Fenz dan timnya sampai di lokasi kapal Lunar dan Arz lainnya berada. Mereka tidak menemukan siapapun di kapal itu. Uricle device yang dikenakan Fenz berbunyi bip, lalu muncul papan hologram dari alat tersebut.
“Fenz, seorang Arz sedang bertarung dengan Darlz, aku akan mengirimkan koordinatnya, sesegera mungkin capai koordinat itu. Arz trainee itu dalam bahaya.” Terdengar laporan dari seorang operator wanita dari kapal induk mengirimkan tempat Lunar sedang bertarung dengan Darlz.
“Aku mengerti, segera kirimkan koordinatnya.” Fenz berlari bersama timnya, mereka mempercepat langkahnya, tak ingin terlambat menyelamatkan kedua Arz itu.
“Pasti sangat bahaya di sini, kulitku sampai merinding,” seru Ghult yang merasa ngeri dengan suasana Planet Orla, udara yang dingin menusuk ditambah hujan yang sangat deras memperparah keadaan.
Mereka bergegas mencapai koordinat yang dikirimkan dari kapal induk. Mencari kedua Arz yang sedang bertarung melawan monster kegelapan. Hingga mereka melihat kilatan cahaya yang memantul dari kejauhan. Cahaya yang berasal dari gesekan pedang Lunar ke tubuh Darlz.
Fenz menembakkan musket-nya dari kejauhan dan langsung mengenai bagian merah monster Darlz yang sedang memojokkan Lunar.
“Boleh juga kau Fenz, aku juga tidak akan kalah darimu.” Sambil menembakan tongkat sihirnya, Eucli mengarahkan sihir api ke kumpulan monster laba-laba dan langsung menghanguskan beberapa dari monster itu.
“Hei hei, santailah sedikit, aku saja belum mendaratkan tinju superku ini ke wajah Darlz yang menjijikan itu.” Ghult melesat, mengarahkan tinjunya lewat weapon knuckle yang dia kenakan. Dengan jarak sepuluh meter, Ghult langsung memulai serangannya seraya berteriak penuh semangat.
“Ha..hati-hati Ghult.” Melfon mengingatkan Ghult sambil menggenggam tongkat sihirnya, berbicara terbata-bata. Dia adalah seorang wanita yang pemalu dan selalu mengkhawatirkan Ghult.
“Ayo kita juga harus kesana,” ujar Fenz mengajak Eucli dan Melfon untuk membantu Ghult yang sudah lebih dulu mendekati tempat Lunar.
“Eucli, tolong kau lihat kondisi Arz itu dan gunakan sihir pengobatan untuk memulihkan kondisinya. Aku bisa melihat dari sini kondisi anak itu sangat parah.”
“Dengan senang hati, Fenz. Kau juga harus berhati-hati.”
Eucli dan Melfon mendekati Lunar yang sedang berdiri menancapkan pedangnya ke tanah sebagai tumpuan tubuhnya. Keadaannya sangat parah, terdapat luka goresan di beberapa bagian kaki dan tangannya. Tubuhnya seakan tidak bisa lagi digerakkan, lelah menjalari sekujur tubuhnya, napasnya terengah-engah tidak beraturan. Seragam Arz yang dikenakannya berlumuran darah dan sobek di beberapa sisi.
Akhirnya bantuan tiba, jika aku bertarung sebentar lagi saja, mungkin aku tidak akan selamat, pikirnya dalam hati. Lunar melepaskan genggaman pedangnya lalu terjatuh ke tanah. Tubuhnya telah mencapai batasnya. Seketika dia tak sadarkan diri.
“Hei, kau tidak apa-apa?” tanya Eucli kepada Lunar, namun itu sia-sia, Lunar telah terbaring pingsan karena kelelahan dan luka yang ada di tubuhnya.
“Melfon, bisa kau bantu aku, ayo kita bawa dia ke bawah pohon yang ada di sana. Aku akan memeriksa dan mengobatinya.” Sambil menunjuk pohon besar yang ada di sebelah kanannya, Eucli menarik kedua tangan Lunar dibantu dengan Melfon yang memegangi kakinya.
