Setelah membeli 4 bungkus bubur ayam, kami bertiga pun berjalan pulang dengan riang. Ternyata ada taman besar di dekat perumahan Bibi Hilmi, dan di sinilah kami menemukan tukang s**u murni nasional yang membuatku jadi teringat masa kecilku haha.
Jujur deh, siapa sih yang sewaktu kecil nggak merengek minta dibelikan s**u ini? Zaman dulu belum ada s**u UHT seperti merk Ultra s**u. Kalaupun ada, pastinya yang besar dan mahal.
Ice cream pun tidak sebanyak zaman sekarang. Dulu setiap diajak pergi ke Ragunan, hanya ada tukang ice cream campina di sana, dan Ibu serta Appa, selalu menitipkan aku ke satpam yang bertugas untuk menjaga wahana gorilla, karena aku yang masih kecil itu takut untuk masuk ke sana, dengan sogokkan ice cream campina itu.
Hahaha, rupanya aku masih hapal dengan betul dengan masa kecilku. Emily mana tahu soal s**u ini.
Setelah sampai di tukang s**u murni nasional, aku memutuskan untuk memborong setiap jenis s**u yang ada. Ternyata sekarang tidak hanya menjual s**u, tapi juga yoghurt!
Aku membeli banyak yoghurt, 5 s**u bantal rasa original, 3 cup rasa strawberry untuk diminum langsung, serta beberapa cup tambahan rasa yang lain yang belum pernah kucoba.
"Kak kok belinya banyak banget sih?" tanya Emily bingung.
Aku juga tanpa sadar menghabiskan uang peganganku bulan ini hanya demi s**u hahaha. "Nggak apa-apa. Buat stock kakak juga di rumah hehe."
"Tofi tuka tutu," celoteh Sofia seusai dia menyedot habis s**u miliknya. (Sofi suka s**u)
Aku mengusap-usap kepalanya lalu mengambil bekas cup susunya untuk kubuang jika ada tempat sampah terdekat.
Mungkin karena lelah, akhirnya Sofia menarik celanaku, ia menatapku dengan mata menggemaskan hingga mau tak mau, aku mengangkatnya ke atas untuk menggendongnya. "Mau gendong kan?" tanyaku sambil menggoyang hidung Sofia dengan hidungku.
Gadis kecil ini tertawa saat aku melakukannya. Kami bertiga melanjutkan perjalanan ke rumah dalam waktu 10 menit.
Emily lah yang langsung membuka gerbang rumah dan juga membuka kunci rumah karena tanganku penuh sebab membawa sekresek s**u serta menggendong Sofia. Saat aku masuk ke dalam gerbang, aku terkejut melihat Julian sudah berdiri dengan sigap di hadapanku. Ia langsung menggantikanku menggendong Sofia, dan bahkan membawakan kresek berisi s**u milikku ke dalam rumah.
Aku terdiam, hanya bisa memandangnya bingung karena sikapnya sungguh ajaib. Tanpa kata, ia seolah mengerti mana yang harus ia bantu. Jujur sih, lelaki seperti Julian itu langka.
Akhirnya setelah menutup gerbang, aku masuk ke dalam, mendapati Emily langsung menyalakan AC dan mengeluarkan kipas yang tadinya berada di kamarnya.
"Gerah banget ya Em?" tanyaku.
Emily hanya menggelengkan kepala. Mungkin ia syok. Ia kan terbiasa sekolah di asrama dan jarang keluar. Apalagi cuaca di Jakarta, dan kota sekolah asrama Emily sangat berbeda. Pantas saja dia langsung spechless sepanjang perjalanan.
"Ini makan dulu sarapannya," ucapku.
Aku mengeluarkan bubur untuk Emy yang tidak memakai kacang. Lalu mengeluarkan bubur untuk Sofia yang hanya memakai suwiran ayam. Lalu dua bubur lain yang normal ke hadapanku.
Julian sudah bersiap untuk mengambil bubur untuk Sofia ketika kutahan tangannya dan ia menatapku dengan mata bingung sekaligus takut salah. "Kamu sarapan dulu. Sofia biar aku yang suapin," kataku dengan nada yang tak ingin dibantah. Julian hanya terdiam ketika aku memberikan bubur kepadanya dan sebuah sendok plastik yang memang sudah satu paket dengan bubur ayamnya.
Saat aku menyuapi Sofia, diam-diam aku melihat Julian yang mulai mengaduk-aduk buburnya. Tapi anehnya ia tak memasukkan kuahnya sama sekali ke bubur nya dan langsung ingin melahap makanannya kalau saja tidak kutahan. "Eh, kamu nggak suka kuahnya?" tanyaku langsung.
"Ada kuahnya?" tanya dia bingung.
