Lunar, Mae, dan lima anggota timnya memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan misi mereka. Robot-robot nemesis di letakan berjajar rapi di depan gua sambil dilakukan pengisian ulang energi menggunakan sihir element light oleh Eucli dan Melfon. Nemesis yang mereka gunakan memanfaatkan photon crystal sebagai sumber energi utama. Photon crystal merupakan mineral berwarna putih yang dapat ditemukan di Planet Orla, Arz membuat tambang photon crystal beberapa tempat di planet ini setelah membuat perjanjian dengan Diarla.
Terdapat dua jenis photon crystal, likuid dan solid. Mineral ini mmiliki daya ledak tinggi jika dua buah photon crystal dibenturkan secara bersamaan. Photon crystal berbentuk solid digunakan untuk energi nemesis, diletakkan di bagian tengah nemesis. Energi dari photon crystal dapat dipulihkan dengan sihir element light yang dimiliki oleh Arz pengguna photon yang telah dipelajari terlebih dahulu di akademi khusus Arz.
Beruntung di setiap tim, terdapat dua pengguna photon yang telah menjalani pelatihan khusus tersebut. Eucli dan Melfon salah satunya. Keduanya sedang menyalurkan sihir element light, dari tongkat sihir yang mereka genggam terlihat cahaya putih yang kuat merasuk ke dalam nemesis.
Membutuhkan waktu hanya lima menit untuk menyelesaikan satu nemesis.
“Kalian bisa melakukannya nanti, sekarang istirahatlah dulu, Eucli… Melfon.”
Suara yang sudah tidak asing lagi di telinga seluruh anggota tim, suara yang paing sering terdengar ketika mereka sedang berada di dalam nemesis. Itu adalah suara Fenz, sang kapten tim terdengar dari dalam gua, meminta kedua anggota timnya untuk masuk ke dalam gua. Mereka semua letih dan juga perut mereka lapar, mengingat mereka telah melakukan tugasnya sejak pagi tadi hingga matahari hampir tenggelam.
Fenz mengeluarkan kotak makanannya dari capsule inventory, sebuah tempat khusus yang digunakan oleh Arz untuk menyimpan berbagai perlengkapan mereka, seperti weapon, baju ganti, makanan, bahkan obat-obatan. Capsule inventory hanya diberikan kepada seseorang yang telah resmi menjadi Arz.
Eucli menuruti perkataan Fenz dan langsung menghentikan pekerjaannya lalu masuk ke dalam gua, diikuti Melfon yang berjalan menuju tempat kosong yang ada di samping Ghult.
Lunar, Mae, dan Ava secara bergantian melihat ke arah empat seniornya itu, wajah mereka menunjukkan rasa penasaran, ketiga orang ini menduga bahwa Fenz dan Eucli adalah sepasang kekasih, begitu juga dengan Ghult dan Melfon, melihat kedekatan mereka satu sama lain.
Fenz melihatnya kebingungan, “Apa yang kalian lakukan, cepat makan bekal kalian selagi ada waktu untuk melakukannya, selanjutnya misi kita akan lebih menguras energi.”
Ketiga Arz muda itu langsung berhenti melakukan hal konyol yang sedang mereka lakukan tadi, merasa Fenz sudah mengetahui apa yang ada di dalam pikiran mereka.
Ghult telah lebih dulu menghabiskan bekalnya, lalu dia berjalan ke mulut gua. Matanya menatap jauh ke langit Orla yang masih tertutup kabut hitam. Lalu perhatiannya tertuju pada sebuah menara yang berdiri kokoh dengan ornament bunga berwarna ungu. Menara itu memancarkan cahaya ungu kemerahan, seketika mata Ghult yang melihatnya berubah menjadi merah, wajahnya dipenuhi dengan amarah, seperti ada sesuatu yang mengendalikan dirinya dan membuat amarah keluar dari dirinya.
Ghult berbalik dan menatap Lunar yang berada di dalam gua sedang duduk di dekat Mae dan Ava, lalu dia berjalan mendekati mereka dengan tatapan kebencian. Matanya tertuju pada Mae, wajahnya menunjukkan bahwa dia ingin sekali membunuh wanita yang ada di depannya itu. Lunar bangkit dari tempat duduknya dan menghalangi pandangan Ghult yang mengarah pada Mae yang masih duduk.
Ghult lalu tertawa yang terdengan seperti sedang mengejek Lunar.
“Benar-benar lucu sekali! Kau bermaksud untuk melindungi kami semua? Memangnya kau cukup kuat untuk melindungi seseorang? Dasar orang lemah!”
Lunar membalas tatapan Ghult dengan tatapan yang tajam. “Kalau punya unek-unek, katakan saja padaku, Ghult.”
“Tekadmu itu setengah-setengah! Maksudku tekad untuk melenyapkan musuh. Sudah begitu, berusaha melindungi orang? Jangan bercanda!”
Setelah meluapkan amarahnya kepada Lunar, Ghult berbalik dan pergi meninggalkannya.
