Saat Lunar dan yang lainnya fokus pada lubang spiral hitam yang telah menghilang, di arah berlawanan telah muncul cahaya hitam kemerahan yang mulanya kecil lalu secara perlahan membesar dan terbuka. Dari lubang spiral hitam itu, sepasang mata berwarna merah memperhatikan mereka secara diam-diam. Mata berwarna merah itu mengamati mereka satu persatu seolah sedang menerawang ke dalam tubuh mereka.
Lalu ujung mulut dari makhluk yang mengintai mereka keluar dari lubang spiral hitam itu. Mulut itu terbuka, menampilkan deretan gigi berwarna hitam yang tak beraturan, cairan lengket terus mengalir dari ujung-ujung gigi itu, berwarna ungu tua. Perlahan bagian kepala dari makhluk misterius itu telah keluar seluruhnya, kepala yang runcing dengan bagian belakang bergerigi berwarna ungu. Dua tanduk berada di kepala makhluk itu, terlihat sangat tajam dan siap untuk menusuk musuhnya.
Setelah kepala mahkluk itu keluar dari lubang hitam, dua tangan makhluk itu yang berwarna ungu dan ujung-ujung kuku tajam berwarna hitam. Kedua tangan makhluk itu bergoyang-goyang dan berusaha menggapai sesuatu yang tak tampak, lalu seperti memegang pinggir lubang spiral hitam seperti ingin memaksa keluar.
Lunar merasa ada sesuatu yang memiliki kekuatan besar muncul di belakangnya. Lunar baru akan berbalik ketika sesuatu meluncur dari dalam lubang spiral hitam itu. Embusan napas yang bersamaan dengan keluarnya kepala dari sebuah makhluk berwarna hitam keluar dari lubang spiral hitam di belakang Lunar, dan dia maju satu langkah untuk melihat lebih jelas. Makhluk yang terlihat seperti naga berwarna hitam dengan sisik berwarna ungu dan kepala bergerigi, sebagian telah berhasil keluar dari lubang spiral hitam.
Mae berbalik, diikuti Eucli dan Ava yang langsung terkejut begitu melihat makhluk mengerikan muncul di belakang mereka. Mereka langsung mengambil weapon dari capsule inventory dan mengarahkannya pada sebagian tubuh monster yang keluar dari lubang spiral hitam.
Makhluk yang terlihat seperti naga itu, mengeluarkan tangannya, seperti sedang memegang bagian pinggir lubang spiral hitam, empat jari yang dimilikinya mengalir cairan lengket berwarna ungu, Saat tangannya telah keluar sempurna, terlihat setiap lengan memiliki sirip yang berbentuk seperti pisau yang tajam berwarna cokelat gelap.
Kuku panjang berwarna hitam yang terlihat runcing siap mengoyak tubuh mereka, menggapai ke udara di hadapan Lunar lalu mencengkeram udara itu. Cairan berwarna ungu juga mengalir dari kuku-kuku naga itu, menetes ke tanah saat makhluk itu mengulurkan tangannya. Bagian kepala naga berukuran besar dan dua tangan terus keluar dari lubang spiral hitam, lalu satu kaki terlempar keluar dan menapak pada tanah, lalu kaki satunya berhasil keluar dan menciptakan getaran hebat saat kedua kakinya telah memijak sempurna pada tanah di bawah lubang spiral hitam itu.
Terdapat beberapa tonjolan berwarna merah yang menyala di bagian depan tubuhnya, berbentuk bulat sempurna, seperti daging tumbuh dengan lampu yang terus berkedip.
"Makhluk apa itu?" teriak Ava ditengah kengerian itu.
Tidak ada satupun yang menjawab. Lunar menatap makhluk itu dengan bingung, terpaku dan ketakutan. Tonjolan merah menyala itu membuat Lunar merasa jijik.
Makhluk itu mengeluarkan suara yang memekakkan, menampilkan deretan gigi tak beraturan dan cairan lengket berwarna ungu yang terus menetes dari mulut makhluk itu dan jatuh melalui gigi-gigi hitam makhluk itu.
Lunar memalingkan pandangannya ke arah Mae, yang ternyata terlihat sangat tenang, tangannya telah siap menggenggam tongkat sihir berwarna putih. Lingkaran aktivasi sihir telah terbentuk di ujung tongkat itu, berwarna putih keunguan.
“Aku baru pertama kali melihatnya, sepertinya makhluk di hadapan kita ini adalah Mad Draygon, naga yang mengamuk ketika melihat seseorang yang memiliki energi negatif di dalam tubuhnya. Itu adalah julukan yang diberikan oleh beberapa Arz yang telah bertemu dan menghadapi makhluk ini,” kata Eucli yang juga telah siap menggenggam tongkat sihirnya.
Makhluk itu mengangkat tangannya hingga menunjuk langit lalu mengayukan pukulan ke arah Lunar yang berada paling depan. Tepat sebelum pukulan dari makhluk itu sampai padanya, Lunar membuat keputusan dia menjatuhkan diri di atas lututnya, lalu mengayun-ayunkan pedangnya ke belakang dan mengitari tubuhnya, menusukkan ujungnya ke kaki makhluk itu dengan kekuatan penuh dari tangannya.
