Semua yang ada di sana bisa mendengarnya. Bunyi hentakan yang terus menerus dan berat dari Lumiere Larc, dan desingan nemesis saat melintasi bangunan-bangunan, pecahan kaca dari bangunan,ditambah suara teriakan-teriakan dari Ildar Armz memperparah keadaan. Tambuhan yang terus menerus dan terartur, seperti tabuhan drum terbesar di dunia. Di belakang itu semua, terdengar dengungan kencang dari mesin-mesin yang berat, juga suara teriakan dari warga sipil saat Ildar Arms melintas di hadapan mereka.
Semua orang berhamburan di jalan-jalan setiap kapal, kepanikan melanda mereka hingga tidak bisa lagi mendengar suara panggilan untuk menuju shelter pengungsian dari Arz yang memandu mereka.
Darlz ildar masih berada di tempat yang jauh, tetapi pasukan Ildar Arms telah memporak-porandakan armada Uricle. Beberapa kapal yang berada di formasi terdepan telah hancur dan menjadi puing-puing yang mengapung di kegelapan angkasa dan menjadi pemandangan yang menghiasi tempat pertempuran.
Lunar masih berada di kapal 11, bersama dengan Eucli dan Ava. Mereka bertiga menghadapi Ildar Arms yang terus bermunculan dan membuat formasi aneh. Mereka menyatukan diri, tangan yang satu berada pada punggung tangan yang lain, lalu berjalan dan melompat menggunakan jari-jari yang dilapisi kristal, lalu menghentakan telapak tangan dan meluncur dengan kecepatan tinggi.
Dengan tenang, tetapi tidak sepenuhnya tenang, di dalam hatinya Lunar ingin segera menyudahi pertempuran di tempat ini dan segera pergi ke kapal tepat Mae dirawat. Dia sedikit cemas dengan keadaan di kapal medis. Tetapi Ildar Arms terus bermunculan, monster-monster berbentuk potongan telapak tangan itu datang dari lubang besar di langit-langit kapal.
Sejenak Lunar berpikir, mungkin menghadapi monster-monster itu di luar kapal lebih baik dibandingkan di dalam kubah kapal, mengingat sudah banyak bangunan dan jalan yang hancur. Tetapi monster-monster itu terus menerobos masuk, ditambah mereka hanya bertiga melindungi kubah kapal yang sangat luas itu.
Saat dia hampir frustasi, enam unit nemesis terlihat meluncur dari atas, tepatnya dari lubang tempat masuknya Ildar Arms, dan Terdengar suara pria yang tidak dikenalnya. Dia baru satu kali bertemu dengan pria itu, dan belum pernah mendengar suaranya.
“Hei… apa kalian baik-baik saja. Maaf… aku selalu terlambat,” kata pria itu. Sambil meluncur dengan kecepatan penuh ke arah Ildar Arms yang sedang membentuk formasi aneh, terlihat seperti mengumpulkan kekuatan yang bercahaya hitam, tiga monster menyatu dan membentuk bola raksasa, monster itu mengarahkan serangannya pada bangunan yang digunakan sebagai shelter pengungsian untuk evakuasi warga sipil.
Tepat sebelum bola hitam itu dilemparkan, pria yang tidak dikenal Lunar itu memacu nemesis-nya lalu menghunuskan pedang Lumiere Pain pada celah di tangan monster. Bola hitam itu pecah, berubah menjadi kepingan cahaya merah kehitaman dan di saat yang bersamaan, dua Ildar Arms pun ikut hancur, menyisakan satu monster yang berada pada posisi paling bawah. Tak ingin melewatkan kesempatan emas, pria itu langsung menebaskan pedangnya pada Ildar Arms yang tersisa.
“Bagaimana kelihatannya, Itasuke? Kau bisa melihat sendiri kan, bagaimana keadaan bangunan di kapal ini,” jawab Eucli. Nadanya sedikit mengejek pria yang baru diketahui Lunar bernama Itasuke. Lunar melihat wajah pria itu melalui Uricle device di nemesis-nya, wajah yang baru dia lihat saat upacara peluncuran misi. “Baik sekali bukan?” tambah Eucli.
“Yah… Aku rasa kalian sudah menjaga tempat ini sangat baik, hingga hanya beberapa bangunan yang hancur. Aku sudah melihat kapal lain, dan itu sangat sangat buruk,” ujar Itasuke sambil meluncur mencari Ildar Arms lain yang sedang mengamuk.
Lunar mengabaikan percakapan itu, dia kembali fokus agar dia bisa segera menghabisi monster-monster di kapal itu lalu berpindah ke kapal medis. Lalu Lunar teringat sesuatu, kekuatan yang dapat menghubungkannya dengan Mae. “Kenapa tidak dari tadi aku panggil saja dia,” gumamnya dalam hati dengan sedikit menggerutu.
