Keesokan harinya Lunar dan Ava mendapat kabar bahwa wanita misterius yang mereka temukan di planet Orla telah siuman. Keduanya langsung mengunjungi wanita misterius yang berada di ruang sebelah tempat mereka berdua dirawat.
Terlihat wanita itu sedang duduk di tempat tidurnya dan seorang wanita yang mengenakan seragam tim medis dengan sebuah papan hologram berdiri di dekatnya.
“Bagaimana dengan keadaannya?” tanya Lunar kepada tim medis yang sedang menulis sesuatu di papan hologram.
“Tidak ada yang salah dengan fisiknya, selain itu tidak terdeteksi adanya energi negatif di dalam tubuhnya,” ujar tim medis berambut putih itu. “Aku sudah selesai memeriksa kondisinya, kalau membutuhkan sesuatu segera hubungi aku dengan menekan tombol yang berada di samping tempat tidur.”
Lunar menatap wanita misterius itu, ada banyak hal yang ingin ditanyakan kepada wanita itu, tapi Lunar hanya terdiam seakan ada dinding es yang menghalanginya untuk mengemukakan isi kepalanya.
Lunar dan Ava menarik kursi yang terbuat dari logam dengan lapisan busa yang dibalut kulit sintetis berwarna biru tua, kemudian duduk di samping tempat tidur wanita itu.
“Siapa namamu? Apa kau ingat?” tanya Ava mendahului Lunar yang terdiam mematung.
“Mae,” jawab wanita itu.
Mendengar nama itu Lunar seketika terkejut, matanya terbelalak, seakan tak percaya bahwa apa yang dia dengar saat berada di planet Orla itu benar dan percakapannya dengan wanita bernama Shein juga bukan halusinasinya saja.
“Kalau begitu salam kenal, namaku Ava. Bagaimana keadaanmu?” ujar Ava sambil mengulurkan tangannya kepada Mae.
“Salam kenal juga. Aku sudah lebih baik kok.” Mae membalas uluran tangan Ava sambil tersenyum.
“Mae, apa kau mengingat sesuatu? Bagaimana kau bisa berada di planet Orla?” tanya Lunar dengan wajah serius.
“Tunggu dulu, teman. Jangan langsung ditanya begitu, nanti Mae malah ketakutan.” Ava tampak cemas dengan sikap dingin Lunar. “Sini aku yang tanya saja.”
Lunar menghela napas mendengar perkataan temannya itu. “Maaf aku hanya sangat penasaran.”
“Nah… Mae kau berasal dari kapal berapa?”
“Tidak tahu,” jawab Mae memasang wajah polos sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir.”
“Eh… kalau begitu kenapa kau bisa berada di planet Orla?”
“Ehm… tidak tahu juga.” Mae sambil menggelengkan kepalanya. “Aku tidak ingat apapun selain nama.”
“Apa kau tau namaku?” Lunar penasaran, pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya.
“Kau… kau adalah Lunar,” jawab Mae.
Keduanya terkejut dan saling memandang satu sama lain dengan tatapan kebingungan.
“Bagaimana kau tahu namaku, aku belum memberitahu padamu.”
“Tidak tahu… Nama itu tiba-tiba muncul dengan sendirinya,” jawab Mae sedikit ragu. “Lunar… Apa kau benar-benar telah melupakanku?” Suaranya terdengar sangat lembut.
“Maksudmu… kau ingat… aku?” tanya Lunar merasa malu dengan suaranya yang mengecil saat mengucapkan kata terakhir.
“Ya… meski tidak sepenuhnya mengingat.” Mae bergumam, duduk sambil menekuk kedua kakinya dan memeluk lututnya.
“Perasaan-perasaan. Emosi-emosi. Seperti ada beberapa bagian di kepalaku, diberi tanda untuk memori-memori dan wajah-wajah, tetapi semua kosong. Seakan segala sesuatu berada di balik tirai putih. Termasuk kau. Aku hanya ingat namaku dan namamu, Lunar.”
