Lunar mengikuti Mavis meski dia tidak begitu mengerti apa yang direncanakan wanita itu. Dia meminta Mae, Eucli, dan Ava untuk menyusul mereka berdua, berjaga-jaga jika ada hal buruk yang bisa terjadi. Mereka memasuki hutan Orla yang lebih rimbun, pepohonan semakin rapat, rumput-rumput lebih tinggi dari area sebelumnya yang pernah mereka lewati. Lunar memperhatikan ke sekeliling, hal yang sama terjadi di tempat itu, dia tidak melihat satu pun makhluk asli planet itu maupun Darlz, seakan keberadaan mereka telah lenyap tak bersisa.
“Apa kau menyadarinya, Lunar?” tanya Mavis secara tiba-tiba, membuatnya sedikit terkejut karena sejak tadi dia telalu berkonsentrasi memperhatikan keadaan di hutan yang mereka lewati.
“Ya… sejak pertama aku datang ke planet ini setelah perang itu, aku merasakan ada keanehan yang terjadi di planet ini. Keberadaan makhluk asli planet ini seperti telah lenyap. Aku bahkan tidak mendengar suara kicauan burung, nyanyian Mimi, ataupun serangga-serangga.”
“Kau benar, aku juga merasakan keanehan, aku diberikan misi ke planet ini oleh Moon. Kami mendapat laporan kalau Drayneel telah terbangun setelah tertidur beberapa saat. Sepertinya keanehan yang terjadi di sini ulahnya. Tapi aku belum diberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya diberitahu kalau Drayneel menghabisi tim pencari.”
Lunar sedikit mendapat titik terang mengenai misi Mavis, dia menduga Mavis diminta untuk menangkap Drayneel. Sejenak hening kembali, hingga sebuah teriakan mengejutkan mereka.
“Itu dari arah sana,” ujar Mavis sambil menunjuk jauh ke arah kanannya dan berlari mendahului Lunar yang masih mencerna suara teriakan yang baru saja didengarnya.
Sesaat kemudian Lunar mengikuti Mavis dari belakang, berlari cepat untuk mengimbangi Mavis yang ternyata berlari lebih cepat. Tubuhnya yang kecil membuatnya berlari sangat cepat hingga membuat Lunar mengira kalau wanita itu seperti terbang. Beberapa kali Lunar tidak melihat Mavis, wanita itu seperti tak terlihat, dalam beberapa detik tubuhnya menjadi bayangan yang berbentuk hologram, lalu sedetik kemudian Lunar dapat melihatnya kembali. “Kekuatan macam apa yang dimilikinya?” gumamnya dalam hati.
“Apa itu Drayneel?” tanya Lunar yang sudah menyamai kecepatan lari Mavis.
“Mungkin?”
Mavis tidak mengurangi kecepatan berlarinya. Sementara Lunar sedikit kewalahan, dia tidak menyangka wanita itu benar-benar cepat. Lunar merasa kekuatan yang dimiliki wanita lebih besar darinya, ditambah kekuatan menghilang yang dimilikinya. Dia berpikir kalau kekuatan menghilang yang dimiliki Mavis adalah salah satu kekuatan sihir.
“Ayo, Lunar. Kita harus cepat. Aku tidak ingin Drayneel membunuh Arz lagi.”
“Ya, Mavis,” jawab Lunar singkat. “Tapi apa kau tau lokasinya?”
“Kau meremehkanku? Apa kau lupa saat aku muncul di hadapan kalian saat Drayneel menyerang kalian?”
Lunar merasa telah malu telah mengatakannya. “Tidak, bukan begitu.”
“Sudahlah… lupakan. Moon sudah mengirimkan titik-titik pola p*********n Drayneel padaku. Pola yang sama dengan misi yang diberikan padaku.”
Lunar penasaran dengan misi yang dimaksud Mavis, sejak tadi Mavis ataupun Moon tidak memberitahunya tentang misi itu. “Misi apa yang kau maksud sebenarnya?”
“Kau tidak perlu tahu, cukup lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan.”
Mavis mempercepat larinya, membuatnya tak terlihat lagi karena dia menggunakan kekuatan menghilangnya. Lunar berlari lurus ke depan, dia hanya mengandalkan jejak yang ditinggalkan Mavis. Beberapa detik kemudian Mavis terlihat lagi tetapi sudah meninggalkan Lunar jauh di belakang.
“Apa? Bagaimana dia bisa begitu cepat?”
Lunar berusaha mengejar Mavis, tetapi wanita itu semakin jauh. Lunar melihat Mavis terhenti pada daratan yang luas, diam menatap pada udara di depannya. Saat Lunar menghampirinya, dia mendengar wanita itu meluapkan kekesalannya.
