Lunar tidak bisa berkata-kata lagi, Mae memegangi pundaknya, mencegah Lunar untuk melakukan hal bodoh. Sedangkan Eucli terlihat menahan amarah sekaligus kesedihannya. Lunar tak menyangka Mavis mampu mengatakan hal itu secara terang-terangan. Tak bisakah wanita itu memilih kalimat yang lebih baik, Lunar mendesah, lalu menghempaskan tangannya kesamping tubuhnya, melampiaskan rasa kesalnya pada udara.
"Tenanglah, Lunar." Kini suara Mae terdengar di telinganya, lalu dia melanjutkan berbicara pada Lunar melalui pikirannya. Ekspresi wajah Mae menunjukkan dia akan mengatakan sesuatu yang penting. Kemudian wanita itu memejamkan matanya beberapa saat, dan memusatkan pikirannya untuk berbicara pada Lunar.
"Lunar… dengarkan aku.” Suara Mae terdengar sangat lembut di dalam pikirannya. “Kami sudah mencari Fenz ke area monumen penyegelan, kau sudah lihat kan, area itu kini telah berubah menjadi sebuah lubang besar. Kami menghancurkan batu-batu yang menutupi lubang itu dan mencari hingga ke dasar lubang, tetapi hanya menemukan weapon Fenz. Tidak ada jejak Fenz sama sekali di sana, bahkan potongan seragam atau apapun yang berhubungan dengannya.”
Mae melepaskan pegangannya pada pundak Lunar, lalu merubah posisi berdirinya menjadi lebih relaks sebelum dia melanjutkan perkataannya. Kini rambutnya yang berwarna ungu berayun mengikuti angin yang meniupnya perlahan. Sesekali rambut panjang Mae mengenai pundak Lunar hingga ke wajahnya. Dan, entah mengapa Lunar tidak merasa risih dengan hal itu.
“Eucli sudah memutuskan dia tidak akan mencari Fenz lagi, dia sudah mengikhlaskan Fenz dan tak ingin mengharapkan apapun lagi. Lebih tepatnya, Eucli sudah tidak ingin menggantungkan harapan kosong lagi. Jadi tolong jangan buat hatinya bimbang dengan kemarahanmu, Lunar."
Lunar terdiam beberapa saat, memikirkan langkah apa harus dia ambil selanjutnya. Dalam hatinya dia menyesali keputusan Eucli yang terlalu mudah menyerah, bahkan dirinya sendiri belum mencoba mencari Fenz sama sekali.
“Bukankah Eucli terlalu cepat menyerah? Sebenarnya apa yang ada di pikirannya saat ini?’”
“Entahlah, memangnya aku bisa membaca pikiran orang lain, Lunar. Aku sendiri bingung dengan jalan pikiran Eucli. Tapi kita tidak bisa membuatnya semakin menderita dengan harapan-harapan kosong.”
Lunar merasa kata-kata Mae benar, dia juga tak ingin membuat Eucli terpuruk dengan harapan yang belum jelas kebenarannya. "Lalu, bagaimana menurutmu, Mae? Apakah kita harus mengikuti rencana Mavis? Apa kau percaya padanya?"
"Sepertinya begitu, kalau yang dikatakan Mavis benar, itu berarti seluruh Arz yang menjadi tim pencari sedang dalam bahaya. Kita tidak bisa membahayakan jiwa mereka. Tentu saja tidak, aku tidak percaya sepenuhnya, tetapi mengingat dia juga seorang Arz, aku rasa dia tidak akan menghianati sesama Arz. Ingat Lunar, kita berempat dan dia hanya sendiri, kalau dia menyerang kita, itu sama sama saja dia bunuh diri."
Lunar tak yakin dengan itu, dia sudah melihat Mavis membunuh beberapa Arz dengan alasan yang tak jelas, dan dia sudah melihat kekuatan Mavis, dengan gerakan yang cepat ditambah kemampuannya menghilang mungkin akan membuat mereka berempat kerepotan.
"Ya, tapi kita tidak boleh meremehkannya. Kau ingat, Mae? Bayangan yang menghentikan Mad Draygon saat makhluk itu menyerang kita, bayangan itu adalah Mavis, dia memiliki kekuatan untuk menyembunyikan dirinya dan juga hawa keberadaannya."
Mae terdiam sejenak, ekspresi wajahnya tak berubah sama sekali, lalu wanita itu menatap tajam pada Mavis yang berada jauh di depannya. "Aku sudah mengiranya, tidak mungkin dia berani menjalankan misi seorang diri kalau dia bukan orang yang kuat. "
"Ya, kau benar, jadi jangan remehkan dia, sementara ini yang bisa kita lakukan adalah mengikuti semua rencananya hingga waktu yang tepat datang dengan sendirinya, jika gerak geriknya mencurigakan, kita harus menghentikannya."
"Ya, Lunar. Aku juga berpikir begitu. Lalu, apa kau sudah tenang sekarang?"
