Lunar, Ava, dan Taurus bergegas ke ruangan tempat Eucli berada, mereka menyusuri lorong medical center sambil memeriksa para korban yang diletakkan di lorong-lorong itu. Tempat itu sangat luas, mengingat itu merupakan satu-satunya medical center terbesar yang ada di Uricle. Meski ada database yang menyimpan semua informasi tentang korban perang, tetapi mereka belum menemukan Marlu di daftar itu, dan mereka mencarinya satu persatu.
Akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan besar yang dapat menampung dua puluh korban, Eucli ada di sudut ruangan itu, sedang membantu tim medis untuk merawat korban yang ada di sana. Melihat hal itu, mereka menunggu Eucli di depan ruangan itu. Lunar dapat melihat wajah Eucli yang dipenuhi rasa cemas, meski sebagian wajahnya tertutup rambut-rambut halus berwarna cokelat.
Lunar yakin kalau wanita itu pasti sangat ingin segera pergi dari tempat ini dan mencari Fenz. Lalu dia mengajak Ava dan Taurus untuk mencari Marlu tanpa Eucli, dan mengirim pesan pada Eucli untuk ikut ke dalam tim pencarian Fenz yang dibentuk oleh Itasuke. Dirinya sendiri ingin ikut dalam tim itu, tetapi dia tidak bisa melanggar janji yang baru saja dia buat untuk membantu Taurus menemukan Marlu.
“Ayo Ava, Taurus, kita pergi lebih dulu, biarkan Eucli menyelesaikan pekerjaannya lalu ikut Itasuke dan Arz lain mencari Fenz,” kata Lunar sambil berjalan meninggalkan ruangan itu.
Taurus mengerti dengan kondisinya, dia juga tidak ingin memaksa Lunar dan Ava untuk kepentingan pribadinya. “Jika kalian ingin pergi, aku baik-baik saja, kok. Aku bisa meminta bantuan tim medis untuk mengeceknya di database medical center,” katanya dengan sedikit keraguan di dalam kata-katanya.
“Aku akan tetap membantumu sebentar, aku yang menawarkan bantuan, dan aku tidak akan menarik kata-kataku.”
“Aku juga,” jawab Ava sambil mengikuti Lunar yang sudah lebih dulu berjalan di depan sambil menghubungi Eucli.
“Kalau begitu baiklah, aku tidak akan menolak, semoga saja kita segera menemukannya.”
Lunar membalikkan tubuhnya lalu menepuk pundak Taurus. “Kita pasti akan menemukan Marlu.” Lunar berbalik lagi lalu menuju lorong yang menjadi area bagiannya untuk mencari Marlu. Mereka berpencar, menyusuri lorong-lorong itu, berharap menemukan Marlu, dan Lunar juga berharap mungkin Fenz sudah diselamatkan dan dibawa ke tempat ini, ada di ruangan lain. Dengan harapan itu dia berjalan cepat sambil sesekali memeriksa database medical center.
Suara langkah kaki yang terkesan terburu-buru terdengar dari beberapa lorong yang berbeda, bergantian dengan suara rintihan kesakitan yang memenuhi lorong-lorong sempit medical center. Setiap beberapa langkah, suara itu terhenti dan Lunar menunduk untuk memeriksa wajah-wajah yang terbaring di atas aero stretcher, sebuah tenda medis yang mengapung di udara. Berkat kemajuan teknologi yang dimiliki Uricle, mereka tidak lagi menggunakan tenaga manusia untuk membawa orang-orang sakit. Tenda-tenda itu dapat bergerak sendiri dengan bantuan energy photon.
Photon merupakan sumber energy yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, bahkan dapat menjadi s*****a mematikan seperti Photon Beam yang digunakan untuk menghancurkan Darlz Ildar. Photon dihasilkan dan diekstrak di dalam kapal induk, kemudian disalurkan ke seluruh kapal yang ada di armada Uricle.
Arz pengguna sihir, dapat mengubah photon menjadi berbagai elemen, api, es, light, angin, listrik, dan photon itu dapat menjadi elemen berbahaya yaitu kegelapan, jika hati yang menggunakannya dipenuhi dengan kebencian.
Langkah kaki Lunar yang berat itu akhirnya terhenti di ujung lorong terakhir, sudah hampir satu setengah jam dia mengelilingi medical center bersama Eucli, Ava, dan Taurus mencari Marlu, namun belum membuahkan hasil. Database medical center yang selalu diupdate setiap dua puluh menit pun tidak menampilkan namanya sebagai korban dari perang melawan Darlz Ildar kemarin.
Akhirnya dia duduk di kursi yang berada di dekatnya, setiap lorong memiliki kursi-kursi panjang. Dan Lunar duduk di ujung kursi itu, dia meluruskan kakinya, lalu meregangkan tubuhnya. Entah sudah berapa lama dia menahan rasa lelah yang berkepanjangan itu. Lalu dia berbaring di kursi itu sementara kakinya masih menapak pada lantai logam, dia memandang langit-langit medical center dan pikirannya menerawang entah kemana.
