Aku terbangun karena mendengar suara motorki dipanaskan. Aku hampir lupa kalau hari ini aku ada kelas pagi, dan tak memberi tahu ibu atau Noah untuk membangunkanku agar membangunkanku pagi-pagi untuk bersiap ke kampus.
Bangun dari kasur, aku keluar dari kamar, dan langsung menuju dapur dimana ibu sedang menyusun roti yang sudah dipanggang ke atas piring untuk sarapan. Ia kemudian menyapaku yang baru terbangun. "Kenapa kok bangun Kak?"
Ibu kalau lagi nggak kumat, pasti memanggilku dengan sebutan kakak. Rasanya ibu memang sudah menjadi ibu-ibu lokal deh karena terlalu sering mengobrol dengan ibu-ibu tetangga komplek di dekat lapangan bulu tangkis depan rumah.
"Rain lupa hari ini masuk pagi, Bu."
"Ya ampun, untung adek belom berangkat bawa motor kakak."
Ibu yang khawatir, langsung pergi ke garasi dimana mungkin Noah sedang memanaskan motorku, sedangkan aku menikmati roti yang sedang kuberi selai coklat dan memakannya dengan perlahan.
Tak lama, ibu datang lagi ke dapur. "Adek udah jalan Kak. Tadi sih katanya berangkat pagi karena jemput temen juga."
"Pacar kali," sebutku sambil tertawa. Ibu ikut tertawa mendengarnya.
"Terus kamu gimana Kak berangkatnya?"
Aku mengangkat bahu dengan santai, kemudian berpikir kalau masih ada opsi lain selain membawa motor sendiri seperti minta jemput Taehyung dengan motor sportnya. Atau ya aku bisa naik ojek online dengan aplikasi yang terpasang di ponselku.
"Nanti kalo Edmund nggak bisa jemput, ibu pesenin ojek pangkalan di depan ya?"
"Bu kan Rain sudah bilang, jangan Edmund panggilnya. Taehyung."
"Ish kamu. Suka-suka ibu lah panggilnya apa."
Aku hanya menggeleng mendengar celotehan ibuku pagi-pagi. Ia mengambilkan aku gelas besar dan menuangkan s**u dari kotak besar yang asalnya dari kulkas.
Appa baru keluar dari kamar saat ibu selesai menuangkan s**u. Appa terlihat sudah rapih dengan kemeja dan jasnya, dan terlihat sangat tampan. Sepertinya sebelum kabur dan menikah dengan ibu, Appa adalah model di Korea Selatan. Hahaha. "Morning, Appa."
Appa mendekat padaku dan mencium keningku. "Morning, Kak." Appa juga mendekat ke arah mama dan mencium kedua pipi serta keningnya dengan mesra. Ewh gross.
"Morning, My Love."
Ibu tersenyum mendengar sapaan Appa. Ibu kemudian langsung menyiapkan teh tubruk tanpa gula yang sudah disaring kesukaan Appa, dan mengoleskan sedikit selai coklat ke roti yang akan ia berikan kepada Appa. Appa memang tidak terlalu suka makan makanan manis. Katanya gigi sensitifnya suka nyeri saat makan makanan yang manis.
Tapi saat ada festival jajanan Korea berlangsung di Jakarta, Appa yang langsung menyerbu semua jajanan manis seperti Dalgona Candy, dan lain-lain. Mungkin ia rindu masa kecilnya di Korea, mungkin ia juga rindu dengan orang tuanya di sana. Aku juga nggak tahu sih sebetulnya kenapa kedua orang tuaku nggak saling berkunjung ke kampung halaman masing-masing dan memilih menetap di Indonesia dan membuat kewarganegaraan Indonesia.
Aku dan Noah bahkan lahir di Indonesia, karena kata Ibu, setelah mereka kabur untuk menikah diam-diam, mereka liburan ke Indonesia dan karena diperkenalkan dengan budaya Indonesia oleh Bibi Hilmi, akhirnya keduanya memutuskan untuk terus menetap sampai akhirnya aku dan Noah lahir.
Sepertinya ibu dan Appa juga tidak ada keinginan untuk pergi ke Korea atau Australia, karena itu saat ini aku memiliki mimpi terdekat yang bisa kuraih. Mencari nenek kakekku di Australia dan juga yang ada di Korea Selatan.
"Kakak mau berangkat sama Appa?" tanya Appa yang saat ini sedang menyeruput teh tubruknya.
"Kampus kakak kan jauh dari kantor Appa," jawabku langsung. "Lagian Rain juga belum mandi. Habis sarapan baru mau mandi. Masih jam 7 soalnya. Jam 8 berangkat, masuk jam setengah 9 hehe. "
"Coba kamu ngomong gitu depan Noah. Langsung kesal dia karena harus berangkat sekolah jam 6 pagi, dan pulang jam 4 selama senin sampai jumat."
