Setelah pertempuran sengit menghadapi Ildar Arms, Lunar menuju kapal medis sesuai dengan arahan pengganti sementara kapten tim mereka, Eucli. Lunar merasa sedikit lega, tetapi perasaan itu seketika lenyap ketika dia melintasi atas bangunan-bangunan yang hancur, kerusakan ada di mana-mana, debu dari reruntuhan membumbung tinggi menyelimuti udara di kapal itu. Kepulan asap hitam juga terlihat menutupi jarak pandangnya.
Lunar menatapnya miris, dia berusaha menelan ludah, tetapi tenggorokannya terlalu kering untuk melakukannya. Dia memejamkan mata, lalu menepis semua perasaan negatif yang mulai menghinggapinya. Lunar keluar melalui lubang yang menganga di langit-langit kubah kapal, di depannya ada Eucli dan juga Itasuke beserta timnya, sedangkan Ava memilih di belakang mengikutinya.
Itasuke memerintahkan dua orang anggota timnya untuk berjaga di kapal itu, kemudian dia pergi menuju kapal lain untuk membersihkan kapal-kapal itu dari Ildar Arms. Lunar, Eucli, dan Ava memilih untuk ke kapal medis, mengingat satu anggota tim mereka sedang berada di sana, sedangkan Itasuke akan menuju garis pertahanan, membantu Arz yang kewalahan menghadapi Ildar Arms yang terus bermunculan di depan formasi armada Uricle.
Tak butuh waktu lama untuk mencapai kapal medis, dengan teknologi lightspeed yang juga terpasang pada nemesis, mereka hanya butuh waktu beberapa menit. Saat sampai di kapal yang menjadi tujuan mereka, Lunar tidak lagi terkejut dengan kondisi di sana. Terlihat beberapa pasukan nemesis meluncur di beberapa tempat sambil mengejar Ildar Arms yang telah membentuk formasi yang sama seperti yang dihadapi Lunar dan timnya di kapal 11.
Dengan cepat, Eucli memberi komando untuk membantu Arz lain yang sedang kesulitan. Dia dengan terampil telah menggantikan posisi Fenz. Dengan cepat Lunar menuju Ildar Arms yang sedang mengamuk di dekat medical center. Dengan Lumiere Pain di tangan kirinya, Lunar menghunuskan pedang itu pada Ildar Arms, tepat di bagian belakangnya saat monster itu sedang menghadap Arz lain di depannya. “Kerja sama yang baik,” gumamnya dalam hati sambil pergi menuju monster lain.
Di kejauhan, Lunar melihat seseorang sedang menghadapi monster-monster itu, tanpa nemesis. Orang itu berdiri di depan medical center sambil mengarahkan tangannya ke depan, lalu muncul serangkaian aktivasi sihir di depannya. Samar-samar Lunar melihat orang itu mengeluarkan sihir es berbentuk panah-panah kecil, menembaki Ildar Arms yang besarnya berkali lipat dari tubuh kecil itu. Lalu Lunar terkejut, saat sudah semakin dekat dia melihat orang itu adalah Mae.
Secara spontan Lunar memanggil Mae melalui pikirannya, “Mae… apa kau baik-baik saja? Apa yang kau…” Lunar tidak melanjutkan kata-katanyaa saat dia melihat Ildar Arms melompat tepat di atas Mae, menangkap tubuh wanita itu. “Mae…!” kali ini suaranya terdengar di Uricle device, hingga membuat Eucli dan Ava terkejut dengan suaranya.
“Ada apa Lunar? Kenapa kau begitu histeris?” tanya Eucli.
Lunar mengabaikan pertanyaan Eucli, dan langsung mendekati Ildar Arms yang telah menangkap Mae. Saat dia sudah semakin dekat, tiba-tiba monster yang menangkap Mae membuka telapak tangannya lalu berbalik dalam keadaan seperti kesakitan, telapak tangannya terbuka menghadap ke atas dan kelihatannya seperti kejang, kilatan-kilatan berwarna kuning merambat di seluruh tubuh monster itu, membuatnya terdiam beberapa saat kemudian tergeletak tak berdaya.
Lunar melihat Mae mengeluarkan sihir listrik lagi beberapa detik kemudian, tangannya dijulurkan ke depan, ke arah monster yang masih diam, lalu dari atas monster itu muncul kilatan berwarna kuning, dengan cepat dan kuat menghantam Ildar Arms. Dalam hitungan detik monster itu berubah menjadi kepingan cahaya merah kehitaman.
“Mae… apa kau mendengarku?” tanya Lunar melalui pikirannya. Dia takut kalau kata-katanya itu tidak sampai pada Mae, mengingat sebelumnya dia telah berbicara pada wanita itu tetapi tidak ada respon. Beberapa detik berlalu, membuat Lunar memutuskan untuk mencobanya lagi. Dia memusatkan pikirannya dan dengan sekuat tenaga, dia berbicara lagi melalui pikirannya. “Mae?”
