Aku pernah membaca arti kata Euphoria dalam internet. Jujur, itu adalah 'Kata' yang amat menyenangkan. Membuat aku nyaman mendengarnya bahkan dalam sebuah lagu.
Apa artinya? Pernah kubertanya ke benakku sendiri dan sontak kujawab, perasaan senang dan bahagia yang meluap-luap bagai lava dari gunung meletus.
Mataku langsung terbuka lebar, menyadari sinar surya menyusup dari balik helaian gorden putih bersih dan panjang di hadapanku.
Belum beberapa menit, aku sadar kalau ini bukanlah kamarku. Perkataan dalam mimpiku tadi masih terasa bagai embun yang menyembul di pikiranku. Bau menyengat obat membuatku sadar bahwa aku bukan lagi berada di rumah. Aku ... di rumah sakit.
***
Belum sempat aku parkir motor, ibuku sudah mengoceh karena ban motorku mengenai lantai rumahku yang baru saja dipelnya. Maklum, hujan baru saja reda beberapa menit yang lalu, dan ban motorku sudahlah pasti becek dan kotor yang pastinya membuat ibu jadi ngomel-ngomel seperti sekarang.
Kalau saja Jakarta tidak sepadat sekarang, sudah kupastikan aku bisa sampai rumah lebih awal dan mengatakan 'Aku mengalahkanmu loh!' pada hujan yang tersipu malu karena tak bisa mengguyurku. Ya, intinya aku basah, kedinginan, butuh kehangatan, dan yang ada aku malah kena omel hanya karena ban—kotor—ku menginjak lantai kesayangan ibu.
Kulepas helmku yang sama basahnya dengan tubuhku, lalu menaruhnya di atas kerangka jemuran yang kebetulan berada di garasi. "Bu, Aku tuh baru pulang. Masa udah diomelin aja sih," keluhku.
Untung ponsel, buku, serta 'perkakas' kuliahku yang lain masuk di dalam box motorku yang lumayan besar yang bahkan kata teman-temanku box motorku ini bisa untuk memandikan bayi. Haha, konyol.
"Makanya, kamu tuh kalau hujan, neduh dulu! Ngapain ujan-ujanan? Kaya mau ambil gaji aja!" omelnya lagi. Kali ini ibu mengepel berulang kali bekas banku yang sebenarnya sudah bersih kinclong saat ini.
"Ya ampun, Bu. Aku pulang telat salah, pulang duluan tapi kehujanan salah. Salah mulu aku tuh bu." Aku langsung melepas sepatuku dan naik ke lantai atas, tepatnya ke kamarku yang letaknya berseberangan dengan letak kamar adik lelakiku.
Kamarnya sepi, jadi kuyakin ia masih sekolah. Maklumlah, murid 3 SMA, pasti sedang sibuk-sibuknya belajar. Jadi kuputuskan untuk langsung mengganti bajuku dengan piyama dan merebahkan tubuhku yang lelah ini ke atas pelukan hangat kasur dan selimut yang telah menantiku.
Namaku, Rainy Jeremy Lee. Aneh ya. Cukup aneh dan memang aneh. Ibuku asal Australia sedangkan ayahku berasal dari Korea Selatan, dan kami menetap di Indonesia saat ini.
Sejujurnya bahkan aku nggak benar-benar pernah ke Aussie maupun Korsel. Sepertinya kedua orangtuaku memiliki kendala yang sama dengan mertua mereka masing-masing dan yah sejujurnya aku nggak begitu peduli. Tanpa granpa dan grandma atau halmonie dan harabojie, aku sudah memiliki kasih sayang yang lebih dari cukup dari keluarga yang amat kusayangi.
Ya sudahlah, intinya orang-orang memanggilku, Rain. Atau kalau orang itu cukup dekat denganku sih, mereka suka meledeki namaku dengan memanggil-manggil namaku setiap hujan turun.
Aku mahasiswi informatika semester 5. Jangan tanya umurku, karena aku lebih tua dua tahun dari teman-teman seangkatanku yang lain. Bukan karena aku sewaktu sekolah pernah tidak naik kelas atau apa, tapi kata ibu, sewaktu kelulusan SMA, aku sempat kecelakaan dan koma kurang lebih dua tahun. Jadi aku telat masuk ke perguruan tinggi yang padahal teman seumurku yang lain mungkin sudah pada menikah atau bahkan sudah bekerja dan lulus dari bangku kuliahan, eh kecuali yang jadi mahasiswa abadi sih hihi.
Aku juga memiliki kekasih. Kebetulan kampusku bertipe internasional, jadi banyak mahasiswa/i dari negara lain kuliah di kampusku, termasuk pacarku yang blasteran ini. Namanya, Taehyung Edmund Shin. Aku biasa memanggilnya dengan Tae, dan ia memanggilku 'Noona' sedangkan yang lain yang tidak dekat dengannya memanggilnya dengan sebutan 'Ed'. Taehyung memang hampir sama sepertiku, keturunan Aussie-Korsel tapi ia lama tinggal di Aussie dan keluarganya pindah ke Indonesia yang pada akhirnya membuat Taehyung masuk ke kampus kami dan bertemu denganku.
Kubuka aplikasi w******p di ponselku. Sejak tadi Taehyung sudah mengirimiku pesan singkat di sana dan belum sama sekali k****a. Habis, isi pesannya selalu sama. Kalau tidak 'Selamat pagi/siang/malam' pasti ia bertanya, 'Sudah makan belum? Sedang apa?'.
