Lunar berjalan bersama Mavis, melewati lorong-lorong gelap berdebu. Bau besi yang berkarat memenuhi lorong itu, ditambah bau-bau aneh yang membuatnya sedikit pusing. Mereka melewati lorong itu tanpa berkata apapun, di kepalanya telah berputar pertanyaan-pertanyaan yang membuat dirinya sendiri bingung untuk mengawalinya. Namun suara Mavis secara mendadak terdengar menggema di lorong itu.
“Dulu… kami tinggal bersama di tempat ini.” Suaranya berubah, yang sebelumnya tegas dan berwibawa, kini berubah menjadi lemah, seperti ingin menumpahkan kesedihan yang selama ini dipendamnya. “Aku dan Drayneel… kami selalu bersama, dan dia senang mendengar aku bernyanyi.”
Lunar hanya diam mendengar kata-kata Mavis, dia terus berjalan di sampingnya, tanpa mempercepat atau memperlambat langkahnya. Dia menatap lurus ke depan, ke arah lantai yang tertutup debu dan reruntuhan. Dia tak sedikitpun menoleh ke arah Mavis untuk melihat perubahan ekspresi wajahnya.
Mavis terdiam beberapa saat, mengingat masa lalunya bersama Drayneel. “Saat itu aku berusia dua belas tahun dan Drayneel juga masih kecil. Kami menjalani hari-hari suram bersama di tempat terkutuk ini. Saat para ilmuan gila itu selesai melakukan pekerjaan mereka, kami sesekali berjalan-jalan di tempat ini, di hutan Orla. Aku bernyanyi untuknya, dan kami duduk di bawah pohon besar yang ada ditengah hutan.”
Mavis menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh ke kanan, ke sebuah ruangan yang pintunya terbuka satu pertiga bagian. Lunar berhenti berjalan saat mengetahui Mavis berhenti dan berada tiga langkah di belakangnya, dia menoleh pada Mavis lalu pandangannya berpindah pada ruangan yang sama dengan yang dilihat Mavis. “Apakah itu pintu menuju terowongan yang aku lewati tadi?” gumamnya.
“Itu adalah tempat yang biasa kami lalui saat kami keluar dari tempat ini. Drayneel membawaku terbang, melintasi terowongan itu. Dia sangat senang melewati tempat itu, dan aku pun begitu. Itu adalah jalan tercepat menuju tempat rahasia kami berdua.”
Mavis mengalihkan pandangannya, kini Lunar dapat melihat sudut matanya yang basah karena air mata. Lalu berjalan lagi dan memimpin di depan. Lunar mengikutinya dari belakang dan menyusulnya dengan beberapa langkah yang cepat. Dia tidak ingin mengatakan apapun, atau berusaha menghibur Mavis, dia tahu itu adalah hal sia-sia, dan dia tidak tahu pasti apa yang telah terjadi pada Mavis dan naga itu.
“Kami selali bersama dalam suka dan duka. Bahkan kami mengisi kekosongan masing-masing. Selalu begitu… Drayneel membawaku di atas punggungnya, melintasi pepohonan hijau, lalu kami berdiam diri beberapa saat di sebuah tempat di atas pohon besar di tengah hutan. Tapi… organisasi dan ilmuan terkutuk itu merenggut kebahagiaan kami. Mereka membuat Drayneel menjadi s*****a penghancur dan kehilangan kontrol dirinya. Hari itu… hari terakhir aku bertemu dengannya. Kami masuk ke dalam ruangan yang telah dipenuhi dengan beberapa ilmuan. Merekaa semua membuat Drayneel mengamuk dan menjadi makhluk ganas.”
Suara Mavis terdengar bertambah berat, dia menahan tangisnya saat menceritakan kisah tragis itu. “Hari itu… Drayneel membunuh seluruh ilmuan di tempat ini lalu kabur dan mulai saat itu, dia menjadi pembunuh Arz.”
