Ujung tombak kapal induk mengeluarkan cahaya berwarna biru dan perlahan muncul pola-pola aktivasi Photon Beam yang berbentuk lingkaran dengan garis-garis yang membentuk segitiga di bagian dalam lingkaran itu. Pola-pola aktivasi itu semula berukuran kecil kemudian membesar mengikuti besarnya energi photon yang telah terkumpul pada ujung tombak kapal induk.
Terihat bayangan Shein saat pola-pola aktivasi itu terbentuk, berdiri di ujung tombak dan menghadap ke arah formasi armada Uricle yang ada di depannya dengan tatapan yang tajam.
Papan hologram di ruang komando kapal induk menunjukan deretan angka-angka saat photon mengalir pada weapon utama kapal itu. Beberapa operator terihat serius memperhatikan papan hologram besar yang ada di depannya, sementara tangan-tangan mereka menekan papan tombol yang ada di meja masing-masing.
Seorang wanita berseragam Arz mengaktifkan Uricle device, lalu menghubungi dewan penjaga untuk melaporkan status persiapan penembakan Photon Beam. “Pengisian energi Photon Beam telah mencapai tujuh puluh lima persen,” katanya kepada lima dewan yang terhubung dengan Uricle device.
“Musuh menggunakan kekuatannya dan mengeluarkan Ildar Arms untuk menyerang kapal kita,” kata Rez terhenti sejenak, dia memantapkan hatinya sebelum melanjutkan perkataannya. “Jika sepuluh menit ke depan musuh tetap berada pada posisinya yang sekarang, ledakan Photon Beam kita pasti akan bisa menembus pertahanan Darlz Ildar. Kesempatan kita untuk menyerangnya hanyalah waktu itu!”
Seluruh operator itu hanya mengangguk saat Rez mengatakan rencananya, dan beberapa penasehat Uricle terlihat memasuki ruang komando. “Bagaimana kondisi di medan pertempuran saat ini?” tanya seorang pria yang rambutnya telah memutih tetapi tubuhnya yang terbalut seragam Arz berwarna biru tua masih terlihat gagah. “Aku mendapat laporan bahwa kita akan melepaskan photon yang disimpan dalam kapal induk untuk menghancurkan Darlz Ildar. Bagaimana dengan persiapannya?” lanjut pria itu.
“Pengisian energi saat ini sudah mencapai delapan puluh persen, Tuan. Dan para dewan penjaga saat ini sedang berhadapan dengan Darlz Ildar di garis depan bersama Arz,” kata seorang operator wanita yang duduk di sebelah penasehat Uricle yang hanya berdiri dan menatap pada papan hologram.
“Baiklah, aku yakin keputusan yang diambil oleh dewan penjaga akan membawa kemenangan pada kita.” Kini seorang wanita yang usianya terlihat sama dengan penasehat pria yang berbicara sebelumnya, menaruh keyakinan pada dewan penjaga dan Arz.
Sementara itu, di lorong kapal yang bersinar merah, Lunar terus memusatkan pikirannya dan mengingat-ingat tempat yang pernah dia lihat dan kunjungi, dia kembali berlari sambil menggenggam pedangnya. Sementara suara Mae kembali terdengar di kepalanya, dan memecah konsentrasinya. Lampu-lampu lorong yang terus berkedip tidak berarturan dan suara peringatan dari pusat kendali kapal menggema di seluruh lorong sempit itu.
“Lunar… apa kau mendengarku? Apa kau baik-baik saja Lunar?”
“Arz yang berada di sektor terpisah harap segera memasuki bagian kubah kapal karena pelepasan akan segera dimulai.”
Suara-suara itu terus terdengar secara bergantian, di pikirannya lalu di telinganya, dua suara yang berbeda itu menggema bersamaan dengan bunyi sirine tanda bahaya.
Di tengah kekacauan itu, Lunar berusaha mengabaikan suara Mae dan suara-suara lainnya, kemudian mengunci ingatannya pada suatu tempat yang sangat dia kenal, dan tempat yang selalu menjadi tujuannya. Dia berencana ke apartemennya, rumah yang selalu dia kunjungi setelah pergi kemana pun, dan dia yakin akan dapat mencapai tempat itu.
Pedang yang digenggamnya tiba-tiba mengeluarkan cahaya, lalu di depannya muncul lubang spiral putih yang bercahaya. Dengan cepat Lunar melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam lubang spiral itu, tetapi sebelum dia sepenuhnya masuk ke dalam lubang spiral itu, tiba-tiba seseorang menyerangnya dari depan, membuat lubang spiral itu menghilang, lalu dengan cepat orang itu memutar kaki kirinya dan menendang Lunar hingga masuk ke dalam sebuah ruang kecil. Lunar terjatuh dalam posisi telungkup sementara tangannya tetap menggenggam pedang yang kini sudah tak mengeluarkan cahaya.
