Suara sirine terus bergema di lorong yang bersinar merah itu dan juga di kepala Lunar. Suara sirine yang membentuk irama beraturan itu menyeretnya kembali pada kedalaman ingatannya yang lain. Samar-samar ingatan itu kembali. Lunar terus berjalan dan mengizinkan ingatan itu memenuhi kepalanya. Dia memang telah menantikan saat-saat ini, saat dimana dinding penghalang memorinya perlahan runtuh.
Lunar berusia empat belas tahun, Mae berjalan di sampingnya. Mereka menyusuri jalan besar yang terbuat dari logam, dan tiang-tiang logam yang menjulang tinggi menjadi penyangga jalan itu, tiang yang terlihat tak berujung di bagian ataupun bawah, sedangkan di sisi jalan yang mereka lewati bercahaya biru dan terlihat seperti mengalir. Itu adalah aliran photon yang menyelimuti tempat jantung kapal induk dan terus bergerak-gerak, membuat jalanan yang mereka lewati menjadi sangat terang meski tanpa lampu penerang..
Mae memasang wajah polos saat mereka berjalan bersama, tangannya memainkan sebagian rambut ungunya yang terjuntai di bahu. Secara tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih bersemangat mengingat hal besar yang sudah mereka lakukan.
“Lunar… apa kau tahu, aku sangat senang kita sudah menguasai teknik yang diajarkan Shein kepada kita. Aku rasa dia juga pasti akan senang,” katanya dengan wajah ceria sambil berjalan mundur di depan Lunar. Tetapi sesaat kemudian wajah Mae berubah ketika dia melihat Lunar tidak memperhatikan kata-katanya tetapi hanya memperhatikan jalan.
“Hei… apa kau dengar? Dia sudah mengajari kita selama sebulan, tetapi kau baru menguasainya sekarang. Aku sedikit kesal padamu, tahu!”
Lunar menoleh kepada Mae yang sedikit cemberut, lalu dia tersenyum sambil memegang pipi Mae dan tetap berjalan dengan Mae di depannya.
“Kau jelek kalau cemberut,” kata Lunar sambil merubah tangannya yang tadinya hanya memegang pipi Mae menjadi sedikit mencubitnya perlahan.
Mae menggosok pipinya yang sedikit kemerahan, lalu dia kembali berjalan di samping Lunar. “Apa kau ingin merasakan kekuatan sihirku juga? Sakit, tahu.”
Lunar terkekeh melihat sikap Mae, kemudian dia menutupi mulutnya dengan tangan kanannya.
“Tidak, kau itu mengerikan kalau sedang marah, dan juga jelek.” Mendengar kata-kata Lunar, Mae membalikkan wajahnya dan berjalan sambil menghentakan kakinya. Lalu keduanya terdiam beberapa saat dan kembali fokus pada jalan yang mereka lewati.
Mereka berjalan lurus, lalu berbelok ke kanan, hingga bertemu sebuah pilar berwarna perak dan bercahaya kekuningan di tengah persimpangan. Mereka berjalan lurus melewati pilar tersebut, lalu mereka berbelok ke kiri, dan kanan lagi. Mereka berjalan tanpa keraguan ataupun kebingungan, tidak merasa aneh dengan keadaan di sekelilingnya seolah mereka telah terbiasa berjalan di tempat itu.
Hingga mendapati sebuah pintu berwarna perak dengan garis berwarna kekuningan yang bersinar terang di ujung jalan.
Keduanya mendekati pintu dan seketika pintu itu terbuka secara otomatis, lalu tanpa menunggu lama mereka masuk ke dalamnya.
Dia mendapati seorang wanita menunggu mereka, duduk di atas kursi yang terbuat dari logam, kedua tangannya dilipat di atas pangkuan, sedangkan di belakang wanita itu terdapat sebuah dinding transparan yang menjadi pembatas ruang itu dengan ruang lain yang berbentuk oval. Sebuah ruang kosong yang sangat luas dengan lantai yang terbuat dari kaca, sedangkan photon dalam jumlah besar mengalir di bawah lantai kaca itu.
Wanita itu tersenyum ketika dirinya dan Mae datang. “Apa kalian sudah dapat melakukannya? Itu akan sangat membantu di masa depan, jika kalian berdua terpisah, kalian akan dengan mudah menemukan satu sama lain dengan cara itu.”
Lunar dan Mae mengangguk secara bersamaan, lalu Mae mendekati wanita itu, dan memeluknya, seakan wanita itu adalah orang tua mereka. Mae membisikan sesuatu kepadanya, sesaat setelahnya wanita itu kembali tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit. Wanita itu meminta Lunar untuk mendekati, dan dia bangkit dari tempat duduknya dan mengulurkan kedua tangannya ke depan Lunar dan Mae. Lalu dari tangannya muncul cahaya yang diikuti dengan keluarnya dua weapon.