Setelah mengatakannya, Mavis diam memendam kesedihannya. Tidak berkata apapun hingga mereka sampai pada pintu yang terbuka lebar dan mereka telah sampai pada area hutan hijau Orla. Akhirnya mereka sampai pada pintu masuk tempat itu. dan dia baru menyadari kalau laboratorium uji coba itu dibangun di dalam sebuah gua. Mereka keluar dari pintu yang sebagiannya tertutup bebatuan. Lunar menoleh pada Mavis, dia tidak tahu harus berkata apa kepadanya.
“Ya ampun… Lunar kau ini memiliki bakat untuk melibatkan diri dalam masalah, ya?” Terdengar suara langkah kaki dari sebelah kanan mereka, dari perbatasan antara bangunan yang setengah hancur itu dan pepohonan, diikuti suara seorang wanita. Lunar menoleh pada asal suara itu, dan mendapati sosok yang telah dia kenal sebelumnya. “Moon?”
“Tak kusangka kau menguntit hingga ke tempat ini. Apa yang kau lakukan di tempat ini, Lunar? Bukankah kau sedang mencari Fenz bersama tim pencari?”
Lunar terkejut mendengar kata-kata Moon, dia tak menyangka dewan penjaga itu yang mengucapkannya. Dia tidak mengerti mengapa wanita itu mengatakan kalau dia menguntit, dan ada apa dengan tempat ini. Sebelumnya Mavis juga mengatakan hal yang sama. Apakah tepat ini tempat terlarang. Lunar hampir mengucapkannya tetapi dia urungkan, dia tidak ingin terlibat dalam masalah apapun.
“Mavis… aku heran melihatmu bekerja sama dengan Lunar. Anggota tim yang lain telah kau tolak untuk ikut melakukan misi ini.”
Lunar baru mengetahui kalau kata-kata yang keluar dari wanita bersuara lembut ini benar-benar menyakitkan. Rambut biru keabuan yang membingkai wajahnya yang manis telah berhasil mengelabuhi setiap mata yang melihat dirinya.
Lunar memilih kata-kata dengan hati-hati, dia tidak ingin memicu kesalahpahaman yang tak berarti diantara dirinya dengan tim dewan penjaga lainnya. Dan juga dia tidak mau merusak nama baik ketua timnya, Fenz, karena telah memiliki anggota tim yang sembrono.
“Tunggu… aku tidak sengaja terjatuh ke terowongan dan berakhir ke tempat ini.”
Moon tertawa mendengar perkataan yang baru saja diucapkan Lunar.
“Sudahlah… jangan dianggap serius, aku hanya ingin menggodamu, Lunar.” Wanita itu telah sampai tepat di depan Lunar, lalu menepuk pundak Lunar. Tubuhnya yang lebih pendek dari Lunar membuat tangannya terjulur ke atas seperti sedang berpegangan pada tembok yang tinggi. Sejenak mata mereka yang sama-sama berwarna biru bertemu, lalu wanita itu melewatinya dan menghampiri Mavis yang masih terbawa perasaan karena mengingat masa lalunya yang kelam. Lalu dalam sekejap ekspresi wajahnya telah berubah drastis.
“Kau sudah tahu apa yang sedang terjadi di tempat ini kan, Moon?”
“Spesialis pekerjaan kotor itu bukan hanya dirimu, tahu. Mavis…” Suara wanita berwajah manis itu kini berubah menjadi tegas lagi saat memanggil anggota timnya. “Kami sudah mengetahui kalau Mad Draygon sudah memulai aksinya, dan kami tahu pola-pola penyerangannya. Sepertinya kedatangan para Arz yang mencari Fenz dan juga tragedi. bangkitnya Darlz Ildar telah membuatnya terbangun setelah tertidur beberapa saat.”
“Ya… aku sudah melihatnya, ia telah menyerang Lunar dan timnya sebelum Lunar terjebak di tempat ini. Tapi… apa kau ingin mengujiku, mau menuruti perintahmu atau tidak?”