“Luar biasa, berat sekali Arz ini,” ujar Melfon sambil mengikuti Eculi membawa Lunar ke bawah pohon.
Sementara itu, Fenz dan Ghult masih bertarung melawan Darlz. Mereka tidak terlihat takut ataupun kewalahan. Mereka telah terbiasa melawan Darlz, terlebih lagi Fenz adalah salah satu anggota dewan penjaga Uricle.
Fenz menggenggam musket nya kemudian menembakkan beberapa peluru ke arah Darlz, mengarakannya langsung ke bagian merah monster-monster itu. Sesekali dia menggunakan pedang kecil yang berada di ujung musket untuk menghancurkan Darlz yang mendekat.
Dalam benaknya, Fenz mengingat kondisi Lunar yang sangat memperihatinkan, anak itu mampu bertahan sampai sejauh ini dalam kepungan monster Darlz. Dia ragu kalau Lunar adalah seorang Arz yang baru saja bertarung melawan Darlz. Fenz merasa tidak percaya dengan kemampuan yang dimiliki Lunar. Dia seperti seorang Arz yang sangat terlatih, bukan Arz yang baru saja bergabung dan menjalani pelatihan, pikirnya dalam hati, seraya tetap menghabisi monster yang ada di hadapannya.
“Hei Fenz, apa yang pikirkan, dari tadi melamun seperti itu, bisa-bisa kau terkena serangan Darlz.” Ghult yang sedang bertarung, diam-diam memperhatikan Fenz yang bertarung dengan tatapan kosong.
“Tidak ada apa-apa Ghult, ayo kita habisi monster-monster ini.” Fenz kembali dari lamunannya dan ingin segera menyudahi pertarungan ini. Dia ingin bertemu Lunar secepatnya dan memastikan keadaan Lunar.
Degup jantung Lunar masih belum stabil, napasnya pun masih terengah-engah, wajahnya menampakan bahwa dirinya mengalami rasa sakit yang luar biasa hebatnya. Eucli dibantu dengan Melfon, memberikan pertolongan pertama kepada Lunar. Mereka menutupi luka di tubuh Lunar dengan perban, sambil memberikan sihir pengobatan untuk mengembalikan energy Lunar.
“Lukanya sangat parah dan lagi semua energy dalam tubuhnya terkuras habis. Aku tidak percaya dia mampu bertahan sampai saat ini,” ujar Eucli sambil merawat luka Lunar. “Jika Arz biasa mungkin dia tidak mampu menahan energy kegelapan Darlz yang telah dia habisi. Tapi dia berbeda. Tubuhnya mampu memurnikan energy kegelapan dengan cepat.”
“Kau benar Eucli, aku juga sedikit terkejut dengan kemampuan pemurnian tubuh orang ini. Aku yakin dia telah membunuh banyak Darlz, kalau tidak mungkin dia sudah terbunuh seperti anggota tim trainee lainnya.” Melfon juga merasakan hal yang sama seperti Eucli. Dia terkejut dengan kemampuan pemurnian Lunar yang sangat cepat.
“Tunggu dulu, bukankah kita mendapat laporan bahwa ada dua Arz yang bertahan dari serangan Darlz. Tapi kita hanya merawat satu dari mereka.” Eucli kemudian bangkit dan melihat di sekelilingnya, mencari seorang Arz yang dia yakini masih hidup.
Melfon tidak terkejut dengan perkataan Eucli, sambil tetap merawat luka Lunar, dia memasang wajah datar seraya berkata “Tapi tadi kita hanya melihat orang ini, mungkin yang lainnya sudah tewas terbunuh.”
Eucli kembali duduk di samping Melfon, melanjutkan pengobatan Lunar. Dengan memasang wajah sedih, Eucli merasa menyesal terlambat menyelamatkan Arz lain. “Mungkin saja, apa pun bisa terjadi saat melawan Darlz. Kita bisa kehilangan rekan kita, atau kita sendiri yang terbunuh.”