Wanita itu menyerahkannya masing-masing kepada Lunar dan Mae. Pedang panjang dengan gagang berwarna hitam dan mata pedang berwarna perak, sedangkan weapon satunya adalah sebuah tongkat sihir berwarna putih dengan kristal biru pada bagian ujung tongkat.
“Ini adalah hadiah untuk kalian karena telah berhasil menyelesaikan tugas dari ku, terimalah… Aku akan menjelaskan kekuatan yang dimiliki kedua weapon ini pada kalian,” kata wanita itu sambil menjulurkan tangannya, sementara kedua weapon itu mengapung di atas telapak tangannya.
Lunar menatap pedang yang diberikan padanya, dia merasa tubuhnya saat ini masih terlalu kecil untuk menggunakan pedang yang panjangnya melebihi tingginya saat ini. Lunar mengambil pedang itu, dan menggenggamnya dengan erat.
Wanita itu kembali duduk dengan posisi yang sama ketika Lunar dan Mae datang, tatapan yang hangat dia menjelaskan kegunaan kedua weapon itu, dan meminta Lunar dan Mae duduk di hadapannya. Lunar dan Mae segera mengikuti permintaan wanita itu. Tanpa berkata apapun mereka berdua duduk dengan posisi menyilangkan kedua kakinya di lantai dingin logam yang dingin. Lalu meletakkan weapon masing-masing di depannya.
“Aku akan menjelaskan tongkat Klays terlebih dahulu,” kata wanita itu sambil menunjuk tongkat sihir yang ada di depan Mae. “Itu adalah weapon yang akan kau gunakan di masa depan, Mae. Tongkat itu akan sangat membantu kita untuk memurnikan energi negatif Darlz, dan bagian terpentingnya adalah tongkat itu memiliki kekuatan yang besar jika pemilik aslinya yang menggunakan. Dan itu adalah kau, Mae. Seseorang mungkin akan mencurinya, tetapi dia tidak akan mendapatkan apa yang dia mau. Tongkat itu dapat menciptakan segel untuk mengurung Darlz dan juga melepas segel itu, meskipun enam dewan lain juga memiliki kekuatan yang sama, tetapi kekuatan tongkat Klays sangat spesial, kekuatan yang berasal dari diriku.”
“Sedangkan pedang yang ada di hadapanmu, Lunar. Pedang itu dapat membuka pintu dimensi dan kau bisa pergi ke masa depan ataupun masa lalu. Kau hanya perlu membayangkan masa apa yang ingin kau datangi, dan kemana kau ingin pergi. Dengan pedang itu, kau akan menyelamatkan banyak jiwa. Pedang itu juga memliki kekuatanku, pedang terbuat dari sebagian tubuh dan jiwaku, dan tidak akan ada yang dapat menggunakannya selain dirimu, Lunar.”
Lunar hanya mendengarkan kata-kata wanita yang ada di depannya, dia tidak sepenuhnya mengerti, tetapi dia hanya mengangguk ketika wanita itu telah menyelesaikan perkataannya.
Wanita itu mengakhiri penjelasannya dan duduk lebih relaks, seolah dia merasa lega telah menyerahkan kedua weapon itu pada pemilik yang sesungguhnya. Dia bersandar pada kursi, dan kini kedua tangannya terbuka sedangkan matanya mengisyaratkan Lunar dan Mae untuk mendekatinya. Saat Lunar dan Mae telah berada di depannya, wanita itu membisikan sesuatu ke telinga mereka berdua.
***
“Lunar…”
Suara itu menyadarkannya dari lamunan panjang dan ingatan masa lalunya seketika menghilang, berganti dengan lorong yang bersinar merah dan sirine yang terus berbunyi. Entah sudah berapa lama dia berjalan sendiri, sedangkan pikirannya menerawang. Lunar berhenti saat menemukan sebuah panel dengan beberapa tombol dan dua tuas dengan pegangan yang dapat ditarik keluar.
Suara itu itu terdengar lagi, suara yang sama seperti sebelumnya, terdengar di dalam pikirannya. Tetapi kali ini ada sedikit penekanan di dalamnya.
“Lunar… apa yang sedang kau lakukan, cepatlah, Lunar. Keadaan di sini sudah semakin gawat, kenapa kau lama sekali?”
Suara yang sudah familier di pikirannya, dan dengan nada yang sama ketika dia mendengarnya di dalam mimpinya. Suara wanita tidak sabaran yang baru ditemuinya sejak beberapa waktu lalu, tetapi sesungguhnya mereka telah mengenal lebih lama dari yang mereka bayangkan. Mungkin sejak mereka terlahir di dunia ini.