Di dalam hatinya, Lunar sangat ingin mencari Fenz dan berharap Fenz ada di tempat ini, telah diselamatkan dan dirawat di salah ruangan medical center. Langit-langit putih medical center membuatnya relaks hingga membuat dia ingin melupakan sejenak kekalutan pikirannya, akhirnya dalam sekejap dia pun tertidur.
***
Mimpi itu muncul lagi. Dia bersama dengan Mae, dan mereka masih sangat muda. Mereka ada di tanah terapung planet merah Vermela , berlatih menggunakan weapon yang baru saja mereka terima dari Shein. Entah mengapa, gadis yang berdiri di sampingnya itu begitu cepat menguasai berbagai sihir dan dapat mengeluarkan kekuatan yang tersimpan pada tongkat Klays yang digenggamnya.
Saat mereka berlatih, sebuah lubang spiral hitam muncul di sebelah Lunar dan memuntahkan puluhan monster kegelapan Darlz. Lunar mundur beberapa langkah, lalu mempererat genggaman pedangnya. Dia mulai menyerang Darlz yang ada di dekatnya, menebaskan pedang panjang sambil berali untuk memompa kekuatan tebasannya. Beberapa Darlz dia kalahkan hingga tiba-tiba langkahnya terhenti karena melihat kilatan listrik yang muncul di depannya, menghanguskan monster-monster yang ada di depannya.
Lalu lubang spiral itu muncul kembali, dan memuntahkan lebih banyak Darlz. Mae maju terlebih dahulu, mengarahkan tongkat Klays pada monster-monster itu. Lingkaran sihir terbentuk di atas kerumunan monster, kali ini berwarna merah. Lunar menebak kalau Mae akan mengeluarkan sihir api.
Dugaan Lunar benar, sebuah bola api besar keluar dari lingkaran sihir itu dan dalam sekejap langsung menghantam kerumunan monster di bawahnya. Lunar mengaggumi kekuatan Mae, tetapi di dalam hatinya dia merasa lemah.
Mae telah menguasai berbagai elemen sihir, sementara dia hanya menebaskan pedang Chill ke kanan dan kiri. Ya ... dia hanya menggunakan kekuatan fisik pedang itu. Dia belum dapat menggunakan kekuatan yang sesungguhnya dari pedangnya. Lunar menggerutu, “Kenapa dia tidak memberitahuku secara langsung bagaimana cara mengeluarkan kekuatan pedang ini.”
“Karena Shein ingin kau mengembangkan sendiri kemampuanmu, Lunar.”
Lunar kesal, lalu dia berjalan ke arah lain dan meninggalkan Mae, dia ingin berlatih sendirian.
“Tunggu… kau mau kemana, Lunar? Jangan main terlalu jauh, nanti kau akan tersesat jika aku tak bersamamu,” kata Mae dengan nada mengejek.
“Aku ingin berlatih sendirian, kalau ada kau di dekatku, aku jadi tidak bisa berkonsentrasi.”
“Cih… memangnya aku mengganggu?”
“Ya…” jawabnya kesal, lalu berjalan menuju catapult, sebuah alat yang digunakan untuk naik ke suatu tempat yang tinggi. Alat itu terpasang di setiap sudut area tanah terapung. Lalu Lunar naik ke permukaan tanah yang berukuran lebih kecil dari yang dia pijak sebelumnya.
Dia dapat melihat tanah merah yang ada jauh di bawahnya, sedangkan tanah yang terapung itu berwarna hijau, rerumputan tumbuh subur di sana, sementara area bawah yang berwarna merah adalah tempat yang dipenuhi dengan cairan panas mengalir berwarna merah kekuningan, itu adalah lava.
Dia berlatih menggunakan pedang itu, jika sebelumnya dia hanya menebaskan ke kanan, kiri dan segala arah. Kali ini dia berkonsentrasi dan menyalurkan seluruh kekuatannya pada pedang itu. Beberapa menit berlalu dan dia mulai kelelahan.
“Apa yang harus aku lakukan dengan pedang ini, selain membunuh musuh dengan kekuatan fisiknya, kekuatan apa yang ada di dalam pedang ini?” gumamnya sambil memutar-mutar pedang itu.
Dia memperhatikan setiap sudut pedang, mulai dari ujungnya hingga ke bagian genggaman pedang yang berwarna hitam. Dia mengetuk-ngetuk mata pedang dengan jarinya, lalu berpindah dari mata pedang ke pegangan pedang. Dia mengira kalau ada semacam tombol atau sejenisnya yang dapat mengaktifkan kekuatan pedang itu.
Lunar menjatuhkan tubuhnya dan pedangnya ke tanah, lalu berbaring dan menatap langit yang berwarna biru cerah dengan awan-awan putih yang menutupi. Dia mengingat-ingat kata-kata Shein, mencerna satu-persatu kata-kata itu. Namun dia tidak mendapati petunjuk apapun. Lalu secara tiba-tiba dia bangkit dan ketika mengingat potongan kalimat Shein yang melintas di pikirannya.
“Aku hanya perlu mengingat waktu ataupun tempat yang ingin aku datangi?” katanya sambil meraih pedang yang tergeletak di sampingnya. “Baiklah, akan aku coba lagi.”
