Fenz segera menuju ruang jaga timnya yang berada sekitar 10 kilometer dari meeting room dan bertemu dengan Eucli, Ghult, dan Melfon untuk menyampaikan kabar baik bahwa tim mereka akan kembali lengkap menjadi enam Arz.
Eucli yang berada di depan ruang jaga menunggu kehadiran Fenz. Wajahnya menunjukkan kegembiraan ketika melihat Fenz sedang berjalan dari kejauhan. Kemudian Eucli mengibaskan tangan kanannya sambil memberikan senyum tipis.
“Baru datang ya Mr.Fenz…” ucapnya sedikit meledek.
“Pertemuan daruratnya baru saja selesai dan itu sangat menguras emosiku,” jawab Fenz sambil berjalan masuk ke ruang jaga.
“Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kalian bertiga.”
“Apa itu? Apa ada serangan Darlz lagi?” Tanya Ghult yang berdiri di dekat jendela ruang jaga.
“Serangan Darlz sudah dimulai dari beberapa waktu lalu, kau tahu itu Ghult,” jawab Fenz singkat.
“Hal ini berkaitan dengan tim kita. Tim kita akan kembali lengkap.”
“Hah? Lengkap bagaimana maksudmu?” tanya Eucli penasaran.
“Kita akan mendapat tambahan anggota tim baru,” ucap Fenz.
“Kau kira aku akan senang mendengarnya. Bagiku lengkap itu sendiri berarti Myrtle dan Tylda masih ada di sini.” Ucap Ghult sedikit marah.
“Tenang Ghult…” Melfon yang duduk di kursi di dekat Ghult mencoba menenangkan Ghult, takut akan ada perselisihan di ruangan itu.
Ghult menghela napas panjang sambil memejamkan matanya. Kemudian dia teringat saat kedua temannya menyelamatkan dirinya dan Fenz saat Darlz attack sepuluh bulan lalu. Saat itu dirinya begitu lemah dan tak berdaya membiarkan kedua temannya itu mengorbankan diri untuknya. Mulai saat itu, Ghult bertekad ingin menjadi kuat dan menjadi marah ketika melihat seseorang berlaga mengorbankan diri demi menyelamatkan orang lain seperti yang dilakukan Lunar.
“Aku telah membicarakannya dalam pertemuan bersama enam dewan, tim kita akan mendapat tambahan anggota.” ujar Fenz menggejutkan Ghult yang sedang larut dalam ingatan masa lalunya.
“Kau pikir aku akan setuju dengan omong kosong ini?” bentak Ghult sambil menghantamkan tinjunya ke dinding.
“Ghu…lt… Bisa kau sedikit lebih tenang,” ucap Melfon terbata-bata sambil mengusap tangan Ghult yang mulai memerah.
“Ghult… Bisa kah kau sedikit berpikir dewasa. Situasi yang kita alami saat ini mengharuskan kita untuk melakukannya. Aku tidak melupakan mereka berdua, apalagi mengubah posisi mereka di dalam hatiku. Mereka berdua memiliki tempat special yang tidak bisa digantikan siapapun,” ucap Fenz meyakinkan Ghult.
“Terserah kau saja, kau yang anggota dewan kan,” jawab Ghult kesal dan langsung keluar dari ruangan itu.
Fenz menghela napas, dia tidak menyangka kalau Ghult akan menentang keputusannya.
“Melfon… bisa kau ikuti Ghult dan beri penjelasan kepadanya. Aku takut dia mengamuk disaat seperti ini, dan hanya kau yang dapat menenangkannya,” pinta Fenz kepada Melfon yang sudah terlebih dahulu berjalan mengikuti Ghult.
“Akan aku coba,” jawab Melfon sedikit ragu.
“Lalu… siapa dua Arz yang akan bergabung ke tim kita, Fenz?” tanya Eucli sambil menepuk Pundak Fenz.
“Lunar dan Ava,” kata Fenz.
Eucle melepaskan tangannya dari pundak Fenz dan mundur satu langkah darinya.
“Kau tidak sedang main-main kan?” tanya Eucli.
“Kau pikir aku pernah bermain-main disaat genting seperti ini? Kau juga sudah melihat bagaimana Lunar dan Ava dapat bertahan sementara Arz traine lainnya tewas termasuk kapten tim mereka yang merupakan Arz senior.” Fenz menjelaskan alasan dirinya memilih kedua Arz itu.
“Yah aku juga sudah melihatnya, tapi itu ide yang buruk, Fenz. Ghult tidak akan senang dengan hal ini.” Eucli tahu benar bagaimana sifat kedua pria itu. Fenz yang sembrono namun semua ide-idenya tidak pernah mengecewakan dan Ghult yang pemarah.
“Aku tidak punya kandidat lain yang lebih cocok dari kedua Arz itu,” terang Fenz meyakinkan Eucli.
