Saat Lunar membuka mata, dia masih mengingat kata-kata terakhir yang diucapkan Mae di dalam pikirannya tepat sebelum dia tertidur. Lalu dia menoleh pada Mae yang ternyata sedang memperhatikan dia. Lunar sedikit terkejut melihat ekspresi wanita itu, wajah polos yang sama ketika Mae baru sadarkan diri sejak ditemukan di Planet Orla, tidak ada kemarahan lagi di matanya, perlahan Mae tersenyum kepadanya sambil berbicara di kepalanya.
“Lain kali, jangan abaikan panggilan teman-temanmu lagi… atau kau akan merasakan kemarahanku.” Wanita itu mengatakannya perlahan dan tanpa ada emosi apapun di dalamnya.
Lunar sedikit ngeri dengan wajah polos itu, dengan ekspresi seperti itu tetapi kata-kata yang terdengar di kepalanya seketika menusuk ke dalam jantungnya.
“Kemarahan?” gumamnya dalam hati. Ya wanita itu marah karena Lunar mengabaikannya, mengabaikan Eucli dan Ava juga saat dia terjebak dalam lorong ruang kendali kapal medis.
Lunar memusatkan pikirannya, dia sedikit terkejut dengan caranya berkomunikasi dengan Mae, bagaimana dia bisa membedakan antara berkomunikasi dengan wanita itu dan saat dia hanya berbicara sendiri di dalam hatinya. Dia melakukan keduanya begitu saja tanpa kesulitan.
“Ya… maaf soal yang waktu itu, aku hanya sedang berkonsentrasi, memisahkan semua bunyi-bunyi dan suara yang membuatku bertambah pusing, aku sedang mencoba sesuatu.”
Lunar menyesali kata-katanya, dia mengenal Mae, wanita itu akan menghujaninya dengan pertanyaan karena kesalahan kecil itu.
“Sesuatu?”
Lunar diam, dia tidak tahu apakah dia harus menjelaskan kepada Mae tentang Shein, pedang Chill, dan tongkat Klays miliknya. Ataupun hubungannya dengan Mae dan Shein di masa lalu. Semuanya masih belum jelas, jendela ke masa lalunya kusam oleh debu, hanya menyisakan bercak-bercak kecil untuk mengintainya. Membuatnya bingung harus memulainya dari mana.
“Ya… sesuatu,” jawabnya dengan singkat berharap Mae tidak bertanya lagi tentang sesuatu itu. Tapi suaranya terdengar lagi di dalam kepalanya.
“Sesuatu apa, Lunar? Kau ingin aku menebak-nebak apa yang kau maksud itu?”
Lunar menghela napas panjang lalu bersandar pada dinding kapal. Dia tahu kalau Mae tidak akan puas dengan jawaban yang setengah-setengah seperti itu, Mae akan terus bertanya padanya sampai mendapat jawaban yang pasti.
Lunar mengingat mimpinya saat mereka melatih kemampuan komunikasi mereka melalui pikiran. Saat Mae terus mendesaknya untuk segera dapat melakukan komunikasi itu. itu adalah sifat asli Mae yang masih terbawa hingga sekarang meskipun wanita itu hilang ingatan sepertinya. Dan entah mengapa hal itu membuat Lunar semakin ingin mengetahui masa lalu mereka berdua, dan dia merasa ada kedekatan yang tidak biasa diantara mereka. Meski mereka baru bertemu kembali sejak kejadian di Planet Orla, dia merasa sudah sangat mengenal Mae dan tidak butuh waktu lama untuk berusaha akrab dengannya.
“Aku akan menjelaskannya nanti saat waktunya sudah tepat. Kita harus fokus pada misi kita terlebih dahulu, Mae.”
Sebuah ide terlintas di benak Lunar, ide untuk menggoda Mae, dia ingin mengetahui reaksi Mae jika dia mengatakannya lagi.
“Kau jelek kalau sedang cemberut.”