Fenz dan Ghult telah menyelesaikan pertarungannya dengan Darlz. Mereka mendatangi tempat Eucli dan Melfon merawat Lunar. Hujan pun telah berhenti, bersamaan dengan habisnya Darlz dari tempat itu. Kemudian mereka melihat Lunar yang mulai sadarkan diri.
Perlahan Lunar membuka matanya, dirinya kembali sadar setelah beberapa saat dia pingsan. Dia mengerjap beberapa kali, matanya berusaha beradaptasi dengan keadaan sekitar. Dia berusaha mengingat kejadian terakhir yang dia alami. Saat dia berusaha merentangkan kedua tangan, nyeri di sekujur tubuhnya mulai terasa. Kepalanya berdenyut membuatnya mengehentikan usahanya itu.
“Jangan dipaksakan, berbaring lah dulu, kami akan menyelesaikan perawatan lukamu," kata Eucli untuk menghentikan usaha Lunar yang ingin bangkit dari tempatnya terbaring.
“Tenang saja, kami sudah menghabisi monster-monster itu, kau tidak perlu khawatir,” ujar Fenz sambil membantu Lunar untuk duduk bersandar di batang pohon.
Dengan terbata-bata, Lunar berusaha mengatakan sesuatu. “Ava... Temanku Ava masih hidup.” Lunar mengingat dirinya menyembunyikan Ava di pohon besar yang berlubang. Dia menunjuk ke arah pepohonan tidak begitu jauh dari tempatnya saat ini.
“Kau yakin?” seru Ghult sedikit meragukan perkataan Lunar.
Lunar mengangguk, dia berusaha bangkit, ingin memastikan keadaan Ava. Dirinya sedikit takut, membayangkan sesuatu yang buruk terjadi kepada Ava. Lunar mengumpulkan seluruh kekuatan yang dia punya untuk bergegas melihat Ava. Namun jalannya terhuyung-huyung menandakan tubuhnya masih sangat lemah. Hampir saja dia terjatuh, sampai Fenz meraihnya dan menopang tubuhnya.
Dibantu Fenz, Lunar berjalan lambat, matanya tertuju pada sebuah pohon yang dia yakini tempat dia meletakkan Ava. Berbagai pikiran buruk datang dalam benak Lunar. Dia mencoba mengabaikannya, menyangkalnya sendiri. “Bagaimana kalau ada Darlz lain yang menyerang Ava setelah aku mengalihkan perhatian Darlz yang mengejarku?”
Fenz menoleh padanya, tanpa ekspresi.
“Kita sebaiknya cepat-cepat kesana,” kata Lunar, berharap usahanya menyelamatkan Ava tidak sia-sia.
Lunar ingin mempercepat langkah, tetapi tubuhnya terlalu lemah. Dahinya sesekali mengerenyit, menahan sakit dan lelah. Ketika sampai di pohon berikutnya, Lunar mendadak ragu, jantungnya berdegup lebih cepat ketika dia melihat sesosok tubuh yang dia cari. Kelegaan membanjirinya sesaat berikutnya ketika dia sadar bahwa Ava masih berada di tempat dia menyembunyikannya. Lunar ingin memastikan sendiri keadaan Ava, tetapi tubuhnya terlalu lemah untuk berjalan sendiri.
“Ghult tolong kau lihat kondisi anak itu,” kata Fenz sambil tetap memegang Lunar. Wajah Fenz dipenuhi keraguan dan ketakutan. Dia tidak ingin memikirkan hal-hal buruk.
Ghult mendekatkan dirinya ke Ava, mencari denyut nadi dan memastikan degup jantungnya masih ada. Keadaan Ava tidak seburuk Lunar, namun luka di kepalanya cukup serius.
Dug-dug.. dug-dug.. dug-dug..
“Dia masih hidup.” Ghult kembali memasang wajah tidak percaya, dalam benaknya dia berpikir bahwa mereka berdua adalah Arz yang tangguh.
“Syukurlah.” Wajah Lunar menunjukkan kelegaan, dia senang bisa menyelamatkan temannya itu, meski dia harus mengorbankan dirinya.
