Suara Rez, anggota dewan penjaga nomor satu Uricle terdengar di seluruh kapal di armada itu. Dia memberi pidato pada upacara pemakaman Arz dan seluruh korban perang, beberapa Arz hadir pada upacara itu, dan sebagian lainnya masih bertugas di medical center.
Peti-peti yang berisi warga sipil dan Arz yang menjadi korban perang, dibariskan di depan para Arz, sedangkan Rez ada di antaranya. Berdiri di podium menahan rasa sedihnya, suaranya yang tegas menutupi perasaannya yang sesungguhnya.
“Kepada seluruh Arz dan warga Uricle, kebangkitan Darlz Ildar membuat kami semua kewalahan. Darlz Ildar yang seharusnya sudah kalah empat puluh tahun lalu, menjadi suatu hal yang tak terduga-duga. Selain membawa bencana, ia pun meluapkan amarahnya yang terpendam selama empat puluh tahun kepada kami, para Arz. Kami terlalu berpuas diri. Kedamaian membuat kami menjadi lengah.”
Dia diam beberapa detik dan mencoba mengatur napasnya, sesak di dadanya membuatnya sedikit kesulitan melanjutkan kata-kata. Setelah memandang wajah-wajah Arz di hadapannya dalam beberapa saat, dia pun akhirnya mendapatkan kekuatan untuk berbicara kembali.
“Kelengahan itu membuat pertahanan kita dengan mudahnya ditembus, hingga musuh berhasil masuk ke dalam kapal. Tanggung jawab ini sepenuhnya ada pada kami para enam dewan penjaga. Sebagai perwakilan enam dewan penjaga, di sini aku, Rez meminta maaf yang sedalam-dalamnya.”
Lunar berserta timnya ikut hadir pada upacara itu, dia menoleh pada barisan di sebelahnya, dan menatap Taurus yang memandang peti mati Marlu. Lunar melihat di sudut mata pria itu menetes air mata kesedihan, sedangkan tangannya mencengkeram dengan kuat, menahan perasaan campur aduk yang pastinya sedang menyelimuti hatinya.
Di tengah pidato itu, Lunar teringat dengan kata-kata Shein saat mereka berada di dalam gua di Planet Orla, tepat sebelum Ghult tiba-tiba datang yang menyerangnya.
“Wadah itu akan mendapatkan apa yang semestinya diberikan kepadanya.”
“Wadah? Apakah wadah itu Ghult?” gumamnya dalam hati. “Apa yang sebenarnya diinginkan Shein?” Lunar mengernyit, lalu dia kembali mendengarkan pidato dari Rez.
“Tapi berkat aksi berani semua orang yang ada di sini, kali ini Darlz Ildar benar-benar berhasil dilenyapkan, meskipun banyak yang telah berkorban. Hingga pengorbanan itu menjadi kemenangan yang pahit. Tapi saat ini bukan waktunya untuk meratapi kepergian mereka yang telah gugur. Kita yang berhasil selamat, berkewajiban terus berjalan melangkah! Aku tidak meminta kalian melupakan begitu saja kesedihan yang kita alami, tapi… Menataplah terus ke depan! Demi kejayaan Uricle dan juga Arz di masa depan!”
Pidato itu berakhir, Rez turun dari podium lalu mendekati barisan peti-peti mati dari Arz yang gugur dan juga warga sipil yang menjadi korban perang beberapa hari lalu. Kemudian pintu-pintu pada langit-langit kapal itu pun terbuka, dan para Arz membantu mengangkat peti-peti ke atas, ke pintu di langit-langit kapal. Peti-peti itu mengapung di udara kemudian keluar dari pintu yang terbuka, menuju angkasa yang gelap.
Setelah upacara itu selesai, Lunar menghampiri Taurus untuk memastikan keadaannya.
“Taurus….” katanya sambil menepuk pundak pria kurus berambut perak itu.
Taurus berbalik, dengan wajah yang diliputi kesedihan, lalu menggumamkan sesuatu yang semestinya telah dia ketahui.
Tetapi semua orang yang melihatnya akan menduga bahwa pria itu belum bisa menerima Marlu telah gugur di medan perang.
“Marlu… di mana Marlu?”
Lunar bingung harus berkata apa, lalu tiba-tiba Ava menghampiri mereka. Sedangkan Taurus terus menanyakan keberadaan Marlu.
“Di mana, dia. Marlu di mana?”
“Apa maksudmu di mana?” kata Ava.
“Ke mana dia pergi? Aku harus mencarinya…”
Lunar meraih tangan Taurus saat pria itu mulai berjalan meninggalkan mereka dengan sikap yang aneh dan terus menanyakan hal yang sama.
Taurus mengempaskan tangan Lunar dengan keras, di wajahnya tersirat perasaan sedih, yang bercampur dengan kebingungan. Lunar bisa melihat kalau saat ini Taurus sangat terguncang dengan kepergian Marlu. Dia yakin, Marlu adalah orang yang sangat penting di dalam hidup pria itu.
