“Nemesis. Robot yang dikembangkan oleh Uricle Central Research Division (UCRD) untuk mempersiapkan diri dari ancaman Darlz yang akan datang. Nemesis dikhususkan untuk tugas berat dalam menghadapi Darlz attack dalam skala besar dan cakupan luas yang sulit untuk dilakukan Arz. Nemesis juga biasa digunakan untuk melawan Darlz yang lebih besar yang biasanya sulit dikalahkan oleh Arz.” Fenz menjelaskan tentang nemesis yang akan mereka gunakan untuk misi di planet Orla.
“Hei, apa kau mendengarkanku, Lunar?” Fenz terganggu dengan Lunar yang dari tadi hanya melamun, tatapannya mengarah pada nemesis namun terihat kosong seperti sedang memikirkan hal lain.
Lunar tersentak dari lamunannya dan memusatkan perhatian kembali kepada Fenz, yang entah sudah berapa lama berbicara di depannya dan Ava. Lunar tak menangkap satupun kata yang diucapkan Fenz.
“Ya Fenz, maaf. Aku tidak bisa tidur semalam karena sesuatu hal.”
Fenz memaksakan sebuah senyum mengasihani. “Tidak heran. Kau baru saja pulih. Kau mungkin berpikir aku kejam karena menyuruhmu dan Ava berlatih hari ini.”
Lunar mengangkat bahu. “Latihan mungkin hal terbaik yang bisa aku lakukan. Apa pun untuk mengalihkan pikiranku dari hal itu.”
Fenz mengangguk, dan senyumannya terlihat lebih tulus. “Kau memang terlihat menakjubkan, Lunar. Saat ini kita sedang berada dalam kondisi darurat, kita tidak akan membiarkan Darlz kembali bangkit.”
Lunar mengangguk dan perhatiannya kembali focus kepada Fenz yang sedang menjelaskan tentang pengoperasian nemesis, sebuah robot raksasa yang akan dia gunakan untuk misi selanjutnya di planet Orla.
“Oke… bisa aku lanjutkan?” Fenz ingin memastikan Lunar tidak melamun lagi.
“Ya Fenz, kali ini aku akan memperhatikan, maaf soal tadi.” Ujar Lunar sedikit merasa tidak enak dengan ketua timnya itu.
Di hadapan mereka berdiri kokoh robot yang diberi nama nemesis. Robot itu diletakkan berjajar dan diberi jarak masing-masing 10 meter. Nemesis berdiri dengan disanggah nemesis holder. Nemesis mengambil penampilan setelan mekanis humanoid besar yang tingginya sekitar 12 meter, terdiri dari baju besi tempur berwarna hitam dengan plating besar muncul di bagian depan. Sedangkan di bagian punggung terdapat palka pod yang dilengkapi dengan ejector darurat.
Palka pod adalah bagian yang berisi Arz sebagai pilot dan terbuka ketika menekan tombol yang ada di dalam palka. Bagian kepalanya dilindungi dipasang pelindung yang memungkinkan penglihatan dan dikelilingi oleh lapisan baja.
Sebagai setelan tempur yang dirancang untuk pertempuran menggunakan heavy weapon, nemesis dilengkapi dengan beberapa main weapon. Di tangan kanannya adalah Lumiere Larc, weapon jenis rifle besar yang dilengkapi peluru berkaliber tinggi tk terbatas dan tembakan laser. Di bagian bahu kanan terdapat Lumiere Pain, pedang laser yang mampu melakukan serangan cepat. Kedua weapon itu dapat digunakan secara bergantian, sementara salah satu weapon diletakkan di bagian belakang.
“Selain semua atribut dasar ini, nemesis mampu melengkapi modifikasi berdasar misi yang akan dijalankan. Misal, ia dapat menggunakan flying unit atau nemesis barrier kalian bisa meminta perlengkapan yang kalian butuhkan kepada mereka..” Terang Fenz sambil membawa papan hologram di tangannya lalu menunjuk ke arah teknisi nemesis yang terlihat sibuk melakukan maintenance.
“Nah… itu tadi pengenalan nemesis, sekarang kalian harus mencoba berada di dalamnya. Kita akan melakukan simulasi dengan program virtual reality (VR).” Kata Fenz mengakhiri pengenalan nemesis.
“Lunar… kau yang pertama.” Ujar Fenz memecah lamunan Lunar.
Lunar yang sejak tadi tidak terlalu menyimak penjelasan Fenz sedikit terkejut ketika dia ditunjuk untuk melakukan simulasi.
“Baik...” Jawab Luna singkat sambil segera bersiap untuk melakukan simulasi.
Kemudian dia berlari kecil menuju nemesis yang berjarak lima meter dari tempat mereka berdiri, kemudian menaiki sebuah papan pijakan yang terbuat dari logam dan sebuah tali baja, pijakan itu seketika bergerak naik secara perlahan ketika seseorang menaikinya. Papan pijakan itu adalah alat untuk naik ke bagian palka pod nemesis.
