Lunar merasa mual saat memikirkan segala kemungkinan buruk yang melintas di kepalanya. Sepertinya saat ini dia telah memasuki terowongan bawah tanah yang sangat jauh ke dalam dan dipenuhi salju. Tubuh Lunar memelesat turun dengan cepat dan curam, licin karena salju yang mencair.
Lunar mengubah posisinya, memutar tubuhnya hingga posisi kakinya berada di depan, kemudian mencoba merentangkan tangan dan menahan laju tubuhnya. Tetapi tak ada gunanya, lelehan salju mengalir saat tubuhnya melesat di dalam terowongan yang dipenuhi salju.
Beberapa detik kemudian lapisan salju telah menghilang dan kini Lunar samar-samar dapat melihat dan merasakan kalau dirinya sedang meluncur di atas terowongan yang berkarat.
Jeritan Mae dan teman-temannya tidak terdengar lagi. Seketika kepanikan menguasai Lunar. Dia tidak bisa menghilangkan bayangan bahwa saat ini dia seperti sedang ditelan oleh makhluk raksasa dan berada di dalam kerongkongannya, hendak mendarat di lambungnya sebentar lagi. Dan, seolah khayalannya terwujud, kini bau di sekitarnya berubah, menjadi bau besi tua dan busuk. Lunar mulai merasa mual dengan bau yang mengganggu indera penciumannya. Dia berusaha keras menahan diri agar tidak memuntahkan dirinya sendiri.
Terowongan itu kemudian mulai berputar, berkelak kelok dengan tajam, membuat lajunya perlahan-lahan melambat, dan kaki Lunar membentur tepi lorong, membuatnya berputar sekali lalu dia berusaha memperbaiki posisinya lagi. Dia masih meluncur turun. Waktu seolah sangat panjang dan tiada akhir. Dia tidak menyangka kalau terowongan itu sangat jauh.
Dia terus berputar menuruni pipa terowongan itu. Lambungnua terasa panas karena putaran-putaran menukik tajam. Sedetik kemudian, Lunar meluncur keluar dari lorong dan mendarat dengan keras di atas lantai besi berkarat.
Gelap, Lunar tidak bisa melihat dengan jelas keadaan di sekelilingnya dan di mana dia berada. Bau besi tua memenuhi seluruh tempat itu. Lunar Lunar mengerang, dan masih gemetar karena kejadian barusan. Lalu dia bangkit dan mengambil lampu senter berbentuk tabung dari dalam capsule inventory-nya.
Dia menyorotkan lampu senternya ke sekitar, tidak ada apapun kecuali dinding dan atap yang tebuat dari besi yang telah berkarat. Di sebelah kirinya ada pintu yang tertutup, sementara di belakangnya terowongan tempat dia meluncur tadi. Dia merasa tidak ada jalan keluar kecuali pintu itu.
Lunar memeriksa seluruh sisi pintu itu, tidak ada gagang pintu ataupun celah untuk menarik atau menggesernya. Dan pintu terlihat masih sangat kokoh untuk di dobrak meski sudah termakan usia. Lunar merasa frustasi dengan keadaannya, tidak mungkin dia akan merangkak menaiki terowongan yang membawanya masuk. Satu-satunya jalan adalah pintu itu.
Tetapi dia tidak tahu bahaya apa yang mengintai dari balik pintu itu. Di tengah kekacauan pikirannya, dia menemukan papan tombol berdebu di kanan pintu itu. Tapi dia tidak yakin jika tombol-tombol itu masih berfungsi. Lunar mendekati tombol-tombol itu, beruntung tidak ada angka atau semacamnya, hanya beberapa tombol yang dia yakini berfungsi untuk menutup, membuka, dan meledakkan.
Lunar sedikit ragu, tetapi dia menekan tombol open. Seketika pintu itu bergemuruh dibarengi dengan pintu yang terbuka dari bagian bawah. Lunar menunggu beberapa saat hingga pintu itu terbuka seluruhnya, tetapi pintu itu hanya terbuka satu per empat bagian.
Lunar mengintip dari celah terbuka yang berada di bawah pintu. Sejenak memastikan keadaan di balik pintu itu. “Cahaya?” gumamnya dalam hati. Lunar melihat lorong sepi, tidak ada jejak kehadiran apapun di lorong itu, dan mendapati ada cahaya di ujung lorong.
Tanpa keraguan, dia melewati pintu dan masuk ke dalam lorong di depannya. Lunar berjalan perlahan sambil mengamati keadaan di lorong itu, lantai berkarat dan debu yang menutupinya. Di kanan dan kirinya terdapat reruntuhan dari dinding dan langit-langit yang sedikit berlubang.
Lunar menerawang ke dalam gelap langit-langit yang runtuh, tetapi tidak menemukan apapun. Lalu dia menuju suatu ruangan yang bercahaya. Lunar berada di depan pintu dengan kaca di bagian atas. Dia melihat ke dalam ruangan yang terang itu.
