Puluhan makhluk asli Orla yang terinfeksi menghadang Lunar, Ava, Fenz, dan Eucli yang sedang berjalan kembali ke kapal mereka. Kera-kera dan serigala hutan menampakkan gigi-gigi yang terlihat mengerikan, suara-suara yang menyeramkan keluar dari makhluk itu, mata-mata merah dari makhluk itu menatap mereka berempat seolah ingin menyantap mereka.
Fenz mengingat kejadian saat dirinya bertarung menyelamatkan Lunar, meski keadaan gelap, dirinya merasa melihat sebuah benda yang memancar gelombang hitam di sekitar tempatnya bertarung melawan Darlz.
“Seperti dugaanku dan Rez, makhluk asli planet ini telah terinfeksi energy negative Darlz dari gelombang hitam lasersphere,” ujar Fenz sambil menunjuk ke arah lasersphere yang berada tak jauh dari kerumunan kera dan serigala.
Terlihat sebuah alat yang memancar gelombang hitam yang membesar dan mengecil, menyebarkan energy negtive Darlz kepada apa pun yang terkena gelombang itu.
”Benda itu ditanamkan para Arz di beberapa tempat di planet Orla untuk memurnikan energy negative Darlz, namun sepertinya Darlz telah mengubahnya menjadi alat pemancar energy negative Darlz,” tambah Fenz.
“Lalu apa harus kita lakukan, Fenz?” Kata Ava sambil menatap ngeri ke arah lasersphere dan makhluk-makhluk buas dihadapan mereka.
“Kita hanya perlu memprogram ulang benda itu, ada sebuah tombol di atas benda itu. Tentu saja, kau tidak boleh terkena gelombang hitam itu, tidak lebih dari dua kali, atau kau akan terkena energi negatif Darlz juga,” terang Fenz sambil menyandarkan wanita misterius yang digendongnya tadi ke sebuah pohon di depannya. Fenz berencana akan memprogram ulang lasersphere.
Fenz berlari ke arah lasersphere. “Kalian lindungi aku, tahan kera dan serigala itu, aku akan pergi dan memprogram ulang lasersphere. Setidaknya hanya aku yang tahu caranya di sini.” Kemudian Fenz membuat kuda-kuda untuk melompat, dia harus melompat sejauh dua meter agar tidak terkena gelombang dari lasersphere itu.
Kera dan serigala mengamuk melihat Fenz ingin mendekat ke lasersphere, mereka tidak mengizinkan Fenz mendekati benda itu. Kera-kera itu mulai menyerang Fenz, mereka menepuk-nepukan tangannya ke d**a lalu mengambil batu besar dari tempat mereka berpijak, kemudian melemparkannya ke arah Fenz.
Ava menghentikan lemparan batu dari kera itu dengan rifle nya, sementara Lunar belum mencerna keadaan sejak dirinya mendengar suara wanita itu di dalam pikirannya. Dia hanya terbengong melihat puluhan monster itu. Ava menepuk bahu Lunar beberapa kali.
“Lunar, sadarlah, Fenz sedang dalam bahaya, kita harus membantunya.” Kata-kata Ava mengagetkan Lunar, menyadarkan dirinya dari lamunan panjang, dia tersentak kemudian mengambil pedang yang tergantung di punggungnya, lalu segera membantu melindungi Fenz dari serangan mahkluk planet Orla itu.
Eucli membantu Fenz dengan membekukan makhluk asli Orla dengan sihir es yang keluar dari tongkat sihir photon. Sihir es Eculi mengenai beberapa kera kemudian terdiam mematung di dalam es. “Itu tidak akan membunuh mereka, es itu hanya menghentikan untuk beberapa saat.”
“Terima kasih Eucli, kau memang pengguna sihir yang hebat dan dapat diandalkan,” puji Fenz. Lalu dia segera menaiki lasersphere, mencari tombol untuk memperbaiki benda itu. “Semoga ini selesai sebelum makhluk itu kembali bergerak.”