Jika dipikir-pikir benar juga sih. Apa nggak mabuk setiap hari begitu terus? Pelajarannya juga banyak dan membuat otak panas. Itu karena dulu aku juga merasakannya. Menurutku sistem pendidikan yang berangkat pagi pulang sore terlalu menekan anak untuk belajar di sekolah. Giliran anak sudah sampai rumah, kelelahan karena belajar di sekolah, ingin main ponsel sebentar langsung dimarahi disuruh belajar. Terus selama di sekolah memangnya anak itu melakukan apa kalau tidak belajar? Main gaplek?
Untungnya orang tuaku nggak begitu sih. Mereka sadar kalau sistem pendidikan di Indonesia memang begitu standarnya. Jadi Appa dan ibu membiasakan kami bertanggung jawab dengan apa yang kami lakukan sendiri. Seperti jika memiliki nilai jelek, ya itu urusan kami, kami sendiri yang mendapatkannya karena mungkin kurang belajar. Tapi karena memiliki tanggung jawab pribadi, akhirnya aku pun belajar menghargai diri sendiri. Akibatnya, aku dan Noah menjadi mandiri sejak dini.
Didikan orang tuaku memang hebat deh!
"Kalau gitu suruh Edmund jemput ya?" ucap Appa.
"Appa nih sama aja kaya Ibu. Kan Rain suruh panggil Taehyung."
"Tapi kan dulu waktu dateng, dia memperkenalkan dirinya sebagai Edmund."
"Duh iya deh terserah," kataku nggak mau ambil pusing. Setelah roti dan susuku habis, aku pun kembali ke kamar.
***
Aku mengecek ponselku yang masih tercharger di atas nakas. Melihat bateraiku sudah 100% aku pun mencabutnya dan melihat beberapa pesan dari Taehyung masuk ke ponselku.
Ah rupanya dia hari ini pergi melayat ke rumah salah satu temannya yang ibunya meninggal. Aku jadi tidak enak kalau aku meminta jemput padanya. Akhirnya aku jawab saja pesan Taehyung dengan kalimat untuk menenangkan dia dan juga ikut berbelasungkawa kepada temannya, lalu kutinggal mandi dulu karena aku bersiap-siap ke kampus cukup lama.
.
Siap dengan outfit dan juga tote bagku yang telah kuisi dengan laptop serta merangkul buku, aku pun membawa ponselku ke luar kamar untuk memesan ojek online yang merupakan pilihan terakhirku karena tak ada lagi yang bisa kuandalkan untuk berangkat ke kampus hari ini.
Ibu mengantarkan aku ke depan rumah saat ia tahu aku memesan ojek online. "Mas hati-hati ya bawa motornya," pesan Ibu kepada mas-mas ojek online yang hanya menjawab ibu dengan memberi anggukan dan senyuman ramah.
Aku kemudian berpamitan pada ibu dengan mencium kedua pipinya lalu berpelukan dan melambaikan tangan. "Byee mommy."
Setelah itu motor pun berjalan menuju padatnya jalanan Jakarta saat pagi hari. Ah sudah lama sejak aku berangkat pagi-pagi. Biasanya kalau masuk pagi, sehari sebelumnya aku menginap di kosan temanku yang ada di dekat kampus. Ini karena aku tahu kalau berangkat pagi, pasti jalanan macet. Belum lagi asap karbon monoksida yang ada di lapisan oksigen yang seharusnya bisa kuhirup dengan tenang. Aku jadi harus memakai masker double karena takut paru-paruku yang sensitif jadi semakin parah.
Aku memiliki penyakit di paru-paruku. Awalnya hanya batuk-batuk kecil yang menahun. Akhirnya karena khawatir, ibu dan Appa memeriksakan aku ke rumah sakit dan dirontgen. Hasilnya ternyata di paru-paruku ada asap dan itu yang membuat aku suka batuk-batuk bahkan setiap tahun.
Setiap kelelahan juga pasti aku batuk-batuk. Bahkan dulu sewaktu aku ikut paskibra, aku hampir selalu dimarahi oleh pelatih karena disaat seharusnya aku berdiri tegak di depan bendera, aku malah batuk-batuk dan membuat yang lain tidak fokus.
Akhirnya pun karena alasan kesehatan, aku keluar dari paskibra dan tidak mengikuti kegiatan atau aktivitas berat selain belajar dan belajar. Karena itulah aku memilih masuk ke informatika, dimana di program studi ini, aku hanya tinggal mengetik di atas laptop atau komputer untuk membuat program dan jarang untuk melalukan aktivitas fisik hanya demi pekerjaan.
Tidak seperti Taehyung yang seluruh harinya diisi dengan aktivitas fisik. Karena itu sebenarnya aku dan Taehyung sangat jauh berbeda. Beberapa kali Taehyung mengajakku naik gunung bersama teman-temannya, dan aku harus menolak karena aku takut kambuh di atas sana.
Padahal, aku ingin ikut pergi, tapi aku takut merepotkan Taehyung dan teman-temannya, jadi aku selalu membolehkan Taehyung melakukan apapun meskipun aku tidak bisa ikut, hanya karena aku merasa bersalah tak bisa menemaninya.