“Tolong lepaskan… aku harus mencari Marlu.”
“Tegarkan dirimu, Taurus! Kau sudah mendengar pidato Rez juga, kan? Kewajiban kita harus tetap melangkah maju sebagai orang yang selamat,” kata Lunar ingin Taurus segera bangkit dari keterpurukannya.
“Sebab itulah, aku harus mencari Marlu.” Taurus berteriak dan langsung berlari meninggalkan Lunar dan Ava. Wajah Taurus yang sebelumnya terlihat sedih, berubah menjadi marah saat mengatakan kata-kata terakhirnya.
Lunar dan Ava ingin mengejarnya, tetapi Eucli tiba-tiba datang dari belakang mereka dan menahannya. Eucli menggelengkan kepalanya, meminta keduanya membiarkan Taurus menenangkan dirinya sendiri.
“Biarkan saja dia menenangkan dirinya sendiri, aku yakin dia akan mampu menerima kenyataan pahit ini,” kata Eucli sambil berjalan melewati Lunar dan Ava. Lunar melihat wajah Eucli sebelum wanita itu melewatinya, dan mendapati perasaan khawatir yang teramat sangat di wajahnya.
“Ayo kita kembali ke ruang jaga, lalu Menyusun rencana untuk mencari Fenz.”
Lunar dan Ava mengiyakan, lalu mengikuti Eucli dari belakang. Sebelum mengikuti Eucli, Lunar berbalik dan menghadap Mae yang ada jauh di belakangnya.
Mata mereka bertemu sejenak, lalu wanita itu memalingkan pandangannya. Melihat hal itu, Lunar menghela napas, dia tidak berusaha mendekati Mae ataupun berusaha berbicara kepada wanita itu. Dia hanya pasrah dengan sikap Mae yang menghindarinya. Tidak ada percakapan melalui pikiran atau cara apapun dengannya selama beberapa hari.
Mereka sampai di kapal induk, dan dengan segera menuju ruang jaga tim. Hanya ada Lunar, Mae, Eucli, dan Ava di ruang jaga itu. Mae masih mendiamkannya, dia bisa mengerti bagaimana perasaan Mae, dia masih marah padanya dan Lunar hanya menunggu amarahnya padam. Lalu dia menghampiri Eucli yang duduk pada kursi yang mengitari sebuah meja berbentuk persegi.
“Eucli… aku mengerti perasaanmu.” Lunar diam, memilih kata-katanya dengan perlahan. Dia tidak ingin membuat Eucli merasa lebih khawatir ataupun sedih karena Fenz juga belum ditemukan. Lunar berhenti bicara, relaks lagi dan bersandar pada dinding logam di belakangnya.
“Aku akan menggantikanmu mencari Fenz bersama tim pencari, Eucli. Kau belum beristirahat dengan benar selama beberapa hari ini.”
Eucli hanya diam dan bersandar di kursi yang berada di seberang Lunar, dia menatap langit-langit ruang jaga tim mereka, mengabaikan kata-kata Lunar.
“Sekarang anggota tim ini berkurang lagi, padahal sebelumnya kita kelebihan anggota.”
Lunar berusaha untuk tidak menunjukkan perasaan apapun, dia tidak ingin Eucli menjadi lebih khawatir. Dia mungkin sudah memahami perasaan Eucli, dia kehilangan dua orang temannya, ditambah Fenz yang keberadaannya belum diketahui.
Lunar bingung harus berkata apa, dia hanya diam mendengar kata-katanya. Mae dan Ava yang duduk di kursi di sebelah dan depannya melakukan hal yang sama dengannya. Mendengarkan kata-kata Eucli hingga wanita itu kembali diam beberapa saat.
Lalu Eucli kembali dalam posisi duduk tegak, tangannya berpindah ke pangkuannya. Wajahnya yang terlihat lelah kembali bersemangat.
“Aku akan ikut mencari Fenz,” kata Eucli dengan penuh keyakinan.
Lunar tidak mencegahnya, dia merasa mencegahnya hanya akan membuatnya semakin khawatir.
“Baiklah… ayo kita pergi sekarang.”
Mereka berempat langsung bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari ruang jaga. Menyusuri lorong-lorong di kapal itu, menaiki lift, dan dengan langkah yang cepat menuju exit 1 kapal induk. Kapal-kapal dan para Arz sudah berkumpul di sana, menunggu giliran untuk lepas landas.
Eucli berjalan di depan mereka, kini wanita itu telah menggantikan posisi Fenz sebagai kapten tim sementara. Lunar mengikutinya, di sebelahnya ada Mae, dan dia melihat Mae ingin mengatakan sesuatu. Lunar menunggunya dengan tetap menghadap wanita itu sambil berjalan.
