Dia sedang duduk di kursi. Tiga belas atau empat belas tahun. Mae, dia terlihat begitu berbeda, begitu muda, tetapi tetap dikenalinya, sedang duduk di depannya, ada meja di depan mereka. Dia juga berusia tiga belas atau empat belas tahun. Tak ada orang lain di ruangan itu, lampu-lampu putih berbentuk tabung tergantung di langit-langit di atas mereka, menjadi penerangan yang membuat ruangan itu begitu terang.
“Lunar, kau perlu berusaha lebih keras,” katanya. Lengannya terlipat, bahkan dengan usia yang lebih muda, penampilannya tidak membuatnya terkejut. Penampilannya sangat akrab. Seolah-olah dia sudah mengenalnya begitu lama.
“Aku sedang berusaha,” kata Lunar, tetapi dia merasa bukan benar-benar dirinya yang mengatakan itu. Itu tidak masuk akal.
“Dia telah menunggu kita untuk bisa melakukan ini.” Mae menghadap Lunar, ujung matanya mencerminkan Lunar di dalamnya.
“Aku tahu,” ujar Lunar sambil terus berkonstrasi. Kedua tangannya memegang keningnya yang tertutup rambut halus.
“Cepatlah, Lunar. Aku sudah tak sabar!” Wajahnya menggambarkan semangat yang meluap-luap.
“Aku sedang berusaha, Mae.” Lunar membuka matanya, kemudian dia tersenyum kepada gadis yang duduk di depannya itu. “Aku tahu kau sangat ingin melakukannya.” Tangan Lunar menyentuh pipi Mae.
Mae menepis tangan Lunar, wajahnya berubah cemberut, lalu dia melipat kedua tangannya di dadanya lalu duduk membelakangi Lunar.
“Baik,” katanya. “Lunar, aku tidak akan menunggumu lebih lama, dan tidak akan berbicara kepadamu sebelum kau bisa melakukannya.”
“Tapi….”
“Tidak juga di dalam pikiranmu.” Mae bicara di dalam kepalanya. Trik yang membuatnya takut dan Lunar masih belum bisa membalasnya. "Dimulai dari sekarang." Suaranya kini terdengar sedikit memaksa.
“Mae, beri aku waktu beberapa hari lagi. Aku akan menepatinya.”
Mae tidak merespons.
“Oke, beri aku waktu sehari lagi.”
Mae berbalik lalu menatapnya dengan wajah cemberut. Dia menggembungkan.pipinya kemudian, mengalihkan pandangan. Menunduk menatap meja, melipat kedua tangannya, lalu mendekatkan wajahnya ke meja logam tak beralas yang memantulkan bayangan wajahnya.
“Tidak mungkin kau tidak akan bicara kepadaku.”
Tak ada respons. Dan, Lunar mengenal Mae meskipun dia berkata begitu. Oh, Lunar benar-benar mengenalnya.
“Baik,”kata Lunar. Dia menutup matanya, melakukan apa yang diinginkan Mae. Membayangkan lautan hitam yang hampa, tanpa terganggu oleh munculnya bayangan wajah Mae. Kemudian dengan sedikit kekuatan terakhir , dia membuat kalimat dan melontarkannya kepada Mae.
“Kau sangat cantik.”
Mae tersenyum, lalu menjawab di dalam pikirannya.
“Memang.”
“Tapi tidak saat kau cemberut begitu.”
***
Lunar terbangun karena suara Fenz terdengar yang dari kejauhan, suara yang terdengar samar-samar dan begitu lemah. Fenz mendekati Lunar dan Eucli perlahan-lahan. Sakit di sekujur tubuhnya membuat dirinya kesulitan berjalan. Tangan kiri Fenz terlihat memegangi tengkuknya, sedangkan tangan yang satunya terjulur lemas ke bawah.
Di sebelah Fenz, terlihat Ava yang kondisinya tidak lebih baik dari Fenz, darah yang telah mengering membuat gumpalan di kepalanya, langkahnya terhuyung-huyung dan sesekali hampir terjatuh.