Suara wanita itu tiba-tiba membuat Lunar terkejut, suara tiba-tiba yang keras menusuk di pikirannya. “Ya… aku menengarmu, Lunar. Tapi aku sedang fokus pada kerumunan monster yang sebentar lagi akan tiba di depanku.”
Kata-kata wanita itu membuatnya merasa bersalah, lalu dia mendekati Mae, berdiri di depan Mae dengan tetap berada di nemesis-nya yang sudah terlihat sangat menyedihkan, hanya ada satu tangan dan weapon, serta beberapa goresan di bagian kaki.
“Kapan kau sadar?”
“Beberapa waktu lalu. Suara-suara ledakan, teriakan, dan kebisingan yang ada di sini membuatku terbangun. Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Aku tak bisa mengingatnya. Aku ingat hingga kita duduk di dekat gua lalu cahaya dari kejauhan mengalihkan perhatianku, setelah itu aku tak ingat apa-apa.”
“Nanti akan aku jelaskan, tetapi kita harus menyelsaikan ini dulu.”
Lima Ildar Arms datang dari kejauhan dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, monster-monster itu telah membentuk formasi aneh, meluncur dengan kecepatan penuh hingga menabrak dan menghancurkan yang ada pada lintasannya, lalu berubah arah dan menghancurkan yang lainnya.
Lunar siap dengan Lumiere Pain di tangan kiri nemesis-nya, meski dia sedikit kerepotan dengan kondisinya saat ini, tetapi dia telah terbiasa beberapa saat lalu. Lunar merenggangkan kedua kaki robot itu, sementara tangan kiri mengarahkan pedangnya ke depan, lalu dengan cepat dia meluncur ke arah monster itu. Dia berencana menghentikan monster itu sebelum sampai medical center yang ada dibelakangnya.
Namun saat dia dan monster itu hampir bertemu, secara tiba-tiba formasi monster itu hancur, kelima Ildar Arms terlepas dari formasinya, dan menjadi tergeletak dengan telapak tangan terbuka dan kejang-kejang, aliran listrik terlihat menjalar di tubuh monster-monster itu seperti sebelumnya.
Lunar menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Mae, dia yakin pasti wanita itu yang melakukannya. Lalu tanpa membuang waktu, Lunar menebas bagian belakang monster dengan Lumiere Pain dengan cepat, dia berpindah ke monster lain saat monster yang ditebasnya berubah menjadi kepingan cahaya. Lalu terbesit di dalam pikirannya, sepertinya pertempuran tanpa nemesis lebih seru, tapi dia ingat hal lain. Dia tidak bisa terbang, itu merepotkan jika harus mengejar Ildar Arms yang berada di atas bangunan tinggi. Seandainya dia pengguna sihir seperti Mae, mungkin itu hal yang menguntungkan.
Lunar kembali ke tempat Mae berada lalu berencana membawa Mae bersamanya, di dalam nemesis. Lunar membuka palka pod lalu menekan tombol untuk menurunkan papan pijakan nemesis. Ide gilanya sepertinya akan sangat berguna, bertempur bersama Mae. Wanita itu akan menggunakan sihirnya, sementara Lunar membawanya di dalam nemesis.
***
Di tempat lain yang terlihat seperti di dalam ruangan berwarna putih, lampu berbentuk tabung membuat ruangan itu sangat terang. Di sudut ruangan seorang pria berambut kelimis dengan pakaian laboratorium, duduk dengan bersandar pada kursi, kedua kakinya disilangkan di bagian mata kaki. Tangannya diletakkan pada pegangan kursi sedangkan tangan satunya di atas meja dengan jari telunjuk diketuk-ketukan hingga membuat suara yang berirama. Entah mengapa suara itu membuat dia rileks, matanya terpejam sementara monitor di hadapannya menampilkan seorang pria berambut cepak berwarna oranye yang menjadi lawan bicaranya.
Nada bicara mereka menunjukkan kalau keduanya sedang membicarakan sesuatu hal yang penting. Pria berambut kelimis itu tersenyum licik, dia sedang berusaha mengendalikan arah pembicaraan itu. Suara tegas dan penuh wibawa seorang pria terdengar dari Uricle device-nya, melakukan penolakan terhadap ide yang dilontarkan pria berambut kelimis.
Sejenak mereka terlibat dalam perdebatan, namun pria berambut kelimis itu tetap menunjukkan wajah yang sangat tenang, nada bicaranya tidak berubah sedikitpun, dan ekspresinya tetap sama, dipenuhi dengan kelicikan dan keinginan memanipulasi lawan bicaranya.
“Apa kau punya cara lain untuk menghancurkan musuh, selain yang aku katakan tadi?” tanya pria berambut kelimis itu. Sejenak mereka berdua terdiam, pria berambut kelimis merasa rencananya paling benar. “Apa kau lupa dengan kejadian 30 tahun lalu? Kita semua gagal menghancurkan Darlz Ildar karena dewan penjaga ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Hingga kita hanya bisa menyegelnya, lalu dia muncul lagi dan memporak-porandakan armada ini.”