“Tapi bagaimana kau mengenalku, sedangkan aku tidak ingat apapun tentangmu?” Lunar merasa dinding-dinding logam berputar di sekelilingnya.
Mae kembali menatap wajah Lunar. “Tidak tahu. Sepertinya sesuatu telah terjadi pada kita. Sesuatu tentang kita. Sebagian besar kosong, seperti yang ku katakan tadi.”
Ava hanya terdiam melihat kedua orang dihadapannya. Dia sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara keduanya dan hanya memperhatikan. Dirinya merasa bahwa kemungkinan Mae dan Lunar dulunya saling mengenal tapi keduanya sama-sama hilang ingatan. Namun ada yang mengganjal di pikirannya, bahwa tidak ada satupun di Uricle yang mengenal mereka berdua.
“Lunar… apa kau tidak mengenalnya?” tanya Ava penasaran.
“Tidak, aku rasa aku baru bertemu dengannya di Planet Orla.” jawab Lunar.
Namun naluri Lunar berkata lain, dia merasa familier dengan wanita bernama Mae itu. Dia merasa dekat dengan wanita itu.
“Semuanya sangat membingungkan saat ini. Tapi aku yakin dulu kita adalah teman.” Mae mengulurkan tangannya kepada Lunar sambil tersenyum.
Lunar hampir memalingkan wajahnya, seolah dia tak berhak menatap ekspresi yang seindah itu dari Mae.
Beberapa saat berlalu, keduanya menunduk dengan tatapan kosong.
“Apa yang…,” Lunar memulai tapi tidak tahu bagaimana menanyakannya. “Bagaimana… kau bisa berbicara kepadaku di dalam pikiranku?”
Mae menggelengkan kepala kemudian memejamkan kedua matanya dan memegang dagunya dengan tangan kanan. “Tidak tahu… aku melakukannya begitu saja.” Suara Mae terdengar di kepala Lunar. Kemudian dia berbicara dengan jelas kembali. “Seperti saat kau berjalan. Kau dapat melakukannya tanpa berpikir.”
“Kau juga bisa melakukannya, Lunar.” Mae menambahkan melalui pikirannya.
Lunar memejamkan matanya dan memusatkan pikirannya. “Mae.”
Mae membuka matanya lalu tersenyum kembali dengan senyuman termanis yang dimilikinya. “Yah seperti itu, Lunar. Hebat kan. Aku tidak tahu siapa yang memberi kita kemampuan seperti ini.”
Lunar masih terpejam, dia masih berusaha berkomunikasi dengan Mae lewat pikirannya.
“Aku pikir ini halusinasiku saja.” Lunar kembali membuka matanya dan memandang ke arah Mae.
Ava hanya bengong melihat Lunar dan Mae yang bertingkah aneh. “Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di sini,” ujar Ava sambil menatap Lunar dan Mae secara bergantian.
Lunar menghela napasnya. “Tidak… tidak ada apa-apa kok.”
“Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari ku?” tanya Ava penasaran.
“Tidak,” jawab Lunar singkat.
“Kalau begitu apa yang kalian lakukan tadi, saling menatap dan tersenyum?”
Ava semakin penasaran dengan kedua orang itu. Wajahnya yang kebingungan membuat Mae terkekeh.
“Ini rahasia,” kata Mae sedikit menggoda Ava yang tidak dapat menyembunyikan rasa ingin tahunya.
Lunar kemudian bangkit dari tempat duduknya, dirinya masih belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Saat ini dia ingin menyendiri
“Kau masih butuh istirahat, Mae. Kami akan pergi,” seru Lunar sambil menepuk pundak Ava. “Ayo Ava, kita harus siap-siap dengan misi kita besok.”
“Maaf ya, padahal baru saja menjenguk,” ujar Ava merasa tidak enak.
“Misi? Misi apa?” tanya Mae.
“Misi seorang Arz.” jawab Ava dengan bangga.
“Aku juga ingin menjadi Arz,” ujar Mae dengan wajah polos.
“Tidak, kau tidak bisa.” Lunar dengan tegas menolak permintaan Mae.
