Hari sabtu dan minggu adalah hari favoritku, karena di hari itu, aku bebas untuk bangun kapan saja, dan aku bebas untuk tetap di kamar seharian penuh tanpa ada yang menganggu bahkan Taehyung sekalipun.
Tadinya, di hari sabtu ini aku ingin tidur sampai jam 12 siang setelah begadang menonton serial netflix sampai jam 5 pagi. Eh kenyataannya malah bukan begitu. Jam 10 malam saja mataku sudah berat dan akhirnya aku tertidur dan terbangun pukul 5 pagi.
Aku cukup suka tidur, tapi kalau sudah terbangun, aku akan sulit lagi untuk tidur. Jam 5 pagi, sudah ada suara knalpot dari tetangga sebelah yang mungkin ada pekerjaan di sabtu pagi. Sementara itu di rumahku juga sudah berisik. Ibuku mungkin sedang mengoseng nasi di penggorengan hingga membuat suaranya sebising ini sampai ke kamarku.
Ya ampun ini masih jam 5 loh.
Aku pun memutuskan untuk bangun, mengangkat lengan tinggi-tinggi, membuka gorden jendela kamar dan bisa melihat warna biru sudah menghiasi lapisan langit dunia. Segar sekali padahal hanya melihat langit biru.
Akhirnya aku keluar dari kamar, melihat ke arah kamar Noah yang masih tertutup rapat, aku pun langsung menuju ke dapur, melihat ibu benar-benar sedang masak di dapur. Ternyata bukan nasi goreng yang dibuatnya. Ia sedang mengoseng bumbu untuk dimasukkan ke ayam yang sudah dibersihkan olehnya. "Roasted chicken?" tanyaku pada ibu.
Ibu menengok sebentar kepadaku, lalu mengangguk. Ia tampaknya senang sekali hari ini sampai mau memasak roasted chicken yang ribet sepagi ini. "Ada apa sih Bu?"
"Kenapa sih Kak? Kan terserah Ibu dong mau masak apa juga."
"Ya kan aneh aja hehe."
"Udah sana jogging kek apa kek yoga kek. Jangan di dapur."
Aku meringis mendengar ucapan ibuku. Ibu lain biasanya akan memarahi anak gadis mereka untuk membantu masak di dapur. Ibuku tidak. Ia pikir akan ada masanya aku ingin mencoba memasak atau kalau tidak bisa memasak pun ya itu urusan calon suamiku nanti, karena ibu dan Appa memperlakukan aku bagaikan tuan putri, jadi mereka ingin suamiku pun memperlakukan aku begitu.
Mereka menggemaskan kan?
Aku akhirnya menuruti ibu dengan berjalan dulu ke arahnya dan mencium sebelah pipinya sebelum kembali ke kamar untuk mengganti pakaian dan memilih sepatu running untuk pergi jogging ke sekitar komplek hari ini.
Setelah mengganti pakaian dan mencuci muka serta sikat gigi, aku pun memakai sepatu dan siap untuk berangkat jogging. Di lingkungan ini sebetulnya aku memiliki teman, tapi teman-temanku rata-rata bekerja di luar kota dan bahkan ada yang sedang di luar negeri. Ada juga yang sudah bersuami dan jarang kembali ke rumah orangtuanya. Jadi, di lingkungan ini aku saja sendirian yang masih jadi beban keluarga dan bahkan masih berkuliah haha.
Well, aku memutuskan untuk pergi jogging ke arah dekat ke pemancingan umum samping komplek. Aku mengikuti jalur trotoar agar tidak tertabrak ramainya motor dan mobil di hari sabtu ini.
Aku pergi jogging dengan alur memutari pemancingan, melewati pom bensin, melewati taman anggrek, lalu kembali memutar dan kembali melewati jalur tadi untuk ke rumah. Kira-kira jarak joggingku mungkin 5 kilometer kalau jarak antara rumahku keluar komplek juga dihitung.
Beberapa kali ada yang terang-terangan melihatku. Mungkin mereka aneh ada bule lari di sekitaran kampung begini. Padahal aku juga bukan bule, dan hanya orang kampung biasa yang tinggal di komplek biasa pula.
