Usai kepergian Taehyung, aku membuka gerbang pintu rumah bibiku. Gerbangnya sudah lumayan usang termakan usia. Di bagian engsel, besinya sudah mulai keropos akibat karat yang menggerogoti di tiap bagian besi tersebut.
Rumah bibiku masih asri. Berada di daerah pinggiran Jakarta dan yang masih lumayan sepi. Ketika hampir masuk ke dalam gerbang, seseorang keluar dari gerbang samping, tempat dimana bibiku menyewakan kamar kos khusus pria di sana. Dan ya, tentu saja yang keluar barusan adalah pria.
Tunggu, kita bahas soal bibiku dulu. Sebenarnya bibiku ini bukan bibiku yang sebenarnya. Beliau adalah teman dekat ibuku sewaktu dulu mereka kuliah di Aussie. Sampai berumah tangga pun, keluarga bibi dan keluarga kami masih saling berdekatan, jadi kami menganggap satu sama lain sebagai saudara.
Oke, balik ke topik. Ada satu hal yang membuatku keanehan. Baru kali ini aku melihat penyewa bukan berasal dari orang lokal. Maksudku, ya ampun. Lelaki ini ganteng banget.
Ia juga melihatku saat ini yang masih terkesima melihat ketampanannya yang hakiki. Maklum lah, begini-begini aku juga pecinta cogan.
"Halo, mau ketemu ibu kos?" sapanya.
Aku tersenyum lalu mengangguk. Ia mendekat ke arahku. Kusadari tubuhku perlahan rileks mencium aroma tubuh lelaki ini yang entah mengapa sangat tidak asing bagiku. "Sayangnya, tidak ada kamar kos untuk cewek tuh," ujarnya dengan aksen aneh yang membuatku ingin tertawa. Mendengar aksennya mengingatkanku pada seseorang. Mungkin mengingatkanku pada diri Taehyung yang dulu.
Aku tertawa sambil menutupi mulutku. "Aku ga lagi nyari kamar kos. Tapi emang lagi mau main ke sini," jelasku.
Lelaki itu mengangguk-angguk lalu mengecek jam di pergelangan tangannya. "Kalau begitu, aku duluan ya."
Lucu sekali mendengar seseorang mengucapkan bahasa indonesia yang benar-benar baku.
***
"Eh, Rain. Sini nak masuk." Bibi Hilmi menyapaku dengan hangat. Kulihat bibi sedang menyiapkan sesuatu di meja makan dengan bangku menghadap ke arah depan, untuk siapa bibi menyiapkan makanan?
"Eh bi, aku udah makan—"
Aku terkejut melihat seorang anak kecil perempuan duduk di bangku yang tadi menghadap depan itu. Loh, sejak kapan bibi punya anak lagi? Aku baru tahu loh. "Kamu sih, nggak pernah main ke rumah bibi jadi bingung kan. Ini namanya Sofia. Umurnya mau jalan 3 tahun. Sofi, ayo nak salim ke ... Kakak Rain."
Kudengar ada nada ragu sebentar di ucapan bibi, namun dengan segera aku mengacuhkannya. Kupeluk Sofia dengan gemas. Ah, bocah putih berpipi gembul ini membuatku ingin mencubitinya. "Sofia mau makan?" tanyaku.
Sofia tersenyum sambil mengangguk dengan semangat. "Lahiran pas aku masih koma ya bi?" tanyaku dengan nada menyesal. Dua tahun aku tertidur karena koma pasti banyak yang telah kulewati, termasuk tumbuh kembang adikku sendiri yang tiba-tiba saja sekarang sudah SMA. Huwah, aku sangat sedih.
"Iya bener. Kamu mau makan, nak?" tanya bibi.
"Nggak usah, Bi. Aku udah makan sama pacarku," jelasku gamblang.
"Cie udah punya pacar aja? Kok ga di suruh masuk dulu pacarnya? Kan bibi mau kenalan?"
"Ih bibi genit. Dia ada urusan bi jadi ga bisa mampir haha."
Lalu aku duduk di samping Sofia dan melihat gadis kecil itu makan dengan lahap. "Kok doyan banget makan bi? Setau aku anak kecil tuh kalo suruh makan sendiri susah."
"Hahaha. Sofia gituloh," ujar bibi dan gadis kecil itu ikut tertawa mendengar celotehan ibunya.
"Oh iya bi, cowok yang ngekos di rumah samping—"
"Daddy!" seru Sofia.
