Sesuatu terlintas di pikiran Lunar, sebuah ide gila yang dia sendiri tidak menyangka kalau dia dapat memiliki ide seperti itu. Tanpa berpikir panjang, Lunar meluncur turun secara perlahan dan diikuti Diarla dibelakangnya. Monster itu sepertinya tidak akan sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari Lunar sebelum ia dapat menangkap lalu menghancurkannya.
Diarla terus mengikuti Lunar yang sedang membawanya turun ke permukaan tanah sambil menyemburkan bola api kecil yang selalu dhindari Lunar dengan cara mengubah arah terbangnya saat bola api itu mendekat.
“Lunar… apa yang kau lakukan? Ghult meminta kita untuk tetap di atas sementara dia membereskan yang di bawah.”
Fenz terkejut melihat Lunar mengubah arah terbangnya yang semakin lama semakin mendekat ke tempat Ghult dan yang lainnya yang sedang bertempur dengan para monster Darlz.
“Aku punya ide gila untuk menghancurkan mereka semua,” kata Lunar sambil tetap membawa Diarla turun ke permukaan tanah.
“Aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan, tetapi ini berbahaya… Lunar…”
Suara Fenz terdengar di saluran komunikasi nemesis seluruh anggota timnya, namun tidak ada yang memperhatikan suara itu. Termasuk Ghult yang dilanda kepanikan karena Melfon diserang Darlz, segera melesat dengan kecepatan penuh dan menghiraukan suara Fenz yang terdengar di saluran komunikasi. Dia ingin segera sampai ke tempat Melfon berada.
Ava yang tak jauh dari tempat Mae dan Melfon juga memacu nemesis yang digunakannya untuk membantu Mae dan Melfon yang tersudutkan oleh monster Darlz. Lalu perhatiannya teralihkan ke Lunar yang sudah semakin dekat dan dibelakangnya Diarla masih mengikutinya sambil sesekali menyemburkan bola api kecil. “Apa yang sedang dia lakukan, bukankah ini berbahaya,” gumamnya dalam hati.
Mae dengan tenang masih menghadapi monster-monster Darlz sendirian, dia menembaki monster-monster, seolah-olah dia telah terbiasa dengan hal itu. Mae menembaki monster Darlz yang mendekat untuk melindungi Melfon yang sedang berusaha dengan sihir pemulihannya untuk menghilangkan efek dari sihir listrik hitam Ragnus. Monster-monster itu tidak berkurang meski Mae telah menembaki sebagian dari mereka.
Tak lama Ghult dan Ava telah sampai ke lokasi Mae dan Melfon, keduanya langsung menyerang monster-monster Darlz dengan weapon masing-masing, namun monster-monster itu seakan tidak habisnya, terus menerus berdatangan dari dalam hutam Orla yang gelap.
“Melfon… apa kau baik-baik saja?”
“Ya… aku sedang berusaha menghilangkan efek sihir hitam yang mengenai nemesis ku tadi.
Meski tidak mengenai pengguna nemesis secara langsung, tetapi aliran listrik hitam yang dikeluarkan Ragnus telah mengacaukan system nemesis dan membuatnya tidak bisa bergerak hingga efek sihir itu menghilang. Salah satu cara untuk menghilangkannya adalah dengan sihir pemulihan, tetapi hal itu butuh waktu hingga efeknya benar-benar hilang. Cara kedua adalah dengan membunuh Ragnus, dan ini merupakan cara tercepat. Tetapi monster laba-laba yang lebih kecil dari Ragnus terus berdatangan, seolah membentuk barisan pertahanan.
Lunar dengan ide gila yang belum diketahui akan berhasil atau tidak, tetapi dia merasa tidak bisa hanya berdiam diri melihat dari ketinggian sambil terbang berputar seperti sedang bermain kejar-kejaran, sementara teman-temannya sedang dalam kesulitan. Lunar memacu nemesis dan terus meluncur turun, membawa Diarla yang masih mengejarnya sambil menyemburkan bola-bola api ke arahnya.
