Bayangan-bayangan tentang kapal yang hancur, langit yang berwarna kelabu tertutup ribuan monster, lautan mayat, dan sesosok wanita berambut ungu kembali dalam mimpi Lunar, menarik dirinya jauh kedalam kesedihan. Dadanya terasa sesak ketika melihat seorang wanita yang menghilang dari balik cahaya putih yang menyilaukan. Sebelum menghilang, wanita itu memanggilnya dengan lembut. “Lunar.”
Tiba-tiba dia melihat dirinya berada dalam tabung berisi cairan, terlihat beberapa selang terhubung dengan dirinya. Kemudian seorang wanita berpakaian putih dengan gelembung air yang bergerak di beberapa tubuhnya, duduk sambil melipat kedua tangannya di pangkuan. Dia memiliki rambut biru tua yang terurai panjang. Memandang dirinya dari luar tabung, kemudian bangkit mendekatinya, seraya berkata “Sebentar lagi kita akan berpisah, kau harus menjalankan misimu, Lunar.”
Seketika Lunar terbangun dari tidurnya ketika mendengar namanya disebut oleh wanita itu. “Siapa mereka itu, mengapa mereka selalu muncul dalam mimpiku.” Napasnya masih terengah-engah dan kepalanya berdenyut ketika memikirkan hal itu. Lunar mencoba mengabaikan mimpi itu, kemudian bangkit dan melihat sekelilingnya yang ternyata masih gelap.
Lunar berjalan perlahan menuju pintu gua, matanya tertuju pada cahaya putih dari atas pohon di seberang gua. Rasa penasaran menghinggapi dirinya, membuatnya mendekat pohon itu.
Dirinya terkejut ketika sebuah lubang putih berbentuk spiral yang muncul dari cahaya itu. Bentuknya mirip seperti lubang Darlz, tapi ini berwarna putih. Seorang wanita keluar dari lubang spiral putih itu, tubuhnya akan terjun bebas ke tanah. Namun Lunar langsung menangkap tubuh itu.
Lunar memandang wajah wanita itu, dia terlihat sangat cantik pikirnya. Rambut ungu yang sehalus sutra, kulitnya putih bersih. Dari wajahnya, Lunar berpikiran kalau wanita itu mungkin seusianya. Sekejap Lunar mengaggumi wanita itu, sampai tiba-tiba perempuan itu membuka matanya perlahan kemudian berbisik. “Tolong aku, bunuhlah aku, Lunar,” ucap wanita itu pelan kemudian tak sadarkan diri. Lunar terkejut ketika mengingat wajah wanita itu, dia adalah wanita yang selama ini selalu muncul dalam mimpinya. “Dia mengenalku?”
Lubang putih itu masih terbuka, tiba-tiba seorang pria bertopeng muncul dari lubang itu sambil menghunus pedang ke arah Lunar dan wanita itu. Lunar terpental beberapa meter, terjatuh ke tanah. Lunar masih memegangi wanita itu sambil melindunginya dari benturan.
“Serahkan wanita itu kalau kau tidak ingin mati.” Pria itu mengarahkan pedangnya ke Lunar yang masih kebingungan dengan keadaan ini.
“Siapa kau, kenapa kau ingin membunuhnya?” kata Lunar sambil meletakkan wanita itu di belakangnya.
“Kau tidak perlu tahu siapa diriku. Cukup serahkan dia padaku dan kau akan aman.” Pria itu menguatkan genggaman pedangnya seakaan dia sangat marah dengan Lunar yang menghalangi jalannya. Tanpa berkata lagi, pria bertopeng itu langsung menyerang Lunar.
Lunar yang tidak membawa weapon hanya menghindari serangan demi serangan yang tertuju padanya. Kemudian dia berencana untuk menyerang dengan tangan kosong, mengarahkan pukulannya ke pria itu. Namun usahanya sia-sia. Lunar kembali terpojok, bersembunyi di balik pohon sambil membawa wanita itu.
Pria bertopeng itu berjalan perlahan menghampiri Lunar, merasa dirinya akan menang. “Tidak ada gunanya melawanku. Serahkan dia!” tegasnya sambil menghunuskan pedangnya.
Fenz, Ghult, Eucli, dan Melfon muncul secara tiba-tiba, menangkis serangan pria bertopeng itu.
“Hei, jangan seenaknya menyerang orang yang tidak memakai weapon dong!” teriak Fenz sambil menahan pedang pria bertopeng itu.
Percikan api muncul dari gesekan pedang pria bertopeng dan musket Fenz. Keduanya sama-sama kuat. Pria bertopeng itu mundur beberapa langkah, memasang kuda-kuda bertarung sambil menguatkan genggamannya.
