpindah ingin menyerang Ava dengan jarum beracunnya.
Lunar kembali menyerang monster nyamuk itu dari belakang. Dia diam-diam telah mengamati pergerakan monster itu dan melihat titik kelemahannya yang berada di punggung monster. Lunar melompat setinggi yang dia bisa dengan memanfaatkan batang pohon sebagai pijakan, kemudian menebas bagian merah yang ada di punggung monster.
Serangan Lunar sedikit meleset mengenai sayap monster, namun berhasil menjatuhkan monster itu. Lunar segera menghancurkan bagian merah di punggung monster nyamuk, dan seketika monster itu berubah menjadi kepingan cahaya berwarna merah kehitaman.
Serangan yang diberikan Darlz tidak ada habisnya, membuat Lunar dan Ava semakin kelelahan. Keringat membanjiri tubuh mereka. Belum sempat beristirahat tiba-tiba monster berbentuk laba-laba menyerang secara berkelompok, Monster-monster itu mengepung Lunar dan Ava.
Ava kembali memperlihatkan kelihaiaannya menggunakan rifle.
Suara hentakan dari rifle Ava semakin tidak karuan mengikuti suasana di tempat itu yang bertambah tegang tiap detiknya. Sebagian besar monster laba-laba itu berhasil terkena tembakan Ava.
“Over End!” Sambil berteriak Lunar yang tak ingin membuang waktu menebaskan pedang panjangnya ke arah monster-monster itu. Seolah ada kekuatan luar biasa yang keluar dari tubuhnya, Lunar menebaskan pedang ke kanan lalu kirinya sambil melompat. Serangan Lunar berhasil mengalahkan Darlz dan mengakhiri pertempuran mereka.
Kemudian mereka bergegas berlari menyusuri hutan Orla, mengabaikan tubuh yang kelelahan disertai deru jantung yang tidak karuan dan napas terengah-engah. Mereka mencari jalan untuk kembali ke kapal yang membawa mereka ke planet Orla.
“Ayo Ava, kita harus bergegas sebelum monster-monster itu kembali menyerang. Mereka bisa muncul dari mana saja.” Lunar segera berlari menjauh meninggalkan tempat pertarungan mereka.
Mereka berlari kencang mengabaikan rasa lelah yang luar biasa, bergegas kembali ke kapal, namun tiba-tiba hujan turun sangat deras diikuti petir yang menyambar pepohonan di depan mereka. Hal itu membuat Lunar dan Ava menghentikan langkahnya. Mereka mencari tempat berlindung. Dengan tubuh yang kelelahan dan berlumuran darah Darlz. Keringat bercucuran membasahi seragam Arz yang mereka kenakan. Kemudian mereka masuk ke dalam gua yang cukup besar.
“Sepertinya di sini cukup aman,” ujar Lunar sambil menaruh pedangnya di dinding gua, melepaskan tas dari punggungnya kemudian berbaring meluruskan tubuhnya yang sangat kelelahan.
Ava menjatuhkan tubuhnya ke tanah.
“Apa-apaan ini. Seperti ini kah kehidupan seorang Arz?” Ava yang kelelahan dan masih syok dengan kejadian yang baru saja mereka alami merasa kehidupan Arz sangat berat.
“Sama seperti kejadian sepuluh bulan lalu, aku juga melihat Darlz menyerang kapal tempat tinggalku. Banyak warga sipil yang tewas saat pernyerangan Darlz, termasuk kedua orang tuaku dan aku kehilangan kakak perempuan ku saat itu. Karena hal itu, aku memberanikan diri untuk bergabung menjadi Arz. Tapi aku tidak menyangka kalau hidup Arz sangat berat. Semua anggota tim kita tergeletak tidak berdaya dihabisi Darlz.” Ava tertunduk sambil memeluk lututnya.
