Angin lembut berhembus dan menyibak rambut ungu wanita itu. Dari wajahnya yang kelihatan dingin dan putih seperti salju terlihat sedikit rona merah. Meski hanya samar, tetap saja membuatnya terlihat sangat cantik.
Asap hitam dan debu membumbung tinggi di sekitar wanita itu, reruntuhan bangunan dan jalan-jalan yang hancur membuat tempat itu sangat kacau. Tetapi keadaan sekitar yang kacau tidak mengurangi kecantikannya sedikitpun, dia berdiri bersama seorang wanita di depannya dan seorang pria di sampingnya. Mereka bertiga berdiri di depan sebuah pintu masuk ke dalam pusat kendali kapal. Mereka menanti seseorang yang telah mereka hubungi sejak beberapa waktu lalu.
Ava kembali mengaktifkan Uricle device yang terpasang di tangannya, seat kemudian muncul gambar orang yang dia ingin hubungi, namun setelah mendapati orang yang ditujunya tidak merespon, pria itu kembali menonaktifkan kembali alat itu. Sementara itu, Eucli, wajahnya menampakan kecemasan yang tak terbendung, pikirannya melayang entah kemana, ada dua orang pria yang dia nanti. Dia menghubungi keduanya secara bergantian, tetapi tidak satupun dari pria itu merespon.
Mae bersandar pada pintu logam yang menutup, sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya, sedangkan kaki kirinya ditekuk dan berpijak pada dinding. Kedua matanya terpejam, namun wajah tidak dapat menyembunyikan rasa kesal yang siap meledak kapan saja.
“Di mana dia? Dia tidak menjawab panggilanku dari tadi, apa dia selamat?” tanya Ava yang berdiri di sampingnya sambil menatap papan hologram yang muncul dari Uricle device yang terpasang di tangan kanannya, sesekali melihat ke sekeliling mencari sosok teman mereka, Lunar.
“Aku juga menghubunginya, tetapi selalu ditolaknya. Apa dia baik-baik saja? Aku sedikit khawatir. Aku juga sudah menghubugni Fenz tetapi Uricle device miliknya tidak aktif. Dan kau kenapa Mae, ekspresimu aneh, seperti ingin memukul seseorang.” Eucli yang sejak tadi memperhatikan Mae kebingungan, melihat wanita di depannya itu hanya diam dan memejamkan mata tetapi wajahnya terlihat kesal.
“Hei… Lunar! Kau dari mana saja? Kami menghubungimu tetapi selalu kau tolak,” teriak Ava saat melihat sosok pria yang dicarinya sedang berlari menuju tempat mereka menunggu.
Mata biru sapphire Mae bersinar ketika mendengar Ava menyebut nama Lunar, lalu dia menoleh dan menatap Lunar yang berjalan ke arah mereka dari kejauhan. Rasa khawatir sekaligus kesal yang selama ini dia pendam sepertinya sudah siap dikeluarkan pada Lunar.
Mae merubah posisi berdirinya dan menghadap ke arah Lunar. Eucli dan Ava
menjadi lebih terkejut saat Mae menyilangkan kedua tangannya di pinggang, seperti hendak memarahi Lunar yang kini sudah semakin dekat.
Lunar terkekeh ketika melihat sikap Mae, dia telah siap menerima omelan dari wanita itu. Saat jarak keduanya tinggal beberapa langkah, tiba-tiba Mae mengulurkan tangannya pada Lunar, seperti dugaan Lunar, Mae benar-benar memarahinya dan suaranya kini terdengar melalui telinganya. Suara yang kencang menembus telingannya.
“Kau ini! Sudah berapa kali aku, Eucli, dan Ava mencoba menghubungimu, tetapi selalu kau abaikan! Kau tidak tahu kalau kami di sini sangat khawatir! Aku kira…”
Tiba-tiba Mae menghentikan ucapannya, dan tangannya yang menunjuk wajah Lunar kini perlahan turun ke samping tubuhnya. Dia tidak melanjutkan perkataannya dan menghela napas panjang.
Lunar kebingungan dengan sikap wanita itu, dia memang sudah mengabaikannya sejak tadi, tetapi itu bukan tanpa alasan. Dia harus berkonsentrasi untuk bisa keluar dari lorong ruang kendali kapal itu. “Maaf… aku sudah membuat kalian bertiga khawatir, yang tadi itu…”
“Diamlah, sekarang bukan waktunya untuk memberi penjelasan. Kau simpan dulu penjelasanmu, sekarang kita harus mencari warga sipil yang menjadi korban,” kata Mae sambil berjalan menuju reruntuhan bangunan di dekat mereka setelah mendengar suara jeritan dari tempat itu.
Lunar mengikutinya dari belakang, begitu juga dengan Eucli dan Ava. Dia bertukar pandang dengan Ava sebelum mereka mengikuti Mae. Lalu mereka mendapati beberapa warna sipil terjebak di reruntuhan bangunan yang terkena serbuan Ildar Arms sebelumnya.