Lunar terkejut dengan yang dia lihat, sebuah ruangan yang dipenuhi dengan tanaman jagung dan sebuah robot kecil berbentuk manusia yang sedang memetik dua buah jagung. Robot itu mendekati pintu setelahnya, dan ajaibnya, pintu itu masih berfungsi dengan baik.
Lunar bersembunyi di balik gelapnya lorong itu saat pintu terbuka dan robot kecil itu keluar dari ruangan yang dipenuhi tanaman jagung. Lunar mengikuti robot itu dari belakang dengan hati-hati. Dia merasa penasaran, siapa yang telah mengendalikan robot itu dan orang yang telah menumbuhkan begitu banyak tanaman jagung di tempat seperti itu.
Lunar mengikuti dari belakang, menyusuri lorong gelap yang langit-langitnya telah rusak, kabeli-kabel terjuntai dari atas, dan beberapa potongan besi tak beraturan menonjol, menggantung di atas langit-langit. Robot itu terus masuk ke dalam lorong yang gelap seakan ia sedang dikendalikan seseorang.
Dari kejauhan Lunar melihat cahaya dari sebuah ruangan yang lain. Robot yang diikutinya masuk ke dalam ruangan itu. Lunar mempercepat langkahnya, dia tidak ingin membuang waktu dan membuat seseorang yang berada di ruangan itu mengetahui keberadaan dirinya dan kabur.
Dari jauh Lunar mendengar suara yang samar-samar dari ruangan yang terang itu. Suara parau dari seorang pria terdengar jelas saat Lunar telah sampai di depan ruangan yang tidak memiliki pintu.
“Dasar robot payah! Sampai kapan kau akan membawa sesuatu yang tidak ku makan? Yang bisa kau lakukan hanya menanam saja, payah!” Pria itu mengambil jagung dari tangan robot, lalu melempakannya pada lantai berkarat dan berdebu.
“Apa yang kau lakukan di sini, pak tua?”
Pria tua itu terkejut dengan kehadiran Lunar dan langsung berlari ke dalam lorong yang ada di sebelah kirinya sambil berteriak histeris.
“Hei… tunggu… aku tidak bermaksud mencelakaimu!’
Lunar mengejarnya hingga ke sebuah ruangan, dan mendapati pria tua itu ketakutan, pria itu bersembunyi dengan masuk ke dalam selimut, gemetar dan berteriak-teriak, menyuruh Lunar untuk menjauh dan pergi dari tempat itu.
“Tidak perlu takut pak tua, aku dari Arz. Aku bukan orang yang ingin melukaimu.”
Pria itu mengintip dari balik selimut, menatap Lunar yang telah berdiri di depannya dengan rasa takut dan gemetar. Dan mulai bicara pada Lunar.
“Apa kau punya makanan? Apa saja selain sayur!”
Lunar terkejut, menghela napas dan dia mengajak pak tua itu untuk duduk dan memberikan bekal yang dibawanya.
“Aku sedang mencari orang ini,” kata Lunar sambil menunjukkan gambar Fenz dari Uricle device-nya. “Apa kau pernah lihat?”
Secara spontan pria tua itu menjawab “Tidak.” Lalu dia melahap bekal Lunar yang diberikan kepadanya.
“Oh.” Lunar sedikit kecewa mendengarnya.
“Aku sudah dua tahun tidak bertemu dengan orang.”
Pria itu berpikir sejenak, mengigngat-ingat sesuatu.“Tunggu… mungkin tiga tahun.”
“Tiga tahun? Di tempat seperti ini?” Lunar sedikit tidak percaya, seseorang mampu bertahan hidup di tempat mengerikan ini selama tiga tahun.
“Tempat seperti ini? Tempat seperti ini, katamu? Ini adalah laboratorium! Lab yang jauh dari pemahamanmu. Benar…penelitian di tempat ini sangat berharga. Mana mungkin kau memahaminya.” Pria tua itu marah mendengar perkataan Lunar yang dianggapnya menghina tempat kerjanya itu.
“Maaf, aku hanya beranggapan kalau sangat sulit tinggal di tempat ini sendirian.”
“Di luar sana ada Drayneel.” Ekspresi pria itu berubah, menjadi ketakutan dan gemetaran ketika menyebutkan nama itu.
“Drayneel?”
Pria itu berhenti makan, lalu dengan wajah yang muram dia bercerita sedikit tentang nama yang dia sebutkan tadi, nama dari seekor naga yang pernah menyerang Lunar.
“Dialah yang yang menghancurkan lab dan membunuh seluruh rekan-rekanku. Padahal aku membesarkannya dengan tanganku sendiri! Tapi malah… Dia malah menghianati ku, menghianati kami semua.”
Terdengar suara dari Uricle device Lunar. Mae dan teman-temannya berusaha menghubungi Lunar. Namun saluran Uricle device terputus sebelum Lunar mengatakan sesuatu.
Pria itu histeris mendengar suara dari Uricle device, dia berhenti makan. Lalu kembali berteriak-teriak sambil berlari menyusuri lorong gelap.
