Setelah selesai dengan mata kuliah pemrograman Visual yang mengharuskan aku untuk terus-terusan fokus terhadap laptop, akhirnya aku memiliki kesempatan untuk beristirahat sambil mungkin membeli jajanan yang ada di depan gerbang samping kampus.
Sudah masuk ke semester 5, tapi hanya aku yang tidak memiliki teman tetap di kampus. Temanku bahkan terkesan silih berganti. Aku bahkan malas untuk berkelompok dengan mereka karena mereka terlalu toxic dan ambisius, tetapi tak memiliki kemampuan yang mumpuni.
Sejujurnya, aku tidak mau sombong, tapi menurutku mereka masuk ke program studi informatika hanya agar terlihat pintar. Padahal setiap ada mata kuliah yang sulit, mereka akan mendekatiku di kelas hanya untuk minta direview code programnya kenapa program miliknya terdapat banyak syntax error, dimana karena aku orangnya tidak tegaan, akhirnya aku membantu mereka mereview program hingga aplikasinya berjalan dengan baik.
Tapi setelah itu, mereka sama sekali tak berterimakasih. Bahkan terkesan mereka bangga dengan hasilnya, padahal menurutku, akulah yang membuat aplikasi mereka selesai dibuat. Aneh tidak sih kalau kupikir mereka itu menggelikan?
Jadi kalian paham kan sampai sini, alasan aku memilih untuk tak berteman dengan teman kelasku?
Toh setiap hari biasanya Taehyung yang menemaniku dan menemani aku mengerjakan tugas. Jadi tanpa teman toxic seperti mereka pun, aku tak akan kewalahan mengerjakan seluruh tugas sendiri. Saat ada tugas kelompok pun, aku meminta kepada dosen secara pribadi bahwa aku akan mengerjakannya sendirian. Membuat aplikasi, merancang proposal, membuat power point, dan mempresentasikannya sendirian.
Semenjak aku mengerjakan tugas kelompok sendirian, akhirnya aku semakin dikucilkan di kelas, hehehe.
Aku akhirnya sampai di depan gerbang yang terbuka lebar. Ada banyak tukang jualan jajanan di sini.Ya meskipun ini tipe kampus internasional, banyak juga bule atau orang yang dari luar Indonesia yang berkuliah di sini, menyukai jajanan murah dan enak juga menyenangkan ala Indonesia ini.
Pilihanku akhirnya jatuh ke bihun telur juga siomay yang menjadi favorite semua mahasiswa kampusku. Aku membeli bihun telur seharga 5 ribu rupiah, dan mendapatkan 5 tusuk, juga membeli siomay seharga 5 ribu rupiah.
Kedua makanan tersebut bahkan tidak sampai 50 ribu, tapi aku sudah bisa menenangkan perutku yang meronta-ronta kelaparan karena hanya sarapan roti.
Setelah membeli jajanan untuk diriku sendiri, aku pun duduk di kursi bawah pohon yang terdapat di kampusku. Mahasiswa di sini menyebut tempat ini sebagai DPR alias di bawah pohon rindang. Kalau sudah masuk jam-jam biasa istirahat, biasanya DPR ini pasti ramai oleh anak-anak hits kampus yang biasanya bergerombol sambil merokok atau vaping dengan rokok listrik.
Well, meskipun aku tak memiliki teman dari kelasku sendiri, tapi aku memiliki teman dari program studi lain. Namanya Laras. Dia mahasiswi dari program studi Desain Komputer Visual, sama seperti Taehyung.
Sebetulnya ini cerita yang lucu bagaimana aku bisa berteman dengan Laras. Jadi, dulu saat masa ospek, Laras lupa membawa papan nama miliknya, membuat ia jadi maju ke depan bergabung dengan para mahasiswa lain yang kurang lengkap membawa hal-hal yang diwajibkan untuk dibawa saat ospek.
Saat itu, aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku datang ke kampus, dengan rambut kuncir 2—karena aku lahir di tanggal 2 dan pihak BEM menyuruh kami para cewek untuk menguncir rambut sesuai dengan tanggal lahir kami masing-masing. Jadi aku tak bisa membayangkan kalau ada yang lahir di tanggal 30, akan sebanyak apa kunciran di rambutnya—aku juga memakai papan namaku, dan membawa tas dari keresek berwarna merah yang membaws buku serta pulpen di sana.
Tapi tiba-tiba tubuhku ditarik berdiri, dan aku disuruh untuk bergabung dengan Laras yang tampak malu karena disuruh ke depan.
Aku langsung kebingungan. Pasalnya, aku bahkan menyiapkan kantong kereseknya seharian agar terlihat tetap cantik saat kupakai dengan mengikatkan tali agar bisa kubuat selempang. Apa yang salah coba dariku. Karena bingung, akhirnya aku menyenggol pelan lengan Laras yang saat itu aku tak ketahui namanya. Ia tampak kaget juga melihat aku ikut berdiri di sampingnya.
"Wait before you talk, i want to tell you that I'm not fluent in english," kata Laras langsung.
Aku hampir tertawa mendengarnya. Aku bahkan belum bicara sepatah kata apapun saat ia langsung bicara begitu padaku. Perasaan wajahku lebih ke asia deh daripada Bule. "Aku bisa bahasa Indo kok," bisikku.
"Astaga kaget. Kirain enggak bisa."