“Arz senior memang berbeda dari kita ya, Lunar.” Ava terkagum dengan sihir es yang dikeluarkan Eucli, dirinya merasa ingin mempelajari sihir, namun mengingat dia tidak memiliki bakat sihir, Ava langsung mengurungkan niatnya itu.
“Cepatlah Fenz, es-es itu tidak akan bertahan lebih lama lagi.”
“Kau bisa membekukan mereka lagi kan, Eucli.”
“Tidak, es itu hanya bisa aku lakukan satu kali, butuh waktu untuk…”
Belum sempat Eucli menyelesaikan perkataannya, es-es itu pecah. Puluhan kera dan serigala Orla kembali menyerang Fenz.
“Kita harus membunuh mereka semua,” ujar Lunar sambil bersiap bertarung untuk melindungi Fenz. “Ayo Ava.”
“Jangan, jangan bunuh mereka, aku akan segera menyelesaikan ini. Kalian tahan saja serangan mereka.” Fenz berusaha secepat mungkin untuk memprogram ulang lasersphere. “Mereka akan kembali menjadi jinak ketika terkena gelombang benda ini.”
Fenz mengerutkan dahinya, ternyata memprogram ulang lasersphere tidak secepat yang dia bayangkan. Sesekali Fenz menoleh ke belakang, melihat temannya sedang berjuang menjaganya. Terlihat Eucli yang beberapa kali mencoba sihir es nya, tetapi sihir itu benar-benar butuh waktu hingga dapat digunakan kembali.
Eucli memikirkan cara lain untuk menahan kera dan serigala yang mengamuk, kemudian dia teringat sebuah sihir yang sudah lama tidak dia gunakan karena membutuhkan energi yang besar. Ini keadaan mendesak, aku harus menggunakannya, gumamnya.
Eucli menguatkan tekad kemudian mengangkat tongkat sihirnya ke udara, percikan kilat kecil keluar dari tongkat yang digenggam Eucli, kemudian dia mengarahkannya ke serigala dan kera yang sebentar lagi akan sampai ke tempat Fenz.
“Shandia!…” teriak Eucli. Terdengar suara menggelegar ketika sihir petir yang dikeluarkan Eucli mengenai sasaran, dalam sekejap kera dan serigala yang dihadapinya tergeletak ke tanah.
Aku berhasil, gumam Eucli dalam hati. Tubuhnya terlihat kelelahan setelah mengeluarkan sihir itu. “Cepat Fenz, sihir itu melumpuhkan mereka hanya sementara, setidaknya kali ini akan lebih lama dari yang sebelumnya.”
Fenz menoleh ke arah Eucli sambil tersenyum tipis, menandakan pekerjaannya telah selesai. Fenz telah menyelesaikan pekerjaannya tepat setelah Eucli mengeluarkan sihir Shandia.
Terlihat lasersphere kembali memancarkan gelombang berwarna biru. Gelombang-gelombang itu mengenai kera dan serigala yang menyerang mereka dan dalam beberapa menit, makhluk itu kembali bangkit dan berubah menjadi jinak, mata-mata mereka kembali seperti semula, suara-suara mengerikan tidak lagi muncul dari makhluk itu.
Sihir yang dikeluarkan Eucli hanya membuat makhluk itu tidak sadar kan diri, selanjutnya lasersphere mengubah mereka menjadi jinak. Kemudian kera dan serigala itu perlahan mendekat, seolah ingin memberitahu sesuatu.
Fenz mengaktifkan Uricle Device miliknya dan memilih menu scan, papan hologram muncul dari alat itu, dan Fenz mengarahkan alat itu ke serigala dan kera yang mendekatinya. Kera dan serigala itu mengeluarkan suara yang memilukan. Kemudian papan hologram memunculkan tulisan “Tolong kami, Darlz telah menginfeksi dua per tiga bagian planet ini. Pemimpin kami, Diarla juga terkena energi negatif Darlz dan menjadi sangat agresif.”