“s**l… kita terlambat. Dia sudah membawa mereka ke dalam lubang spiral hitam saat aku sampai di sini.”
“Apa yang terjadi?” tanya Lunar penasaran. Dia tidak melihat apapun di tempat itu, tidak ada bekas-bekas pertempuran ataupun mayat-mayat Arz yang telah dibunuh Drayneel jika memang makhluk itu telah membunuhnya.
“Dia membawa Arz itu masuk ke dalam lubang spiral hitam!” kata Mavis dengan nada kesal.
“Apa?” Lunar terkejut mendengarnya. “Membawanya ke mana?” Lunar yakin itu pertanyaan konyol yang tidak sengaja dilontarkannya. Tapi pertanyaannya itu telah keluar dari mulutnya dan tak bisa ditarik kembali.
“Entahlah. Ayo kita ke titik kordinat yang lainnya. Tim pencari sedang dalam bahaya. Begitu juga dengan tim mu, Lunar.”
“Aku sudah menghubungi mereka, aku rasa mereka akan segera menyusul.”
“Bagus! Aku rasa kita harus segera meminta pusat komando untuk membatalkan misi semua tim pencari dan meminta mereka semua kembali ke armada. Termasuk kau dan timmu.”
“Apa maksudmu, Mavis?”
“Kau tidak mau menjadi santapan Drayneel kan, Lunar?”
“Tentu saja tidak, tapi bagaimana dengan misi pencarian Fenz? Dia mungkin saja sedang dalam bahaya di suatu tempat di planet ini. Atau…” Lunar terhenti, pikiran buruk menghinggapinya beberapa saat. Dengan cepat dia menyingkirkannya.
“Atau dia sudah menjadi santapan Drayneel? Apa itu yang kau maksud, Lunar?” Mavis memunculkan kembali pikiran buruk itu, wanita itu memang berbeda dari penampilannya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya sangat menyakitkan, tetapi Lunar merasa kata-katanya itu benar.
“Tidak! Aku tidak mau berpikir seperti itu!” tegas Lunar. “Aku yakin dia masih hidup!” Lunar merasa dirinya sama menyedihkan seperti Eucli, atau lebih menyedihkan.
“Sadarlah, Lunar. Tempat ini telah menjadi medan pertempuran. Dan apapun bisa terjadi di sini. Ayo cepat kita harus segera pergi!”
Tanpa memikirkan perasaan Lunar, Mavis berlari mendahuluinya, meninggalkan Lunar yang masih muram. Setelah terdiam beberapa detik, Lunar mengejar Mavis, berusaha menyamai kecepatan wanita itu. Tetapi dia kehilangan jejak Mavis. Dia tidak melihat wanita itu berlari di depannya. “Gawat, apa dia secepat itu?” gumamnya.
Namun beberapa saat kemudian dia menangkap sosok Mavis. Dia melihat wanita itu berbelok, lalu dengan cepat dia mengikutinya. Di ujung pepohonan, Lunar melihat Mavis terhenti lagi, dan melihat sesuatu yang tidak ingin dia percayai. Lunar hampir berteriak saat melihat Mavis, membunuh seorang Arz.
“Apa yang kau lakukan, Mavis? Bukankah dia teman kita, sesama anggota Arz.”
Lunar mengangkis tebasan pedang pendek yang terpasang di kedua lengan Mavis dengan pedang Chill-nya.
“Menyingkirlah, Lunar. Bukankah kau ingin mengetahui misi yang diberikan padaku?”
“Apa?” Lunar tak percaya, dia terkejut mendengar kata-kata Mavis. “Membunuh Arz lain, itukah misi yang diberikan dewan penjaga?”
“Ya!” jawab Mavis singkat dan suarany terdengar sangat serius. “Maka dari itu menyingkirlah, aku harus menyelesaikan misiku. Mereka sudah terinfeksi energi negatif Darlz.”
“Tunggu… bagaimana mereka bisa terinfeksi, sedangkan di planet ini kehadiran Darlz saja tidak ada?”
“Apa aku harus mengulang pelajaran saat masih dalam masa training, Lunar?”
Tanpa keraguan, Mavis menghempaskan pedang Lunar, lalu menendang Lunar dengan cepat. Membuat Lunar terpental beberapa meter. Dengan cepat Mavis melancarkan beberapa s erangan pada Arz yang ada di depannya.
Lunar bangkit lalu meraih pedang Chill-nya yang terjatuh, dia bingung dan tak tahu harus melakukan apa. Lunar menatap pada tiga Arz yang telah tergeletak di tanah. Ada sesuatu yang aneh pada mayat ketiga Arz itu, Lunar melihat partikel hitam keluar dari tubuh mereka, terlihat seperti menguap.