Setelah sampai di taman anggrek yang ternyata lumayan ramai tukang jajanan di depan tamannya, akhirnya aku masuk ke taman anggrek untuk melanjutkan jogging di dalamnya. Di taman anggrek, ada lajur jogging sendiri memutari taman. Setelah memutari taman sekali, mungkin aku akan beli minum dulu di depan, baru jogging lagi untuk pulang ke rumah.
"Duh bule lagi. Nyak, bantuin napa ini kita kaga bisa bahasa inggris."
Aku nyaris tertawa saat aku berhenti di tempat jualan air mineral terdekat yang bisa kuraih. Yang menjaga adalah seorang anak lelaki yang kuperkirakan masih anak SMA yang sedang membantu orangtuanya berjualan di hari weekend.
"Walah, ya sama bae. Enyak juga kaga bisa. Pan lu yang sekolah, napa jadi ngomongnye ke enyak."
Bahasa betawi yang mereka gunakan begitu kental sampai aku jadi tidak tega memberitahu mereka kalau aku sebetulnya bisa bahasa indonesia. Karena terlanjur tak bisa jujur, aku pun dengan hati-hati berpura-pura hanya bisa sedikit bahasa indonesia, dengan logat yang kuingat dari Julian.
Haha rupanya ada untungnya juga aku memperhatikan Julian. Logatnya bisa kugunakan jika sedang kubutuhkan hehe. "Akhu mahu beli aqhua sathu."
"Nyak bisa bahasa indonesia ternyata nyak!"
"Yaudah tong layanin! nyak lagi kadung bikin sambel ini."
Bocah cowok yang kini menatapku bingung ini kemudian memberikan satu botol aqua padaku dan mengataksn harganya. "Dua ribu rupiah Miss."
Kupikir ia akan menaikkan harga karena tahu aku bule. Kuambil uang dari saku celanaku dan memberikan uang 10 ribu padanya. "Take the change," ucapku kemudian sambil pergi begitu saja.
Aku yakin dia mengerti artinya jadi aku langsung jogging lagi untuk pulang ke rumah. Tubuhku sudah gobyos karena keringat, dan yang kubutuhkan adalah mandi dengan air shower yang segar.
***
Sampai di rumah, aku akhirnya langsung masuk ke kamar dan membuka pakaianku yang basah karena keringat. Aku menatap pantulan diriku ke cermin, dan melihat ada bekas jahitan di bawah perutku.
Aku tak ingat kalau aku pernah operasi apapun. Tapi kata mama, aku punya usus buntu dan harus dioperasi. Jadi sejujurnya aku bahkan nggak pernah merasakan sakitnya usus buntu dan kapan rasa sakit itu disembuhkan karena ingatanku yang hilang selama 2 tahun itu.
Tak ingin terlalu lama memikirkan soal tubuhku, aku akhirnya masuk ke dalam kamar mandi dan menjalankan aktivitasku untuk mandi.
Usai segar karena mandi, aku melihat bahwa saat ini sudah jam 9 pagi. Aku mandi tepat 1 jam, dan pantas saja kulitku sudah mengeriput karena terlalu lama di air.
Setelah memakai skincare dan menyisir rambut, aku pun keluar dari kamar, melihat appa sudah bangun dan menyeruput kopi di ruang tv sofa dengan televisi yang sedang menyiarkan berita.
Aku mencium kedua pipi Appa membuat appa mengusap-usap kepalaku lalu aku ikut duduk di dekatnya sambil menaruh kepalaku di atas pundaknya. "Appa, hari ini hari apa sih? Kenapa Ibu sampe rela pagi-pagi masak roasted chicken? Padahal bukan christmas atau thanksgiving. Dan setelah kakak pikir-pikir lagi, setiap tahun mama selalu merayakan hari ini."
"Oh mungkin ibu cuma sedang senang saja karena keponakannya berulang tahun hari ini."
"Keponakan?"
"Ituloh, anaknya Hilmi, bibimu."
"Sofia ulang tahun hari ini?" tanyaku kaget. "Jadi setiap tanggal ini ibu selalu masak banyak karena ulang tahun Sofia?"