"Anyway aku bingung kenapa aku disuruh maju. Padahal aku lengkap."
"Coba sini aku liat."
Laras yang baik itu mengecek semuanya dari atas sampai bawah dan ia juga bingung kenapa aku disuruh maju juga. Akhirnya, karena aku sedikit tidak terima, aku pun memanggil salah satu kakak tingkat BEM yang masih memeriksa anak-anak yang kurang lengkap.
"Kenapa?" tanyanya garang. Padahal aku memanggil kakak tingkat perempuan yang wajahnya paling kalem. Tapi ia tetap saja garang seperti kakak tingkat yang lain.
"Kak dia kan lengkap, kenapa dia disuruh maju?" ucap Laras langsung, membela aku yang malah terdiam kaku. Duh seperti pengecut ya aku.
Kakak tingkat itu memerhatikan papan namaku kemudian menatapku sambil bertanya. "Kamu lahir dimana?"
"Indonesia, Kak," jawabku.
"Besok rambutmu sudah harus hitam lagi. Jangan diwarna-warna kalo nggak mau dijadiin target sama kakak tingkat lain."
Aku melongo mendengarnya. Itu adalah kalimat paling lucu yang pernah kudengar dari seseorang. Masalahnya adalah, aku bahkan nggak punya rambut warna hitam!
Rambutku pure blonde dan aku tidak mewarnainya. Bisa-bisanya dia pikir aku mewarnai rambutku!
"Astaga jadi karena rambut?" ucap Laras padaku sambil menggelengkan kepala.
"Padahal ini rambut asliku," keluhku, tapi anehnya aku tertawa. Entah kenapa aku senang ada yang mengira aku bukan keturunan bule hahahaha.
"Mau aku protes lagi? Ini nggak adil. Kamu kan nggak minta rambutmu waktu dilahirkan warna blonde!" katanya dengan kritis.
"Nggak apa. Aku seneng berdiri di sini. Hehehe."
"Eh lupa kenalan. Aku Laras."
"Aku Rain. Salam kenal Laras."
Semenjak masa Ospek itu, akhirnya aku dan Laras semakin dekat. Meskipun kami berbeda program studi, dia dan aku terkadang suka main bareng sepulang kuliah, tentunya juga bersama Taehyung. Karena mereka juga satu program studi, tampaknya mereka juga akur dan jadi berteman.
Tapi hari ini Taehyung dan Laras tidak datang ke kampus. Mereka sepertinya memiliki teman yang sama yang ibunya meninggal. Akhirnya aku jadi makan sendirian di DPR ini.
***
Hari ini, seluruh mata kuliahku telah usai. Aku baru mengecek kalau Taehyung ternyata menghubungiku sejak 10 menit yang lalu. Sepertinya ia tahu kalau ini sudah jamku untuk pulang kuliah.
Aku membereskan buku, dan memasukkan laptop ke dalam tote bagku. Lalu aku mengambil ponselku yang ada di meja dan langsung menghubungi balik Taehyung yang sepertinya penting.
"Tae?"
"Halo Noona?"
"Ada apa?"
"Noona sudah pulang belum? Taehyung di warkop deket kampus nih."
"Lah kamu ngapain? Katanya ngelayat?"
"Sudah dikubur tadi pagi. Taehyung nungguin Noona pulang buat ngeganti waktu pagi tadi nggak bisa anter Noona ke kampus."
"Ih kamu. Nggak usah padahal. Ya udah tunggu. Aku ke situ."
Pip.
Telepon langsung mati. Aku berjalan menuju lift untuk turun ke lantai dasar, kemudian berjalan ke luar gedung untuk pergi ke warung kopi dekat kampus, tempat para mahasiswa nongkrong dan merokok kalau bukan di DPR.
Sampai di warung kopi, aku menemukan motor sport Taehyung terparkir di depannya. Saat masuk, teman-teman Taehyung langsung mempersilakan aku masuk, dan mereka serentak mematikan rokok yang semulanya mereka sedang isap, demi menghilangkan bau asap agar aku tidak menghirupnya.
Taehyung melambaikan tangan padaku, dan aku langsung menghampirinya setelah sebelumnya menyapa semua teman Taehyung yang juga kukenal. "Udah makan?" tanyaku.
"Edi mah makan paling banyak tadi di rumah Gio," seru Zikri, teman Taehyung. Padahal nama Taehyung itu Edmuns, tapi temannya menanggilnya dengan sebutan Edi agar lebih melokal katanya.
Omong-omong, Gio adalah nama teman Taehyung yang ibunya meninggal pagi tadi. "Lu juga makan banyak ya babi," seru Taehyung balik.
Zikri dan teman yang lain saling mengolok dengan seru, dan aku hanya tersenyum melihat kekompakkan mereka. "Jadi kita pulang sekarang?" tanya Taehyung lagi padaku.
Aku mengangguk mengiyakan, karena aku juga merasa tidak enak menganggu waktu merokok para teman Taehyung yang terpaksa mematikan rokok mereka agar paru-paruku aman. Setelah pamit, aku dan Taehyung pun menaiki motor untuk pulang ke rumah.
Taehyung memang manis, dan dia yang membuat temannya mengerti kalau aku memiliki penyakit di paru-paruku dan kerennya, semua teman Taehyung juga baik. Jujur deh, pertemanan ala laki-laki menang pertemanan terbaik bukan?