Mungkin karena bubur yang ia tahu, tidak berkuah, dan langsung dimakan tanpa topping. Karena itu ia mengaduk toppingnya hingga semua tercampur rata.
"Ada," jelasku. Aku memperlihatkan seplastik kecil kuah dari balik plastik kepadanya, dan ia langsung paham bahwa itulah kuahnya.
"Harus dengan kuah?" tanyanya bingung.
Aku tertawa kecil. Oh rupanya ada juga hal yang tak bisa ia lakukan sendiri.
Aku mengangguk, kemudian mengatakan, "Kalau nggak pakai kuah. Rasanya kurang jos! Kayak bukan bubur."
"Lalu seperti apa?" tanyanya dengan aksennya yang terlalu formal. Lagi-lagi aku mendapati diriku sendiri tersenyum mendengar aksennya.
"Pokoknya nggak enak aja. Udah deh kamu percaya aja sama aku. Rasanya enak banget kalau pakai kuah."
Julian menatapku ragu pada awalnya. Namun kemudian ia membuka tautan plastik kuahnya dan menuangkannya ke atas buburnya. Ia pun mengaduknya lagi, dan kali ini memasukkannya ke dalam mulut dengan berhasil.
"Bagaimana?" tanyaku penasaran.
Julian mengangguk setuju. Ia memberikan jempol kepadaku dan aku kembali fokus menyuapi Sofia yang seperti anak kelaparan.
Diam-diam, aku memerhatikan Julian yang fokus memakan buburnya dengan cepat. Ah sepertinya aku salah karena hanya membelikannya satu porsi. Pasti sangat kurang bagi Julian yang biasa makan banyak.
Eh? Biasa makan banyak? Gila, darimana aku tahu?
"Hei, kamu mau lagi? Aku sudah makan tadi di sana," kataku saat melihat bubur Julian yang sudah habis.
Julian menatapku dengan sebelah mata terangkat seolah ragu. "Betulan?" tanyanya.
"Iya serius. Makan deh, aku kenyang," kataku bohong. Padahal aku lapar hehe, tapi melihat Julian masih kelaparan, aku jadi tidak tega. Rasa-rasanya aku seperti sedang mengasuh 3 anak.
"Baiklah, terima kasih banyak," katanya sambil mengambil bagianku.
Ia kembali melakukan step seperti di awal dengan mengaduk makannya, sementara aku dengan senang melihatnya makan dengan lahap, sama persis seperti yang dilakukan Sofia saat ini.
Astaga mereka berdua benar-benar seperti ayah dan anak. Sangat menggemaskan!
***
Saat siang tiba, dan Julian pamit untuk melakukan pekerjaannya, akhirnya Bibi Hilmi juga tiba. Ia membawakan banyak bakpia dan juga hadiah lain untukku. Padahal, aku tidak perlu dibayar dengan itu. Maksudku, ya ampun menjaga Emily dan Sofia, tidak sesulit itu. Ditambah, aku ditemani oleh Julian setiap waktu seperti seorang ayah mereka. Jadi, ya aku tidak begitu kesulitan.
"Ih nggak apa Rain. Bibi beli kan emang buat kamu. Tuh bibi beliin baju couple. Yang satu kamu kasih ke pacar kamu," ledek Bibi Hilmi sambil memberikan kepadaku kaus tipis batik bertuliskan Yogyakarta di tengahnya. Hanya berbeda warna. Yang satu hitam, yang satu abu-abu. Pasti Julian bagus jika memakai yang hitam.
Eh. Astaga, itu kan untuk Taehyung! Kenapa aku jadi kepikiran Julian sih.
"Untuk Jul—"
"Ma, buat daddy nana?" tanya Sofia yang menarik-narik tangan Bibi Hilmi yang mengatur baju-baju hasil borongannya. (Ma, buat daddy mana)
Hampir saja aku menyebutkan soal Julian. Untung Sofia langsung ingat duluan. Bibi Hilmi menunjukkan satu kaus yang mirip denganku berwarna putih. Diam-diam, aku senang karena sepertinya bukan hanya aku dan Taehyung yang memiliki baju couple tapi aku dan Julian juga.
"Oh iya Rain, siapa yang jemput? Apa mau Bibi yang anter?"
"Nggak usah Bi. Noah yang jemput habis pulang sekolah. Soalnya motornya dia yang bawa ke sekolah," jelasku.
Bibi Hilmi mengangguk mengerti. Ia kemudian memisahkan dua kotak bakpia di atas baju putih yang ditujukan untuk Julian. Aku kemudian tersenyum pada Sofia yang sangat peduli pada Julian.
Semakin kulihat lagi, aku semakin melihat kemiripan di antara mereka. Uh, atau aku hanya sedang pusing saja ya?