Fenz yang melihat itu bangkit dari duduknya lalu mendekati Lunar dan menepuk salah satu pundaknya. “Aku yakin yang barusan itu caranya memberi nasihat.”
Melfon yang pendiam akhirnya bersuara, “Sangat jarang melihat Ghult sangat mempedulikan orang lain. Aku pun sedikit iri,” katanya sambil berjalan melewati Lunar lalu berjalan menyusul Ghult.
“Melfon ayo cepat!” Ghult tidak bisa menahan emosinya, dia mengepalkan tangan lalu menghantam dinding gua, membuat tangannya memerah.
“Melfon, tolong kau awasi Ghult, sepertinya dia sangat marah, aku tidak tahu mengapa dia bisa semarah itu.” Fenz khawatir pada Ghult, meski temannya pemarah, tetapi dia adalah orang yang baik dan selalu ada ketika Fenz dalam bahaya.
“Ghult… dia memang kuat tetapi sikapnya jelek. Tapi aku yakin dia mencemaskanmu. Betul kata Melfon, dia sangat jarang memberi nasihat. Mungkin dia merasa ada kemiripan denganmu,” kata Eucli menatap bayangan Ghult yang menghilang dari mulut gua. “Berhati-hatilah selama terus membunuh Darlz, hatimu bisa terjerumus kebencian sepertinya,” tambahnya.
Ava heran dengan perselisihan di antara Lunar dan Ghult, mereka baru beberapa kali bertemu, tetapi hubungan keduanya sudah seburuk ini. “Memangnya apa yang membuatnya marah-marah terus?
“Dia kesal pada dirinya sendiri saat kejadian 10 bulan lalu.” Suara Fenz berubah ketika dia mengatakannya, dan rasa penyesalan tampak jelas di wajahnya. Bayangan kedua temannya saat pertempuran 10 bulan lalu tiba-tiba muncul. Kemudian Fenz berbalik lalu berjalan menuju tempat duduknya semula. Kepalanya tertunduk menghadap tanah, kedua tangannya tergantung di lututnya.
Melihat Fenz seperti itu, Eucli mendekatinya lalu berlutut di depannya, menenangkan pria itu sambil menepuk pundaknya. Suaranya terdengar sangat lembut. “Kau sudah melakukan yang terbaik.”
Fenz menatap Eucli, secara tidak sadar air matanya sudah menetes membasah pipinya yang terdapat goresan bekas luka, lalu Eucli memeluknya.
Arz mampu menyerap energi negatif Darlz yang mereka bunuh dan membersihkannya. Itu adalah kemampuan dasar yang dimiliki Arz. Namun jika menyerap terlalu banyak, Arz bisa menjadi Darlz. Untuk mencegah hal itu, Arz yang telah menimbun energi negatif Darlz harus segera mendapat perawatan di medical center.
Ghult yang matanya berubah menjadi merah dan juga sikapnya yang tiba-tiba marah adalah proses pembersihan energi Darlz, dan juga luapan emosi pada dirinya sendiri yang telah gagal melindungi kedua temannya ketika penyerbuan Darlz 10 bulan lalu. Ghult merasa Lunar mirip seperti dirinya 10 bulan lalu, masih lemah dan penuh keraguan. Selain itu Ghult marah karena Lunar telah melakukan hal bodoh yang hampir membunuh seluruh anggota timnya.
Melihat kedua orang temannya sedang larut dalam kesedihan, Lunar, Mae, dan Ava membiarkannya lalu mereka berjalan keluar gua, tidak ingin mengganggu kedua orang itu.
“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mereka tidak mau menceritakan pada kita. 10 bulan lalu…” Ava berhenti sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. “10 bulan lalu kakakku mengghilang saat penyerbuan Darlz di kapal 37.” Wajah Ava berubah muram saat mengatakannya, lalu dia teringat sesuatu. “Hei… Lunar, bukankah kau kehilangan juga ingatan saat penyerbuan Darlz 10 bulan lalu
Sebelum Ava mengatakan hal itu, Lunar sudah mengingat hal itu terlebih dulu. wajahnya menandakan kalau dia sedang berusaha keras mengingat kejadian itu, tetapi tidak ada satupun kepingan ingatan yang membuatnya ingat kejadian-kejadian 10 bulan lalu. Kalau memang dia ikut serta dalam pertempuran itu, mengapa tidak ada satupun yang mencarinnya ataupun mengenalnya. Dia hanya seorang diri terbaring di medical center, tanpa ada yang mengunjunginya. Mungkin semua orang yang mengenalnya telah tewas terbunuh saat penyerbuan Darlz, itu satu-satunya kemungkinan yang dapat dipikirkan Lunar.
Lalu Lunar memalingkan wajahnya dan menatap Mae yang berada di sebelahnya sedang duduk meluruskan kakinya ke depan dan tangannya terlipat dipangkuan, sedangkan tatapannya kosong melihat ke dalam hutan Orla yang masih tertutup kabut hitam. Lunar merasakan sesuatu yang aneh telah terjadi pada Mae, tatapan matanya sama seperti Ghult tadi. Untuk memastikan, Lunar memalingkan wajahnya ke arah tatapan Mae, lalu dia terkejut melihat sesuatu yang aneh ada di sana. Sebuah menara memancarkan cahaya berwarna ungu, membuat ornamen yang ada di menara itu terlihat menyala.