Kami memang sudah memulai hubungan cukup lama, tepatnya saat kami masih sama-sama menjadi Maba (Mahasiswa Baru). Taehyung yang gencar selama berbulan-bulan ingin mengencaniku akhirnya benar-benar jadian denganku hingga sekarang. Padahal, banyak juga Kating (Kakak Tingkat) yang naksir padanya, tapi ia bilang ia hanya mengencani kaum mata sipit sepertiku. Rasis sekali ya, padahal mataku tidak sipit loh. Mataku bulat dan cantik, mungkin maksud perkataannya, dia tak suka gadis lokal. Sangat rasis, hm.
Incoming call
Taehyung called you
"Halo, Taehyung."
"Noona, kenapa WA aku nggak dibaca?"
"Aku baru banget tiduran di kasur, Sayang. Maaf ya."
"Gapapa."
"Ih ngambek, nanti aku cubit mau?"
"Nggak ngambek."
"Halah boong. Aku cubit beneran loh besok di kelas."
"Hehe, jangan Sayang. Aku bercanda. Bagus deh kalo kamu udah di kamar. Pasti keujanan ya? Aku anter pulang gamau sih."
"Rumah kamu kan jauh, Tae."
"Ya terus kenapa, Noona? Biar rumah aja yang jauh, cinta aku ke Noona enggak."
"Gausah belagak ngegombal deh kamu. Kerjain tugas pemrograman gih. Aku mau ngerjain juga nih."
"Digombalin tuh seneng kek orang mah."
"Taehyung. Noona seneng kok digombalin sama kesayangan noona."
"Telat."
"Ngambek terus kamu, nanti aku cium tau rasa."
"Asik tuh, ngambek terus aja ya biar dapet cium noona, hehe."
"Gila kamu!"
"Bye sayang. Kerjain yuk tugasnya. Aku chat lagi nanti ya. Love you, mmmuach."
"Love you more, Sayangku."
Pip.
Telepon mati, tapi senyumku belum juga pupus. Itu dia Taehyungku. Taehyung yang akan membuat hari-hariku akan terus berwarna. Hah, sayang sekali, hari esok masih sangat lama. Padahal aku sudah rindu, ingin cepat-cepat bertemu Taehyungku.
***
"Noona!"
Seperti biasa, ketika Taehyung memanggilku dengan sebutan 'Noona' gadis-gadis lokal pecinta Cogan (Cowok Ganteng) pasti langsung berteriak histeris. Kalau aku menjadi mereka pun, sepertinya akan sama histerisnya.
Taehyungku itu tampan. Berlipat-lipat kali tampan dari orang-orang yang pernah kutemui sebelumnya. Apalagi dengan rambut blonde-nya sekarang, dan gaya rambut mullet yang membuat penampilannya 100% menjadi lebih tampan dari sebelum-sebelumnya. Huwah, betapa beruntungnya aku memiliki pacar seperti Taehyungku.
"Kamu udah sarapan belum?" tanyanya lembut waktu aku sampai di hadapannya.
Aku menggeleng. Jelas belum. Tadi pagi sewaktu akan berangkat, aku bangun sangat terlambat. Tidak sempat sarapan, apalagi dandan, aku bahkan memakai make up-ku di belakang boncengan ojol (Ojek Online) saking terlambatnya aku. Jadi sekarang aku merasa seperti gembel yang kelaparan. Apalagi matkul (Mata Kuliah)ku hari ini tidak sama dengan Taehyung, jadi aku merasa merana seharian.
Taehyung langsung mengusap pipiku yang langsung membuatku tersenyum. Kuusap juga tangannya yang mengusap pipiku dengan lembut. "Makan dulu ya sama aku?"
"Gapapa nih? Kamu kan mau futsal, Tae?" ujarku.
"Masa aku mentingin futsal daripada pacar aku yang kelaparan? Aku bisa dateng belakangan kok, Sayang. Yang penting Noona ga sakit nanti."
"Taehyung, bisa ga jangan bikin aku melting sehari ... aja."
"Kayanya udah bawaan dari lahir, hahaha."
Kami pun tertawa bersama lalu seperti kata Taehyung, kami ke salah satu tempat makan lalu Taehyung mengantarku ke tempat Bibiku.
Ini karena ibu. Ibu dan ayah harus pergi ke luar kota sampai tengah malam, tapi ibuku lupa menitipkan kunci, jadi aku dan Noah—adikku—harus pulang ke rumah bibiku dulu dan baru nanti ibu dan ayah akan menjemput kami pulang. Ya itupun kalau mereka pulang hari ini.
"Gapapa aku langsung tinggal?" tanya Taehyung waktu kami sampai di rumah bibiku.
"Gapapa ih, Tae. Kamu kan udah telat banget mau futsal. Gih jalan. Kabarin aku ya kalo udah sampe."
Taehyung mengangguk, tanpa peringatan, ia mencuri ciuman di bibirku sekejap. Aku segera panik. Kulihat ke kiri dan ke kanan, takut sekali akan ada orang yang melihat Taehyung barusan menciumku. Masalahnya, ini Indonesia loh, bukan Aussie apalagi Korsel. Jangankan cium-cium, berpelukan saja sudah dilihati orang sekampung. Ada-ada saja Taehyung. Kalau mau cium kan, dia bisa melakukannya di dalam. Haha.
"Aku berangkat ya, Sayang."
"Iya, Tae. Hati-hati kamu di jalan."
Lalu mobil Taehyung melaju meninggalkan rumah bibiku.