Pedang itu masuk dua setengah sentimeter ke kulitnya, tetapi kemudian membentur sesuatu yang cukup keras hingga membuat sentakan yang menggetarkan tangan Lunar. Makhluk itu tidak bergerak, tidak menarik kakinya, tidak mengeluarkan suara apapun. Makhluk itu justru kembali melayangkan tangannya yang berpisau ke tempat Lunar.
Lunar menghindari serangan itu dengan berguling ke arah yang berlawanan dengan serangan makhluk itu, lalu dengan segera bangkit dan berlari dan menebaskan pedangnya ke tangan makhluk itu yang masih berada di tanah.
Lunar berhasil mengenainya, pedangnya menancap ke dalam kulit makhluk itu, tetapi anehnya makhluk itu juga tidak merasa sakit ataupun semacamnya seperti saat pertama kali Lunar mengenai kakinya dan langsung menghempaskan tubuh Lunar yang masih memegang pedang yang menancap di tangan makhluk itu.
Lunar terhempas ke udara, mengikuti ayunan tangan makhluk itu. Lalu dia menapakkan kakinya pada tangan makhluk itu dan menarik pedangnya, lalu menendang dan melompat, hingga akhirnya dia mendarat di tanah. Tangannya masih menggenggam pedang dengan kuat, matanya menatap pada makhluk yang telah mengempaskan tubuhnya.
Makhluk itu menyerang Lunar dengan pisau di lengannya, dengan sigap Lunar menangkis serangan makhluk itu dengan pedangnya, menimbulkan suara berdenting saat ujung pedangnya bertemu dengan bagian tubuh monster yang terlihat tajam seperti pisau.
Kali ini makhluk yang terliihat seperti naga itu mengeluarkan suara erangan, suara mengerikan yang membuat Lunar ingin menutupi telingannya dengan kedua tangannya. Makhluk itu membanting lengannya yang runcing, berusaha menyerang Lunar. Lunar menggelindingkan tubuhnya menjauh, hingga akhirnya mengambil kesempatan lalu bangkit dan melompat berdiri, pedang di genggam erat di tangannya. Makhluk itu berusaha mengoyak udara dengan jari-jarinya yang tajam.
Herannya setelah memulai pertarungan itu, Lunar tidak merasakan takut lagi. Dia mengambil napas panjang lalu memulai serangan berikutnya, mengawalinya dengan lompatan tinggi yang mengarah pada tonjolan merah yang berkedip. Dia semakin dekat pada bagian tubuh yang menjadi sasarannya, cahaya cahaya merah yang bersinar itu kini terlihat semakn jelas, berdenyut, terang kemudian redup, terang lagi dan redup lagi.
Lunar mendarat pada tonjolan yang awalnya dia mengira keras, ternyata sangat lembek, kaki Lunar terbenam beberapa sentimeter di atas tonjolan merah itu, lalu dengan cepat dia menebaskan pedangnya dan berusaha mengeluarkan kakinya yang terbenam di tubuh makhluk itu.
Tebasan pedang Lunar mengenai salah satu tonjolan berwarna merah dan memcahkannya. Makhluk itu mengeluarkan suara yang memekakkan saat salah satu tonjolan di tubuhnya itu pecah. Dari tonjolan itu mengalir cairan berwarna ungu yang berbau menyengat.
Makhluk itu terhenti sejenak setelah salah satu tonjolan di dadanya pecah, setidaknya sela Lunar berusaha meloloskan dirinya yang terjebak dalam tubuhnya yang lembek. Lunar menarik kakinya lalu melompat dan menjauh, kemudian kembali membuat kuda-kuda bertarung, tangannya menggenggam pedang dengan mantap.
Makhluk itu kembali mengejarnya setelah beberapa detik terdiam. Menghantamkan ekornya yang panjang dengan ujung lancip seperti tombak. Lunar melompat ke arah berlawanan lalu berlari dan berbalik arah lagi menatap makhluk yang telah mengejarnya, kemudian menebaskan pedangnya pada tonjolan merah itu lagi.
Satu ide terbesit di kepala Lunar, dan semakin jelas saat dia melihat tonjolan-tonjolan merah yang berdenyut itu. Tonjolan itu adalah titik kelemahan makhluk yang sedang dihadapinya.
Melihat Lunar berhasil memecahkan tonjolan merah di da da makhluk itu, Mae dan Eucli juga telah menyadarinya dan langsung menyerang makhluk itu bersamaan. Mae mengeluarkan sihir es yang berbentuk panah-panah yang melesat ke tonjolan-tonjolan merah di da da makhluk itu, beberapa tonjolan itu pecah meletus secara bersamaan membuatnya seperti kembang api. Mae telah berhasil menghancurkan sekitar enam atau tujuh tonjolan aneh itu. Tetapi di tubuhnya masih ada banyak tonjolan yang harus mereka hancurkan.
Eucli menyerang dengan sihir bola api, dia juga mengarahkannya langsung pada tonjolan-tonjolan merah yang berdenyut. Ava mengikuti mereka, menembaki tonjolan merah itu dengan rifle-nya.
