Kebisingan dari sirine penanda bahaya sudah tak terdengar lagi, begitu juga dengan suara desingan nemesis dan weapon-nya. Tidak ada teriakan dari Arz yang mengarahkan pada warga sipil untuk menuju shelter. Darlz Ildar dan pasukan Ildar Arms-nya juga sudah menghilang sejak beberapa waktu lalu. Kini yang terdengar hanya rintihan-rintihan dari warga sipil dan Arz yang menjadi korban kekejaman Darlz Ildar.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk membersihkan sisa-sisa perang, pecahan kaca dari gedung-gedung maupun reruntuhan bangunan kini sudah tidak terlihat. Para Arz bekerja sama untuk melakukannya dan membuat kapal itu menjadi terlihat lebih baik. Meski belum sepenuhnya pulih, tetapi kondisi di tempat itu sudah membaik.
Namun perasaan takut dan kesedihan karena kehilangan orang-orang yang dicintai akibat perang itu masih ada, dan tidak akan menghilang begitu saja dalam waktu singkat. Pasti akan butuh waktu lama untuk benar-benar menghapus memori mengerikan itu dari hati dan pikiran setiap orang.
Para Arz dan petugas medis menyelamatkan semua warga sipil yang menjadi korban reruntuhan bangunan. Dengan bantuan dari para Arz pengguna sihir, mereka merawatnya di medical center yang berada di tengah-tengah kapal. Setiap lorong medical center kini dipenuhi dengan korban yang terluka ringan dan berat, seluruh ruangan telah penuh karena korban terluka berdatangan dari seluruh kapal armada uricle.
Para Arz berjaga di dalam dan luar bangunan medical center, satu-satunya tempat merawat korban yang terluka di armada itu. Lunar ada di sana, bersama Mae yang masih mendiamkannya dan sibuk membantu merawat korban yang terluka. Sedangkan Eucli ada di ruangan lain melakukan hal yang sama seperti Mae. Ava duduk di sebelahnya tertunduk lesu menghadap lantai medical center yang terbuat dari logam, entah karena kelelahan atau efek yang timbul setelah perang, wajah suramnya terpantul pada lantai logam itu.
"Sepertinya aku baru saja merasakan hal yang sama, tepatnya sepuluh bulan lalu, tapi dulu aku masih penakut dan tak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa aku lakukan hanya berlarian kesana sini untuk mencari kakakku yang hilang,” katanya, memulai pembicaraan. Sejak beberapa waktu lalu mereka hanya diam memandang dinding medical center yang berwarna putih.
“Aku juga melihat p*********n sepuluh bulan lalu, tapi sejak saat itu aku kehilangan ingatanku, dan juga semua temanku.” Di dalam hatinya, Lunar meragukan kalau dulunya dia mempunyai banyak teman, tidak satupun mimpi ataupun serpihan ingatannya yang menunjukan hal itu, yang selalu muncul dalam ingatannya hanyalah Mae dan wanita misterius yang bernama Shein.
“Ava… bagaimana dengan keadaan kapal tempat tinggal kita, ya. Bahkan kita tidak tahu bagaimana kondisi rumah kita,” kata Lunar sambil merubah posisi duduknya, dia meluruskan kakinya kemudian menyilangkannya, sementara kedua tangannya ada di atas kepalanya yang tersandar pada kursi logam itu.
“Entahlah… aku ragu kalau kita masih punya rumah,” jawab Ava dengan suara lesu. Lunar tidak merasa heran dengan sikapnya yang kini menjadi pendiam. Dirinya, Ava, dan juga yang lainnya baru saja mengalami hal terburuk dalam hidupnya. Hal itu menghilangkan keceriaan Ava.
“Kau benar, melihat kondisi kedua kapal yang pernah menjadi tempat amukan Ildar Arms, aku ragu kalau rumah kita masih berdiri tegak.”