Hingga pada ketinggian 10 meter, Lunar terbang perlahan ke maju, menuju tempat teman-temannya melawan Darlz. Fenz dan Eucli mengikutinya dari belakang, meski mereka tidak tahu apa yang sedang dilakukan Lunar. Lalu suara Lunar terdengar dari salurang komunikasi.
“Aku tahu ini ide gila, tapi aku akan mencobanya. Bisakah kalian menjauh dari area ini, aku akan melakukan sesuatu,” kata Lunar sambil membawa Diarla yang masih menyemburkan bola api ke arah Lunar, tetapi bola api selalu meleset karena Lunar terus menghindarinya.
“Apa yang kau pikirkan orang lemah!” Ghult secara tegas menolak rencana Lunar. “Apa kau ingin membunuh kami semua dengan makluk itu?”
Tidak satupun dari mereka mengetahui apa yang akan dilakukan Lunar, dan mereka tidak bisa begitu saja mengikuti apa yang diminta Lunar. Mereka tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan Lunar.
”Apa yang kau rencanakan, Lunar?” tanya Mae melalu pikirannya. Meski sedang menghadapi Darlz, Mae dapat berpikir jernih hingga suara yang didengar Lunar tidak terihat bahwa wanita itu sedang dalam kesulitan.
“Mae… sebentar lagi akan aku tunjukkan padamu,” kata Lunar dalam pikirannya sambil membawa Diarla yang sudah semakin dekat dengan tempat Mae berada. Lunar meluncur mendekati kerumunan monster Darlz, sementara Diarla tetap mengikuti Lunar sambil menyemburkan bola api. Dengan cepat, Lunar mengubah arah terbangnya untuk menghindari bola api itu, lalu sesuatu yang tidak disangka terjadi. Bola api dari Diarla yang dihindari Lunar, mengenai kerumunan moster Darlz yang berada di belakang Mae.
Lunar kembali terbang berputar lalu sedikit naik dan tetap diikuti Diarla yang kemarahannya belum juga mereda. “Berhasil…” gumamnya dalam hati sambil kembali memperkirakan jarak antara dirinya dan monster-monster Darlz. Lunar kemudian meluncur ke arah kerumunan Darlz lainnya yang berada di depan keempat temannya itu. Kali ini dia memperhitungkan dengan sangat hati-hati agar semburan api Diarla tidak mengenai teman-temannya.
Lunar kembali meluncur turun menuju kerumunan Darlz, lalu dia memperhatikan gerakan mulut Diarla yang sedang bersiap mengeluarkan bola api, dia harus tepat membaca waktu yang dibutuhkan Diarla untuk mengeluarkan bola apinya, kecepatan terbangnya, dan juga jarak antara dia, Diarla, dan juga monster-monster Darlz. Tidak boleh ada kesalahan pikirnya.
“Lunar… apa kau akan melakukannya lagi? Apa kau sudah gila? Percobaan pertama memang berhasil, tetapi kita tidak yakin akan berhasil lagi atau tidak.” Suara Fenz terdengar di saluran komunikasi, sedikit memecah konsentrasi Lunar. Membuatnya mengubah arah lalu naik secara tiba-tiba sebelum Diarla menyemburkan bola apinya ke arah kerumunan Darlz yang sudah berada tepat di depannya. Beruntung semburan bola api itu mengarah ke atas, sehingga bola api itu meluncur bebas di udara kemudian lenyap di tengah kegelapan kabut hitam.
Lunar hanya menghela napas, merasa bersyukur karena keberuntungan berpihak kepada mereka. Hampir saja hal buruk menimpa mereka. Lunar tidak bisa membayangkan jika bola api itu mengenai teman-temannya.
“Maaf untuk yang tadi, konsentrasiku sedikit terganggu dengan suaramu, Fenz.”
“Tidak… Lunar… aku rasa aku yang salah mengacaukan semua perhitunganmu. Ghult… kau melihatnya tadi? Aku rasa Lunar rencana yang bagus untuk menghabisi semua Darlz yang ada di sana.”