Makhluk itu mengerang, terlihat seperti kesakitan saat beberapa tonjolan di dadanya pecah, ia membuka mulutnya lalu mengeluarkan cahaya berwarna biru yang perlahan membentuk seperti bola, lalu mengarahkannya pada Lunar. Dan membentuk bola biru itu lagi lalu mengarahkan pada yang lainnya.
Mereka berhasil menghindari serangan bola berwarna biru itu, dan membuat makhluk itu semakin marah. Kini ia meletakkan kedua tangannya di tanah lalu membungkuk seperti ingin menyeruduk ke arah mereka. Dalam beberapa detik makhluk itu meluncur ke arah Lunar sambil menghentakkan tangannya di tanah, hingga berada tepat di depan Lunar, ia mengangkat tangannya ke udara lalu menghantamkan dengan kekuatan penuh pada Lunar.
Lunar bergulung-gulung di tanah, tangannya tetap mengenggam pedang, lalu dia bangkit dalam posisi menunduk dan berlari kea rah makhluk itu. Tepat saat berada di depannya, Lunar melompat dan menebaskan pedangnya pada tonjolan merah di da da makhluk itu.
Dengan cepat makhluk itu menghempaskan tubuh Lunar, membuatnya terpental beberapa meter dan menabrak pohon lalu terjatuh.
“Lunar!” teriak Mae. Suara wanita itu terdengar di telinganya.
Tanpa berlama-lama Lunar bangkit dan meraih pedangnya yang terjatuh, lalu berlari menuju makhluk yang kini sedang mengeluarkan kekuatan aneh yang membuat angin yang berputar di sekeliling tubuhnya. Makhluk itu mengeluarkan suara yang memekakkan lalu tangannya terbuka dan tubuhnya terangkat ke udara, dikelilingi aura gelap. Dari punggungnya yang bergerigi muncul sepasang sayap besar berwarna hitam.
Lunar menghentikan langkahnya dan mendongak ke atas, ke arah makhluk berbentuk naga yang kini membuka sayapnya dan terbang beberapa meter di atas tanah. Dari belakang makhluk itu muncul cahaya hitam di beberapa tempat yang mengelilingi tubuhnya.
Kelamaan dari cahaya itu muncul kilatan petir berwarna merah diiringi dengan bertambah besarnya cahaya hitam itu. Lalu cahaya hitam dan kilatan petir merah membentuk sebuah kristal besar berwarna hitam dengan kilatan merah di sekitarnya. Kristal-kristal itu bergerak-gerak, mengikuti gerakan Lunar, Mae, Eucli dan Ava. Kristal itu siap meluncur ke arah mereka.
“Aku merasa ini hal buruk, jangan sampai terkena tem bakan kristal itu,” teriak Eucli.
Lunar juga merasakan hal sama, selain dari segi ukuran yang menakutkan itu, kilatan-kilatan petir di sekeliling kristal itu pasti menyimpan kekuatan penghancur yang besar.
Lunar dan yang lainnya berlari, mengamati arah kristal yang telah di lontarkan kepadanya. Sesaat sebelum mengenainya, Lunar mengubah arah lari, dan kristal itu menghantam ke tanah, terdiam beberapa detik sebelum meledak dan mengeluarkan kilatan merah yang menyambar, mengenai pohon yang ada di dekatnya. Lunar terkejut melihatnya, lalu dia melihat ke arah teman-temannya. Mae terlihat dapat mengatasinya dengan baik, begitu juga dengan Eucli. Sedangkan Ava sedikit kewalahan, dia terpental beberapa meter tapi beruntung kristal hitam itu tidak langsung mengenainya.
Mad Draygon terlihat akan mengeluarkan kristal yang sama, cahaya hitam dengan kilatan petir berwarna merah terlihat sudah terbentuk di belakang tubuhnya.
“s**l… makhluk itu akan mengeluarkannya lagi. Ava… jangan sampai terkena kristal itu.” Eucli memperingatkan Ava yang sebelumnya hampir terkena serangan kristal hitam dari makhluk itu.
“Baik,” jawab Ava singkat sambil menatap pada kristal hitam yang sudah bergerak-gerak mengikuti arah mereka.
Tepat sebelum kristal itu diluncurkan, sudut mata Lunar melihat bayangan seseorang di depan makhluk itu. Tak terlihat, berbentuk seperti hologram. Sosok itu menatap pada Mad Draygon yang berada di atasnya. Lalu bayangan itu samar-samar terlihat. Seorang wanita berambut ungu, di kedua lengannya terpasang pedang pendek. Wanita itu menggunakan seragam Arz yang sama seperti mereka, berdiri membelakangi mereka. Lunar seperti mengenalnya atau pernah melihat di suatu tempat di armada.
“Siapa dia?” gumam Lunar dalam hati. D
Eucli terihat seperti mengenalnya, dalam ketegangan di tempat itu, Eucli menyebut nama seseorang “Mavis…”
Melihat wanita itu berdiri di depannya, Mad Draygon segera masuk ke dalam lubang spiral hitam yang baru saja terbentuk di depannya.