Lunar memasuki palka pod kemudian menutupnya dengan menarik tuas yang berada di kursisebelah kanannya. Pintu palka pod menutup dan Lunar mengaktifkan nemesis menggunakan tombol power berwarna merah yang terletak di papan hologram sebelah kanan.
“Perhatikan baik-baik sekelilingmu. Ayo perhatikan juga termografinya. Tetaplah waspada. Aku akan memulai simulasinya.” Kata Fenz sambil memulai program VR.
Layar nemesis yang berada di depan Lunar menampilkan map dengan titik-titik berwarna merah yang bergerak. Kemudian Lunar menekan sebuah tombol yang mengubah tampilan layar menjadi medan pertempuran berupa hutan dengan rumput dan pepohonan. Terlihat tiga monster Darlz berbentuk laba-laba raksasa yang sempat dikalahkan Lunar. Lunar memilih menggunakan Lumiere Larc dan menembak ke arah punggung monster yang merupakan kelemahan monster.
“Baik… Tiga Darlz terdeteksi pada koordinat D2. Ditandai sebagai musuh! Sebentar lagi masuk ke dalam jarak tembak efektif! Memasuki pertempuran dan tembak…”
Lunar merasa familier ketika berada di dalam palka pod nemesis. Tubuhnya seakan telah mengetahui apa yang harus dia lakukan. Tidak ada kebimbangan saat dia mengoperasikan robot itu. Dengan santai Lunar menekan tombol-tombol yang berjajar dan hanya sebentar dia melakukan simulasi itu kemudian papan hologram menampilkan sebuah tulisan.
“Simulation accomplished.”
“Oke, simulasi selesai. Wah ternyata Lunar lumayan juga. Dia punya naluri yang cukup bagus. Meski tadi dia melamun, ternyata penjelasanku dapat dia mengerti.” Ujar Fenz bangga dengan Arz didikannya itu. “Berikutnya kau, Ava.”
“Yosh… aku ingin sekali mencobanya.” Ava terlihat sangat semangat. “Aku sudah tidak sabar…”
Suara Ava sangat beresonansi. Dalam semangatnya, dia berlari maju dengan penuh semangat, kemudian menaiki papan pijakan dan naik ke dalam palka pod. Ava sedikit kebingungan dengan tombol-tombol yang ada di dalam palka pod. Tangannya sedikit gemetaran, dia tidak menyangka kalau akan serumit itu. “Bagaimana Lunar melakukannya tadi?”
“Hei… apa yang harus aku lakukan selanjutnya?” Teriak Ava sambil melambaikan tangannya kepada Lunar dan Fenz.
Fenz menutup wajahnya dengan tangan kirinya. “Padahal sebelumnya dia sangat bersemangat.” Bisik Fenz kepada Lunar yang melihat Ava dengan tatapan kosong.
“Tarik tuas yang ada di sebelah kursi kanan.” Teriak Fenz sambil mempraktikan gerakan menarik. “Ya ampun… kemana saja dia saat aku menjelaskan.”
Lunar hanya menggelengkan kepalanya, melihat temannya melakukan hal konyol.
“Bagaimana? Sudah ketemu tuasnya?” Tanya Fenz penasaran apakah Ava mengerti yang dia jelaskan.
“Ya… maaf aku sedikit gugup.” Ujar Ava sambil menarik tuas untuk menutup palka pod.
Ava mengingat-ingat yang dijelaskan Fenz sebelumnya, dan mencari-cari tombol untuk mengoperasikan nemesis.
“To-tombol s*****a utama… Kontrol tembakan… Turunkan peredam, lalu mengunci…
Mengonfirmasi target… Te-tembak…”
“Ava jangan gugup, tenanglah itu hanya simulasi,” teriak Fenz merasa khawatir.
“Tidak aku tidak gugup, aku hanya belum terbiasa. Naikkan tingkat kesulitannya,” ujar Ava kembali bersemangat setelah menyelesaikan simulasinya.
“Bagaimana kalau hari ini kita cukupkan sampai sini saja dulu?”
“Tidak apa-apa, lanjutkan saja.”
“Hmmm… bagaimana kalau kucoba memasukkan data Darlz yang kita lawan baru-baru ini?” ujar Fenz sambil mengubah mode VR dan memasukkan data pertempuran saat Lunar dan Ava melawan Darlz di Planet Orla. “Oke. Kita mulai yang ini. Mulai simulasi.”
Layar yang berada di depan Ava berubah menjadi gelap dan puluhan Darlz mendekat dari berbagai arah. Mengepungnya. Ava terkejut, matanya terbelalak dan jantungnya bedebar sangat cepat seolah akan meledak. Keringat dingin mengalir di kening dan seluruh tubuhnya.
Dengan terbata-bata Ava menjelaskan kondisi yang dia lihat dari layar nemesis.