Lunar mengeluarkan suara erangan menahan sakit yang sejak tadi telah merasuk di tubuhnya, lalu memaksa tubuhnya berdiri. Dia ingat kembali mimpinya atau apakah itu sebuah memori? Pasti itu memori. Sedikit kilasan pada suatu masa ketika dia dan Mae masih muda, belajar berkomunikasi melalui pikiran mereka. Dia merasa hatinya sedikit terhanyut, merindukan masa itu.
Setelah beberapa menit hening, Lunar mengerjapkan matanya, memastikan sosok yang dia lihat masih berada pada mulut gua. Penglihatannya sedikit kabur. Sambil memegang tengkuknya yang masih berdenyut, Lunar memutar matanya dan mendapati Eucli masih terbaring tak sadarkan diri. Kemudian Lunar berdiri ingin pergi ke pintu gua, memastikan keadaan kedua temannya. Meskipun tubuhnya sendiri juga merasa kesakitan.
“Tunggu saja di sana, Lunar.”
“Baik.”
Suara yang sudah tak asing lagi di telinganya sekaligus suara yang paling sering dia dengar. Lunar mendekati Eucli lalu duduk dengan meluruskan kedua kakinya ke depan sambil mengusap tengkuk dan dagunya yang masih terasa begitu sakit. Dia merasa seperti beberapa giginya telah bergeser dari tempatnya.
Lunar melihat kondisi Eucli yang sama memperihatinkan, sebelah wajahnya sedikit memar dan dan terdapat bekas darah di mulut dan juga seragamnya. Kemudian Lunar memanggil Eucli, sambil menggoyang-goyangnya kakinya.
Perlahan, tangan Eucli bergerak-gerak dan bola matanya berputar sementara kelopak matanya masih menutup.
“Biar aku yang membangunkannya, Lunar.” Kini Fenz sudah berada di belakangnya, berdiri memandang Eucli dengan tatapan perihatin sekaligus rasa penyesalan. “Jadi, Ghult juga yang menghajar kalian?” tanya Fenz sambil menjatuhkan tubuhnya ke tanah secara perlahan.
Fenz menggapai tangan Eucli yang kini telah sadar dan membantunya untuk duduk. Terdengar rintihan kecil dari Eucli ketika dia bangun dan kemudian Eucli duduk di sebelah Fenz sambil melakukan sihir pengobatan pada dirinya. Perlahan memar di wajahnya mulai memudar, kemudian dia melakukan sihir ke bagian tubuh lainnya, mengingat Ghult telah memukulnya begitu kuat hingga Eucli memuntahkan darah segar.
Keheningan menggantung di tempat itu, seolah angin gaib melintas dan menelan semua suara. Atau tubuh mereka terlalu lemah untuk sekedar berbicara. Lunar menggerak-gerakkan lehernya ke kanan dan kiri secara perlahan, merasakan sakit yang tak belum hilang. Tengkuknya terasa seperti dihantam batu besar, membuatnya terasa sedikit bengkak ketika dia memegangnya.
Sementara Eucli masih melakukan sihir pengobatan untuk dirinya sendiri, dia harus memulihkan kondisinya terlebih dahulu sebelum melakukan sihir pada yang lainnya. Fenz duduk di sebelahnya, hanya terdiam memandangi wanita itu, hanya sebagian tubuhnya yang menghadap Eucli.
Tak lama, Eucli telah selesai memulihkan kondisinya, memang telah menghilang sepenuhnya, hanya terlihat noda darah yang menempel di jaket Arz yang dikenakannya. Lalu dia melakukan hal yang sama pada Fenz.
“Tidak perlu terburu-buru, Eucli. Aku yakin kondisimu masih belum stabil, ditambah kau juga belum beristirahat.”
“Aku sudah baik-baik saja, Fenz. Tadi aku sudah tertidur sebentar, itu cukup mengembalikan staminaku.”
Yang dimaksud Eucli tertidur sebentar adalah saat dia tak sadarkan diri setelah mendapatkan pukulan keras dari Ghult. Itu bukan lelucon yang bagus pikir Lunar, menyebut pingsan sebagai tertidur adalah yang konyol yang pernah dikatakan Eucli selama dia mengenalnya. Tetapi nada bicaranya tidak berubah sedikitpun, tetap tenang dan tidak ada unsur becanda di dalamnya.