“Mae… apa kau bisa mendengarku?” kata Lunar melalui pikirannya. Hanya keheningan yang dia rasakan, tidak ada respon dari wanita itu. Lalu dia berpikir bahwa mungkin wanita itu benar-benar masih dalam keadaan pingsan.
Lunar segera menepis rasa khawatirnya pada Mae. Dia merasa telah mencemaskan wanita itu secara belebihan. Lalu dia mengambil Lumiere Pain dengan tangan kiri nemesis-nya dan bersiap menghunuskannya pada tiga Ildar Arms yang sedang membentuk formasi mencengkram dan bola hitam yang sudah semakin membesar di celah kedua monster itu. Sedangkan satunya lagi ada di paling bawah menjadi penopang kedua monster.
Lunar berencana menghancurkan bola hitam itu seperti yang dilakukan Itasuke, dia mendapat ide baru dari pria itu. Sedangkan tangan kanan nemesis-nya tetap menggenggam Lumiere Larc dan masih menembaki ruas jari monster yang berwarna merah, membuat pembentukan sihir bola hitam monster-monster itu sedikit terhambat.
Dengan langkah yang cepat Lunar segera menghunuskan pedang Lumiere Pain saat dia telah semakin dengan monster itu, tiba-tiba dia terdorong ke kiri dengan kerast, terdengar suara yang membuatnya harus menutup kedua telinganya, tetapi itu tidak memungkinkan, sehingga dia hanya mengernyitkan dahinya, membiarkan suara bising itu terus menembus telinganya.
Suara itu berasal dari sebelah kanan Lunar, keras dan dipenuhi dengan tanda yang lebih daripada sekadar kegilaan. Suara itu memperburuk keadaan, membuatnya mulai memejamkan mata lagi. Namun, dia melawannya, Lunar menengok dan melihat sesuatu yang besar dan kuat telah menabraknya, muncul percikan api saat kaki nemesis-nya bergesekan dengan jalan, tangan kanan nemesis-nya terlepas bersamaan dengan Lumiere Pain, Lunar tidak menyadari saat Ildar Arms yang lain telah membentuk formasi dan menabraknya dari sebelah kanan. Dia tidak sempat mengaktifkan nemesis barrier, karena terlalu fokus pada Ildar Arms yang membuat sihir bola hitam.
Ildar Arms terus mendorong Lunar dengan kuat hingga beberapa meter, monster-monster itu tidak mengizinkan Lunar melepaskan diri. Salah satu monster telah terlepas dari formasi itu lalu dengan cepat menangkap Lunar, namun dia segera berontak dan menebas monster itu dengan Lumiere Pain, panas dari pedang laser itu membuat ruas jari yang berwarna merah melepaskan lapisan kristal yang melindunginya. Lalu menebasnya sekali lagi untuk menghancurkan monster itu.
Lunar menebaskan Lumiere Pain pada empat Ildar Arms yang mendorongnya, kaki nemesis-nya membuat kuda-kuda untuk menahan dorogan monster-monster itu. Lalu dia melompat, menghindari monster-monster gila yang tidak akan berhenti sebelum menghancurkan objek yang ditabraknya.
Saat dia terdorong jauh, Ildar Arms telah melemparkan sihir bola hitamnya pada sekumpulan bangunan jauh di sebelah kanannya. Lunar menatap kesal saat bola hitam itu menelan bangunan lalu terjadi ledakan besar dan membuat bangunan itu dalam sekejap telah rata dengan tanah. “s**l… tunggu saja aku akan melucuti kalian!” kata Lunar sedikit kesal.
Lunar, mengaktifkan photon wing lalu terbang dan mengejar Ildar Arms yang masih meluncur dengan cepat, kini monster-monster itu bergerak secara zig-zag, menabrak sekumpulan bangunan lalu berpindah ke bangunan lain. Melihat Ildar Arms yang sedang meluncur bebas dan menghancurkan banyak bangunan di depannya, membuat emosinya semakin tersulut.
Kini Lunar hanya dapat menggunakan Lumiere Pain dan satu tangan nemesis, dia mempercepat laju nemesis-nya, dan bersiap menebas monster-monster itu sebelum mereka menghancurkan lebih banyak lagi. Dalam satu hunusan pedang, dua monster yang berada di belakang formasi langsung hancur dan berubah menjadi kepingan cahaya. Sedangkan dua monster lagi, ternyata menghentikan langkah mereka dan terbang ke belakang Lunar.