Setelah mengatakannya, Lunar memandang Mae beberapa detik, tidak ingin melewatkan perubahan wajah Mae setelah mendengar kata-kata itu. Dan akhirnya Lunar mendapatkan apa yang diharapkan terjadi pada ekspresi wanita itu. Dia tidak ingin menebak-nebaknya, sedikit perubahan itu sudah cukup menjawab rasa ingin tahunya.
Mae terlihat terkejut setelah mendengar kata-kata Lunar di dalam pikirannya, dia merasa seperti pernah mendengarnya, merasa familier dengan rangkaian kata itu. Dia menatap Lunar untuk beberapa detik, lalu mengendurkan kerutan di dahinya.
“Baiklah, lupakan tentang sesuatu itu, aku akan mengingatnya dan menanyakannya kepadamu nanti.”
Lunar memalingkan pandanganya dari Mae lalu menatap Planet Orla yang sudah semakin dekat melalui jendela kapal. Dari jauh dia melihat planet itu sudah kembali hijau, tidak ada kabut ungu yang menyelimutinya, energi negatif Darlz sudah tidak menutupi planet itu. Lunar menduga hal itu disebabkan Darlz Ildar yang bangkit telah menghisap seluruh energi negatif yang ada di sana, mengumpulkannya dan membuat sosok itu menjadi begitu besar dan kuat.
Sebuah lubang besar dapa dilihat oleh Lunar, lubang yang terbentuk karena pohon besar yang menyimpan kekuatan Darlz Ildar telah tercabut dari sana. Dan lubang besar itu juga yang akan menjadi tujuan mereka, lokasi terakhir yang diketahui mereka sebelum Fenz menghilang.
”Apa yang terjadi di sana saat aku dirasuki kekuatan aneh Darlz waktu itu, Lunar?”
Lunar mendengar suara Mae yang kebingungan bercampur rasa ngeri di dalam kepalanya. Meski berada di sana dan memiliki peran saat Darlz Ildar bangkit, Lunar yakin Mae tidak mengingat apapun. Bukan dirinya yang melepas segel yang terpasang pada monolit yang kini telah hilang. Dirinya dikendalikan oleh energi negatif Darlz.
“Kekuatan aneh merasukimu dan Ghult, lalu membawa kalian ke monument penyegelan. Dan kau…”
“Kenapa?”
“Ghult yang kerasukan memaksamu membuka segel Darlz Ildar menggunakan tongkat Klays yang baru saja diberikan oleh Shein kepadaku. Tongkat yang seharusnya aku gunakan untuk memurnikan energi negatif yang ada dalam dirimu dan Ghult.”
Lunar mengatakan segalanya, tentu saja dia tidak mengatakan kalau dia gagal memurnikan energi negatif yang merasuki Mae dan Ghult karena dia tidak bisa menggunakan tongkat Klays. Lalu Lunar mengingat kata-kata Shein tentang kedua cosmogenic weapon yang diberikan kepadanya dan Mae. Dia mengingat kalau wanita itu mengatakan kedua weapon itu hanya dapat mengeluarkan kekuatan sesungguhnya jika digunakan oleh pemilik aslinya, yaitu Lunar dan Mae.
“Weapon yang hanya dapat digunakan oleh pemilik sesungguhnya?” gumamnya dalam hati.
Mae masih diam, mencerna setiap kata yang diucapkan Lunar. Seketika wajahnya berubah, dirinya dipenuhi dengan rasa bersalah karena tidak dapat melawan energi negatif Darlz yang merasukinya. Banyak pertanyaan berputar di kepalanya dan dia merasa ada yang bergejolak di dalam hatinya saat mendengar Lunar menyebutkan tongkat Klays.
“Siapa Shein dan p aitu tongkat Klays? Aku merasa seperti mengenal keduanya, tapi di mana?”
Lunar memperhatikan perubahan ekspresi Mae saat mendengar nama Shein dan tongkat Klays, “Aku akan menjelaskannya nanti, setelah misi pencarian Fenz selesai.”