Eucli memejamkan matanya, kemudian berpikir apakah dia harus setuju dengan perkataan Fenz. Eucli mengingat saat dia menyelamatkan Lunar dan Ava, mengingat perjuaangan mereka berdua hingga berhasil bertahan hidup dan kembali dengan selamat. Eucli menarik napas panjang dan mengeluarkan secara perlahan.
“Oke… aku setuju, mari kita beri mereka berdua kesempatan,” ucapnya sambil memantapkan keputusannya. “Apa mereka berdua sudah tahu tentang hal ini?”
“Terima kasih, Eucli. Terima kasih karena sudah mendukungku. Aku baru saja akan pergi ke medical centre. Apa kau mau ikut?” ucap Fenz senang.
“Aku akan tetap di ruang jaga ini, Fenz. Kau saja yang pergi.”
“Baiklah.”
“Hati-hati, Fenz.”
Eucli mengantar Fenz hingga ke lorong.
Fenz berbalik dan melambaikan kedua tangannya sambil mengerlingkan matanya.
Fenz menuju medical centre yang berada di kapal yang berbeda, 50 kilometer dari kapal induk. DIa menaiki lift untuk turun ke lantai dasar lalu menuju exit 1 menuju entrace 1 kapal medis. Fenz menaiki kapal kecil berkapasitas 4 orang. Beberapa kapal terlihat berjajar dermaga luar angkasa kapal induk. Tidak membutuhkan waktu lama hingga dia sampai ke kapal medis.
Kemudian Fenz menaiki aero car menuju sebuah bangunan berwarna serbaputih dengan lambang khas medical centre berwarna merah terlihat di atas bangunan itu. Kemudian dia mencari ruangan tempat Lunar dan Ava berada. Fenz menyusuri lorong medical centre yang terang disinari lampu-lampu. Fenz mengaktifkan Uricle Device yang terpasang di tangannya, kemudian memilih menu contact, dia menghubungi Lunar yang berada di lantai dua bangunan itu.
Lunar dan Ava berada dalam satu ruangan yang memudahkan Fenz menemukan mereka. Terlihat seorang wanita berambut coklat menggunakan pakaian tim medis sedang melihat sebuah papan hologram yang menampilkan kondisi tubuh Lunar.
“Bagaimana kondisi mereka berdua?” tanya Fenz kepada tim medis yang merawat Lunar dan Ava.
“Mereka sudah baik-baik saja saat ini, energy negative Darlz juga sudah dimurnikan. Kami sedikit terkejut dengan dia.” Ujar seorang tim medis sambil menunjuk ke arah Lunar. “Aku belum pernah melihat kekuatan pemurnian yang secepat tubuhnya.”
Fenz langsung menoleh ke arah jari tim medis yang menunjuk Lunar. Fenz menyipitkan matanya, mengingat-ingat Lunar telah membunuh banyak Darlz. “Benarkah? Syukurlah kalau begitu.” Fenz tidak mau mengambil pusing dengan kabar itu, dia ingin segera memberitahu Lunar dan Ava tentang misi baru mereka. Namun dia teringat dengan wanita misterius yang mereka temukan di planet Orla.
“Bagaimana dengan wanita itu? Wanita misterius yang kami bawa dari planet Orla,” tanya Fenz kepada tim medis yang masih berada di ruangan itu.
“Tidak ada yang salah dengan fisiknya, sepertinya dia hanya sedang tertidur sangat pulas. Dia segera sadarkan diri.” Kata tim medis itu sambil berjalan hendak keluar dari ruangan. “Tekan tombol yang ada di sebelah tempat tidur kalau butuh sesuatu.”
“Baiklah, terima kasih,” kata Fenz sambil mendekat ke arah Lunar dan Ava.
“Syukurlah kalian berdua sudah baik-saja. Aku ingin memberitahu kalian sesuatu yang penting.”
Lunar dan Ava saling menatap satu sama lain, bingung dengan perkataan Fenz.
“Sesuatu yang penting?” tanya Lunar dan Ava bersamaan.
“Ya… sangat penting… Aku tidak tahu kalian akan senang mendengarnya atau tidak.” Fenz duduk di kursi yang berada di antara tempat tidur Lunar dan Ava. Wajahnya terlihat sangat serius.
“Apa itu?” Lunar dan Ava kembali bertanya secara bersamaan.
Hal itu membuat Fenz terkekeh. “Sepertinya kalian memiliki ikatan batin yang kuat ya,” ujar Fenz
“Tidak!” jawab Lunar dan Ava.
“Kalian mulai lagi kan.” Kali ini Fenz tertawa terbahak-bahak melihat kedua Arz itu, diikuti Lunar dan Ava.
“Oke… Kali ini serius. Kalian sudah resmi menjadi Arz,” kata Fenz mengagetkan Lunar dan Ava. “Kalian bukan Arz traine lagi tapi Arz sungguhan seperti ku.”
Lunar dan Ava kebingungan dengan perkataan Fenz. Mereka saling memandang, kemudian Lunar bertanya kepada Fenz ingin memastikan yang baru saja dia dengar.
“Kau serius? Secepat itu? Aku rasa kami gagal dalam peluncuran pertama.”