Aku menengok ke kanan dan ke kiri. "Eh? Barusan Sofia manggil ayahnya kan?"
"Oh, bukan. Cowok Bule yang di kosan itu yang dipanggil Sofia. Haha namanya juga anak kecil, Rain," jelas Bibi.
"Tapi kok manggilnya daddy?"
"Gatau tuh, dia sendiri yang ngajarin sofia manggil dia begitu," jelas bibi. "Hm, Rain jaga sofia dulu ya. Bibi ke kamar sebentar."
Dengan tergesa kulihat bibi menjauh dari kami. Kufokuskan diriku pada sofia lagi yang masih sibuk memakan sayuran di piringnya. "Kakak Lain, udah bita maka tayul? Tofia udah dong."
Lucu sekali mendengar celotehan Sofi. Karena umurnya masih dua tahun, ia masih cadel R dan S. Ah aku jadi ingin punya adik lagi. "Wah kakak belum bisa. Sofia hebat nih udah bisa," kataku. Sofia dengan bangga menyuap brokoli ke dalam mulutnya.
"Kakak Lain habith ini main ya tama tofie."
"Iya, kamu habisin dulu makanmu ya."
***
Malam tiba dengan cepat. Sofia juga sudah tidur di kamarnya yang kecil dan empuk. Sedangkan itu, bibi memberikanku sepiring besar kue kering dan coklat hangat dan kubawa ke halaman rumah bibi yang lumayan terang karena lampu taman di perkarangan rumah bibi.
Tidak ada nyamuk, tidak ada angin, yang ada cuma langit, taman, dan beberapa bintang bertebaran di langit yang hampir tertutup awan hitam. "Sendirian?"
Kudengar seseorang menyapaku, dan ternyata lelaki itu lagi. Lelaki yang tadi siang kudengar aksennya sangat lucu dan wajahnya ... tampan. Aku mengangguk, dia langsung duduk di sampingku.
Kulihat jam di pergelangan tanganku. Sekarang ini, hampir jam 11, kok bisa lelaki ini masih di luar? "Udaranya tidak terlalu dingin ya?" katanya lagi.
"Hm ya. Namanya juga Jakarta."
"Berbeda sekali dengan kampung halamanku," ujarnya lagi sambil menerawang langit.
Dari tempatku. Aku bisa melihat rahangnya yang tajam dan tatapan mata memukaunya yang gemilang. Sampai-sampai tak terasa kue keringku tersisa 3. "Emangnya darimana asal kamu?"
"Australia. Oh ya, Aku Julian."
"Wah, Aussie…,” ujarku dengan rasa terpukau yang tak dapat kupungkiri.
Kulihat lelaki itu tersenyum. Dan sialnya senyumnya itu sangat tampan. Aku sampai kesusahan bernapas nih, haduh. Kulihat ia mengambil kue kering milikku.
"Kau tahu arti dari sebuah kebahagiaan?"
Sekali lagi. Lelaki tak kukenal yang mengatakan namanya Julian itu bertanya padaku. Raganya hampir mencondong ke arahku dengan gamblang, sedangkan aku meratapi nasib kue keringku yang baru saja habis ia lahap dan tak menyisakannya untukku.
"Apa?" jawabku ketus. Kalau saja ia izin mengambil kue keringku, tak akan aku menjawabnya dengan ketus.
"Bertemu denganmu ... lagi."
Aku terdiam mendengarnya. Eh? Maksudnya apa?
Belum sempat aku mengajukan pertanyaanku, setetes hujan mendarat di atas hidungku. Baik ia maupun aku mendongak ke atas dan melihat jutaan tetes air lain mendarat di tempat kami dengan deras. Buru-buru lelaki itu membawakan piring dan segelas coklatku tadi meneduh ke garasi rumah. "Pokoknya senang bertemu denganmu. Aku akan masuk ke kosanku. Kau masuklah ke dalam kalau tidak mau masuk angin sih."
Aku yang masih dalam mode bengongku hanya terdiam ketika ia menaruh piring dan gelasku ke atas kedua tanganku. Sampai-sampai ketika Julian masuk ke garasi kosannya, aku masih saja bengong.
"Kak! Hujan! Masuk!" teriak Noah dari dalam rumah. Aku menggelengkan kepalaku agar tersadar.
Wah, gila. Mengapa aku bisa terpesona oleh orang yang belum genap sehari kutemui?