“Ya… terserah kau menganggapku seperti itu, aku tidak masalah, Mavis. Tapi… aku baru saja saja aku mendapat laporan kalau Mad Draygon telah membunuh beberapa Arz dari tim pencari Fenz.”
“Apa?” Mavis terkejut mendengarnya, dia merasa telah membuang waktu berjalan-jalan di tempat suram ini. “Tak perlu cemas, Moon. Aku tidak akan membangkang. Aku akan menjalankan semua misi yang kalian berikan. Tapi… untuk kali ini saja, biarkan aku yang akan menghadapi Mad Draygon.”
“Baiklah… Aku akan menunggunya, omong-omong aku mendapat pola penyerangannya. Sepertinya dia telah mendahuluimu.” Moon mengaktifkan Uricle device-nya lalu menunjukkan map Planet Orla yang telah ditandai beberapa titik-titik berwarna merah yang berkedip. “Ini adalah koordinat letak Mad Draygon menyerang anggota Arz.”
Moon menunjuk pada Uricle device-nya, lalu muncul titik-titik merah dan biru yang berkedip
“Lalu… ini adalah koordinat yang menjadi lokasi misimu tetapi telah dibatalkan.
Lunar memandang map yang ditampilkan pada Uricle device Moon, dia telah mendengarkan perkataan Moon dan Mavis. Dia sedikit mengerti dengan titik-titik yang menjadi pola p*********n Mad Draygon, tetapi dia tidak mengerti dengan tugas yang dimaksudkan kedua wanita itu.
“Meski waktunya berbeda, tetapi polanya sama,” kata Lunar spontan. Dia sudah tidak tahan hanya diam sedangkan kedua wanita itu membicarakan hal aneh.
“Kau benar, Lunar. Itu berarti Mad Draygon jauh lebih cepat sampai pada titik-titik itu.” Moon menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, memandang pola-pola Mad Draygon dan sepertinya sedang berpikir keras tentang sesuatu yang tidak diketahui Lunar.
“Sebenarnya apa yang kalian coba lakukan?” akhirnya Lunar melontarkan salah satu pertanyaan yang terus berputar-putar di kepalanya sejak tadi.
“Selama eksperimen pada Mad Draygon… bukan… maksudku Drayneel. Setelah eksperimen yang dijalankan kepadanya, sepertinya kemampuan untuk melihat partikel negative Darlz telah meningkat drastis. Lalu sebelum kau mengambil tindakan, Drayneel memakan Arz yang telah terinfeksi energi negative Darlz. Apa kau juga menyadarinya, Mavis? Drayneel yang sekarang, entah memiliki kesadaran atau tidak. Bagimu, menganggapnya sebagai penghianat pasti terasa lebih baik, ya.”
Lunar melihat ekspresi wajah Mavis yang sedikit ragu-ragu. Dia juga tidak mengerti apa yang dimaksud kedua wanita itu. “Misi apa yang mereka berdua bicarakan?” gumamnya dalam hati.
“Apa tujuan Drayneel mendahului Mavis, untuk mencegahnya membunuh Arz? Apa tidak ada cara untuk mengetahui niat sesungguhnya Drayneel? Dan misi apa yang sebenarnya kalian berdua bicarakan?” Lunar sudah tidak tahan lagi terus menebak-nebak, dia merasa harus menanyakannya langsung pada kedua orang itu.
“Niat asli? Misi?” Moon terkejut, lalu dia tersenyum karena pertanyaan Lunar. “Memangnya apa yang ingin kau lakukan setelah mengetahuinya, Lunar? Meskipun hasilnya untuk Mavis, Drayneel tetap menyerang Arz yang bahkan belum terpengaruh energi negative Darlz, seperti yang terjadi padamu dan timmu sebelumnya. Kami tidak bisa mengabaikan hal tersebut.”