“Kau jahat sekali, Lunar.”
“Kenapa?” Mae masih memasang wajah polos dan penuh harap dia dapat bergabung dengan Arz.
“Kau… asal usulmu belum jelas,” Lunar tidak dapat memikirkan kata-kata yabg lebih tepat selain yang telah keluar dari mulutnya itu.
Mae terkejut dengan kata-kata Lunar, dia tertunduk sedikit sedih.
“Hei…! Pakai kata-kata yang sopan, Lunar!” ujar Ava mengingatkan Lunar sambil menepuk pundaknya.
“Kami belum mengetahui darimana asalmu,” tambah Lunar. “Maaf kami harus pergi.”
Ava tertunduk, merasa bersalah dengan kata-kata Lunar yang sedikit kejam. “Maaf ya…”
“Tidak apa-apa kok. Kalian hati-hati, ya.” Mae tersenyum, tidak merasa terbebani dengan perkataan Lunar.
Keduanya kembali ke ruangan tempat mereka di rawat dan bersiap untuk pulang ke kapal masing-masing.
“Lunar… Kau ini… kenapa kau berbicara seperti itu dengannya. Kau bisa melukai perasaannya tahu.”
“Maaf… Tapi aku hanya berbicara yang sebenarnya. Lagipula kita tidak bisa mengajaknya. Kau tahu… kita sendiri baru saja diterima sebagai Arz,” terang Lunar. Dirinya juga merasa bersalah dengan ucapannya kepada Mae. Dia hanya belum bisa menerima kenyataan bahwa dia bisa berkomunikasi melalui pikirannya dan ingin segera menjauh dari Mae untuk sementara waktu.
“Benar juga.” Ava tertunduk sebentar kemudian dia kembali ceria mengingat sesuatu. “Kau tinggal di kapal 37 kan, kita berdekatan loh. Mau bareng?”
“Aku heran denganmu, sebentar kau murung lalu kau kembali ceria,” ujar Lunar sambil menghela napas.
Lunar dan Ava keluar dari ruang tempat mereka dirawat, kemudian mereka menyempatkan diri untuk kembali ke depan ruangan Mae dan melihat Mae dari balik pintu berkaca.
“Sebenarnya dia siapa ya? Dia tidak terlihat berbahaya,” ujar Lunar sambil berlalu pergi bersama Ava melewati lorong medical centre yang keseluruhannya terbuat dari logam.
Keduanya berjalan menuju lift untuk turun ke lantai dasar kapal. Kapal itu terlihat sangat ramai, terlihat beberapa lift naik turun dan juga terdapat lift yang bergerak secara horizontal.
“Aku hampir lupa, kalau kapal kita ini begitu mengagumkan.” Ava memperhatikan gerak lift yang bergerak di dalam lintasan yang terbuat dari kaca.
Lunar kemudian memperhatikan sekelilingnya. “Yah, aku juga tidak memperhatikannya.”
Lunar teringat saat pertama kali dia tersadar sudah berada di medical centre setelah tak sadarkan diri beberapa waktu. Kemudian bayangan-bayangan masa lalunya kembali bermunculan dan dia teringat dengan caranya berkomunikasi dengan Mae melalui pikirannya. Lunar segera menyingkirkan bayangan dan pikiran buruk yang melintas itu, dia tidak ingin terganggu dengan bayangan buruk itu. Keduanya menaiki kapal dari exit 37 menuju entrance 1 kapal 37, kapal tempat tinggal mereka.
***
Di tempat lain, terlihat seorang pria dengan rambut pirang yang ditata hingga rapi dan berkilap. Pria itu berpakaian serba putih khas pakaian laboratorium. Pria itu duduk menghadap beberapa papan hologram berbagai ukuran, salah satunya menampilkan data tentang Lunar dan Mae.
“Mengagumkan… Tak kusangka kau telah menyiapkan hal semacam ini... Entah upaya sia-sia apa yang akan kau lakukan, pasti akan selalu kunantikan, Shein,” ucap pria itu sambil tersenyum licik.