Di ruang komando papan hologram berukuran besar di ruang komando tiba-tiba memunculkan tulisan emergency, lampu-lampu berubah menjadi berwarna merah, dan sirine mengeluarkan bunyi membuat seluruh Arz yang berada di ruangan menjadi cemas. Kapal induk menerima sinyal dari Lunar dan Ava yang berada di planet Orla dan terkepung makhluk kegelapan Darlz.
Seorang wanita berpakaian seragam operator kapal Uricle menjelaskan sinyal darurat dari papan hologram yang ada di hadapannya
“Dikonfirmasi adanya kemunculan Darlz di Orla. Peningkatan korosi ruang telah mencapai tingkat berbahaya. Tim trainee telah dihabisi termasuk kapten tim dan hanya tersisa dua orang Arz.”
Terlihat seorang pria bertubuh tegap yang dibalut jubah Arz berwarna biru tua seketika bangkit dari tempat duduk, wajahnya menunjukkan kecemasan melihat ruang komando berubah berwarna merah yang berasal dari papan hologram besar di hadapannya. Dia merasa bersalah karena baru saja dia mengirim Arz itu dan mereka langsung dihabisi Darlz.
Rez mengepalkan tangannya dan menghantamkan ke meja yang ada di depannya. Rez mengerutkan dahinya, wajahnya terlihat sangat muram mengingat di sana terdapat monumen tempat Darlz disegel. Orla, kenapa harus Orla. Di sana ada…
“Apa yang terjadi di sana? Bukankah mereka Arz trainee yang sedang menjalani pelatihan dan juga beberapa bagian Orla sudah terpasang lasersphere yang memurnikan energy negative Darlz, seharusnya tempat itu tidak akan muncul Darlz, kecuali… ” Rez terlihat sangat ragu melanjutkan perkatannya, dirinya tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya terhadap kedua Arz trainee itu. Rez tidak bisa membayangkan jika Darlz yang tersegel akan bangkit dan kembali menyerang seperti yang terjadi tiga puluh tahun lalu.
"Fenz…” Rez memanggil seorang Arz pria berambut pendek berwarna merah yang duduk di sampingnya. “Bisa kau pergi ke Orla dan lihat bagaimana keadaan disana? Aku merasa sesuatu yang lebih buruk akan terjadi. Kumpulkan anggota tim mu dan selamatkan kedua Arz itu."
"Tentu saja Rez, sudah lama sekali aku tidak berjalan-jalan. Kirimkan aku titik kordinat tempat kedua Arz itu." Dengan wajah yang bersemangat, pria berambut merah menerima perintah dari ketua dewan penjaga itu.
“Jika kau menemukan sesuatu yang mencurigakan, segera ambil langkah cepat dan hubungi aku Fenz,” tambah Rez sebelum Fenz pergi dari ruangan itu.
“Baiklah, aku akan melihat-lihat planet itu, jika dugaanmu benar, aku akan segera memperbaiki benda itu sebisa ku.”
“Fenz… hati-hati dan …” Rez terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.
“Dan apa Rez?” Fenz kebingungan dengan sikap temannya itu.
“Jangan sampai ada yang terbunuh lagi Fenz, aku mengandalkan kalian.” Sejenak Rez termenung, wajahnya muram, dia teringat dengan kejadian tiga puluh tahun lalu ketika Darlz mengamuk dan menghancurkan sebagian kapal Uricle.
“Tenang saja Rez, jangan pasang wajah seperti itu, kau terlihat sangat tua,” ujar Fenz sambil bangkit dari tempat duduknya lalu bergegas keluar dari ruang komando dan mencari anggota timnya yang berada di ruangan jaga yang berada tidak jauh dari ruang komando. Wajahnya menunjukkan semangat sekaligus kecemasan.
Fenz langsung membuka pintu ruang jaga tanpa mengetuknya dan berteriak memanggil anggota tim yang akan dibawanya.
“Eucli, Ghult, dan Melfon kalian bertiga ikut aku, kita harus segera ke Planet Orla, Darlz di sana mengamuk dan menghabisi Arz trainee.”
“Tenanglah Fenz, coba jelaskan secara rinci dan pelan-pelan. Aku tidak paham dengan kau maksud,” ujar seorang wanita berambut berwarna coklat yang diikat dua.
“Aku juga tidak mengerti yang kau maksud Fenz. Coba kau duduk dulu dan jelaskan kepada kami.” Seorang pria berambut pendek jigrak berwarna hitam meminta Fenz untuk menjelaskan keadaaan.
Fenz yang ingin segera berangkat memasang wajah serius meminta mereka langsung keluar dari ruangan itu dan mengikutinya. “Tidak ada waktu untuk bersantai, aku akan menjelaskan detailnya nanti di perjalanan. Sekarang kalian siap-siap, jangan lupa untuk membawa perbekalan untuk beberapa hari,” tegas Fenz sambil menaikkan alisnya, kecemasan di wajahnya belum menghilang. Ia ingin secepatnya melihat langsung keadaan kedua Arz itu. Ku harap kalian berdua bisa bertahan sampai kami tiba di sana.