“Rencana pelenyapan teman-temannya maksudmu?” Ghult tidak senang dengan rencana Lunar, dia ingin menentangnya tetapi mengingat hal yang dilakukan Lunar tadi membuatnya menurunkan sedikit egonya. “Jadi apa rencananya?”
Sambil tetap menjaga ketinggiannya dan mengecoh Diarla, Lunar menjelaskan rencana gilanya secara singkat. “Seperti yang kalian lihat tadi, aku akan memanfaatkan semburan api Diarla untuk menghabisi semua Darlz itu dalam satu serangan.”
“Tapi, Lunar. Bola api itu bisa saja menghancurkan lasersphere yang ada di tempat itu.”
“Kita harus berkorban sedikit untuk mendapat hasil yang bagus kan, aku akan meminimalisir lasersphere yang mungkin akan terkena bola api Diarla,” jawab Lunar meyakinkan semua temannya.
“Tunggu… bagaimana dengan mu, Melfon. Apa nemesismu sudah bisa digerakkan?”
“Ya… aku baru saja selesai dengan sihir pemulihanku,” kata Melfon sambil menggerak-gerakkan tangan dan kaki robotnya.
“Aku punya ide lain,” kata Fenz membuat semuanya terkejut.
“Ide apa?” terdengar suara Mae yang lembut meski dia sedang dalam pertempuran tetapi suaranya tidak menunjukkan rasa panik ataupun takut. Suaranya sangat tenang, berbeda dengan Ghult yang terdengar kasar menunjukkan amarahnya kepada monster Darlz yang sedang dia hadapi.
“Kau tidak ikut menjadi gila kan, Fenz. Lunar dengan ide gilanya saja sudah cukup membuatku muak.
Fenz yang telah terbiasa dengan suara kasar Ghult hanya bisa menarik napas panjang lalu dihempuskan perlahan, agar dirinya tetap tenang dan tidak terpancing emosi Ghult.
“Kita berenam akan menggunakan nemesis barrier saat Lunar membawa Diarla ke sana, kita akan membuat penghalang untuk menahan bola api itu dan mengumpulkan semua Darlz ke tengah-tengah.” Fenz berencana akan melindungi lasersphere dengan nemesis barrier agak pekerjaan yang telah mereka lakukan tidak sia-sia. “Lalu,” Fenz melanjutkan dengan nada suara yang lebih bersemangat seperti ada harapan baru muncul. “Kita akan membawa Diarla mendekat ke lasersphere yang telah dimurnikan.”
“Aku setuju dengan rencana kalian,” kata Eucli dengan cepat menyetujui rencana Fenz dan Lunar.
“Aku juga,” tambah Ava.
Kemudian diikuti dengan Mae yang juga menyetujui rencana yang sedikit gila itu. “Aku akan mendukung kalian,” katanya dengan mantap.
“Cih… aku benci mengatakannya, tetapi aku akan melakukan seperti yang kau katakan tadi,” jawab Ghult dengan terpaksa.
“Baiklah kalau semuanya sudah setuju, kau juga kan… Melfon.” Fenz ingin memastikan semua anggota timnya sependapat dengannya.
Melfon menjawab dengan gugup, dirinya akan menyetujui apapun yang dikatakan ketua timnya itu, terlebih jika Ghult juga telah bersedia melakukannya. “I-iya,” jawabnya sangat singkat.
“Baiklah… sekarang kita buat monster-monster itu berkumpul di satu titik, lalu kita halangi mereka agar tidak kabur saat Lunar membawa Diarla. Dengar baik-baik… aktifkan nemesis barrier saat bola api sudah hampir mendekat. Jangan buang-buang energy nemesis kalian.”
Fenz menonaktifkan photon wings saat berada pada ketinggian lima meter, lalu nemesis yang digunakannya mendarat di tanah dengan bunyi debum yang cukup kuat. Tentu saja, tekanan grafitasi Planet Orla yang tidak terlalu tinggi memudahkan mereka untuk mendarat, melompat, dan menghindari serangan Darlz.