Lunar tak menyadari Mae telah menatap ke arahnya. Dengan anggukan kecil Lunar mengisyaratkan pada Mae kalau dirinya sudah merasa lebih baik. Berbicara dengan wanita itu membuat beban yang menggantung di pundaknya terasa lebih ringan. Menyimpan masalah sendiri memang bukan keputusan yang tepat pikirnya. Lalu Lunar teringat dengan Eucli, mereka tidak dapat membuat keputusan dan bergerak sendiri tanpa persetujuan darinya.
"Ya. Tapi bagaimana dengan Eucli dan Ava? Tidak, lupakan Ava, dia pasti akan mengikuti kita apapun yang terjadi."
Lunar dapat memastikan hal itu, karena Ava memang seperti itu, dia jarang membantah keputusan Eucli atau Fenz sebelumnya. Dan Lunar baru pertama kali melihat dia begitu marah.
“Sepertinya Eucli akan mengikuti rencana Mavis, lihatlah dia, raut wajahnya telah berubah, sepertinya Eucli juga sudah memutuskan Langkah selanjutnya.”
“Ya, semoga saja begitu.”
Pikiran Lunar berpacu dengan ratusan pilihan kata-kata, tetapi dia tahu harus bermain dengan baik. Diam adalah keputusan terbaik untuk saat ini. Hal yang paling penting sekarang adalah mengumpulkan sebanyak mungkin informasi dan kemudian mengambil langkah jika Mavis melakukan hal gila.
Semua orang terkejut saat Uricle device milik Mavis mengeluarkan bunyi yang beruntun, seperti sirine tanda bahaya saat Darlz Ildar menyerang. Mavis langsung melihat map yang nenunjukkan pola pergerakan Mad Draygon.
"Kita harus cepat sebelum Drayneel membunuh lebih banyak Arz," kata Mavis sambil berbalik menuju arah yang ditunjukkan pada map. Namun dia terhenti saat tidak ada satupun yang menanggapinya. "Baiklah, aku akan pergi sendirian, lagipula ini misi yang diberikan padaku langsung."
"Tunggu, kami akan ikut. Tapi sebelum kita mencari makhluk itu, kita harus membatalkan misi semua Arz yang ada di planet ini dan meminta mereka semua kembali ke armada." Kini suara Eucli terdengar lebih tegar, tampaknya dia telah membuat keputusan. Dia bukanlah seorang wanita yang bisa dikalahkan dengan perasaannya, terlebih jika hal itu berhubungan dengan tugasnya sebagai Arz.
"Bagus. Sepertinya kau sudah mengerti situasi yang sedang kita alami saat ini. Kalian berdua, kembalilah ke kapal dan hubungi semua rekan kalian untuk kembali," kata Mavis sambil mengisyaratkan kepada Freed dan Biglow yang berdiri di sampingnya.
Tanpa berkata apapun, kedua Arz itu mengangguk lalu berbalik arah dan pergi ke tempat kapal mereka mendarat sebelumnya. Sedangkan Ava berjalan mendekati Lunar dan Mae. Wajahnya kini sudah tidak sesuram saat pertama dia mendengar kata-kata menyakitkan Mavis.
Lunar menepuk pundak Ava dan langsung membisikan padanya rencana yang telah dibuat Lunar dan Mae untuk mengikuti Mavis. Seperti dugaan Lunar, Ava langsung menyetujuinya.
"Ayo!" teriak Mavis sambil memimpin mereka di depan. Melesat ke dalam hutan dengan cepat, sesekali dirinya menghilang dalam hitungan detik, lalu muncul kembali dan sudah berada jauh di depan Lunar dan timnya.
Eucli berada di belakang Mavis, berlari sekencang yang dia bisa, dibelakangnya Lunar, Mae, dan Ava mengikuti, berusaha menyamakan kecepatan Mavis. Lunar sudah tidak terkejut lagi dengan kecepatan lari Mavis, dia sudah pernah merasakan tertinggal jauh di belakang dan melihat Mavis menghilang.
“Apa dia benar-benar manusia? Aku meragukannya. Sepertinya dia manusia super.”
Suara Mae Terdengar di dalam kepala Lunar, kalimat terakhir Mae membuatnya sedikit terkekeh. “Sudah aku bilang tadi, dia dapat menghilang, kan.”
“Hei… apa kau mengejekku?”
“Ya,” kata Lunar sedikit menggoda Mae. Lunar merasa kepolosan Mae telah muncul kembali, setelah akhir-akhir ini wanita itu berubah menjadi wanita yang mengerikan. Lunar teringat dengan wajah polos Mae saat dia menjenguknya di medical center. Saat itu Mae baru saja siuman setelah ditemukan tak sadarkan diri di planet ini.
Mengingat kejadian-kejadian aneh itu membuat Lunar berpikiran kalau Planet Orla mungkin mendapat kutukan. Lalu, Lunar segera menyingkirkan keinginannya untuk mengingat kejadia-kejadian itu, dia Kembali fokus mengejar langkah Mavis yang sudah semakin menjauh.