Dengan langkah yang tergesa-gesa mereka segera berlari menuju dermaga luar angkasa, tempat kapal mereka berada. Sebuah kapal luar angkasa yang berukuran kecil, berwarna silver dan hitam di beberapa bagian. Kapal itu adalah kapal tercepat yang biasa digunakan Ketika kondisi darurat. Kapal itu cukup untuk mereka berempat dan juga perbekalan yang mereka bawa. Mereka siap dengan weapon masing-masing dan juga perbekalan, khawatir misi mereka akan berlangsung lama.
"Pasti ini sangat darurat ya, sampai-sampai salah satu anggota dewan penjaga yang turun tangan langsung menyelamatkan para Arz itu," ujar Eucli yang duduk di sebelah Fenz.
" Begitulah, kau ingat Eucli, di Orla ada monumen tempat Darlz disegel dan sekarang Darlz bermunculan di sana menginfeksi makhluk asli planet itu. Ku rasa pak tua Rez juga sebenarnya ingin langsung turun tangan, tapi dia harus menjaga kapal induk,” ujar Fenz dengan nada sedikit mengejek. Dia langsung mengenakan sabuk pelindung dan mengaktifkan kapal yang mereka naiki.
“Yah kau benar, aku belum lupa kalau di sana ada monument itu dan juga kejadian tiga puluh tahun lalu. Saat itu aku masih sangat kecil.” Eucli menggenggam tongkat sihirnya dengan sangat erat, sampai-sampai kulit di jarinya memucat.
"Dasar Arz lemah, melawan Darlz saja sudah kewalahan begitu, akan aku tunjukkan bagaimana kekuatan yang sesungguhnya. Sudah lama aku tidak mengeluarkan tinjuku ini. Ayo Melfon kau juga harus tunjukkan kemampuanmu di hadapan Darlz," seru Ghult sambil mengepalkan tangannya yang tertutup knuckle, Ghult merasa jiwa bertarungnya terpanggil dan sangat membara.
"Ayo Ghult, aku juga merasa sangat bersemangat." Seorang wanita bertubuh mungil, dengan beberapa helai rambut merah mudanya yang menghiasi wajah menambah kecantikan wanita itu. Melfon duduk di sebelah Ghult, tangannya menggenggam tongkat sihir sedikit gugup namun dirinya merasa senang melihat Ghult yang kembali bersemangat.
***
Lunar dan Ava yang berada di Planet Orla masih menunggu hujan yang tidak kunjung mereda, seakan-akan menghalangi mereka kembali ke kapal. Kekhawatiran terlihat di wajah mereka berdua. Rasa lelah yang menjalar di seluruh tubuh membuat mereka berpikir dua kali untuk menerobos hujan.
“Sudah lama sekali sejak aku mengirim sinyal ke kapal induk.” Wajah Lunar menunjukkan kegelisahannya. Beberapa kali dia melihat Uricle Device yang terpasang di tangannya, memastikan komunikasi dengan kapal induk tidak terputus. Mulanya dia berbaring di tanah, namun dia merasa was-was dan bangkit berdiri di pintu masuk gua.
“Lunar, simpanlah energimu untuk bertarung lagi nanti. Hujan belum reda, kita harus menunggu mereka datang.” Ava duduk di sudut gua sambil memeluk lututnya, merasa gelisah seperti Lunar namun tubuhnya yang kelelahan membuatnya enggan bergerak.
Tiba-tiba tanah kembali bergemuruh dan lubang hitam muncul dihadapan mereka, memuntahkan monster-monster Darlz yang mengerikan. Beberapa monster nyamuk raksasa terbang di atas mereka, siap menyerang dengan jarum-jarum racunnya. Selain itu, monster laba-laba sudah berlari ke arah mereka, menunjukkan kaki-kaki yang tajam dan siap menikam tubuh mereka.
Lunar dan Ava menjerit, terlonjak menjauhi tempat monster-monster itu muncul, kemudian memandang dengan ngeri. Energi mereka belum sepenuhnya terisi, namun monster-monster itu memaksa untuk kembali bertarung.
Lunar segera mengambil pedang panjangnya, dan menarik Ava masih terkejut dengan kemunculan Darlz. “Ava, ambil rifle-mu, kita harus pergi dari sini, tidak ada waktu lagi, mereka akan segera menyerbu kita.”
Mereka berlari sekencangnya keluar dari gua, berusaha menjauh dari para Darlz. Mereka bersembunyi di balik pohon besar sambil mengamati pergerakan Darlz, berusaha mencari celah untuk mengalahkan mereka. Lunar menggenggam pedang sambil mempersiapkan kuda-kuda bertarung.
Seekor monster laba-laba tiba-tiba muncul dari sebelah sisi pohon tempat mereka bersembunyi dan langsung menghantam Ava. Tanpa perlawanan Ava terpental beberapa meter, kepalanya terbentur batang pohon lalu tergeletak tak sadarkan diri.
“Ava…” Lunar yang melihat Ava terkena serangan Darlz langsung melancarkan serangan balasan kepada monster laba-laba itu. DIa mengarahkan pedangnya langsung ke bagian merah monster.