Tapi tidak ada satu katapun keluar dari mulut Mae, dia mengatakannya melalu pikiran. “Kau sudah aku maafkan.” Kata-kata Mae seperti berlawanan, terdengar di dalam pikiran Lunar seperti nada kekecewaan.
“Mae…”
“Ya?”
Lunar ingin mengulang kata-kata yang dia ucapkan di dalam mimpinya, dia ingin mengetahui apakah wanita itu akan terkejut mendengarnya.
“Kau terlihat jelek kalau cemberut.”
Lunar melihat wanita itu bereaksi ketika mendengar kalimat itu. Mae menghentikan langkahnya, lalu menarik tangan Lunar. Dia menatap Lunar beberapa detik. Lalu suaranya terdengar lagi di dalam pikiran Lunar.
“Kau ingin merasakan kekuatan sihirku?”
Kata-kata yang sama seperti yang diucapkan Mae saat serpihan ingatan Lunar menghampirinya beberapa waktu lalu, saat dia merasa pusing mendengar suara sirine, dan tiba-tiba ingatan masa lalunya muncul begitu saja. Lunar sedikit terkejut, dan dia berpikir kalau sifat-sifat Mae tidak berubah meski dia kehilangan ingatannya.
Suara Ava mengejutkan keduanya, “Hei… apa yang kalian lakukan? Cepatlah, kapal kita sudah siap!”
Mae melepaskan tangan Lunar setelah mendengar Ava, lalu dia berbalik dan berjalan meninggalkan Lunar. Lunar menghela napas lalu mengikut Mae.
“Apa yang terjadi? Apa kalian bertengkar? Aku melihat wajah Mae seperti marah kepadamu tadi.”
“Aku rasa begitu, sejak kejadian penembakan Photon Beam dan aku tiba-tiba menghilang dan tak bisa kalian hubungi. Dia mendiamkanku.”
“Oh… kau tidak membujuknya? Bisa repot kan kalau kalian terus seperti ini saat misi.”
“Ya, aku sedang mencobanya.” Lunar menaiki kapal yang akan membawa mereka ke Planet Orla, planet yang baru saja menjadi tempat munculnya Darlz.
Lunar menaikit kapal itu, lalu duduk di sebelah Ava, di depannya Mae yang segera memalingkan wajahnya ke jendela kapal saat melihat Lunar duduk di depannya. Ava terlihat ingin memperbaiki kesalahpahaman di antara kedua temannya itu, tapi Lunar menghentikannya.
“Jangan Ava, aku malu jika yang lainnya mengetahui hal ini,” bisik Lunar di telinga Ava, lalu menunjuk ke arah Arz lain yang ada di kapal itu.
Ava mengangguk lalu dia kembali berbisik pada Lunar. “Jangan lama-lama Lunar, dia akan tambah marah jika kau terlalu lama membujuknya.”
Lunar menghela napas panjang sebelum berbisik lagi pada Ava. “Iya… akan aku coba nanti, setelah sampai di Planet Orla, di sini terlalu ramai. Aku tidak mau ada gosip aneh beredar di kapal ini.”
Ava mengangguk tanda dia menyetujui kata-kata Lunar. “Gosip apa?”
“Bukan apa-apa, sudahlah, lupakan itu. Kita masih punya waktu beberapa menit untuk tidur.”
Mae menoleh ke arah Lunar dan Ava yang terlihat mencurigakan, dia melihat keduanya berbisik-bisik, lalu dia mengabaikannya dan memalingkan wajahnya ke arah Eucli yang ada di sampingnya.
“Istirahatlah sejenak Eucli, kita masih punya waktu sebelum sampai di sana.”
Eucli hanya mengangguk tanpa berkata apapun dan menyandarkan tubuhnya, meluruskan kakinya lalu melipat kedua tangannya di atas pangkuan. Dia mengikuti saran Mae dan langsung memejamkan matanya. Sementara itu Lunar juga meminta Ava beristirahat, lalu dia pun bersandar pada kursi dan menatap langit-langit kapal itu. pikirannya malayang sementara matanya tidak mau dia pejamkan, dia masih ingin memikirkan sesuatu.
Dia memikirkan kata-kata Mae yang dia dengar sebelum naik ke kapal itu, lalu memandang Mae, seketika dia merubah pandangannya pada langit-langit lagi. Saat ini dia tidak ingin memikirkan hal lain selain focus mencari Fenz.
Rasa kantuk seketika menghinggapi Lunar, dia menahan dirinya, memaksa untuk terus membuka matanya, namun akhirnya dia terkalahkan oleh rasa lelah itu dan tertidur. Sesaat sebelum kesadarannya hilang, dia mendengar suara Mae di dalam pikirannya, suaranya kali ini terdengar seperti wanita itu menggodanya.
“Kau ingin merasakan kekuatan sihirku, Lunar?”