Lalu Lunar menoleh pada Ava dan menepuk pundaknya. Dia tidak tau harus berkata apa lagi, rasa lelah telah menggerogoti tubuhnya sejak tadi dan membuatnya kehilangan selera untuk berkata-kata, dan mereka kembali terdiam menikmati waktu istirahat mereka yang berharga. Sudah seharian penuh mereka berkeliling kapal untuk membantu mencari warga sipil yang terjebak di dalam reruntuhan bangunan.
Dalam hatinya, Lunar sangat ingin kembali ke apartemennya, membersihkan tubuhnya yang sudah berbau tidak karuan, melemaskan otot-ototnya yang tegang, dan tidur panjang. Tapi sepertinya keinginannya itu tidak akan terwujud, masih banyak pekerjaan yang menanti mereka
Tiba-tiba sudut mata Lunar menangkap sosok seorang pria yang sudah dikenalnya sedang berlari dari lorong di depannya, dengan wajah yang diliputi rasa cemas, pria itu memeriksa setiap korban yang ada di lorong itu. Tetapi kelihatannya dia tidak mendapati apa yang dicarinya. Lunar memperhatikan pria itu, dia baru dua kali melihatnya dan belum mengetahui namanya. Lunar hanya memperhatikan pria itu berpindah ke lorong lain karena tidak juga menemukan apa yang dicarinya di tempat itu.
Pria itu terhenti di ujung lorong, Lunar melihatnya kebingungan dan memutar tubuh dan kepalanya, seperti mencari sesuatu di tempat yang belum dia telusuri. Lalu pria itu berbalik ke arahnya, dan kembali berlari sambil terus memeriksa wajah para korban. Sesekali pria itu mengaktifkan Uricle device yang terpasang di tangannya, lalu menonaktifkannya kembali dalam sekejap setelah tidak mendapati apa yang dicarinya
Kini wajahnya terlihat lebih frustasi, dan pria itu berlari menyusuri lorong di seberangnya lalu kembali dan terhenti di depan tempat duduk Lunar. Pria itu menjatuhkan tubuhnya ke lantai, lalu meluruskan kedua kakinya, sementara tangannya diletakkan di belakang tubuhnya dan kepalanya menengadah pada langit-langit medical center yang berwarna putih.
Samar-samar pria itu mengeluarkan suara lirih yang dapat terdengar di telinga Lunar, pelan dan ada rasa khawatir di dalamnya, menyebut sebuah nama. "Marlu..."
Lunar yang sejak tadi memperhatikan akhirnya bangkit dari tempat duduknya lalu mendekati pria itu. "Siapa atau apa yang sedang kau cari? Kau adalah anggota tim dewan penjaga Itasuke, ‘kan?" kata Lunar sambil mengulurkan tangannya pada pria itu.
"Kau... Lunar, ‘kan? Anggota muda dari tim dewan penjaga Fenz. Apa aku terlihat begitu menyedihkan?" ucapnya sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding kemudian menekuk kedua kakinya dan tangannya menggantung di atas lututnya. Wajahnya bertambah muram saat dia melihat Lunar dan menyebut nama dewan penjaga itu. Lunar berusaha menepis segala pikiran buruk yang sempat menghinggapinya, lalu dia duduk di sebelah pria itu dan bersandar pada dinding sebelum dia menanggapi perkataan pria itu.
"Ya... Sedikit... Lalu siapa yang sedang kau cari, dan juga maaf, aku belum mengetahui namamu." Lunar merasa malu mengatakan bahwa dia tidak mengetahui nama pria yang duduk di sampingnya itu
"Aku Taurus. Aku sedang mencari temanku. Seorang wanita yang baru saja mendaftar menjadi Arz dan kini ditugaskan menjadi pengendara vanguard armored vehicle. Aku menemukan kendaaran itu terguling di kapal 11 tetapi aku tidak menemukan siapaun di dalamnya, selain itu aku tidak dapat menghubunginya melalui Uricle device, dan dia tidak ada di dalam daftar para korban. Jadi aku memutuskan untuk ke sini dan mencarinya secara manual."