Dengan cepat Lunar dan Ava mengeluarkan warga sipil itu, lalu Mae dan Eucli melakukan sihir pengobatan kepada beberapa warga sipil. Lunar mendapati masih ada beberapa warga sipil di balik reruntuhan itu. Dia menyingkirkan batu-batu besar dibantu dengan Ava. Dan jeritan dari warga sipil terdengar lagi di seluruh sudut tempat itu.
“Ah… kita saja tidak akan sanggup mengatasinya,” kata Eucli sambil tetap merawat warga sipil yang terbaring di depannya dengan luka-luka yang serius. “Kalian bantu mereka untuk keluar dari rerutuhan bersama Arz lain, aku akan hubungi medical center. Kita masih punya banyak tugas sepertinya, meski Darlz Ildar sudah dikalahkan.”
Lunar tersentak ketika mendengar kata-kata terakhir Eucli, lalu dia mengingat apa yang dia lihat saat berada di kapal kecil, terbang di samping kubah kapal itu. Dia melihat lima Darlz yang berwujud manusia, dan salah satu dari mereka merupakan Darlz Ildar yang pernah dia lihat sebelumnya ketika di Planet Orla. Darlz Ildar yang merasuki dan merebut tubuh Ghult.
Lunar yakin dengan yang dia lihat, dan kalau Darlz itu adalah Ildar, itu berarti mereka belum mengalahkannya. Darlz itu masih hidup dan bersama Darlz lain, dan kemungkinan mereka akan kembali menyerang Uricle. Membayangkan kemungkinan terburuk itu membuat Lunar sedikit ngeri, mereka tidak mungkin menggunakan cara yang sama untuk mengalahkan Darlz.
Dampak dari penggunaan Photon Beam saat ini saja sangat parah, jika terus menggunakannya mungkin mereka akan menghancurkan armada Uricle dengan kekuatan mereka sendiri, bukan Darlz yang menghancurkan Uricle, tetapi kekuatan kapal induk yang mengerikan itu yang menghancurkannya.
Lunar ingat betapa mengerikannya t embakan laser Photon Beam, dalam sekejap
kapal-kapal yang berada dalam formasi secara bersamaan, dan tersisa hanya puing-puing kapal yang mengapung di angkasa. Lunar segera menyingkirkan pikiran-pikiran buruk itu dan berlari mengikuti Ava yang sudah lebih dulu sampai di reruntuhan tempat mereka mendengar jeritan-jeritan dari warga sipil.
Sementara itu, Rez yang selamat dari tembakan Photon Beam telah sampai di kapal induk lalu masuk ke dalam ruang komando. Beberapa penasehat Uricle masih berada di sana. Secara spontan Rez memberikan hormat pada penasehat Uricle yang menoleh kepadanya saat dia tiba di ruangan itu, lalu dia mendekati seorang operator kapal induk yang duduk di depan papan hologram besar yang menunjukan angka-angka dan serangkaian formasi armada yang mengalami perubahan.
“Konfirmasi status armada sekarang juga!” katanya sambil melihat papan hologram besar lalu matanya berpindah pada papan hologram lain yang berukuran lebih kecil memastikan keadaan armada Uricle saat ini.
“Photon kapal induk berada di titik dua puluh tujuh persen. Meski beberapa fungsi terhenti, tetapi kondisi kapal saat ini dalam keadaan stabil. Pemasokan photon ke armada mencapai lima puluh lima persen,” kata seorang operator yang menekan tombol-tombol di depannya sementara matanya tertuju pada papan hologram yang menunjukkan status photon.
“Bagus… berarti tidak ada masalah serius. Tapi… berapa kapal kita yang tertembak?” tanya Rez, nada suaranya berbeda ketika dia mengucapkan kalimat terakhir, ada perasaan bersalah saat dia mengucapkannya yang terlihat di matanya yang tiba-tiba tertunduk. Dia belum siap untuk mengetahuinya.
Begitu juga dengan operator kapal yang ada di ruangan itu, wajah mereka menunjukkan kesedihan saat melihat angka di papan hologram itu muncul. “Total ada… 111 kapal yang terkena dampak Photon Beam,” katanya perlahan dan dengan nada suara yang mengecil saat menyebutkan jumlahnya.
“Begitu, ya. Baiklah segera perintahkan para Arz untuk membantu warga sipil yang menjadi korban peperangan ini. Kerahkan seluruh Arz yang dapat menggunakan sihir penyembuhan untuk membantu tim medis.” Kemudian Rez menghadap pada penasehat Uricle yang kini duduk di kursi yang berjajar di belakangnya.
Rez berjalan mendekati para penasehat Uricle, lalu duduk di salah satu kursi yang kosong, wajahnya tertunduk pada lantai sementara tangannya berada di pegangan kursi yang terbuat dari logam dan memegang keningnya.