Lunar mengerang kesakitan sejenak dan dengan cepat Lunar bangkit dan menemukan sosok pria bertopeng berdiri di atas ruang itu. Dia terkejut saat melihat pakaian pria bertopeng yang pernah dia temui saat pelatihan di Planet Orla.
Seorang pria dengan rambut ungu, menggunakan topeng dengan kaca berwarna ungu transparan di bagian mata dan jubah yang sama seperti Ghult ketika berubah menjadi Darlz Ildar. “s**l, kenapa dia datang di saat seperti ini, dan… rupanya dia juga Darlz,” gumamnya dalam hati sambil menatap tajam pria bertopeng itu dari bawah.
Lunar lebih terkejut dengan apa yang baru saja dia sadari dan membuat matanya membelalak. Lunar mendapati pria bertopeng itu mengenggam pedang yang sama dengan yang ada di tangannya, tetapi pedang itu mengeluarkan cahaya ungu yang berkedip. “Mengapa dia bisa memiliki pedang yang sama denganku?”
Pria bertopeng memandang Lunar dari atas, “Apa kau sudah siap membunuh Mae?”
“Kau masih membicarakan itu? Jika kau mau kenapa tidak kau sendiri yang membunuhnya, lalu aku yang akan melindunginya dengan kekuatanku,” kata Lunar dengan tatapan yang lebih tajam dari sebelumnya. Sementara tangannya mempererat genggaman pedangnya, lalu mengarahkannya pada pria bertopeng itu.
Pria beropeng itu tertawa mendengar kata-kata Lunar. “Melindungi? Melindungi dirimu sendiri saja kau tidak bisa!”
Pria itu menerjang Lunar dari atas secara tiba-tiba sambil menebaskan pedangnya. Lunar menahan s erangan pria itu dengan pedangnya, lalu mata mereka bertemu. Lunar dapat melihat mata pria itu dari balik topeng yang transparan di bagian matanya. Mata yang sama dengannya, tetapi berwarna ungu kemerahan.
Mereka menebaskan pedang masing-masing sambil melompat mundur.
“Kau akan menyesal jika tidak segera membunuhnya, kau akan terkurung dalam keputusasaan abadi, ke dalam kegelapan terdalam yang perlahan akan menggerogoti dirimu, bahkan kematian pun belum cukup untuk menghapusnya.”
“Apa yang kau bicarakan? Seolah dirimu peduli kepadaku, tetapi kau selalu menyerangku! “
“Tak perlu kujelaskan, cukup lakukan seperti yang telah aku katakan sebelumnya. Kau hanya perlu menerima dan melakukan seperti kataku.
Lunar menyerang pria bertopeng itu lebih dulu, menebaskan pedangnya, namun pria itu menahannya, lalu Lunar menarik kakinya dan menendangnya dengan sedikit memutar. Setiap tebasan pedang Lunar berhasil dipatahkan pria itu, seakan dia sudah tahu ke arah mana Lunar akan melancarkan serangannya.
Lalu Lunar membuat kuda-kuda untuk berlari, menerjang pria itu kemudian melompat ke atas untuk kembali ke lorong. Sementara suara sirine semakin tak karuan, diiringi peringatan dari pusat kendali.
“Menyingkirlah dari hadapanku!” kata Lunar sambil melompati pria bertopeng itu. Tetapi pria itu menarik kakinya dengan sebelah tangan, lalu menghempaskannya ke dinding logam ruang sempit itu. Lunar terjatuh dalam posisi duduk dan pedangnya terjatuh di sampingnya.
“Kau pasti menyesal, Lunar,” kata pria bertopeng sambil menebaskan pedangnya pada udara. Lalu lubang spiral berwarna merah kehitaman muncul dan pria itu masuk ke dalamnya dan menghilang bersamaan dengan lenyapnya lubang itu.
Lunar memegangi kakinya yang terasa sakit, lalu mengambil pedangnya dan berusaha bangkit. Perlahan dia berjalan menuju pintu ruang itu untuk kembali ke lorong kapal yang berhubungan dengan pintu keluar dari tempat kendali kapal. Saat dia berjalan dia melihat panel dengan beberapa tombol, dan dia menyadari tempat itu adalah kabin penyelamatan.
Lunar menekan beberapa tombol hingga sebuah pintu di sebelah kirinya terbuka dan dia masuk ke dalam sebuah kapal berukuran kecil yang hanya dapat menampung satu orang. Lalu dia mengaktifkan kapal itu dengan menekan tombol start yang berwarna merah lalu melesat dengan cepat di samping kapal itu lalu memutar arah mengikuti kubah kapal yang telah terlepas beberapa saat lalu.