"Mau aku bantu carikan? Kita bisa melihat daftar korban di database medical center, aku rasa mereka sudah meng-update-nya beberapa saat lalu. Aku sudah selesai dengan tugasku, jadi aku bisa membantumu."
"Eh... Serius kau mau membantuku?"
"Tentu saja, di sana ada temanku, dia mungkin bisa membantu juga."
Kesuraman di wajah pria itu sedikit memudar saat Lunar bersedia membantunya. "Aku mencari dia," katanya sambil memperlihatkan foto Marlu melalui Uricle
device.
"Aku merasa pernah bertemu dengannya."
"Dimana? Apa dia selamat?"
"Aku tidak yakin, tetapi sebelum meninggalkan kapal 11 kami menyelamatkannya dari serangan Ildar Arms."
"Syukurlah... kalau begitu apa bisa kita mulai pencariannya?"
"Tentu, ayo. Aku juga ingin mencari ketua tim ku, Fenz. Kami tidak bisa menghubunginya sejak Darlz Ildar memulai serangannya."
Wajah Taurus berubah saat Lunar menyebut nama Fenz,
“Jadi mereka belum tahu, apa yang harus ku katakan,” gumamnya dalam hati.
Dia bingung harus mengatakan apa pada Lunar dan juga Eucli. Dia tahu kebenaran tentang Fenz, tapi kalau dia mengatakannya mereka pasti akan sangat terpukul, dan lagi dia belum memastikan kalau Fenz hilang atau sudah tewas terbunuh saat Darlz Ildar bangkit.
“Kau kenapa? Seperti mendengar sesuatu yang mengerikan saja,” kata Lunar sambil memandang wajah Taurus yang berubah ekspresinya saat dia membicarakan Fenz.
Taurus menghela napas panjang sebelum memulai ceritanya, dia merasa Lunar harus mengetahui apa yang terjadi saat itu.
“Aku… tidak… kami lebih tepatnya, aku dan dan timku tiba di monumen penyegelan saat Fenz menghadapi Ghult sendirian, lalu kami terlibat dalam pertarungan sengit, hingga Ghult berubah menjadi Darlz Ildar. Meski kami bertujuh, tetapi kami tidak mampu untuk menghadapinya, itu hal yang memalukan.”
Taurus kemudian berhenti bicara, tetapi karena Lunar menunjukkan reaksi dan hanya menatapnya serius, lalu dia melanjutkan. “Saat Darlz Ildar hendak menyatu dengan pohon besar yang ada di belakang monolit, Fenz berusaha mencegahnya, dan dia terkena pukulan mematikan dari Darlz Ildar,” Taurus berhenti lagi, tetapi ini karena dia melihat Lunar sangat terkejut mendengar bahwa Fenz terkena pukulan dari monster itu. Taurus memejamkan matanya sambil mengumpulkan kekuatan, tapi dia sendiri tidak kuat harus menjelaskan detik-detik hilangnya pemimpin tim Lunar.
“Fenz terhempas beberapa meter lalu mengerang kesakitan, dia tidak bisa bergerak untuk beberapa saat. Meski Miyuki telah melindunginya dengan sihir barrier-nya, tetap saja itu tidak dapat menyelamatkan Fenz. Dia terjatuh ke dalam sebuah lubang besar yang terbentuk ketika Darlz Ildar menyatu dengan pohon besar itu dan muncul aura kegelapan yang menghancurkan tempat itu. Ketua tim kami dan Miyuki berusaha menyelamatkannya, tetapi…” Taurus terhenti sejenak dan tidak melanjutkan kata-katanya, dia hanya menggelengkan kepalanya.
Sementara Lunar tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya, matanya membelalak ketika mendengarkan cerita Taurus, dan tanpa sadar dia gemetaran. Dia tidak dapat membayangkan jika Eucli mendengar hal itu. Pasti dia akan sangat terpukul, terlebih dia baru saja kehilangan Melfon, jika dia tahu Fenz hilang atau kemungkinan terburuknya, Fenz telah mati. Lunar yakin wanita itu tidak akan mampu menahan rasa sedihnya lagi.