Lunar hanya menyeringai mendengar kata-kata Eucli.
Eucli menyelesaikan sihir pengobatannya dengan cepat kepada Fenz, lalu Lunar dan Ava. Sekejap Lunar mengaggumi kekuatan yang dimiliki oleh penyihir, atau pengguna photon. Dan dirinya tertarik mempelajarinya, mungkin dia akan membutuhkan keahlian itu di masa depan pikirnya.
Setelah kondisi mereka pulih, Fenz mengaktifkan Uricle device miliknya. Dirinya belum melaporkan keadaan tim mereka saat ini. Keadaan yang dapat dikatakan sangat kacau.
“Ada apa ini?” tanya Fenz kebingungan. Matanya tertuju pada Uricle device yang menampilkan layar buram dan tulisan No Signal.
“Punyaku juga tidak berfungsi.”
“Punyaku juga menampilkan tulisan yang sama.”
“Aku juga,” kata Lunar sambil memandang papan hologram dari Uricle device di hadapannya.
“Kenapa alat ini tidak berfungsi?” tanya Fenz kebingungan sambil mengaktifkan lalu menonaktifkan alat yang terpasang di tangannya itu.
Papan hologram dari alat itu tetap menampilkan tulisan yang sama, meski mereka telah mengaktifkan dan menonaktifkan alat itu berkali-kali.
“No Signal? Hal ini belum pernah terjadi…” Fenz tidak melanjutkan perkataannya, dia teringat sesuatu. “Tidak… ini pernah terjadi dulu, sudah lama sekali. Sepertinya kita tidak bisa melaporkan keadaan kita disini. Tetapi kita harus segera menyusul Ghult. Aku tidak bisa membiarkan hal buruk itu terjadi lagi.”
Fenz langsung bangkit dan berlari keluar gua, diikuti Eucli, Ava. Sementara Lunar masih mencari-cari capsule inventory miliknya yang terjatuh saat Ghult memikulnya. Lunar mendapati benda itu, benda kecil yang berbentuk seperti tas. Jika dilihat dari ukurannya benda itu tidak dapat menampung benda-benda besar, telebih lagi weapon mereka yang berukuran besar. Tetapi itu adalah yang dikembangkan oleh UCRD untuk digunakan oleh Arz selama menjalani misi mereka. Sebuah benda yang dapat menampung banyak item termasuk weapon berukuran besar sekalipun.
Lunar berlari keluar gua setelah menemukan capsule inventory miliknya. Fenz dan yang lain sudah menunggunya, di depan nemesis mereka masing-masing.
“Dengar… seperti yang telah kalian ketahui, Uricle device tidak bekerja, hal itu akan berdampak pada saluran komunikasi nemesis, jadi aku minta kalian untuk terbang berdekatan dalam jarak pandang masing-masing. Aku akan memimpin di depan, kalian ikuti aku dibelakang.”
“Oke.” jawab mereka berbarengan lalu menaiki papan pijakan nemesis dan masuk ke dalam palka pod.
Robot-robot itu tak mengeluarkan suara ketika diaktifkan, dengan cepat Fenz mengaktifkan photon wings lalu terbang perlahan, menuju sebuah menara yang sejak tadi memancarkan cahaya berwarna ungu. Mereka yakin kalau Ghult juga menuju tempat itu bersama Mae.
Menara itu berada cukup jauh dari gua tempat mereka beristirahat, tetapi cahaya yang dipancarkannya begitu terang. Cahaya itu yang menjadi satu-satunya petunjuk arah mereka.
Di tempat lain, Ghult hampir sampai tujuannya, menara yang berada di tengah planet Orla. Ghult berjalan sambil menggenggam tangan Mae di sebelah kanan yang tidak memberikan perlawanan sedikitpun, tatapan matanya kosong dan bercahaya merah menatap monument yang sudah semakin mendekat. Sementara Melfon mengikuti mereka dari belakang sambil menggenggam tongkat sihir Klays. Langkahnya tampaak ragu tetapi dia tetap mengikuti Ghult tanpa menanyakan apa yang ingin dilakukan pria itu.