Dengan santai Lunar menjawab, “Ya… Mae… aku baru saja sampai pada panel pelepas cakram, kenapa kau begitu tak sabar.” Dia berbicara seolah mereka sudah sangat mengenal.
“Aku mengkhawatirkanmu, tahu! Apa kau tidak mendengar peringatan dari Uricle device? Daritadi operator kapal induk telah memperingatkan kita, lho. Kau tidak dengar? Apa kau melamun? Apa ada wanita yang sedang kau pikirkan hingga membuatmu tidak dengar panggilanku juga?”
Kata-kata Mae membuatnya sedikit pusing, kini wanita itu mengomelinya seperti dia adalah saudara perempuannya yang cerewet. Dan sikap Mae yang sekarang membuatnya yakin, dulunya dia adalah wanita cerewet yang terus bersamanya. Tapi entah mengapa dulu dia bisa tahan dengan itu. Lunar menghela napas dan menjawab dengan singkat. “Maaf, Mae.”
”Maaf? Untuk apa, cepatlah tarik tuas itu dan lepaskan cakramnya, pengisian energi untuk penembakan Photon Beam sudah hampir selesai, tahu!”
Lunar baru menyadari peringatan dari operator kapal induk yang sejak tadi telah menggema di lorong sempit itu, suara yang berasal dari Uricle device miliknya, serpihan memori yang menghinggapinya tadi membuatnya tidak memperhatikan keadaan sekitar.
Dengan cepat Lunar menekan beberapa tombol yang ada di panel sesuai dengan arahan dari pusat kendali kapal itu. Dan seketika keluar dua buah pengaman palang peledak untuk melepaskan cakram penghubung bagian kubah kapal. Lunar langsung memutar kedua alat pengaman itu lalu mendorongnya kembali. Terdengar bunyi dentuman keras saat alat pengaman itu kembali ke posisinya dan sirine kembali berbunyi tetapi dengan irama lain.
Kini suara lain menggema di lorong itu, diikuti cahaya merah yang berkelap kelip, suara itu berasal dari pusat kendali kapal yang memperingatkan Lunar untuk segera keluar dari tempat itu. Sementara di luar dentuman-dentuman dahsyat juga terdengar berurutan saat cakram kubah terlepas. Seketika hal itu membuat Maemenjadi sangat panik dan kembali memanggil Lunar melalui pikirannya.
“Lunar… apa kau sudah berhasil melepasnya? Cepatlah! atau kau akan ikut tertembak Photon Beam di sana.”
Sambil melihat map kapal, Lunar mengabaikan suara Mae dan kembali menyusuri lorong itu. Dia merasa heran dengan dirinya sendiri, bagaimana dia bisa sampai ke tempat itu sementara pikirannya melayang entah kemana. Lalu terdengar suara ledakan dari depan diikuti dengan robohnya dinding lorong itu.
Lunar terhenti dan berusaha mencari celah, tetapi reruntuhan itu menutupi seluruh jalan yang ada di depannya. Lalu dia mengaktifkan Uricle device untuk mencari jalan lain melalui map. Dia sedikit terkejut melihat jalan yang ditunjukan pada map, “Jauh sekali,” gumamnya dalam hati. Dia mengikuti arahan dari map, berharap dia akan sampai tepat waktu.
Suara sirine semakin membuatnya pusing, dan terdengar suara Mae lagi, “Cepatlah, Lunar! Pintu lorong akan segera menutup.” Lunar mengabaikannya, dan terus berlari menyusuri lorong, mengikuti map ada di depannya. Dia tak ingin konsenterasinya terganggu, mendengar sirine itu saja sudah cukup membuat kepalanya ingin pecah, jika ditambah suara Mae itu mungkin membuatnya gila.
Lunar berlari sekencang yang dia bisa, lalu dia teringat dengan serpihan memori yang sebelumnya muncul, “Pedang itu? Mungkin aku bisa mencoba pedang itu,” gumamnya sambil menghentikan langkahnya kemudian mengeluarkan sebuah pedang dari capsule inventory. Dia mengenggam pedang itu dan menyalurkan kekuatannya pada pedang berwarna hitam. “Tapi bagaimana cara kerjanya? Kenapa wanita itu tidak memberitahuku cara menggunakannya?”
Lunar menggerutu, dalam kepanikan dia mengarahkan pedangnya ke depan, lalu dia teringat dengan kata-kata wanita itu. Kau dapat pergi kemana pun hanya dengan mengingat tempat itu. Lunar memusatkan pikirannya sambil menggenggam erat pedang di tangannya dan mengingat sebuah tempat yang pernah dia datangi.