Lunar melebarkan kakinya lalu membuat kuda-kuda yang kokoh, sedangkan tangannya menggenggam pedang itu, dan pikirannya mengingat berbagai tempat lalu mengunci salah satu tempat yang menurutnya paling mudah baginya.
Lunar memusatkan kekuatannya pada pedang itu, lalu mengarahkannya ke depan dan menebas secara perlahan. Dia tidak tahu dari mana asal gerakan itu, dia hanya melakukannya begitu saja karena menurutnya keren. Lunar terkekeh saat memikirkan kata keren, lalu dia kembali berkonsentrasi.
Saat dia selesai menebas udara di depannya, sebuah cahaya putih muncul kemudian membentuk celah berukuran sedang hingga celah itu secara sempurna membentuk sebuah lubang spral berwarna putih.
“Apa itu? Apa aku berhasil?” tanpa membuang waktu, Lunar masuk ke dalam lubang itu dengan keyakinan di hatinya.
“Tempat apa ini? Kenapa hanya putih dan kosong?” gumamnya.
Dia melihat ke sekelilingnya dan tidak mendapati sesuatu apapun ada di sana, hanya cahaya terang yang mengelilinginya. Tak lama muncul sebuah celah lagi dan membentuk lubang besar, di ujung luar lubang itu menunjukkan rumput hijau dan bunga-bunga kecil berwarna pink.
Lalu dia berpikir, “Di luar? Atau itu di dalam lubang spiral yang lain?”
Cahaya terang itu mengantarkan Lunar pada lubang yang berujung pada rerumputan dan bunga-bunga. Lunar yakin, dia akan keluar dari tempat bercahaya itu, bukan memasuki tempat lain. Lunar menapakkan kakinya pada tanah yang berumput, sementara kaki sebelahnya dia keluarkan secara perlahan.
Dia tidak mempercayai kalau dirinya bisa sampai ke tempat itu, tempat yang ada di pikirannya. Tempat lain di tanah terapung Planet Vermela, tepatnya adalah tempat yang digunakannya beristirahat beberapa saat lalu bersama Mae. Dia melihat sekeliling dan mencari tempat dia berada sebelumnya, tanah terapung jauh di atasnya.
“Mae… aku berhasil mengeluarkan kekuatan pedang ini, kau di mana Mae? Aku akan ke tempatmu.”
Tidak ada jawaban dari Mae, “Apa yang terjadi padanya? Apakah Darlz muncul lagi dan menyerang Mae?” gumamnya dalam hati.
Lunar mencoba memanggil Mae melalui pikirannya, tetapi tidak ada respon dari gadis itu. Lunar berjalan mencarinya, dia mendatangi tempat-tempat yang pernah mereka datangi, tetapi tidak ada jejak Mae. Dia mencoba berbicara kepada Mae melalui pikirannya, tetapi tetap tidak ada jawaban. Lunar berjalan hingga memasuki daerah terlarang, dan mendapati Mae mengarahkan tongkatnya ke depan dan muncul lingkaran sihir dengan kekuatan besar.
Lunar menduga kalau Mae sedang berhadapan dengan kerumunan Darlz, dia berlari mendekatinya, namun dia terkejut dengan apa yang dia lihat. Mae sedang berhadapan dengan dua orang Arz, dan gadis itu ingin melukai Arz. Lunar mencegahnya, dia membisikkan pada Mae kalau dua orang itu bukanlah musuh mereka.
***
Lunar terbangun dari mimpi itu, tidak terasa dia sudah tertidur selama setengah jam, kedua kakinya yang terasa menegang membuatnya terbangun.
“Ah… sudah berapa lama aku tidur dengan posisi seperti ini,” katanya sambil bangkit ke posisi duduk. Dia melihat jam yang ada di Uricle device, “Baru sebentar tetapi mimpi barusan itu…” Lunar terhenti sejenak. “Rasanya seperti mimpi panjang, dan apa maksud dari mimpi itu?”
Suara panggilan masuk dari Uricle device mengejutkannya, dan itu dari Ava. Lunar menjawabnya, dan Ava langsung bercerita panjang lebar tentang penemuannya dan Taurus. Di akhir perkataannya, suara Ava terdengar mengecil dan berubah menjadi suara yang menunjukkan rasa sedih.
“Marlu… Arz pengendara itu… dia telah masuk dalam daftar korban yang tewas beberapa waktu lalu di database medical center.”
Lunar terkejut mendengarnya, “Apa yang terjadi padanya? Apa sudah dikonfirmasi kebenarannya?” Lunar tahu benar kalau data-data Uricle tidak pernah salah, tetapi dia mengharapkan ada keajaiban.
“Ya… Taurus sudah mengkonfirmasinya, dia langsung pergi ke lokasi ditemukannya Marlu.”
Kata-kata Ava menghancurkan harapan Lunar yang baru saja terbentuk, dan dia mengingat Fenz, kekhawatiran kini berkembang di pikirannya, dan dia ingin segera bergabung dengan tim pencarian dan Eucli.