Lunar menggoyang-goyangkan tubuh Mae, tetapi Mae tetap dengan tatapan kosongnya melihat ke arah menara, matanya bersinar merah, sama seperti Ghult.
“Mae… Mae… apa yang terjadi?” kata Lunar sambil terus menggoyangkan tubuh Mae, tetapi belum ada respon darinya.
Ava yang tidak menyadari perubahan sikap Mae kebingungan melihat Lunar yang tampak panik.
“Ada apa Lunar? tanya Ava.
“Matanya sama seperti mata Ghult tadi, mata yang dipenuhi dengan kebencian," ujar Lunar. Dia merasakan sepertinya ada yang mempengaruhi mereka, seperti memanggil atau semacamnya. "Lihatlah matanya,” tambah Lunar sambil menunjuk mata Mae yang bersinar merah.
Ava terkejut melihatnya, dia mengingat kalau Darlz ataupun makhluk asli Planet Orla yang pernah dihadapinya juga memiliki mata yang sama. Berbagai pikiran buruk menghantui Ava, terlebih lagi Ghult yang tidak tahu keberadaannya juga mengalami hal yang sama.
“Aku akan memberitahu Fenz dan Eucli, mungkin mereka bisa mengatasinya. Kau tetap di sini dan jaga Mae,” kata Lunar sambil berlari ke dalam gua.
Di dalam gua yang sedikit gelap, dua sosok yang dicarinya sedang duduk bersebelahan dengan posisi yang sama, wajah tertunduk sedangkan kedua tangan mereka menggantung di lutut. Kedua orang itu kemudian menoleh ke arah Lunar yang sedang berlari ke arah mereka dan terlihat panik.
“Ada apa Lunar? Kenapa kau berlari secepat itu? Kau bisa kan berjalan pelan di dalam sini,” kata Eucli kebingungan.
Lunar mengatur napasnya sebelum dia mengatakan maksud kedatangannya kepada Fenz dan Eucli. “Mae… dia seperti Ghult, matanya bersinar merah seperti makhluk planet ini yang terkena energi Darlz,” kata Lunar sambil menunjuk ke luar gua tempat Mae dan Ava berada.
“Apa maksudmu?”
“Kalian ikut aku dan lihat sendiri keadaan Mae,” kata Lunar singkat lalu kembali ke luar gua.
Fenz dan Eucli langsung bangkit dari tempat mereka duduk lalu berlari kecil dengan rasa cemas yang sedikit demi sedikit bertambah dan seolah akan meluap. Jika yang dikatakan Lunar benar, berarti Ghult saat ini dalam bahaya.
Lunar sampai terlebih dahulu di tempat Mae dan Ava duduk. Tatapan Mae masih tetap sama, kosong dan matanya bersinar merah, menatap lurus ke depan, tempat menara yang memancarkan cahaya berwarna ungu.
Tak lama Fenz dan Eucli sampai, lalu Eucli mendekati Mae dan memeriksa keadaannya. Eucli terkejut melihat tatapan Mae, kemudian dia teringat dengan tatapan mata Ghult sebelumnya. Tatapan mata mereka sama pikirnya.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi aku yakin kalau ini berhubungan dengan energi negatif Darlz,” kata Eucli sambil melakukan sihir pengobatan kepada Mae. “Kita harus cepat menemukan Ghult, dia juga menunjukkan hal yang sama seperti Mae.”
“Kau benar, Eucli. Ayo kita bawa Mae ke dalam gua, lalu kita cari Ghult,” ujar Fenz sambil menunjuk Mae lalu matanya mengarah pada Lunar. “Kau gendong dia ke dalam, aku dan Ava akan mencari Ghult.”
Lunar paham dengan tatapan mata Fenz, tanpa berkata dia mengangkat tubuh Mae lalu melingkarkan tangannya di pundaknya kemudian masuk ke dalam gua diikuti dengan Eucli. Lunar meletakkan tubuh Mae di tanah yang telah dialasi matras oleh Eucli lalu Eucli kembali melakukan sihir pengobatannya karena Mae belum kembali sadar.
Lunar ingin ikut dengan Fenz dan Ava, tetapi dia harus berjaga di gua sementara Eucli sedang menghilangkan energy Darlz yang merasuk ke tubuh Mae.
Tiba-tiba Lunar melihat seseorang di mulut gua, seorang wanita yang dikenalnya telah berdiri di sana, menunggunya mendekat. Seolah ingin menyampaikan sesuatu. Lunar heran melihat Eucli tidak merespons kehadiran wanita itu, padahal jarak mereka dari mulut gua tidak terlalu jauh. Lunar mengabaikan hal itu lalu dia mendekati wanita yang telah menunggunya, berharap ada hal baik yang ingin disampaikan wanita itu padanya.