“Kau tidak perlu merasa bersalah atau terbebani, Rez. Aku yakin, tidak… kami semua penasehat Uricle yakin pada keputusan yang kalian buat. Kami tahu Darlz Ildar bukan musuh yang dapat dikalahkan dengan mudah, kami sudah pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Tapi hari ini kalian mengalahkannya. Jadi tidak perlu merasa terbebani.”
“Yah… musuh memang sangat kuat, tetapi aku rasa kita terlalu terlena dengan kedamaian selama sepuluh tahun belakangan ini. setelah p*********n di kapal waktu itu, kita merasa kita sudah menang dari musuh dan melupakan bahwa ada musuh lain yang belum sepenuhnya kita kalahkan. Ini bukan salah kalian sebagai dewan penjaga sebelum kami, ini salah kita semua yang terlalu santai.”
“Aku rasa kau benar, Rez. Lalu apa langkahmu selanjutnya?”
“Pertama kita harus memperbaiki kapal-kapal kita, tidak mungkin kita membiarkan kapal-kapal itu tanpa pelindung, ditambah kerusakan parah di sector pemukiman. Akan banyak pekerjaan yang menanti kita. Ada satu hal lagi yang mengganjal di kepalaku. Seorang anggota dewan menghilang saat p*********n Darlz Ildar. Dia berada di Planet Orla saat itu, dan hingga kini belum ada laporan darinya.”
“Siapa dia?”
“Fenz, aku masih belum bisa menghubunginya. Aku akan memanggil anggota tim yang pergi bersamanya.”
“Kau benar, tolong kau cari dia, aku berharap dia masih hidup.”
Rez terkejut mendengarnya, dia belum berani membayangkan hal terburuk itu terjadi pada Fenz. Dia hanya berasumsi kalau Fenz tidak bisa kembali ke armada karena nemesis-nya rusak atau hancur, begitu juga dengan Uricle device-nya yang tidak bisa dijangkau. Rez hanya mengangguk tanpa berkata lagi.
Tempat itu bercahaya merah, puing-puing kapal yang terbuat dari logam
Memantulkan cahaya itu, lima sosok berdiri di atas puing-puing kapal berukuran cukup besar. mereka memandang lurus armada uricle yang ada jauh di depannya, sementara serpihan kapal-kapal armada itu menghalangi pandangan mereka.
Darlz Ildar berdiri di depan, mengepalkan tangannya lalu membuka kedua tangannya ke udara. “Boleh juga. Cukup menarik. Arz, kalian berhasil menghalangiku, itu berarti kembalinya diriku menjadi bermakna.” Dia tertawa terbahak-bahak setelah mengucapkan kata-katanya yang terdengar angkuh itu.
“Setelah sekian lama kau terkurung dan kemudian berhasil bangkit, kau senang
dengan kekalahanmu itu Ildar?” kata seorang Darlz berwujud wanita yang masih muda berdiri di samping kanan Ildar. Kedua tangan Darlz itu dilipat di depan dadanya.
“Siapa kau? Tunggu… aku hapal dengan hawa ini. Kau… Darlz Affre. Kau terlihat begitu muda dengan tubuh itu.”
“Tepat sekali. Meski tubuh ini terlihat baru, aku sudah menggunakannya selama sepuluh tahun.”
“Hawa yang di belakang sana, aku juga mengenalnya. Itukah kalian… Darlz Twin? Diriku merasa tersanjung kalian sudah datang untuk menyambutku di sini,” kata Ildar sambil berbalik ke arah Darlz lain yang berdiri di belakangnya. Lalu dia mendapati sosok yang belum pernah dia lihat sebelumnya. “Dan yang disana… aku belum mengenalnya. Siapa kau?” tanyanya pada pria bertopeng yang berdiri jauh di belakang mereka. Seketika pria itu menghilang ke dalam lubang spiral hitam saat Darlz Ildar menoleh padanya.
“Dia anak baru, kami menyebutnya Darlz Persona.”
“Aku tidak peduli siapa dia, selama dia bisa menghiburku dengan kekuatannya.
Arz! Untuk menghormati keberanian dan perlawanan kalian, izinkan aku untuk mundur sementara waktu. Selama tubuhku ini bebas, segala kemungkinan akan bisa ku raih! Aku akan berusaha menikmatinya selama mungkin. Persiapkanlah diri kalian, Arz!”
Setelah mengatakan kalimat terakhir, Darlz Ildar membuka lubang spiral hitam
lalu masuk ke dalamnya, diikuti Darlz lainnya.
Sementara itu di sebuah ruangan yang diterangi lampu-lampu berbentuk tabung,
Seorang pria yang berpakaian laboratorium duduk menghadap pada papan hologram yang menampilkan gambar kapal induk Uricle. Di wajahnya terbentuk senyum licik saat dia melihat papan hologram itu. Lalu dia bangkit dari tempat duduknya, menatap lebih dekat papan hologram itu, sementara kepalanya menengadah dan matanya terpejam. “Ah… Shein, setelah kau kehilangan photon, kini aku bisa mencium aroma tubuhmu yang tanpa perlindungan itu.