“Apa itu?” tanyanya.
“Kau sudah sering melihatnya, kan? Itu adalah partikel Darlz. Mereka telah terinfeksi energi negatif Darlz.”
“Kalau hanya itu saja kan kita bisa membawa mereka ke medical center atau Arz pengguna sihir.”
“Itu sudah terlambat, Lunar. Tubuh mereka lemah, energi negatif Darlz telah menyatu pada hati mereka dan hal itu hanya akan menuntun mereka pada jalan kegelapan.”
Lunar tidak ingin mempercayai kata-kata Mavis, pasti ada jalan lain untuk menyelamatkan mereka pikirnya.
“Jadi… apa kau ingin menghentikanku, Lunar?” Mavis telah siap pada kuda-kuda bertarung, kedua tangannya disilangkan, sementara pedang kecil yang terpasang pada tangannya terlihat sangat tajam dan siap menyayat tubuh Lunar, jika dia menentangnya.
Lunar terdiam beberapa saat, lalu dia menghunuskan pedangnya pada Mavis. “Jika itu diperlukan, aku akan menghentikanmu. Jalanmu begitu berbeda dengan
prinsipku.” Kepala Lunar berdenyut sesaat setelah mengatakan kalimat terakhirnya. Seperti ada kepingan memori yang berusaha keluar dan memenuhi kepalanya. Lunar memegang kepalanya dan terjatuh ke tanah sambil mengerang kesakitan.
Mavis siap menye rang Lunar saat melihatnya bertingkah aneh, Mavis menduga Lunar juga sedang dalam pengaruh energy negative Darlz. Dengan cepat Mavis menarik tangannya, lalu dengan gerakan menyikut dia menebaskan pedang yang terpasang di lengannya.
Beruntung Lunar berhasil menahan s erangan Mavis dengan pedangnya, sementara tangan kirinya memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut. Lalu dengan cepat Lunar mengabaikan rasa sakit di kepalanya dan menghempaskan tangan Mavis, kemudian Lunar bangkit. Mavis mundur beberapa langkah ke belakang. Sementara Lunar diam menunggu gerakan Mavis.
“Sudahlah, aku tak ingin membunuhmu, Lunar. Aku tak melihat ada energi negative di dalam dirimu. Maaf telah menye rangmu tadi. Aku tidak mau menye rang Arz yang tidak memiliki energi negative Darlz di dalam tubuhnya.”
Lunar terkejut mendengarnya. “Lalu apa kau tetap ingin membunuh para Arz yang telah terinfeksi energi negative Darlz?”
“Ya… dan juga aku akan mengakhiri penderitaan Drayneel untuk selamanya!”
“Apa? Apa tidak ada cara lain?”
“Itu adalah cara tercepat untuk melenyapkan energi negative yang telah mengakar di dalam tubuh Arz.”
“Tapi… Bukankah itu sama saja dengan kejahatan?”
“Dan sebuah kejahatan membiarkan Arz menjadi wadah Darlz. Jika dibiarkan, Arz yang telah terinfeksi itu akan menjadi Darlz. Perawatan di medical center hanya memurnikan energi negative itu untuk sementara dan tidak mengenai bagian inti dari Arz. Selain itu, tidak semua Arz seperti dirimu, Lunar. Kau benar-benar bersih dari energi negative Darlz, padahal aku tahu benar kau telah mengalahkan banyak Darlz saat peperangan menghadapi Darlz Ildar beberapa hari lalu.”
Sekali lagi pukulan keras mengenai Lunar, dia terdiam beberapa saat. Kata-kata Mavis tentang dirinya yang bersih dari energi negative Darlz membuatnya tak percaya. Dia memang tidak merasakan keanehan apapun dengan sikapnya setelah perang itu. Seperti yang dikatakan oleh seorang tim medis yang merawatnya, kecepatan pemulihan dirinya sangat cepat.
“Bagaimana? Apa kau sudah mengerti, Lunar? Jika kau tidak mampu melakukannya, kau boleh pergi dari sini, kembalilah pada tim mu.”
Lunar merenung, hatinya bimbang dengan perkataan Mavis. Tapi jika yang dikatakan Mavis benar, para Arz itu akan menjadi bahaya bagi armada di masa depan. Lunar mengembalikan pedang Chill-nya ke capsule inventory, lalu dia mendekati Mavis.
“Baiklah… tapi apa kita bisa menyelamatkan mereka yang hanya terinfeksi sedikit energi negative Darlz?”
Mavis mengangguk lalu menyimpan pedangnya. “Tentu, ayo kita harus cepat.”
“Ya! Ayo!” Lunar memulai yang langkah besar saat mereka kembali mencari titik-titik kordinat yang muncul pada Uricle device milik Mavis.