Meskipun tahu Mae tidak akan suka dengan jawabannya, tetapi Lunar masih harus mengumpulkan kepingan memorinya sendiri. Dia sepenuhnya mengetahui Shein dan segala misteri kedua weapon yang diberikannya. Tentang kekuatannya dan juga kekuatan yang dimiliki Mae. Tentang tugas mereka yang diberikan Shein, dan juga mengapa di masa lalu dia melihat dirinya hanya bersama dengan Mae dan tidak pernah mengingat siapa pun lagi.
“Tidak bisa kau ceritakan sekarang saja?”
Lunar sudah menduganya, wanita itu pasti tidak sabar ingin mengetahui kebenarannya.
“Tidak…” jawabnya singkat, lalu terdiam dan menoleh pada jendela kapal.
“Kita harus fokus pada misi terlebih dahulu, lihatlah kita sudah masuk ke dalam atmosfer planet ini.”
“Baik… jika kau tidak menceritakannya padaku nanti, kau akan merasakan akibatnya, Lunar!”
Sekali lagi Lunar menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.
“Ya… aku janji.”
Meski diamengatakan seperti itu pada Mae, tetapi Lunar sendiri tidak yakin dapat meceritakannya dengan jelas.
“Apa tidak ada memori masa lalu yang menghampiri dirinya sendiri?” gumamnya dalam hati.
Selama berkomunikasi dengan Mae melalui pikirannya, Lunar tidak menyadari kapal yang mereka naiki berguncang, meskipun perlahan. Pembicaraannya dengan Mae membuatnya lupa dengan keadaan sekitarnya. Dia menoleh ke sampingnya, dan mendapati Ava sedang memperhatikannya. Sejak tadi secara tak sadar beberapa kali memusatkan pikirannya dan memejamkan matanya, dahinya berkenyit, sesekali dia menatap Mae. Sedangkan Ava memperhatikan keanehan mereka berdua. Suara anak laki-laki itu memecah keheningan kapal.
“Apa yang kalian berdua lakukan?” tanya Ava sambil menatap Lunar dan Mae secara bergantian.
“Tidak ada apa-apa,” jawab Lunar spontan sambil menunjukkan wajah yang tanpa ekspresi kepada Ava.
“Aku tidak percaya.”
“Sudahlah Ava, jangan mengganggu mereka berdua, mereka sedang berkomunikasi dengan hati mereka,” kata Eucli tiba-tiba.
Lunar dan Mae menoleh pada Eucli bersamaan, meski tidak sepenuhnya benar, tetapi dugaan Eucli membuat keduanya terkejut. Lalu Lunar dan Mae saling menatap, terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi mereka mengurungkan niatnya karena ternyata kapal mereka telah tiba. Beberapa Arz yang berada di dekat pintu belakang kapal langsung bangkit dari duduknya dan membentuk barisan.
Lunar mengalihkan pandangannya dan segera masuk ke dalam barisan itu. Ava dan Eucli ada di depannya sementara Mae ada di belakangnya. Lunar berjalan mundur dan memilih untuk berada di belakang Mae. Hal itu membuat Lunar menjadi Arz yang berada paling belakang. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi dengan Mae.
Segera setelah mendarat, pasukan Arz membentuk tim dan menyebar ke segala arah sesuai dengan rencana yang telah dibentuk sebelumnya. Lunar tetap bersama timnya, Mae, Eucli, dan Ava. Mereka memilih untuk langsung menuju monumen penyegellan Darz. Sedangkan tim lain menyusuri hutan di sekitar monumen.
Eucli mengambil alih tim itu, dia memimpin di depan. Sedangkan Lunar, Mae, dan Ava berlari berdampingan di belakangnya. Capsule inventory telah siap membawa segala perlengkapan yang mereka butuhkan. Eucli berlari dengan cepat, menyusuri hutan yang kini telah disinari cahaya matahari.
