Aku terbangun, dengan laptopku yang sudah berkedap kedip karena masuk ke dalam mode sleep. Semalaman aku mengerjakan tugas programming, tapi malah ketiduran di sofa ruang tamu.
Akibatnya, leherku menjadi kaku, dan sepertinya aku butuh kopi untuk menyegarkan mataku pagi ini.
Aku pun bangkit dari sofa, mulai meregangkan otot-otot tubuhku yang kaku, dengan mengangkat tanganku ke atas tinggi-tinggi. Aku kemudian berjalan menuju dapur. Porselen rumah Bibi Hilmi terasa dingin. Padahal udara Jakarta nggak lagi sedingin itu. Entahlah, mungkin karena masih pagi. Kita lihat nanti siang. Apakah hawa dinginnya akan masih terasa? Soalnya, biasanya aku kalau di rumah menggunakan dua AC di ruang tengah, rasanya masih kurang sampai-sampai Appa membelikan kipas tambahan untukku.
Sebetulnya aku lebih suka memanggil ayah sih daripada Appa. Tapi terkadang aku kasihan pada Appa karena ia sepertinya hampir lupa kalau ia berasal dari Korea karena terlalu lama tinggal di Indonesia. Begitu juga dengan Ibu. Seharusnya aku memanggilnya Mom, tapi vibesnya yang sudah persis seperti ibu-ibu lokal pada umumnya membuat aku lebih senang memanggilnya dengan sebutan ibu.
Teman-temanku saja sampai keanehan karena keluargaku yang unik. Mamah bule, dan Papah sipit. Tapi anak-anak mereka menjadi produk unggul, contohnya aku. Hahahaha. Noah apalagi. Dia lebih mirip Ibu daripada Appa. Karena wajahnya sangat bule, tapi Noah tetap memilili warna rambut yang sama seperti Appa, hitam legam. Sementara warna matanya mirip dengan ibu, warna hazel.
Kalau aku, aku memiliki rambut yang berwarna blonde, mataku sedikit sipit mengikuti Appa, sisanya mengikuti ibu. Padahal biologi bilang, seorang ayah biologis menyumbang fisik sedangkan seorang ibu biologis menyumbang kepintaran. Tapi orang tuaku menyumbang keduanya tuh.
Ah aku jadi terlalu banyak omong soal keluargaku. Aku sampai tak sempat ke kamar mandi dulu sebelum ke dapur. Akhirnya aku memilih melanjutkan ke dapur dan mengambil gelas yang bisa untuk wadah kopi yang akan kubuat.
Untungnya, rumah Bi Hilmi lengkap. Dia punya alat pembuat kopi, yang tinggal press kopi dan memencet ingin seberapa banyak airnya.
Aku pun memilih kopinya. Pilihanku jatuh ke latte cappuccino ala starbucks. Setelah memasukkan benda bulat itu ke alat pengepres, aku pun menekan alat itu dan menunggu sambil mengecek ke kamar Sofia.
Gadis manis itu masih tertidur dengan pulas. Aku mengambil botol susunya yang kosong, lalu karena tidak memiliki pekerjaan lain, dan menunggu kopiku jadi, aku pun mencuci botol milik Sofia dengan menekan botolnya ke lubang air yang akan keluar membersihkan botol.
Setelah bersih, aku mencuci dot nya dengan cara yang sama. Lalu aku mengambil panci kecil dan menaruhnya di atas kompor listrik. Kudengar sih, dot dan botol s**u harus direbus supaya tidak ada kumannya.
Aku kemudian menaruh botol nya ke dalam rebusan air dan juga dotnya.
Setelah melihat ke arah kopi, ternyata kopiku sudah jadi. Aku mencium aroma kopi yang nikmat, lalu setelah menyalakan timer di kompor listrik agar mati sendiri, aku pun membawa kopiku keluar dari rumah.
Setelah membuka kunci rumah, aku hampir langsung duduk di kursi ayunan taman perkarangan Bibi Hilmi yang masih basah karena embun. Akhirnya aku harus mengeluarkan efforts lagi untuk membersihkannya dengan kain lap. Aku menaruh kopiku dulu ke meja, lalu mengambil kain lap dan mengusap-usap dudukan agar pakaianku tidak basah karena embun.
Setelah yakin benar kalau ayunan oke untuk dinaiki, aku pun membawa kopiku dan duduk di sana. Menyeruput kopiku sedikit demi sedikit, sambil menikmati pemandangan di sekitarku.
Tiba-tiba aku jadi kepikiran pada Julian. Biasanya dia sudah sibuk mengurus Sofia seperti benar-benar seorang daddy. Tapi saat ini pintu gerbang kos Bibi Hilmi masih terkunci. Ah atau aku saja yang terlalu pagi terbangun?
Lagipula kenapa aku mengurusi soal Julian sih? Semenjak mengenalnya, aku jadi merasakan keanehan dalam diriku. Seolah ada bagian dalam diriku yang sangat tertarik olehnya. Padahal berkali-kali aku meyakinkan diri bahwa Taehyung adalah satu-satunya.
Setelah berdebat dengan diri sendiri. Pintu kamar kos terbuka, aku langsung segera menengok kesana, tapi yang keluar bukan Julian. Tuh kan, kenapa aku seolah kecewa coba?
Yang keluar cowok lain yang juga menyewa kosan di kosan Bibi Hilmi. Cowok itu sepertinya mau kerja karena dia sudah siap dengan seragamnya yang seperti orang teknik. "Pagi mbak," sapanya.