"Kamu sudah lihat Sofia ya?" tanya Appa. Kali ini Appa langsung menaruh cangkir kopi yang baru saja ingin ia seruput. Ia menatapku dengan penasaran seolah pertemuanku dengan Sofia adalah hal yang paling membuatnya penasaran saat ini.
"Sudah lah Appa. Kan kakak kemarin menginap di rumah Bi Hilmi karena ngejaga Sofia dan Emy."
"Menurut kamu, Sofia bagaimana?"
Aku tersenyum mendengar pertanyaan Appa. Rasanya appa seperti sedang memberi kode kalau ia ingin membuatkan adik untukku hahahaha. "Sofia manis banget. Anaknya baik dan nafsu makannya bagus. Kalau appa mau buatin adek kaya Sofia, kakak pasti seneng banget deh hehe."
Appa langsung memukul kepalaku pelan dengan koran yang ada di dekatnya. "Ngawur! Yang ada appa digebukin ibumu kalau minta satu lagi."
Aku tertawa mendengar ucapan Appa barusan. Hahaha. Appa dan ibu memang sudah memutuskan untuk hanya memiliki dua anak saja. Aku dan Noah dan fokus untuk mengurus kami berdua. Padahal aku kan juga ingin adik perempuan yang bisa aku dandani sesuka hatiku seperti Sofia hehe.
"Terus kita nggak sarapan nih Appa?" tanyaku langsung.
Appa mengangkat bahunya kemudian berkata, "Sekalian makan siang saja. Ibu mengundang keluarga Hilmi untuk datang. Kita adakan pesta kecil untuk Si manis Sofia."
Aku melihat senyuman kecil di wajah Appa ketika menyebut nama Sofia. Aku juga ikut senang kalau orangtuaku sangat menyukai Sofia. Itu berarti memang Sofia terlahir untuk dicintai semua orang. Bahkan orang tak dikenal seperti Julian sangat menyukai Sofia sampai rela dipanggil daddy olehnya.
***
Karena rumah kami akan kedatangan tamu, akhirnya aku membangunkan Noah yang masih tidur di kamarnya itu. Aku membuka pintu kamarnya dan ia benar-benar masih tertidur pulas dengan hanya memakai celana boxer dan tanpa memakai baju apapun. "Dek bangun. Bantuin Kakak ayo."
Aku mengguncang tubuhnya, tapi ia tak bergerak dan malah seolah tambah pulas tidurnya.
Aku akhirnya mengguncangnya lagi kali ini dengan memukul pelan pipinya. "Dek! Noah! Bangun hey."
Kali ini ia bergerak sedikit, lalu ia membuka matanya perlahan dan menatapku bingung. "Apa sih Kak?" tanya dia sambil mengulet. Matanya terpejam sebelah dan menatapku dengan sebelah matanya yang terbuka.
"Bangun ayuk. Bantuin kakak beberes."
"Oh iya hari ini Sofia ulang tahun," kata Noah yang refleks duduk.
Aku menatap Noah kaget. Bagaimana anak ini bisa tahu? Aku saja baru tahu barusan diberitahu oleh Appa. "Kok kamu tau dek?"
Noah langsung melek saat mendengar pertanyaanku. Ia membalikkan badan, membuat tubuhnya berbunyi dan membuat aku ngeri dengan tubuhnya yang tipis itu. Aku takut tulangnya patah. "Ya udah Noah mau mandi dulu. Sebentar lagi keluar," jawab Noah langsung.
Aku didorong olehnya keluar kamar, dan ia langsung menutup pintu kamarnya kembali. Aku yang masih bingung akhirnya hanya mematung di depan kamarnya. Well, aneh karena Noah nggak mau bahas darimana dia tahu kalau hari ini ulang tahun Sofia. Tapi hal itu nggak terlalu penting sih. Bisa saja kan dia sudah tahu dari Ibu kemarin saat ia menemani ibu ke mall untuk belanja?
Akhirnya aku memutuskan untuk ke ruang tengah dan membereskan meja panjang agar bisa menjadi jamuan lesehan. Tak lama pun Noah turun dan membantuku. Kebanyakan malah Noah sih yang membereskan. Aku hanya mengaturnya agar jadi rapih hehehe.