Lunar terkejut mendengarnya, dia memang sudah pernah diserang oleh naga itu, meskipun dia yakin dirinya dan timnya sedang tidak dalam pengaruh energi negative Darlz. “Akan tetapi…” Lunar ingin menyanggah pemikiran Moon tapi wanita itu langsung mengatakan hal yang membuat dirinya lebih terkejut.
“Kita, para Arz bukan hanya sekedar alat. Kita mempunyai akal untuk memutuskan sesuatu.”
Lunar hanya diam mendengarnya, dia tidak ingin membantah perkataan Moon yang masuk akal itu. Tiba-tiba suara yang dikenalnya terdengar di kepalanya.
“Lunar…”
Suara Mae terdengar di dalam pikirannya, memecah konsentrasinya pada pembicaraan mengenai Drayneel dan Mavis. Dia fokus pada suara Mae yang sepertinya sangat mengkhawatirkannya. Dan Lunar mengingat-ingat apakah saat di dalam lorong dia juga telah mengabaikan suara Mae yang mungkin telah memanggilnya berkali-kali.
“Ya, Mae… Aku baik-baik saja, maaf baru menghubungimu. Saat ini aku sedang bersama Moon dan Mavis. Situasi saat ini sedang tidak baik.” Dengan segera Lunar berbicara pada Mae melalui pikirannya, dan dia tidak terlalu mendengar percakapan antara Moon dan Mavis. Dia berpikir bahwa dia akan mengikuti segala rencana yang dibuat oleh dua orang itu jika keadaan di tempat ini memburuk.
“Syukurlah. Tapi… apa sejak tadi kau tidak mendengarku?”
“Maaf… aku menemukan sebuah tempat berbahaya di sini, sebuah laboratorium uji coba yang mengerikan.”
“Baiklah… kirimkan koordinatmu, Lunar. Kami akan menyusulmu.”
“Oke, akan aku kirimkan secepatnya, aku ingin mendengarkan informasi lebih banyak lagi, jadi untuk beberapa saat aku akan diam dulu, Mae.”
“Oke, Lunar.”
Lunar lega karena Mae tidak mempermasalahkan dirinya yang telah mengabaikan panggilannya saat dia berada di dalam labratorium bawah tanah. Lalu dia kembali fokus dengan percakapan Moon dan Mavis yang ternyata sudah dia lewatkan terlalu banyak. Lunar melihat keduanya sedang merencakan sesuatu sambil menatap pada Uricle device Mavis.
“Keputusan akhir ada padamu, Mavis,” kata Moon sambil meninggalkan mereka berdua masuk ke dalam laboratorium itu.
“Baiklah…” kata Mavis sambil berbalik, lalu berjalan memasuki hutan Orla. “Apa kau mau ikut, Lunar?”
Tanpa berkata apapun, Lunar mengikuti Mavis dari belakang, berlari kecil hingga dia dapat menyusulnya. Mereka berjalan cepat, menuju suatu tempat. Lunar hanya mengkuti Mavis tanpa tahu tempat yang menjadi tujuan mereka.
Mereka terus masuk ke dalam hutan yang sepi itu. Dari jauh Lunar melihat sebuah pohon besar yang sangat rimbun. Saat telah berada di depan pohon besar itu, Mavis menengadah ke atas, Lunar mengikutinya, dan melihat ada sebuah cabang pohon yang besar. Mereka masuk ke dalam celah pohon itu, memanjat pada batang pohon menuju cabang pohon yang menjorok ke depan. Mavis memandang ke depan, pada pepohonan hijau.
Sementara itu, di tempat lain. Di atas bukit berbatu, Drayneel terlihat sedang membenturkan kepalanya pada sebuah batu besar di atas bukit. Terlihat seperti frustasi, lalu secara mendadak matanya berubah menjadi merah dan lubang spiral hitam terbentuk di depannya, kemudian naga itu menghilang, masuk ke dalam lubang spiral hitam yang membawanya entah kemana.