“Sinyal Darlz terdeteksi. Datang dari koordinat D1, E2, G4. Sebentar lagi akan memasuki jarak tembak efektif.” Ava mengingat saat Darlz tiba-tiba berada di hadapannya kemudian melemparnya, Ava menjadi panik dan menembak dengan bertubi-tubi.
“Jangan lakukan itu, Ava. Nanti riflenya akan kepanasan,” teriak Fenz mengingatkan.
“Aaa…aaa…aaa.”
Kemudian layar dihadapannya berubah menjadi merah saat Darlz dari program VR mendekatinya dan menyerangnya. Seketika muncul tulisan.
“Simulation terminated.”
“Maaf. Aku langsung membuatnya terlalu sulit ya,” ujar Fenz sambil menonaktifkan simulasi. “Apa kau merasa panik?”
Ava hanya terdiam di dalam palka pod. Menatap kosong ke layar yang telah dinonaktifkan oleh Fenz melalui papan hologram yang dipegannya.
“Turunlah Ava. Simulasinya sudah selesai. Kau melakukannya cukup baik.”
“Maaf sepertinya aku masih syok dengan kejadian waktu itu,” ujar Ava sambil turun melalui papan pijakan nemesis.
“Tidak… Kau sudah melakukannya dengan baik,” kata Lunar menenangkan Ava sambil menepuk pundaknya.
Kemudian perhatian mereka teralihkan karena mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Terlihat dua orang wanita menghampiri mereka dan salah satunya mengatakan ingin melakukan simulasi nemesis. Mereka bertiga terkejut, terutama Lunar. Matanya terbelalak seolah akan keluar dari tempatnya. Lunar mundur satu langkah seakan yang mendatangi mereka adalah Darlz terkuat.
Wanita itu tersenyum kepada mereka bertiga seraya berkata, “Apa aku boleh mencobanya?”
Wanita itu adalah Mae yang telah mengenakan seragam Arz. Didampingi seorang wanita berwajah oriental dengan rambut hitam yang dikepang dua. Dia adalah Miyuki seorang Arz senior yang merupakan anggota tim dewan penjaga Itasuke.
“Hai Fenz…” Sapa Miyuki sambil tersenyum dan melambaikan tangan kanannya. “Aku titipkan dia ke dalam tim mu ya, jaga dia baik-baik.”
“Apa maksudmu, Miyuki?” tanya Fenz kebingungan.
Fenz merasa ini bukan hal yang baik, mengingat Ghult yang terganggu dengan Lunar dan Ava, sekarang ditambah wanita misterius yang mereka temukan di planet Orla.
“Aku tidak tahu, ini perintah dari pusat,” jawab Miyuki santai sambil meninggalkan Fenz dan yang lainnya.
“Tapi Rez tidak memberitahuku sebelumnya.” Fenz kebingungan dengan keadaan ini. Lalu dia segera menghubungi Rez menggunakan Uricle Device miliknya.
Alat itu menampilkan Rez yang sedang berada di ruang komando kapal induk.
“Ada apa Fenz?” tanya pria itu. “Bukankah kau sedang dalam pelatihan nemesis dengan anggota baru tim mu?”
“Itulah yang ingin aku tanyakan padamu Mr.Rez…” kata Fenz dengan nada sedikit meledek. “Mengapa kau memasukkan wanita misterius itu ke dalam tim ku juga?”
“Wanita mana maksudmu? Bukankah kau sendiri yang memilih anggota barunya?” tanya Rez penasaran. Kini wajahnya bertambah bingung dengan kata-kata Fenz, seolah dia tidak tahu apa yang sedang terjadi.
“Kau tidak tahu? Akan aku tunjukkan,” ujar Fenz sambil mengarahkan Uricle Device miliknya kepada Mae.
Rez terkejut dengan apa yang dia lihat dari papan hologram Uricle Device miliknya. Kemudian dia mengingat seseorang, seseorang yang mampu melakukan hal ini. Seseorang yang dapat seenaknya melakukan segala sesuatu di dalam Uricle. “Aku rasa aku tahu ini ulah siapa,” katanya sambil mengakhiri komunikasinya dengan Fenz.
Lunar, Ava, dan Fenz masih terdiam di dalam kapal yang dihiasi nemesis yang berdiri di sudut-sudut kapal. Mereka bertiga masih mencerna kenyataan bahwa Mae akan ikut dalam misi selanjutnya sebagai anggota tim mereka. Sedang Fenz, dirinya merasa ada puluhan batu yang menimpanya, tidak dapat membayangkan bagaimana reaksi Ghult saat mengetahui bahwa tim mereka akan kedatangan seorang anggota baru yang tidak dia sukai.
***
Sementara di tempat lain, seorang pria yang berpakaian laboratorium berwarna putih sedang tertawa licik menatap papa hologram yang menampilkan Lunar, Ava, Fenz, dan Rez yang masih kebingungan. Lalu pria itu dengan nada puas berkata, “Terimalah hadiah dari ku ini, Shein.”