“Ava, bertahanlah.” Lunar menghampiri Ava yang terbaring di tanah. Kepala anak itu mengeluarkan darah segar, dengan cepat Lunar menutup luka Ava dengan merobek bagian bajunya. Lunar meraba leher Ava, mencari denyut nadi. Masih ada, pikirnya. Kemudian ia mendengarkan di dadanya. Mengetahui Ava masih hidup, Lunar berencana akan menyembunyikan Ava di dalam pohon yang berlubang, memastikannya tidak terkena hujan dan aman dari serbuan Darlz. Dia membungkuk dan meraih tangan Ava, kemudian berjongkok dan melingkarkan tangannya ke lehernya dari belakang. Lunar mengangkat tubuh Ava yang tak sadarkan diri itu ke pundaknya dan mendorong dengan kakinya sambil berdengus keras. Lunar menggendong Ava di pundaknya menuju pohon berlubang. Akan tetapi tubuh Ava sangat berat. Lunar terjatuh ke depan, sementara Ava terguling ke samping dengan bunyi debum keras menghantam tanah.
Dia meraih kedua tangan Ava lagi dan mencoba menggendong di punggungnya kembali, namun keduanya kembali terjatuh. Tubuhnya kelelahan dan tidak sanggung menggendong Ava. Mencoba cara lain, Lunar meraih tangan Ava lagi dan mulai menyeret tubuhnya di atas tanah. Ia tak percaya betapa beratnya tubuh anak itu atau tubuhnya yang sudah tidak memiliki tenaga lagi.
Caranya kali ini berhasil, Lunar mencapai pohon berlubang, lalu meletakkan tubuh Ava kemudian segera berdiri lagi, kemudian mengusap dahi dengan lengannya, menyeka air hujan yang membasahi wajah meski itu hal sia-sia. Lunar menarik napas panjang, lalu mengeluarkan dengan perlahan-lahan . Saat itu juga, dia merasa sesuatu dalam dirinya. Dirinya yang dulu, meski tidak dapat mengingat dengan jelas, Lunar merasa bahwa dirinya tidak dapat meninggalkan temannya begitu saja menjadi mangsa Darlz.
Suara-suara mengerikan dari Darlz kian mendekat setiap detiknya. Lunar dapat melihat segerombol monster mendekat, memelesat di tengah hutan. Dia tidak ingin monster-monster itu mendekat ke tempat Ava. Lunar kembali mengambil pedangnya dan berencana melawan Darlz seorang diri.
Monster-monster itu semakin mendekat, tanpa membuang waktu Lunar segera berlari menjauh dari tempat Ava, berharap monster itu mengkutinya. “Bertahanlah Ava, semoga saja bantuan akan segera tiba. Aku akan menjauhkan monster-monster itu darimu.”
Lunar berlari sambil sesekali membalikkan tubuhnya dan memastikan monster-monster itu mengubah arah dan mengejarnya. "Akhirnya," kata Lunar dalam hati, "kali ini sesuai dengan yang diharapkan." Dengan dorongan kedua kakinya, Lunar berlari secepat yang dia bisa. Tangannya tetap menggenggam pedang dengan kuat, bersiap menebas jika ada monster yang menghadangnya.
Lunar terus berlari, jantungnya siap meledak dari dadanya. Dengan beberapa tarikan napas yang dalam, dia mencoba mengisi paru-parunya dengan oksigen, tetapi dia sadar tak akan mampu bertahan lebih lama lagi. Dia memikirkan bahwa lebih mudah baginya untuk berbalik dan bertarung, berharap semuanya akan berakhir. Belum sempat ingatannya kembali, kini hidupnya akan berakhir.
Lunar tidak membuang napas untuk sekedar memastikan monster-monster itu masih mengejarnya dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Setiap jengkal tubuhnya terasa nyeri, di dalam dan di luar, semua anggota tubuhnya seolah menjerit, meronta ingin segera mengakhiri keadaan ini.
Menjauhkan segala pikiran buruk, Lunar lalu berhenti dan berbalik, berencana akan melawan monster-monster itu. Dia lebih memilih menghadapi Darlz dibanding terus menerus berlari. Lunar mendapatkan sedikit semangat dalam ketakutannya. Seraya berteriak, Lunar mulai menyerang monster-monster itu. Dia menebaskan pedang panjangnya ke kanan dan kiri sambil melompat, mengarahkan serangannya langsung ke bagian merah monster.
Dalam beberapa ayunan, gerakannya melambat, seolah tubuhnya tidak ingin digerakkan lagi. Beberapa monster berhasil mengenai melukai Lunar, kini tubuhnya benar-benar tidak bisa bergerak. Luka sayatan dari serangan Darlz menghentikan gerak Lunar, kini dia terdiam, berdiri mematung, kemudian menancapkan pedangnya ke tanah dan menjadikannya tumpuan berdiri.
Pikiran-pikiran buruk kembali menghantui Lunar. Inikah akhir hidupku, menjadi mangsa Darlz.