Monster-monster itu mencari kawanan monster lainnya untuk membentuk formasi aneh lagi. Kedua monster itu menuju tiga Ildar Arms yang sebelumnya telah melempar sihir bola hitam. Dengan cepat Lunar menghunuskan lagi Lumiere Pain-nya, mengarahkan pedang itu pada bagian merah berdenyut yang ada di belakang monster
Lunar berhasil menghentikan dua monster itu, lalu mempercepat laju nemesis-nya untuk menghancurkan tiga Ildar Arms yang telah membentuk sihir bola hitam lagi. Matanya menatap tajam pada monster itu, “Aku tidak boleh lengah, dengan satu tangan aku akan menghancurkan kalian semua!” teriaknya hingga terdengar pada Uricle device.
“Wah… ternyata Lunar kini memiliki emosi ya,” ujar seorang pria yang dia kenali suaranya dari Uricle device. Membuat Lunar tersontak, dia tidak menyadari kalau emosinya telah menerobos keluar dari dalam dirinya. Padahal sebelumnya tidak tidak pernah semarah itu.
Lunar mendesah, dia membiarkan kemarahan itu pergi dan menghembuska napas panjang. DIa mengabaikan suara itu, dia tahu pria itu memang sedikit kekanak-kanakan, mengingat usianya terpaut jauh darinya. Lunar memusatkan perhatiannya pada tiga Ildar Arms, dia tidak ingin melewatkan kesempatan lagi, atau tertabrak Ildar Arms dari arah lain. Dia merasa harus fokus pada monster yang ada di depannya, dan segera membersihkan kapal itu dari Ildar Arms, lalu berpindah ke kapal medis.
Di tempat lain di kapal itu, Eucli telah mengalahkan Ildar Arms lalu dia mencari Lunar dan Ava. Sedangkan Itasuke dan kelima anggota timnya juga tidak mengalami kesulitan, beberapa dari mereka kehilangan salah satu weapon nemesis-nya dan juga salah satu bagian tubuh nemesis, sama seperti Lunar.
“Di sini sudah bersih dari Ildar Arms,” kata Eucli. “Bagaimana dengan kalian berdua, Lunar… Ava?
“Aku… mendapat sedikit masalah, tetapi aku sudah mengatasinya.” Ava kehilangan Lumiere Pain-nya saat bertempur melawan Ildar Arms, tetapi seluruh bagian tubuh nemesis-nya masih utuh, meski ada goresan di beberapa tempat. Lalu dia terbang ke arah Lunar yang baru saja menghalahkan tiga Ildar Arms. Ava terkejut melihat Lunar, “Apa yang terjadi pada tangan kanan nemesis-mu, Lunar?” tanyanya.
Lunar menghela napas panjang, dia sebenarnya tidak ingin mengingat ataupun mengatakan pada semua orang bahwa dia telah tertabrak Ildar Arms saat dia memikirkan Mae. Itu adalah hal yang sangat memalukan untuk diceritakan pikirnya. Lalu dia menjawabnya dengan tenang dan tanpa menunjukkan emosi sedikitpun di dalam kata-katanya, “lima Ildar Arms mendorongku saat aku sedang berhadapan dengan tiga Ildar Arms lain yang sedang membentuk sihir bola hitam.”
“Eh… kau serius? Kalau aku mungkin aku telah hancur atau lari meninggalkan mereka sebelum itu terjadi. Kau memang Lunar yang aku kenal!”
Kata-kata Ava yang terakhir sedikit mengganggu pikiran Lunar. Ava melanjutkan perkataannya, dengan nada sedikit menggoda Lunar, “Maksudku… Lunar yang pendiam, tidak seperti Lunar yang terbawa emosi seperti tadi.”
Sekali lagi Lunar menghela napas, dia tidak ingin menunjukkan pada semua orang kalau saat ini dia sangat khawatir dengan Mae. Di dalam hatinya dia gelisah, ingin segera keluar dari kapal ini. Lunar terbang menuju ruang penyimpanan nemesis, dia ingin mengganti nemesis-nya, dia yakin mereka masih punya banyak nemesis yang belum digunakan. Dia tidak dapat menggunakan nemesis yang hanya punya satu weapon dan satu tangan. Itu akan menyulitkannya di pertempuran berikutnya.
Dia memasuki ruang penyimpanan, lalu dia tertegun melihat ruangan itu kosong, tidak ada yang mengisi ruangan itu. “Ya ampun… ini kan perang besar, pasti semua Arz menggunakan nemesis untuk melawan Ildar Arms,” gerutunya dalam hati. Lalu dia keluar dari ruangan itu da menunggu perintah dari Eucli.
Rez dan timnya sudah berada di garis pertahanan paling depan armada Uricle, menghadapi Ildar Arms di intserception sector. Puluhan monster itu terus memaksa untuk masuk ke dalam kubah kapal. Pemandangan puing-puing kapal yang mengapung menghiasi tempat pertempuran mereka.