“Ghult, bisa kau bawa dia?” Ujar Fenz sambil menunjuk Ava. “Kau bawa dia, kita akan mencari tempat untuk merawat mereka berdua. Kapal kita masih jauh dari sini.”
“Kau ingin bermalam di sini Fenz?” Ghult meraih tangan Ava kemudian melingkarkannya ke lehernya, menaikkan tubuh Ava ke punggungnya, Ava terlihat sangat kecil jika dibandingkan dengan Ghult.
“Kau ayah yang baik Ghult.” Melfon menggoda Ghult yang terlihat seperti menggendong anak, melihat perbedaan besar tubuh Ghult dan Ava.
“Tunggu sampai aku selesai membawa anak ini, Melfon. Kau akan mendapat pelajaran dari ku.” Ghult membalas lelucon Melfon sambil tetap membawa Ava menuju sebuah gua di dekat tempat mereka berada.
Sesampainya di gua, Fenz dan Ghult membaringkan Lunar dan Ava ke tanah dengan dialasi matras. Mereka membuat kemah, berencana kembali ke kapal saat pagi Ketika keadaan sudah terang. Berjalan di hutan Orla saat malam adalah hal yang buruk, mengingat makhluk asli Orla telah terinfeksi dan berubah menjadi agresif.
“Bagaimana keadaannya?” Fenz menunjuk ke arah Ava yang masih tak sadarkan diri.
“Ku rasa dia terbentur sesuatu, tidak ada luka sayatan, hanya ada luka dan memar di dahinya.” Eucli membersihkan luka di dahi Ava lalu menutupnya dengan perban. “Kondisinya lebih parah dari anak ini.” Ujar Eucli sambil menunjuk ke Lunar.
Sambil memandang ke arah Lunar, Fenz terlihat seperti mengingat sesuatu, dia seperti pernah melihat Lunar sebelumnya. Fenz tidak ingin menebak-nebak dan langsung bertanya kepada Lunar.
“Kau, aku seperti pernah melihatmu sebelumnya, katakan siapa namamu?”
Lunar bingung mendengar Fenz berbicara seperti itu. Mungkin dia mengenalku, gumamnya dalam hati. “Lunar, itu namaku. Apa kau mengenalku?”
“Aku tidak yakin, tetapi wajahmu terasa tidak asing.” Fenz mengerutkan dahinya, mencoba menggali ingatannya. Namun dia menyerah. “Entahlah, mungkin aku salah orang.”
Lunar hanya termenung mendengar jawaban Fenz, dia merasa telah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan informasi tentang masa lalunya. Lalu Lunar mengalihkan pandangannya ke Ava yang perlahan telah sadar. Lunar langsung mendekat ke arah Ava, membantunya bangkit lalu duduk dengan bersandar di dinding gua.
“Ava, bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik? Luka di kepalamu, apa terasa sakit?”
“Ti… tidak apa-apa, aa.. aku baik-baik saja. Bagaimana dengan monster-monster itu?” Saat mengingat dirinya telah diserang monster Darlz, Ava langsung bangkit dari duduk menjadi berdiri dan memasang posisi siap bertarung.
“Tenanglah, untuk saat ini kita aman di sini. Kami sudah menghabisi Darlz yang mengejar kalian berdua.” Fenz menenangkan Ava yang panik. Namun Fenz sedikit ragu dengan kata-katanya sendiri. Dia teringat dengan monster-monster yang tadi dia hadapi dan makhluk asli Planet Orla yang agresif. Sepertinya ada yang memanggil mereka ke sini. Fenz seperti melihat gelombang hitam dari sebuah benda yang dia yakini adalah lasersphere. Benda itu membentuk gelombang yang membesar dan sesekali mengecil menginfeksi apa saja yang terkena gelombang hitamnya.
“Kita akan kembali ke kapal besok, sangat berbahaya berjalan-jalan di hutan ini saat gelap,” ujar Fenz sambil menutup kantung tidurnya.
Mereka semua kembali ke tempat masing-masing, berbaring, mengistirahatkan tubuh yang lelah. Menunggu hari kembali terang, sebelum memulai perjalanan untuk pulang ke kapal induk.