Suara Mae terdengar lagi, kini suaranya terdengar seperti putus asa, wanita itu memanggil namanya untuk kesekian kali tetapi baru ini Lunar bisa mendengarnya dengan jelas tanpa ada kebisingan yang lain.
“Lunar…” katanya lirih. Lalu suaranya kembali seperti sebelumnya, ”Lunar! awas saja kalau kau mati! Aku akan mengejarmu!”
Mendengar kata terakhirnya membuat Lunar terkekeh, “Bagaimana kau bisa mengejar orang yang sudah mati?” katanya sedikit mengejek.
“Hei… kemana saja kau, cepatlah pergi dari sana, Photon Beam akan segera dilepaskan, tahu!”
Lunar kembali diam dan memacu kapal kecil itu di samping kubah kapal yang bentuknya sama dengan kapal tetapi lebih kecil, kubah tempat Mae berada.
“Pengisian energi Photon Beam telah mencapai seratus persen dan siap untuk ditembakkan,” kata seorang operator di ruang komando kapal induk menanti perintah selanjutnya dari dewan penjaga.
Rez gemetar saat mendengar laporan dari operator kapal induk, sesungguhnya dia tidak siap untuk menggunakan cadangan photon itu, tetapi keadaan mereka saat ini mengharuskan hal itu terjadi. Dia menguatkan tekad lalu bersama dengan empat dewan penjaga lainnya, secara bersamaan dan dengan suara yang lantang memerintahkan operator kapal induk untuk segera menembakkan Photon Beam.
Dengan menekan tombol berwarna kuning pada panel di meja utama ruang komando, seorang operator kapal induk menembakkan Photon Beam.
Shein masih berada di ujung tombak kapal induk, pola-pola aktivasi Photon Beam perlahan membesar diikuti dengan cahaya ungu yang semakin terang. Lalu bagian tengah pola-pola aktivasi Photon Beam itu mengeluarkan cahaya laser berwarna ungu berukuran besar, mengarah lurus ke depan.
Saat mengetahui Photon Beam telah dilepaskan Rez, Kenos, dan anggota tim mereka memacu nemesis mereka dengan kecepatan penuh, membuat Darlz Ildar sedikit kebingungan. Mosteri itu tetap mengeluarkan monster-monster dari lubang hitam di dadanya, sementara Photon Beam dari kejauhan telah mengarah padanya.
Dalam sekejap tembakan Photon Beam mengenai ratusan kapal yang berada pada jalur tembakan, dan menghancurkan kapal-kapal itu. Diikuti dengan Ildar Arms yang satu persatu lenyap dibalik cahaya ungu yang kuat itu, sedangkan Darlz Ildar yang berada di ujung jalur t embakan, hanya terlihat seperti kejang-kejang saat Photon Beam mengenai tubuhnya yang besar.
Selama beberapa detik Darlz Ildar dihujani dengan energi besar dari Photon Beam, monster itu tidak bisa berpindah kemanapun dan terpaksa menerima t embakan laser itu. Perlahan kristal-kristal hitam yang melapisi tubuh Darlz Ildar hancur dan terlepas, menyisakan tubuh yang berwarna merah dan berdenyut-denyut, sedangkan lubang hitam besar yang ada di dadanya runtuh bersamaan dengan kristal-kristal pelindung tubuhnya. Tubuh Darlz Ildar yang tanpa pelindung terlihat lemah saat Photon Beam masih menyerangnya dengan kuat.
Beberapa menit kemudian, cahaya laser Photon Beam terhenti. Ruang hampa udara itu kini berwarna kemerahan dan deretan kapal-kapal yang telah menjadi puing-puing menghiasinya. Sementara Darlz Ildar sudah menghilang diikuti dengan pasukannya yang lenyap satu-persatu.
“Apa kita berhasil?” gumam Lunar sambil memandang puing-puing kapal di belakangnya. Saat Photon Beam ditembakkan, dia melihat dengan jelas ratusan kapal Arz hancur secara bersamaan, hal yang sangat disayangkan menurutnya.
Sudut mata Lunar menangkap sesuatu, dua sosok yang sudah dikenalnya sedang berbincang dengan tiga sosok yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Kelimanya berdiri pada puing-puing kapal Arz, menatap lurus ke arah kapal induk Arz. Lunar tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi dia mendapati satu sosok yang dia yakini Darlz Ildar sedang berdiri sambil tertawa dan kedua tangannya terbuka di udara.
Lunar terkejut dengan apa yang dia lihat, “Bagaimana mungkin monster itu masih ada dan kembali pada wujud Ghult?”