“Siapa kau, kenapa kau menyerang mereka berdua?” Fenz bertanya lagi. Dirinya belum pernah melihat pria bertopeng itu sebelumnya. Dia tidak tahu apakah pria bertopeng itu juga Darlz atau bukan.
“Siapa dia, Melfon?” teriak Ghult kebingungan.
“Datanya tidak ada di dalam database Arz.” Ujar Melfon sambil mengaktifkan Uricle Device yang terpasang di tangannya kemudian memilih menu database.
“Kalau begitu tidak masalah kan kalau aku membunuhnya.” Ghult bersiap menyerang pria bertopeng itu dengan knuckle yang terpasang di kedua tangannya.
Merasa kalah jumlah, bertopeng itu menghilang dari balik lubang spiral berwarna hitam.
“Cih, belum juga aku menghajarnya dengan tinjuku malah kabur.” Ghult merasa sangat kesal. Dia menghantamkan tinjunya ke arah lubang hitam tempat pria bertopeng itu menghilang.
“Kemungkinan dia Darlz,” ujar Fenz
Ghult mendekati Lunar dan wanita itu. “Hei kau!” teriaknya sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Lunar, Ghult terlihat sangat kesal. “Jangan berlaga kau bisa menyelamatkan semua orang, kau masih sangat lemah dan tak berdaya. Aku merasa mual saking kesalnya.”
Ghult mengerutkan dahinya menahan rasa kesal di dadanya, dirinya sebenarnya khawatir dengan Lunar namun dia tidak bisa memperlakukan Lunar seperti anak kecil yang terus menerus butuh pertolongan. Ghult meninggalkan tempat itu, diikuti Melfon yang berjalan di belakangnya.
“Jangan diambil hati, sebenarnya dia khawatir denganmu,” ujar Fenz sambil menepuk bahu Lunar.
“Apakah dia Arz yang selamat juga?” Eucli mendekati wanita misterius yang pingsan itu.
“Bukan, tadi aku melihatnya keluar dari sebuah lubang spiral putih di atas pohon itu,” kata Lunar sambil menunjuk ke atas pohon di samping mereka berdiri.
Fenz dan Eucli melihat ke atas pohon sambil kebingungan. Mereka merasa Lunar sedang melantur.
“Kau berhalusinasi.” Fenz kembali menepuk bahu Lunar kemudian berjalan mendekati wanita itu. “Aku belum pernah melihatnya, apakah dia juga seorang Arz?”
“Entahlah, aku juga tidak bisa menemukan informasi tentang dirinya di database Arz,” ujar Eucli sambil menonaktifkan Uricle Device yang ada di tangannya.
“Dia terlihat tidak berbahaya, ayo kita bawa dia ke kapal, sepertinya dia juga butuh perawatan.” Fenz melihat ke arah Lunar yang masih terlihat lemah, dirinya ragu kalau Lunar bisa menggendong wanita itu. Kemudian berbalik melihat ke arah Eucli seperti meminta ijin kepada seorang kekasih. Eucli hanya menggangguk menandakan persetujuannya.
Fenz meraih tangan wanita itu lalu melingkarkannya ke leher, kemudian meletakkan tubuh wanita itu di punggungnya dibantu Lunar dan Eucli. Mereka kembali ke gua tempat mereka berkemah semalam.
Ghult dan Melfon tidak ada di gua itu, Fenz menebak kemungkinan bahwa Ghult dan Melfon sudah kembali ke kapal mereka. Mungkin dia masih kesal, pikirnya dalam hati.
”Ayo kita bersiap-siap, kalian semua butuh perawatan di kapal medis,” kata Fenz sambil menunjuk ke arah Lunar, Ava, dan wanita perempuan misterius itu.
“Siapa dia? Aku belum pernah melihatnya. Mungkinkah dia Arz senior yang terluka?” Ava mengamati wanita itu.
“Bukan, dia tidak menggunakan seragam Arz seperti kita, dan juga aku belum pernah melihatnya.” Fenz menerangkan kepada Ava sambil merapihkan alat tidur yang mereka gunakan sebelumnya.
“Aku juga baru kali ini melihatnya,” tambah Eucli sambil membantu Fenz.
“Ava kau bisa berjalan sendiri?” tanya Fenz.
“Tubuhku baik-baik saja, Lunar kondisinya lebih parah dari ku.”
“Baiklah, kau bantu Lunar berjalan dan aku akan menggendong wanita itu.
“Tentu saja,” tata Ava semangat menandakan setuju dengan usul Fenz. Dirinya merasa berhutang kepada Lunar yang telah menyelamatkannya dari Darlz, sekaligus merasa bersalah karena tidak bisa membantu Lunar.
Mereka keluar dari gua, hendak menuju kapal untuk kembali ke armada Uricle. Menyusuri hutan Orla yang rimbun, sambil tetap siaga kalau-kalau ada Darlz atau makhluk asli Orla yang menyerang.