Pria berambut oranye masih terdiam, dia sejenak berpikir dan merasa kalau yang dikatakan pria berambut kelimis itu ada benarnya juga. Tetapi, rencananya terlalu beresiko, dan pasti dewan penjaga lain dan para penasehat Uricle tidak akan menyetujui rencana pria gila itu. Tetapi jika dibiarkan lebih lama, pasukan musuh akan menghancurkan armada sebelum mereka kehabisan photon.
“Asalkan kita mau merelakan sebagian kecil milik kita, demi menghancurkan musuh untuk selamanya, aku rasa ini pengorbanan yang sesuai. Jika dibandingkan harus mengulangi kesalahan yang dulu pernah kita lakukan, ini merupakan cara paling efektif,” kata pria berambut kelimis dengan sedikit penekanan pada kata-kata terahirnya.
Pria berambut oranye, Kenos, dia hanya terdiam mendengar perkataan pria berambut kelimis, mengernyitkan dahinya yang lebar, lalu berpikir sejenak sebelum membuat keputusan. Terdengar suara bising dari Lumiere Larc miliknya, ditengah kekacauan pertempuran menghadapi Darlz Ildar, dia dihadapkan pada pilihan yang sulit. “Mengapa kau meminta pendapatku tentang ini? Bukankah ada yang lebih memiliki kuasa untuk mengambil keputusan sepenting ini? Aku rasa kau salah karen telah menghubungiku,” ujarnya sambil menekan tombol untuk mengakhiri percakapan itu. Dia tidak ingin mengambil keputusan yang salah di saat genting seperti ini.
“Karena hanya kau yang memiliki pemikiran yang sama sepertiku, ingin segera mengakhiri pertempuran ini dan meminimalisir kerusakan pada armada kita. Selain itu, perintah dari satu dewan penjaga cukup untuk menggunakan weapon rahasia kita. Pak tua Rez, ataupun dewan penjaga lain tidak sejalan denganku. Kau tahu itu, Kenos.”
Kali ini, senyum licik pria berambut kelimis itu sedikit memudar, kemudian di wajahnya tersirat sedikit rasa perihatin dan kekhawatiran, yang tentu saja itu hanyalah permainan yang dia mainkan untuk mengendalikan lawan bicaranya.
Perhatian Kenos yang terbagi, membuatnya tidak tahan dengan tekanan yang diberikan pria berambut kelimis, semua perkataan dan rencananya memang sesuai dengan pemikirannya sendiri. “Lalu bagaimana kau akan mendapatkan persetujuan dari para penasehat Uricle?” tanya Kenos pada pria itu.
“Aku yang akan mengurusnya. Kalau begitu, kau setuju dengan rencanaku?”
Kenos hanya diam mendengarnya, dia memusatkan perhatiannya pada Darlz Ildar ada di hadapannya, terdengar bunyi gedebum keras dari sebelah kanannya. Tepat di sebelahnya, tangan Darlz Ildar mendarat dengan posisi telapak tangan menengadah ke atas, sedangkan di tengah telapak tangan terbentuk sihir bola hitam yang perlahan membesar.
Pria berambut kelimis itu tersenyum, “Maaf… aku sudah mengacaukan konsentrasimu.”
Kenos tetap diam, sambil menghunuskan pedang Lumiere Pain ke arah sihir bola hitam itu, dia berusaha mengambil keputusan dengan hati-hati. Lalu terdengar lagi suara kapal yang terbentur bagian bawah tubuh Darlz Ildar yang mengerucut tetapi tidak runcing. Monster itu menghantamkan insterception sector dengan kuat, sedangkan tangan di bagian bawah yang bisa memanjang menggenggam ujung-ujung interception sector, sedangkan tangan lain yang berada di bagian atas tubuhnya melemparkan sihir bola hitam ke beberapa nemesis. Serbuan Darlz Ildar yang kuat membuat bagian paling depan kapal terlepas, menyisakan tubuh kapal yang mengeluarkan percikan listrik di kejauhan.
“Cepatlah, Kenos… apa kau ingin seluruh kapal di armada ini hancur?”
“Ya… aku setuju dengan rencanamu, Lithar. Tetapi aku akan membicarakannya terlebih dahulu dengan dewan penjaga lain. Aku tidak ingin menanggung kesalahan sendirian jika terjadi hal buruk.”
Pria berambut kelimis itu tersenyum mendengar jawaban Kenos, tetapi dia puas dengan ungkapan persetujuannya, “Baiklah, jika itu keputusanmu, tetapi jika aku melihat keadaan semakin buruk, aku akan menggunakan persetujuanmu untuk menjalankan rencana yang telah aku katakan kepadamu tadi. Cukup persetujuan satu orang dewan penjaga untuk dapat menggunakan Photon Beam.”
“Oke,” jawab Kenos singkat. Lalu dia menghubungi lima dewan penjaga lainnya untuk meminta persetujuan. Tetapi dia tidak yakin mereka akan setuju dengan kesepakatan yang dibuatnya dengan pria berambut kelimis yang merupakan salah satu petinggi Uricle, seorang photoner yang bertugas untuk melakukan penelitian di Uricle bersama organisasi miliknya, Void.