Fenz kaget melihat tulisan yang muncul dari Uricle Device miliknya, wajahnya tampak terkejut dan berubah menjadi muram, kengerian seketika menjalar di tubuhnya. Fenz tidak bisa membayangkan jika seluruh planet ini terinfeksi energi negatif Darlz. Kemudian dia teringat dengan monumen tempat Darlz tersegel. “Ini gawat” teriak Fenz, mengagetkan Lunar, Ava, dan Eucli yang masih mencerna tulisan dari papan hologram Uricle Device.
“Ada begitu banyak lasersphere di planet ini yang harus diperbaiki, aku sendirian tidak akan sanggup melakukannya.” Kata Fenz sambil menepuk jidat. “Kita harus membentuk tim untuk itu.” Fenz menatap ke langit Orla memasang wajah muram, berharap hal yang baru saja dia ketahui itu tidak benar-benar terjadi, namun tubuhnya bisa merasakan udara dingin dari planet itu. Udara dingin yang menusuk dan aura gelap dari Darlz, menandakan planet ini sedang dalam bahaya.
“Kita tidak boleh membuang waktu, kita harus segera kembali ke kapal induk dan melaporkannya kepada lima dewan penjaga yang lain.” Fenz segera menggapai tubuh wanita misterius yang tersandar di pohon.
Fenz mempercepat langkahnya, diikuti Eculi di sebelahnya yang juga berjalan cepat. Lunar dan Ava mengikuti di belakang dengan kebingungan, mereka berdua ikut mempercepat langkah, khawatir akan tertinggal jauh.
Sesekali Fenz menoleh ke pepohonan, matanya mencari-cari sesuatu, namun dia belum menemukan apa pun. Eucli yang melihat Fenz seperti itu kemudian memegang Pundak Fenz tanpa mengurangi kecepatan langkahnya. “Fenz… kita pasti akan bisa mengembalikan kedamaian planet ini, aku yakin.”
Seketika Fenz kembali tenang, wajahnya yang muram perlahan berubah cerah, tapi pikirannya masih belum terbebas dari kekhawatirannya. Fenz menarik napas panjang kemudian mengeluarkannya secara perlahan. “Kau benar… Eucli. Kita pasti berhasil membawa kedamaian planet ini kembali.”
Tak lama mereka pun sampai di kapal yang akan membawa mereka kembali ke armada luar angkasa Uricle. Terlihat Ghult dan Melfon sudah sampai terlebih dahulu dan sedang menunggu mereka di dalam kapal.
“Cih… lama sekali. Apa saja yang kalian lakukan?” ejek Ghult sambil berpindah posisi tempat duduk.
“Maaf… tadi ada sedikit masalah,” jawab Fenz.
Fenz menurunkan wanita misterius itu kemudian membaringkannya di sebuah kursi panjang di dalam kapal. “Eucli… Melfon… tolong kalian jaga dia, dalam perjalanan kita mungkin akan ada sedikit guncangan.”
Eucli dan Melfon segera mendekati wanita misterius yang terbaring di kursi, kemudian mereka mengencangkan sabuk pengaman. Terdengar suara mesin yang berdesing saat Fenz mengaktifkan kapal dan secepat kilat mereka melesat ke langit Orla menuju armada Uricle.
Lunar merasa tenang dirinya telah sampai di kapal itu, dirinya sudah sangat lelah. Sebentar lagi dia bisa kembali ke armada Uricle pikirnya, rasa penasarannya dengan wanita misterius itu membuatnya ingin cepat sampai. Lunar ingin segera membawanya ke medical center agar wanita misterius itu segera mendapat perawatan. Dia berharap wanita misterius itu segera sadarkan diri, ada banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya. Lunar ingin segera mengetahui identitas dirinya sendiri dan juga wanita misterius itu, dan juga dia ingin tahu mengapa wanita misterius itu bisa berbicara di dalam pikirannya.
Lunar kembali menatap wajah wanita misterius yang terbaring di depannya. Tiba-tiba Lunar merasakan sesuatu, dirinya merasa mengenal wanita itu, sebuah bayangan masa lalu muncul namun samar.. Ini seperti sebuah teka-teki yang sulit dipecahkan, gumamnya dalam hati. Lunar benar-benar merasa frustasi memikirkan hal itu namun dia bertekad akan segera menemukan jawaban dari teka-teki itu