“Aku sudah menceritakannya padamu, sebentar lagi mungkin Itasuke akan menghubungi kalian untuk menjelaskannya, sekali lagi atas nama timku, aku minta maaf karena tidak dapat membantu Fenz.” Tiba-tiba Taurus berdiri lalu dia membungkuk di depan Lunar yang masih duduk dengan wajah yang muram.
“Tidak… itu bukan salah kalian, itu memang sudah takdirnya,” kata Lunar lalu secara tiba-tiba wajahnya berubah, menyembunyikan kesedihan di dalamnya, kemudian bangkit dan berdiri di depan Taurus.
“Aku rasa masih ada kemungkinan dia selamat, Lunar. Itasuke melihat cahaya hijau saat terakhir dia melihat Fenz terjatuh ke dalam lubang besar itu.”
“Semoga saja… ada keajaiban. Baiklah ayo kita mulai pencariannya. Pertama-tama kita coba mencari di database medical center, mungkin Marlu sudah masuk ke dalam data terbaru.” Secara mendadak wajah Lunar tidak menunjukkan apapun, dia memendamnya di dalam hatinya, mengesampingan perasaannya untuk menepati janjinya membantu Taurus. Meski dia sangat ingin segera mencari Fenz.
Lunar dan Taurus berjalan mendekati Ava yang masih duduk termenung. dan mulai mencari Marlu di database medical center, tetapi tidak menemukan kalau Marlu masuk ke dalam daftar korban yang hilang, kemudian mereka setiap lorong medical center. Mereka tidak mengatakan apapun, hanya mengangguk dan bahasa isyarat lain yang mereka gunakan untuk beberapa saat.
Mereka mencari ke dalam setiap lorong dan kamar rumah sakit, tetapi tidak menemukan Marlu. Setelah beberapa saat mereka mencari, mereka kelelahan dan kembali ke kursi tempat Lunar dan Ava duduk sebelumnya. Kini wajah Taurus semakin suram, pria itu tidak dapat menyembunyikan perasaannya, lalu air mata menetes dari sudut matanya. Lunar yakin kalau Marlu bukan sekedar teman, tetapi ada perasaan lebih dari itu.
Uricle device Lunar berbunyi, dan itu merupakan panggilan dari Eucli. “Ada apa Eucli?” tanya Lunar dengan tenang, dia telah berusaha sekuat mungkin untuk tidak menunjukkan rasa khawatir di wajahnya. Tetapi kata-kata Eucli membuatnya melepaskan rasa khawatir itu.
“Apa yang sedang kau lakukan, Lunar. Apa Mae dan Ava ada di sana? Ini gawat, Lunar. Itasuke baru saja mengatakan padaku kalau Fenz menghilang di Planet Orla, tepat sebelum Darlz Ildar berubah menjadi monster raksasa.” Saat mengatakan kalimat terakhir, Eucli tanpa sadar sudah menangis terisak.
“Hanya ada Ava di sebelahku, dan Taurus. Kami sedang mencari Marlu, temannya Taurus.”
“Apa?” Seketika wajah Eucli berubah menjadi lebih suram, dan dia berhenti menangis. “Menghilang? Kau sudah mencarinya di database medical center?”
“Ya, kami sudah mencarinya di database medical center dan setiap lorong dan kamar di sini, tapi kami tidak dapat menemukannya. Menurutmu bagaimana, Eucli?”
Lunar merasa dia terlalu jahat mengatakan kalimat terakhir, dia seperti tidak peduli dengan perasaan Eucli yang mungkin saat ini sedang tak karuan karena Fenz menghilang. “Kapan kita akan mencari Fenz?”
“Setelah kita menemukan Marlu, aku akan ke sana.”
“Baik.”
Lunar bingung dengan Eucli, bagaimana bisa dia mengesampingkan perasaannya dan memilih untuk mencari Marlu terlebih dahulu. Padahal dia tahu kalau Fenz mungkin membutuhkan mereka di suatu tempat.