Ghult, Mae, dan Melfon telah memasuki Kawasan monument penyegelan Darlz. Kabut hitam menyelimuti tempat itu, lalu Ghult meminta Melfon untuk menggunakan tongkat Klays untuk membuka tabir penghalang yang mengelilingi area sekitar monument.
Melfon dengan keraguan, berjalan perlahan hingga berada di depan Ghult, lalu dia menyalurkan energy photon miliknya ke tongkat sihir Klays. Perlahan-lahan tempat yang dimaksud Ghult mulai terlihat jelas, sebuah monolith berwara abu-abu kehitaman yang menjadi tempat Darlz di segel berdiri kokoh di hadapan mereka.
Pada monolith itu terdapat ukiran-ukiran manusia beraneka rupa. Di depan monolith itu terdapat beberapa anak tangga dan tiga batu yang ukurannya lebih kecil berjajar, membentuk pagar yang melindungi monolith itu. Sedangkan di bagian belakangnya, telah tumbuh menjulang tinggi, pohon besar yang bersinar ungu, pohon itu tidak memilik daun tetapi rantingnya menjulang tinggi hingga menyentuh awan.
Pohon itulah yang diliat Lunar. Sebuah pohon yang terlihat seperti menara, yang menyebarkan energy negative Darlz dan membuat Planet Orla ditutupi kabut hitam pekat dan mengubah lasersphere menjadi alat pemancar energy negative Darlz. Batang pohon itu sangat besar dan terdapat ornament bunga besar yang mengelilinginya serta cahaya ungu bersinar terang hingga ke ujung ranting.
Ghult menaikit beberapa anak tangga sambil menuntun Mae, lalu dia mengambil tongkat sihir Klays dari Melfon dan memberikannya pada Mae. Tongkat Klays langsung merespons, seketika tongkat itu bercahaya ketika Mae menggenggamnya.
“Bagus. Cepat kau ke depan dan buka segel Darlz,” kata Ghult sambil sedikit mendorong tubuh Mae.
“Gh-Ghult… aku rasa ini tidak benar. Ghult, tolong hentikan ini. Kalau semakin diteruskan, bisa…” Melfon yang ketakutan berusaha mencegah dan mengingatkan Ghult.
“Diam! Melfon, sejak kapan kau mula menentangku?"
“Tapi… ini berbahaya Ghult, Darlz akan bangkit dan menghabisi kita jika kau membuka segelnya.”
Ghult marah mendengar peringatan yang diberikan Melfon, wajahnya memerah dan urat terlihat jelas di dahinya. Tanpa berkata apapun, Ghult yang dipenuhi kebencian dan berada di bawah pengaruh Darlz, menghampiri Melfon, lalu tangan kanannya mencengkram kerah seragam Arz Melfon hingga membuatnya terapung beberapa senti di atas tanah.
Melfon tergantung di depan Ghult, tangannya menggenggam kerah seragam Melfon dengan kuat. Tubuh mungil Melfon terangkat begitu saja ketika Ghult menariknya. Kakinya terayun-ayun dan tubuhnya meronta-ronta meminta Ghult melepaskannya. Melfon separuh tercekik, dia mulai kesulitan bernapas saat tangan Ghult berpindah mencengkram lehernya dengan kuat.
Suaranya teredam dan matanya masih menatap Ghult yang sepertinya telah sepenuhnya kehilangan kendali dirinya. Tanpa ragu, Ghult mencekik Melfon, membuat tubuh mungil Melfon terangkat semakin tinggi. Tangan-tangan Ghult memunculkan urat-urat yang menonjol. Melfon meraih tangan Ghult, berusaha menghentikan pria itu.
Namun usahanya sia-sia, Ghult semakin mencekiknya sekuat tenaga membuatnya tak bisa bernapas sama sekali, suaranya kini benar-benar menghilang. Tubuhnya berhenti meronta, tangannya telah lemas dan terjatuh ke sisi tubuhnya. Pandangannya mulai kabur, samar-samar dia melihat wajah Ghult, pria yang dicintainya, dengan tatapan kebencian sedang berusaha membunuhnya.