Untuk apa kan aku punya adik lelaki kalau aku juga yang harus membereskan meja kursi berat sendirian.
***
Matahari sudah berada di tengah-tengah, dan panas sudah menyengat area Jakarta dan sekitarnya. Aneh sekali karena seharusnya saat ini sudah memasuki musim penghujan tapi tetap saja panas merajalela dimana-mana.
Kudengar di kampung-kampung pun, tanaman banyak yang kering, mengakibatkan kekurangan air bersih dan hampir gagal panen. Tapi ketika hujan turun dengan lebat, sawah langsung banjir dan tanaman otomatis gagal panen karena biasanya banyak hewan-hewan kali yang ikut masuk ke dalam lumpur sawah dan membuat tanaman rusak.
Musim di Indonesia memang sedang tidak menentu. Karena itu sebetulnya aku memiliki keinginan untuk pergi ke Australia walaupun cuma angan-angan sih. Barang kali saja kan aku bisa bertemu dengan keluarga ibu di sana.
Mobil Bi Hilmi sudah terdengar dari kejauhan. Aku langsung membukakan pintu gerbang dan ternyata benar saja. Bi Hilmi menyetir mobil Fortunernya sendiri dengan Emy yang duduk di sebelahnya, menggendong Sofia karena takut jatuh jika duduk sendiri.
Aku langsung menyambut mereka dengan senang karena selama 3 tahun lebih, baru kali ini mereka main ke rumahku. Pokoknya setelah aku hilang ingatan, rasanya Bi Hilmi seolah menjauh dari kehidupanku.
Aku menggendong Sofia yang sudah memakai dress putih super cantik dengan bando bunga yang membuat penampilannya semakin menggemaskan. Setelah menyapa Bibi Hilmi, aku langsung membawa Sofia masuk ke dalam rumah dimana Ibu dan Appa sedang menata meja dengan makanan serta piring dan lauk.
Mereka yang melihatku membawa Sofia langsung terlihat terkejut dan menghampiriku sambil memeluk aku dan Sofia yang ada di pelukanku. "Nanaa!" ucap Sofia kepada ibu membuat aku menatap ibu dengan bingung.
"Kok ibu dipanggil Nana sih?" tanyaku kepada Appa.
"Ibumu kebelet minta cucu itu," jawab Appa yang membuat aku tertawa.
"Nikah aja belom, minta cucu!" ucapku sambil tertawa. Appa langsung menggendong Sofia dan dipeluknya dengan sangat erat seolah Sofia adalah anaknya sendiri.
"Sofia sayang udah mam?" tanya Appa dengan gemas.
Aku melihat mereka seolah melihat kakek dan cucu, lalu aku melihat ibu yang saat kulihat langsung mengusap matanya. Ibu menangis? "Bu kenapa ih?"
"Apa sih Kak. Nggak apa-apa!" ucap Ibu dengan sedikit meninggi. Lalu Ibu mendekat ke pintu dimana Bi Hilmi dan Emy berdiri di sana. Ibu menyapa Bi Hilmi yang merupakan sahabat sejatinya dan juga mencium kedua pipi Emy yang saat ini terlihat sangat dewasa, memakai dress super cantik yang elegan. Sayang sekali kami hari ini makan lesehan bukan menggunakan kursi dan meja makan.
"Ya ampun Emy kamu cantik banget," goda Ibu yang melihat Emy kaget itu. Ternyata Ibu juga sama kagetnya dengan aku karena Emy sudah tumbuh sebesar ini.
"Noah!! Nih ada Emily!" panggil Ibu lagi yang membuat aku tertawa. Wajah Emily langsung memerah karena kan dia waktu dulu memang masih kecil dan ucapannya nyeleneh. Sekarang dia sudah sedikir lebih dewasa dan elegan, nggak mungkin ia masih mengejar-ngejar Noah seperti bocah.
Lagipula Emy sudah tahu kalau Noah punya pacar di sekolahnya.
Noah kemudian keluar, ia tampak canggung bertemu dengan Emily, tapi ia mengucapkan salam kepada Bi Hilmi dengan mencium tangannya sopan seperti anak-anak Indonesia pada umumnya.