Lunar berjalan lambat dibantu Ava, pedang panjangnya tergantung di punggungnya. Sebenarnya dia merasa bisa berjalan sendiri, namun dia hanya menurut dengan Ava yang memaksa ingin membantunya.
Perjalanan yang damai, gumam Lunar dalam hati. Mengingat kejadian yang dialaminya semalam, saat ini sangat tenang. Rerumputan hijau segar, mentari pagi yang mengintip dari celah pepohonan, dan suara nyanyian dari Mimi menambah keindahan planet ini. Seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Lunar kembali menatap ke arah wanita misterius yang digendong Fenz, berharap penghalang ingatannya runtuh dan mencari keberadaan wanita itu pada masa lalunya. DIa mengingat kembali saat wanita itu membuka matanya yang berwarna biru dan berkata sesuatu yang tidak dapat dia mengerti. Membunuhnya? Mengapa? Apa dia dulunya adalah musuhku? Tapi mengapa dadaku terasa sesak saat melihatnya menghilang di balik cahaya.
Mendadak sekilas kenangan dirinya mengenal wanita misterius itu muncul, seperti kepak sayap di sudut yang gelap, tak terlihat tetapi terasa ada. Ingatan itu hanya sekejap sebelum menguap di dalam kedalaman ingatannya yang lain. Lunar menggali di kegelapan pikirannya mencari wajah wanita misterius itu di dalam kekosongan itu. Siapakah dia? Pertanyaan yang ironis itu menyentaknya, dia bahkan tidak tau siapa sebenarnya dirinya sendiri.
Tiba-tiba muncul sebuah suara menyebutkan sebuah nama dalam benaknya.
Mae.
Lunar terkejut, dirinya hampir melompat ketika mendengar nama itu. Ava yang membantunya berjalan pun ikut kaget melihat Lunar seperti itu.
“Ava apa kau tadi mengatakan sesuatu?” tanya Lunar memastikan suara yang dengarnya itu bukanlah sebuah halusinasi.
“Ada apa?” tanya Ava. “Aku tidak mengatakan apa-apa, aku hanya sedang memperhatikan langkah kaki kita sampai kau terkejut seperti itu.”
“Aku… tidak aku tidak apa-apa.” Lunar kembali berjalan hingga suara itu muncul kembali di dalam pikirannya.
Lunar, ini aku, Mae.
Lunar terbelalak, kepalanya berdentum-dentum, lambungnya bergejolak. Dia.. dia baru saja berbicara kepadaku. Di dalam kepalaku. DIa baru saja menyebut namaku.
Lunar kembali menatap wanita misterius itu, memastikan apakah wanita misterius itu sudah sadar ataukah belum. Ketika melihat wanita misterius itu masih tak sadarkan diri, Lunar kembali meragukan suara yang baru saja berputar di kepalanya. Mungkin hanya halusinasi ku saja, pikirnya dalam hati.
Namun suara itu kembali muncul. Lunar, cepat bunuhlah aku, ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan semuanya.
Kata-kata itu bergema di dalam kepalanya, bergetar di gendang telinganya, dia dapat mendengarnya. Meskipun demikian kata-kata itu tidak datang dari Ava yang berada di sampingnya, ataupun Fenz dan Eucli yang berjalan di depannya.
Jangan ragu Lunar.
Lunar menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya, memejamkan matanya rapat-rapat. Ini sangat aneh. Dia tidak bisa mengerti apa yang baru saja dia dengar di dalam pikirannya.
Ingatanku telah hilang, Lunar. Aku tak akan bisa mengingat apapun ketika bangun, jadi kumohon, bunuhlah aku sebelum itu terjadi. Aku memang ditakdirkan untuk mati demi mengalahkan Darlz.
Lunar terpaku, matanya menatap ke arah wanita misterius yang belum sadarkan diri. Hingga Ava mengejutkannya.
”Apa yang terjadi Lunar? Kau bertingkah aneh sejak tadi.”
Lunar segera menyingkirkan pikiran aneh yang berputar di kepalanya dan kembali berjalan perlahan, memalingkan wajahnya dari perempuan, khawatir akan mendengar suara-suara itu lagi. “Tidak apa-apa, aku hanya sedikit pusing, ayo kita harus bergegas, mungkin wanita misterius itu butuh perawatan tim medis di medical centre .”
Fenz dan Eucli yang berjalan di depan Lunar dan Ava kebingungan melihat keanehan Lunar, namun mereka tetap berjalan cepat, ingin segera sampai ke kapal dan menemui Ghult dan Melfon yang telah lebih dulu pergi. Namun langkah mereka terhenti, puluhan makhluk asli Orla yang telah terinfeksi energy negative Darlz menghadang mereka.