Dirinya masih tidak percaya kalau dia baru saja berhadapan dengan monster kegelapan yang merupakan musuh utama Arz. Ava teringat saat p*********n Darlz di kapal tempat tinggalnya sepuluh bulan lalu. Bayangan mengerikan melintasi pikirannya. Tidak ingin larut dalam kesedihan Ava menyingkirkan pikiran itu khawatir akan memperparah keadaannya saat ini.
“Hei Lunar, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Apa alasanmu bergabung dengan Arz?” Ava kembali dengan pertanyaannya yang belum dijawab Lunar. Memasang wajah yang penuh rasa ingin tahu seakaan kesedihan yang baru dialaminya telah menghilang.
“Aku ingin mencari tahu identitasku yang sebenarnya. Saat ini aku seperti orang yang kebingungan.” Lunar tertunduk, merasa depresi karena belum mengingat apapun.
“Identitas? Identitas apa maksudmu?” Ava kembali bertanya.
“Aku juga tidak tahu apa yang telah terjadi dengan diriku.” Lunar kembali memberikan jawaban yang semakin membuat Ava kebingungan.
Lunar tiba-tiba teringat dengan bayangan wanita yang memanggil namanya saat dirinya diselimuti kegelapan tadi. Siapa wanita itu? Mengapa dia tahu namaku. Wanita itu berbeda dengan wanita dalam mimpiku. Kali ini wanita berambut biru tua dengan gelembung air yang mengelilingi tubuhnya. Lunar bergumam dalam hatinya.
“Teman-teman, keluarga, tidak ada yang kuingat satupun dan tidak ada yang mencariku. Seperti diriku hanya sebatang kara. Namun mimpi-mimpi aneh terus bermunculan dan kepalaku selalu bedenyut Ketika melihat cahaya dari Darlz yang ku hancurkan. Kini ada dua bayangan wanita yang selalu muncul.” Lunar kembali memasang wajah sedih saat mengingat mimpi anehnya.
“Hei.. Jangan terlalu dipikirkan, kau pasti akan menemukan jawaban. Sekarang kita harus mengisi tenaga kembali.” Ava meyakinkan Lunar sambil membuka tas perbekalan miliknya dan mengeluarkan botol minum dan kotak makanannya.
“Lunar.. Tadi saat aku melihatmu bertarung, aku merasa kalau kau dulunya adalah seorang Arz yang hebat. Kau tetap tenang meski monster-monster itu menyerang kita dari berbagai arah.” Ava kembali bertanya dengan wajah polosnya.
“Aku sendiri tidak tahu mengapa tubuh ini bisa bergerak seperti itu. Seperti digerakkan kekuatan yang tidak aku ketahui. Hahaha..” Lunar menjawab sambil tertawa, mencoba mencairkan suasana tegang setelah pertempuran. Mengikuti Ava, Lunar membuka tasnya dan meneguk air dari botol minum miliknya. Tenggorokannya yang kering seakan kembali segar setelah dialiri air.
“Cih.. Jawaban macam apa itu.” Ava tidak puas dengan jawaban yang diberikan Lunar.
“Yah.. Pertama-tama kita harus mengirimkan laporan ke kapal induk mengenai kondisi kita saat ini," ujar Lunar sambil mengaktifkan Uricle device yang terpasang di lengan kanannya. Sebuah alat yang sama saat Lunar mencari informasi makhluk asli Orla. Papan hologram muncul dari alat itu, berisi data yang telah dikumpulkan Arz saat menjelajah antar planet. Alat itu juga berfungsi sebagai alat komunikasi Arz.
“Kau benar, jelaskan kondisi kita dan titik tempat kita berada saat ini.” Ava membuka kotak makanan yang isinya sudah tidak berbentuk lagi. “Lumayan untuk mengganjal perut laparku ini, hahaha.”
“Makan dan minum lah selagi sempat, kita tidak tahu apa yang kita hadapi nanti," ungkap Lunar sambil membuka kotak makanan dan langsung menyantap makanannya.
Hujan dan kilatan petir masih belum menampakan tanda akan berhenti, membuat Lunar dan Ava tetap berada di gua sambil menunggu bantuan dari kapal induk.