"Mau makan sekarang atau kita ngobrol dulu nih?" tanya Ibu semangat.
Aku melihat Appa masih sangat senang menggendong Sofia dan mengajaknya bicara.
Ah keluargaku menggemaskan sekali sih.
***
Makan siang berjalan dengan sangat lancar. Kami semua tertawa setiap kali mendengar Sofia berceloteh soal bagaimana ia sangat menyukai roasted chicken yang ibuku buat hari ini. Ia bahkan memakan satu paha bawah sendirian tadi, dan menghabiskannya sendiri.
Sudah begitu, rupanya ibu juga memesan kue ulang tahun yang baru saja datang barusan setelah dipesan tadi pagi oleh ibu, lengkap dengan lilin juga tulisan cantik di atas coklat bertuliskan 'Happy 4th Birthday Lil Princess Sofia.'
Gadis kecil itu tampak sangat senang melihat kue yang memiliki bentuk unicorn itu, salah satu icon yang sangat disukai oleh Sofia. Tapi sumpah deh aku heran dengan ibu. Kok ibu bisa tahu apa saja kesukaan Sofia, padahal kupikir Ibu tidak pernah ke rumah Bi Hilmi untuk bahkan tahu kalau Sofia sudah berumur 4 tahun saat ini.
"Yuk nyanyi dulu yuk!" ucap ibu dengan semangat. Appa sudah heboh mengangkat ponsel demi merekam aksi Sofia yang duduk di depan kue yang saat ini dipasangi lilin kecil yang menyala.
"Happy Birthday Sofi. Happy Birthday Sofi. Happy Birthday, Happy Birthday Sofia!!"
Sofia bertepuk tangan paling keras setelah lagu ulang tahun untuknya dinyanyikan oleh semua orang. Kemudian kami menyanyikan lagu kedua yaitu tiup lilin. "Tiup lilinnya sekarang juga."
Sofia meniup lilinnya dengan embusan kencang, dan rupanya hal ini berhasil membuat lilinnya mati dan semua orang bertepuk tangan.
"Hore."
Aku mendekat ke arah Sofia, karena tiba-tiba ibu mendorongku untuk mendekat ke arah Sofia. Mau tak mau, akhirnya aku membantu Sofia untuk memotong kue pertamanya, sembari bertanya, "Sofia, potongan kue pertamanya buat siapa, Sayang?" tanyaku lembut.
Sofia menatap ke sekeliling, ia seolah mencari orang yang ingin ia beri, lalu menatapku dengan raut sedih. "Daddy...," desahnya lemas.
Aku terkejut mendengarnya. Biasanya dan normalnya, anak-anak akan memberikan kepada ibu mereka yaitu Bibi Hilmi. Tapi Sofia malah mencari Julian. Appa yang mendengar ucapan Sofia pun mengusap rambutnya dengan sedih. Mungkin karena Appa tahu kalau ayahnya Sofia sudah meninggal dan ia tidak tahu kalau daddy yang dimaksud Sofia adalah Julian.
Saat yang lain akan menghibur Sofia, tiba-tiba bell rumahku berbunyi. Semua orang menengok karena merasa tak memiliki tamu lain ataupun memesan makanan lagi di luar. Akhirnya karena tak ada yang mau berdiri, akhirnya ibu yang berdiri untuk membukakan pintu.
Jarak dari tempat kami tiup lilin dan pintu depan itu lumayan dekat, jadi jika ada yang membuka pintu, otomatis kami bisa melihat siapa yang datang itu. Saat ibu membuka pintu, cahaya menyilaukan datang dari luar.
Samar-samar aku mendengar suara Sofia berteriak, "Daddy!" dengan sangat riang hingga aku menengok ke arah yang Sofia tuju.
Serius Julian datang ke rumahku?
Aku memfokuskan mata saat ibu menutup pintu dengan wajah bingung melihat Sofia yang langsung berlari mengenali orang yang baru masuk itu. Aku akhirnya bisa menatap orangnya dengan jelas.
Dan...astaga, itu beneran Julian!