Lunar tidak dapat membayangkan kalau Mavis membunuh Arz lain lagi saat mereka tertinggal di belakang. Lunar berpikir kalau dia harus mempercepat larinya. Lunar mencobanya, tetapi menambah kecepatan sama aja menghabiskan energi dalam tubuhnya dan membuatnya lebih cepat habis. Tentu itu bukan keputusan yang tepat.
“Sepertinya dia memang manusia super, dilihat dari penampilannya aku merasa curiga dengannya. Atau mungkin dia manusia setengah naga?”
Lunar tersentak saat mendengar Mae mengucapkan tiga kata terakhir, lalu dia mengingat-ingat cerita yang didapatnya dari pria tua saat dia tersesat di dalam reruntuhan laboratorium. Lunar ingin mengatakannya pada Mae, tapi dia mengurungkannya.
“Mungkin saja.”
Mereka kembali fokus pada jalan yang ada di depan mereka, Eucli masih berlari di depan, sedangkan Mavis sudah jauh meninggalkan mereka. Beberapa kali Lunar melihatnya menghilang, lalu dalam beberapa detik terlihat lagi sudah pada jarak yang lebih jauh.
Saat mulai mendekat koordinat yang menjadi tujuan mereka, suara raungan dari Mad Draygon terdengar keras, diikuti hentakan-hentakan kuat pada tanah, suara tembakan dari weapon Arz terdengar beruntuns seirama dengan hentakan kaki Mad Draygon, tak lama suara teriakan Arz yang menjadi mangsanya terdengar memilukan.
Lunar ingin segera sampai ke tempat itu, membantu para Arz yang terdesak oleh makluk itu. Lunar mempercepat langkahnya, begitu juga dengan Mae. Dalam hitungan menit mereka sampai pada titik koordinat yang dimaksud oleh Uricle device milik Mavis. Kali ini mereka berhasil sampai pada arena pertempuran dan menghentikan Mad Draygon sebelum makhluk itu melempar Arz ke dalam lubang spiral hitam.
Makhluk itu terdiam sejenak saat melihat Mavis sudah ada di depannya, siap dengan sepasang pedang pendek yang terpasang pada lengannya. Sedetik kemudian makhluk itu meraung, aura gelap terlihat menyelimuti tubuhnya yang besar. Tanah bergetar saat makhluk itu menghentakan kakinya, lalu siap menyeruduk Mavis yang masih diam menatap tajam makhluk itu.
Lunar dan Mae mengeluarkan weapon masing-masing dari dalam capsule inventory, lalu berdiri dalam posisi siap menyerang. Eucli yang ada di belakang Mavis juga telah siap dengan tongkat sihirnya, dari ujung tongkat sihir itu telah terbentuk pola aktivasi sihir yang siap dilemparkan pada makhluk besar di hadapannya. Ava juga siap dengan rifle-nya, jari telunjuknya sudah berada pada pelatuk dan siap menekannya jika makhluk itu mengincar mereka.
Tiga Arz yang sebelumnya berhadapan dengan makhluk itu seketika terjatuh ke tanah karena kelelahan, sementara Mad Draygon belum mendapat luka berarti. Malah sebaliknya, makhluk itu terlihat lebih kuat. Aura gelap yang menyelimuti tubuhnya semakin tebal, berputar di sekujur tubuhnya. Sementara tonjolan-tonjolan di dadanya tidak terlihat. Lunar menduga tonjolan itu sudah tertutup dengan lapisan keras berwarna ungu yang kini menggantikan tonjolan yang sebelumnya berwarna merah menyala.
Mad Draygon memulai serangannya, makhluk itu menyeruduk Mavis yang berada paling depan. Dengan gerakan cepat, Mavis melompati tubuh makhluk itu hingga berada di atasnya. Melayang di udara beberapa saat lalu terjun menukik ke punggung Mad Draygon yang membelakanginya.
Mavis mengarahkan tebasan twin dagger-nya pada salah satu sayap makhluk itu. Melihat hal itu, Lunar ikut membantu menebaskan pedangnya pada sayap yang diincar oleh Mavis. Dia melompat setinggi yang di bisa untuk menggapai sayap itu, lalu dengan cepat menebaskan pedangnya.
Namun tangannya tersentak kuat saat pedangnya mengenai sayap makhluk itu yang ternyata sangat keras. Melihat hal itu, Lunar melompati tubuh makhluk itu dan mendarat di depan Mae.
“s**l, ternyata makhluk itu bertambah kuat,” kata Lunar sambil berbalik setelah mendarat di tanah.
“Hati-hati, Lunar. Lihatlah, Mavis bertarung sengit dengan mahkluk itu. Sepertinya dia telah mengetahui titik kelemahan makhluk itu. Dia mengincar beberapa titik berkali-kali.
Lunar memperhatikan pergerakan Mavis, membaca setiap pergerakannya, lalu Lunar bersiap melancarkan tebasan pedang selanjutnya, diikuti dengan Mae yang sudah membentuk pola aktivasi sihir di ujung tongkat sihirnya.