Terlihat beberapa pohon tumbang, atau pohon kering yang tidak memliki daun, rerumputan yang tak selebat saat Lunar datang untuk menjalani pelatihan. Meski begitu, udara di tempat itu telah kembali sejuk dan tidak dingin menusuk seperti sebelumnya.
Tapi mereka tak melihat adanya makhluk asli planet itu ataupun monster Darlz di sunyi tanpa ada suara nyanyian Mimi, angin berhembus pelan. Eucli merasakan keanehan yang Lunar rasakan juga. Tempat itu terlalu sepi setelah kekecauan beberapa hari lalu, jika Darlz telah hilang, mengapa makhluk asli planet itu juga menghilang.
Eucli mulai memperlambat larinya, diikuti Lunar, Mae, dan Ava. Mereka berjalan perlahan sambil memperhatikan keadaan sekitar. Lalu mereka mendapati lasersphere telah kembali memancarkan gelombang pemurnian. Melihat itu mereka merasa lega, Darlz Ildar telah benar-benar menghisap seluruh energi negatif dari planet itu.
Tapi kecurigaan Lunar belum sepenuhnya menghilang, pasti ada alasan lain, selain energi negatif Darlz yang membuat planet itu begitu sepi, tak ada suara-suara dari serangga, burung, ataupun mahkluk asli Planet Orla lainnya. Lalu dia teringat dengan makhluk raksasa yang pernah mengejarnya, pemimpin makhluk asli planet itu, Diarla.
“Kemana perginya mereka semua?” Ava mendahuluinya mengajukan pertanyaan yang sejak tadi sudah memenuhi kepalanya.
“Entahlah, tetapi keadaan di tempat ini terlalu aneh, aku merasa ada sesuatu telah menelan keberadaan makhluk planet ini.”
Kata-kata Eucli baru saja membuat Lunar sedikit merinding, tetapi dia tetap diam memperhatikan sekitar, berjaga-jaga jika tiba-tiba ada musuh yang datang dan menyerang mereka. Tangannya telah siap memegang capsule inventory, siap untuk mengeluarkan pedang Chill-nya.
“Ayo kita lanjutkan,” kata Eucli sambil menambah kecepatan langkahnya.
“Menurutmu apa yang terjadi di sini, Lunar?”
Suara Mae tiba-tiba terdengar di kepalanya, membuatnya yang sedang dalam keadaan super siap, tersentak.
“Entahlah, aku tidak mau memikirkan apapun, aku harap tidak ada hal buruk yang terjadi di tempat ini.”
“Aku juga.”
“Jangan jauh-jauh dariku, Mae.”
Secara tidak sadar Lunar mengatakannya, tapi mengingat saat Mae terkena energi negatif Darlz saat berada di dekatnya membuat nyalinya sedikit menciut, dan membuatnya menyesal mengatakannya, beruntung hanya Mae yang mendengarnya.
Mae lebih kuat darinya, dia melihatnya di dalam mimpinya beberapa waktu lalu, wanita itu juga telah mengeluarkan kekuatannya saat p*********n Darlz Ildar di kapal medis, dan juga saat pelatihan program VR. Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri.
Sudut mata Lunar menangkap sebuah lubang spiral hitam jauh di sebelah kanannya, di atas pepohonan yang mengering.
“Tunggu,” katanya secara spontan. “Aku melihat ada lubang spiral berwarna hitam di sana.” Lunar menunjuk pada pohon itu, tetapi dia terkejut saat lubang itu sudah tidak terlihat.
“Kau bercanda?”
“Tidak. Aku yakin melihatnya di sana.”
Tiba-tiba lubang spiral hitam muncul di arah berlawanan dari lubang spiral yang dilihat Lunar sebelumnya, tepatnya berada di belakang mereka. Makhluk yang berbentuk naga berwarna hitam mengintai dari dalam lubang spiral hitam dengan sepasang matanya yang menyala dan terlihat sudah siap menyerang mereka dari belakang.