"Oh iya pagi mas," sapaku balik.
Cowok itu setelah menyapaku langsung keluar dari gerbang utama, dan kemudian menghilang begitu saja. Tuh kan rata-rata penghuni kosan Bibi Hilmi tuh kaum menengah ke bawah yang belum memiliki kendaraan. Aku aneh pada Julian.
Secara, dia itu bule kaya. Apalagi di Indonesia, dia bisa jadi kaya mendadak bukan? Kenapa dia memutuskan untuk ngekos di sini? Itu adalah pertanyaan terbesarku saat ini.
Setelah beberapa kali menyeruput kopi, aku sudah merasakan hangatnya sinar matahari menyinari taman. Sepertinya sudah pukul 8 ke atas. Aku langsung bangkit dari kursi taman, dan masuk ke dalam rumah. Mungkin menyelesaikan tugasku lalu membangunkan Emy dan Sofia untuk mencari sarapan di luar.
Kebetulan aku nggak bisa masak. Hehehe.
***
Setelah bergelut dengan program yang membuat otakku berasap, akhirnya tugasku selesai juga. Aku tinggal membuatnya menjadi aplikasi utuh agar bisa kukumpulkan sebagai satu file, dan hal itu dapat kulakukan kapan saja, jadi daripada berlama-lama, aku menutup laptopku dan bangkit menuju kamar Emily.
Saat aku masuk ke kamarnya, rupanya Emily sudah bangun. Seperti anak remaja pada umumnya, dia masih rebahan di kamarnya sambil memainkan ponselnya. Ia bahkan tak terusik saat cahaya masuk dari pintu yang kubuka. Aku memanggilnya, "Em?"
Emy baru bangkit dan menaruh ponselnya. "Iya Kak?"
"Ngapain? Bangun yuk. Cuci muka, terus kita jalan-jalan keluar sekalian cari sarapan?"
"Oke Kak," jawab Emily dengan sopan. Ia langsung pergi ke kamar mandi yang ada di kamarnya, lalu aku meninggalkannya untuk pergi ke kamar Sofia.
Sofia masih tidur, jadi aku menciumi pipinya agar ia terbangun. Aku takut jika nanti kami sudah pergi, Sofia malah terbangun sendirian dan tidak ada orang. Dia pasti akan panik nanti. Jadi daripada begitu lebih baik aku membangunkannya dan membawanya ikut olahraga pagi sekalian cari sarapan.
Sofia membuka matanya dengan mengulet. Ia kemudian tersenyum saat melihatku. Senyumnya sangat manis dan cantik, membuat aku sangat gemas padanya. Andaikan Sofia adalah anakku, aku pasti akan memeluknya setiap waktu.
Lihatlah wajahnya yang baru bangun tidur itu. Ia memiliki rambut blonde, dengan mata biru yang kentara. Mata birunya mengingatkan aku soal Julian. Ah mungkin karena itu Julian menganggap Sofi anaknya. Karena mata mereka sama-sama biru.
Aku pun menggendong Sofia, kemudian mengecek pampersnya yang masih kering. Aku pun bertanya, "Sofia mau pipis dulu?"
Gadis kecil itu langsung mengangguk-angguk. Aku pun membuka celana panjangnya dan melepas pampersnya yang benar-benar kering. Sofia masih berumur 3 tahun, tapi dia sudah tidak mengompol. Astaga aku bangga sekali, padahal aku bukan ibunya.
Setelah mengantar Sofia ke kamar mandi, aku juga membersihkan sisa pipis Sofia dan kemudian memakaikan celananya lagi.
Setelah itu, aku mengganti pakaian Sofia dari piyama, menjadi kaus dan celana panjang serta kaus kaki.
Setelah itu aku memanggil Emily yang juga sudah siap. Kami pun berjalan bertiga keluar rumah. Aku mengunci pintu rumah dan keluar dari gerbang utama bersama-sama.
Saat kami keluar dari rumah, semua tetangga melihat kami sampai terbengong-bengong. Mungkin karena tidak menyangka penghuni rumah Bi Hilmi akan keluar dari rumah tanpa menggunakan kendaraan.
Aku senang melihat betapa bahagianya Sofia saat berlarian di jalanan yang sepi. Namun tetap saja aku harus menjaga Sofia karena ada beberapa mobil dan motor yang melaju kencang meskipun banyak polisi tidur di jalanan sini.
Setelah mengelilingi kampung, akhirnya aku menemukan tukang bubur keliling yang sedang beristirahat di pos ronda. Aku pun dengan segera menghampiri tukang bubur tersebut, dan tampaknya tukang buburnya langsung ketakutan saat melihat kami.
"S-Sory. Nggak bisa bahasa inggris," katanya dengan malu-malu.
Aku tertawa kecil mendengarnya. Pasti bapak penjual buburnya mengira kami ini pure bule. "Kami bisa bahasa indonesia, Pak," ucapku.
"Astaghfirullah Neng. Kenapa kaga ngomong dari awal? Udah ketar-ketir ini," kata bapaknya dengan bahasa betawi yang kental.
Aku tertawa kemudian memesan buburnya 4 porsi. Kami mendapat masing-masing satu, dan satu porsinya lagi untuk Julian. Nanti biar Emy yang mengantarkannya ke kamar kosnya.
Tidak sia-sia jadinya aku berkeliling cari sarapan, sekalian ngeprank orang. Hihihi.