Lalu Fenz, menarik perhatian Darlz yang masih bersembunyi di dalam gelapnya hutan Orla, dia menembaki monster-monster untuk memancing monster lainnya keluar.
Sementara Mae, Eucli, Ava, Ghult, dan Melfon melakukan hal yang sama dari arah berlawanan. Ratusan monster Darlz telah keluar dari persembunyiannya, bukan hanya monster laba-laba seukuran manusia, tetapi Ragnus yang jumlahnya puluhan juga ikut dikecohkan.
Saat mereka bertemu di satu titik dan monster-monster itu telah berkerumun, mereka berenam melompat di atas monster-monster lalu membentuk formasi segi enam dan menahan monster Darlz sembari mengurangi jumlah monster itu perlahan.
Di tempat lain, Lunar sedang terbang bersama Diarla yang masih menempel padanya. Dia membaca setiap gerakan Diarla dan memperhitungkan waktu yang diperlukan Diarla untuk menyemburkan bola apinya. Kemudian dia memperhitungkan jarak dan juga kecepatannya agar semburan api Diarla bisa tepat sasaran, ke arah kerumunan monster yang telah dikumpulkan teman-temannya.
Lunar menghela napas panjang, kemudian dia menguatkan tekadnya dan berkonstrasi penuh dengan rencananya. Lunar berbalik arah, setelah sebelumnya menjauh dari tempat keenam temannya, dia menghadapi Diarla, mata birunya dari balik palka pod menatap tajam mata merah Diarla. Lalu dia meluncur dengan kecepatan penuh agar burung phoenix itu tidak bisa menyerangnya, setelah merasa jarak antara dia dan Diarla terasa sudah cukup, Lunar mengurangi kecepatannya agar Diarla dapat mengikutinya dan memiliki waktu untuk mengumpulkan tenaga membuat bola api berikutnya.
Lunar semakin mendekat ke permukaan diikuti Diarla di belakang sedang bersiap dengan bola api besar. Lunar meluncur mengarah pada monster-monster Darlz dan juga keenam anggota timnya yang telah siap dengan formasi mereka. Ketika dia merasa bola api yang telah disemburkan Diarla mendekat, Lunar berbelok ke kiri untuk menghindari bola api itu.
Fenz, Mae, Eucli, Ava, Ghult, dan Melfon telah siap di posisi masing-masing membentuk formasi segi enam. Kemudian mereka mengaktifkan nemesis barrier secara bersamaan, dan sebuah bola api besar mendarat di hadapan mereka. Cahaya yang berasal dari bola api yang berbenturan dengan nemesis barrier memancarkan cahaya merah kekuningan yang menyilaukan mata mereka, beruntung nemesis barrier dapat berfungsi dengan baik sehingga mereka tidak merasakan efek apapun. Suara benturan dari bola api yang mengenai monster-monster Darlz dan tanah menghasilkan suara kedebum keras yang seperti bom atom dan dapat memekakkan telinga jika mereka tidak sedang berada dalam nemesis.
Tetapi tanah di hadapan mereka hancur dan membentuk sebuah cekungan besar, monster-monster yang sebelumnya meronta-ronta seakan ingin melahap mangsanya kini menghilang, menyisakan kepingan cahaya merah kehitaman.
Lunar menarik napas lega, wajahnya yang muram sedikit berubah menjadi cerah. Rencana gilanya telah berhasil, dan teman-temannya dalam keadaan selamat. Lalu dia kembali terbang ke atas secara perlahan dengan tetap diikuti Diarla dibelakangnya. Sekejap perasaan lega yang baru saja dia rasakan menghilang ketika dia melihat makhluk itu masih tetap mengikutinya. Entah dia harus kesal atau bersyukur Diarla terus menempel padanya, tetapi mengingat hal itu cukup menguras emosinya.