“Seriussss… Kalian akan masuk ke dalam timku.” Fenz bangkit dari tempat duduknya dengan wajah yang bersemangat. “Kalian juga akan mendapat pelatihan nemesis sebelum menjalankan misi selanjutnyaa sebaga anggota timku.”
“Aku tidak percaya ini.” Ava tercengang dengan perkataan Fenz, kemudian dia mencubit pipinya ingin memastikan dirinya tidak sedang bermimpi. “Ah… sakit.”
“Ini kenyataan kau tidak perlu melakukan itu, Ava,” ejek Fenz.
“Saat kalian keluar dari medical centre, aku sendiri yang akan memberikan pelatihan nemesis,” ujar Fenz sambil berjalan keluar dari ruangan itu. “Besok lusa temui aku di kapal nomor 11, kalian tahu kan dimana letaknya?.”
“Tentu saja… kami ini kan Arz.” Ujar Ava sambil memberikan isyarat oke kepada Fenz dengan jarinya.
“Lunar… bagaimana pendapatmu tentang hal ini?” Ava meletakkan kedua tangannya di atas kepala sambil berbaring di tempat tidur medical centre.
“Entahlah… kalau ini semua dapat segera mengembalikan ingatanku, maka aku akan senang melakukannya.”
“Ingatan ya, ingatanmu pasti akan segera kembali.”
“Aku juga berharap seperti itu.”
Lunar dan Ava menyetujui perkataan Fenz, kemudian mereka kembali berbaring, mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah. Dalam sekejap Ava tertidur dan terdengar suara dengkuran darinya.
Sementara Lunar hanya terpaku dengan langit-langit medical centre yang berwarna putih. Pikirannya kembali menjelajah, kemudian dia teringat dengan perkataan tim medis yang mengganggu pikirannya daritadi. Kekuatan pemurnian tubuhku sangat cepat, lebih cepat dari Arz lain, gumamnya dalam hati.
Kemudian Lunar dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita yang berpakaian putih dengan gelembung air dibeberapa bagian tubuh, rambut panjang berwarna biru terurai, dan mata biru dengan tatapan hangat.
Lunar terkejut melihat wanita itu sudah ada di hadapannya, dirinya mengingat tidak ada yang membuka pintu, lalu Lunar bangkit dari tempat tidurnya dan mendekati wanita itu. Lunar mengucek kedua matanya ingin memastikan yang saat ini dilihatnya bukan halusinasi. Wanita itu tersenyum tipis lalu mendekati Lunar kemudian mulai berbicara.
“Telah lama aku nantikan saat ini, pertemuan denganmu, ada banyak yang ingin aku katakana padamu, Lunar. Kulihat wajahmu menunjukkan kontradiksi. Mungkin pertama-tama seharusnya ku bilang, maaf telah membuatmu menunggu lama, Lunar,” ucap wanita itu sambil duduk di pinggir tempat kedua tangan dan meletakkan kedua tangannya di pangkuan.
“Tunggu… katakan siapa dirimu dan mengapa kau tahu namaku?” tanya Lunar kebingungan dengan apa yang baru saja dia dengar dari wanita itu.
“Namaku adalah Shein. Aku berterima kasih padamu, dengan adanya sebuah kebetulan yang besar, kini takdirmu bersama Mae telah menemuh jalur yang baru.” Wanita itu kembali bangkit dan berdiri tepat di depan Lunar sambil menepuk pundak Lunar.
“Maafkan aku, dengan kata-kataku yang ambigu, pasti membuatmu kebingungan. Namun kau tidak perlu memahaminya sekarang. Satu hal yang harus kau ingat, kelak kau akan menyelamatkan banyak jiwa. Untuk saat ini, cukup ketahuilah hal tersebut.”
Tiba-tiba muncul lubang spiral berwarna putih dan wanita itu masuk ke dalamnya kemudian menghilang.
“Tunggu…”
Lunar ingin menggapai wanita itu, ada banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya hingga membuatnya ingin meledak. Lunar memegang kepalanya dan memejamkan keduanya mata, berusaha mengusir pikiran-pikiran dan gambaran-gambaran suram yang kembali hadir di dalam kepalanya. Lunar menjatuhkan dirinya ke tempat tidur dan memandang langit-langit medical centre.
“Mungkinkah dulu aku mengenalnya, tapi… siapa dia?” Lunar menghela napas panjang dan mencoba menyingkirkan pikiran aneh yang terus berputar di kepalanya.
Besok lusa, latihan barunya akan dimulai. Besok lusa dirinya merasa akan lebih dekat dengan ingatannya yang hilang. Mungkin dengan cara itu dia dapat menemukan sesuatu yang terlewatkan.
Saat itu juga Lunar membuat keputusan. Lupakan segala hal buruk. Dia tidak akan menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaannya hingga memecahkan teka-teki ini dan mendapatkan kembali ingatannya.
Besok lusa. Kata itu melayang-layang di benaknya hingga akhirnya dia tertidur.