“Tolong jangan bunuh aku!”
Lunar berlari dan berusaha mengerjarnya, namun dia kehilangan pria tua itu. Lunar mulai berjalan perlahan menyusuri lorong hingga ke sebuah ruangan yang menarik perhatiannya. Lunar mendapati sebuah foto di atas meja yang ada di sudut ruangan itu. Lunar terkejut melihatnya, seorang anak perempuan dan naga berwarna hitam yang berukuran sama dengan anak perempuan itu. Lunar mengamati foto itu, tetapi dia tidak mengenali anak perempuan yang ada di foto itu.
Lunar mendengar langkah kaki dari lorong di sebelah ruangan itu, lalu dia mendatangi arah suara yang didengarnya. Lunar mendapati pria tua itu berlari masuk ke dalam lorong yang gelap, lalu masuk ke sebuah ruangan. Lunar mengikutinya dan berhenti di tengah pintu ketika melihat keadaan ruangan itu. Noda darah terlihat di lantai dan dinding ruangan itu. “Apa yang telah terjadi di tempat ini?”
Pria tua itu berhenti berlari, lalu dia menjatuhkan dirinya ke lantai dalam posisi berlutut, menatap sedih kekacauan ruang tempat mereka berada.
“Ini adalah ulang Drayneel,” kata pria itu.
“Kami melakukan penelitian untuk organisasi Bernama Void. Penelitian sekaligus riset.”
“Void?”
“Void saja kau tidak tahu!” kata pria tua itu sinis
“Eksperimen apa yang kalian lakukan di tempat ini?”
“Proyek pengembangan Arz, dan juga untuk menciptakan seekor naga yang dapat dikendalikan. Kami menyebutnya eksperimen pemaksaan
“s*****a biologis ya?”
“Penelitianku adalah untuk menyatukan Arz dan naga. Arz dapat memperoleh kekuatan yang besar untuk subjek terbaik kami agar dapat menyelesaikan misi-misi yang sulit. ”
“Akan tetapi pada hari itu, Drayneel mengamuk dan membunuh semua rekanku.” Dia menengadah ke atas, ke arah lubang menganga di langgit-langit ruangan itu.
“Lalu siapa orang yang ada di foto ini?” tanya Lunar sambil menunjukkan sebuah foto yang diambilnya dari ruangan lain di tempat itu.
Tiba-tiba di samping Lunar muncul sebuah bayangan yang perlahan berubah menjadi hologram lalu menjadi sosok seorang wanita berseragam Arz. “Kau…”
“Kau anggota muda tim dewan penjaga Fenz, kan?” tanya wanita itu sambil berjalan di depannya, lalu wanita itu “Kau ingin memata-mataiku ya, Lunar?”
Lunar terkejut mendengarnya, “Memata-matai?” gumamya dalam hati.
Pria tua itu berteriak lagi saat melihat sosok wanita yang ada di foto itu kini berada di hadapannya. Sambil bersujud di depan wanita itu dia memohon. “Tolong jangan bunuh aku, Mavis.”
“Ternyata masih ada yang hidup, ya!”
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Lunar terkejut saat melihat wanita itu bertingkah seperti ingin membunuh pria tua di hadapannya. Lunar menahan wanita itu, tetapi tanpa perlawanan, wanita itu mundur beberapa langkah.
“Aku… Mavis, anggota dewan penjaga Moon. Kita pernah bertemu beberapa kali saat upacara Uricle. Lalu apa yang kau lakukan di sini? Kau penasaran denganku?”
Dengan singkat Lunar menceritakan kejadian yang dia alami saat berjalan menuju monument penyegelan Darlz. “Aku terjatuh ke dalam sebuah lubang di area bersalju, lalu aku sampai di tempat ini.”
“Itu adalah tempat persembunyianku dan dia.” Wanita itu berubah menjadi muram saat mengatakan kata terakhir.
“Dia?”
“Drayneel, temanku yang malang. Dia menjadi subjek penelitian Void bersamaku.”
“Apa?” Lunar terbelalak mendengarnya, dalam hatinya dia tidak percaya kalau anggota tim dewan penjaga itu pernah mengalami hal mengerikan di masa kecilnya.
“Sudahlah, lupakan itu. Sekarang pergilah dari sini, Lunar,” bentak Mavis.
“Aku juga ingin keluar dari sini, Mavis. Bisa kau antar aku keluar dari sini?”
Wanita itu menghela napas, lalu dia berjalan meninggalkan pria tua itu dan meminta Lunar mengikutinya.
Lunar mengikutinya dari belakang, menoleh ke pria tua itu sebelum dia keluar dari ruangan yang mengerikan itu. dia sedikit menyesal tidak dapat berbuat sesuatu untuk pria itu. Lunar dan Mavis berjalan menyusuri lorong yang berkelok-kelok. Tidak ada keraguan terlihat saat Mavis memilih jalan yang akan mereka lewati seakan wanita itu sangat paham dengan tempat itu.