Kudengar, bibi harus pergi ke luar kota setelah datang ke sekolah Emily, karena bisnis pakaiannya yang ada di luar kota, tepatnya di Yogyakarta, sedang naik pesat, dan karyawan kesulitan menghandle sehingga Bibi Hilmi sendiri yang harus datang kesana.
Alhasil, akhirnya ibu meminta aku untuk menginap di rumah Bibi Hilmi untuk menjaga kedua anaknya. Well, sebetulnya sih aku tidak masalah. Kebetulan sekali, besok aku libur kuliah. Tapi mungkin aku harus bilang juga kepada Tae, karena dia belum kuberi tahu sampai saat ini kalau aku masih di rumah Bibi dan belum pulang ke rumah.
Omong-omong soal Tae, aku benar-benar lupa! Bagaimana kalau Tae mengira aku sudah di rumah dan malah datang ke rumahku karena kebiasaannya yang suka datang tiba-tiba tanpa bilang dulu?
Ya ampun.
Karena gelisah, akhirnya aku berdiri dari tempat aku duduk, di karpet depan TV dimana aku, dan Julian sedang mengajak main Sofia dengan mainan yang dibelikan Julian saat ke mall tadi.
Aku segera pergi menuju ruang tamu depan, dan menelepon nomer Taehyung. Pada dering ke-5, barulah teleponku diangkat. Suaranya tampak kelelahan. "Noona?" panggilnya.
"Tae? Kamu dimana?"
"Taehyung di rumah, Noona. Noona mau dijemput kah?"
Aku langsung bernapas lega mendengar Taehyung sudah di rumah. Pasalnya kan tadi siang saat ia mengantarkan aku ke rumah Bi Hilmi, ia izin pergi ke sekretariat BEM, dan kami sama sekali tak berhubungan lagi. Bahkan ucapannya yang mengatakan kalau ia akan menghubungiku lagi saat sudah sampai di kampus, tak ia jalani.
"Eh enggak usah, Sayang. Aku cuma khawatir."
"Maaf ya Noona. Tae tadi main basket dulu, pulang ke rumah malah ketiduran."
"Ya ampun Tae. Maaf ya? Gara-gara aku kamu jadi kebangun ya?"
"Noona bicara apa sih. Taehyung yang minta maaf karena lupa menghubungi Noona. Jadi Noona mau dijemput?"
"Nggak, Sayang. Aku menelepon karena mau bilang kalau hari ini aku menginap di rumah Bibi Hilmi. Bibi Hilmi pergi ke Yogyakarta, jadi aku menjaga Emily dan Sofia di sini."
Suara berat Taehyung kemudian terdengar sedikit khawatir. "Waduh, jadi menginap ya. Tapi Noona sudah makan? Perlu Taehyung datang ke sana untuk bawain makanan? Sekalian untuk Emily dan Sofi?"
Aku tersenyum dalam hati, mendengar betapa Taehyung sangat menyayangi aku. "Noona udah makan, Sayang. Emy dan Sofi juga. Kamu nggak usah khawatir ya?"
"Benar?"
"Untuk apa aku bohong?"
"Hehe, kalau bohong kan aku yang untung."
Aku tertawa kecil mendengar ucapannya. Beberapa minggu yang lalu, kami membuat challenge, dimana jika ada di antara kami yang melakukan white lie, hukumannya adalah harus memberikan ciuman satu minggu penuh.
"Dasar kamu Tae!"
"Hehehe. Habis Noona menggemaskan."
"Udah ah stop. Kamu jangan bikin aku ikut gemas."
"Kalau gitu, aku matiin ya Noona? Taehyung masih mengantuk."
Aku tersenyum sendiri kemudian menganggukkan kepala meskipun aku tahu Taehyung tidak melihatnya. "Pasti Noona mengangguk deh walau ini panggilan telepon, bukannya video call."
"Hehehe," kekehku. Kali ini aku yang meringis mendengar celotehannya. "Oke sleep tight Love!"
"Love you Noona."
"Love you more Tae!"
pip.
Telepon pun mati, tapi aku tak bisa menghentikan senyuman di wajahku sama sekali. Ah, ternyata aku benar-benar menyukai Taehyung!
***
Selesai bertelepon, aku kembali ke ruang depan TV. Saat ini, sudah ada Emily yang bergabung dengan Julian dan Sofia. Tampaknya Julian juga kelelahan karena jalan-jalan dan menemani Sofia main sampai detik ini, karena lelaki itu saat ini merebahkan dirinya di atas sofa dengan Sofia yang duduk tepat di samping badannya, bahkan tampak menyender dengannya.
"Sofia buat apa?" tanyaku langsung, ikut nimbrung ke depan Sofia yang sedang membuat masak-masakan dengan mainan yang ia punya.
"Tata nau naci goyeng? Tofi jual naci goyeng!" ucapnya dengan riang. (Kaka mau nasi goreng? Sofi jual nasi goreng!)
Aku mengangguk mau dengan semangat. Sofia memasak nasi goreng untukku seolah memasaknya betulan. Memasukkan bumbu-bumbu yang ada di hadapannya dan menggorengnya di atas kompor. Ia kemudian menyajikan makanannya ke depanku.
"Waduh, enak banget nih kayaknya. Sudah berapa lama mbak jualan nasi gorengnya?" tanyaku ikut dalam suasana permainan Sofia.
"1 jam," jawab Emily yang membuat Sofia sontak ikut menjawab hal yang sama.
Aku tertawa mendengar betapa polosnya Sofia saat menjawab. Lalu kulihat Julian yang saat ini malah terdiam, ternyata oh ternyata, matanya terpejam. Ia tidur di sana dengan sangat tenang.
Aku pun mencolek bahu Emy membuat Emy langsung menatapku bingung. "Em, ambilkan bantal untuk Julian. Kasihan dia lelah dari siang kan ajak kita jalan-jalan."
Anak gadis baik itu langsung mengangguk dan berdiri. Ia kemudian pergi meninggalkan aku dan Sofia yang masih asik memasak dengan alat masak mainan barunya, sedangkan aku berpura-pura makan makanan yang Sofia berikan untukku.
"Ini Kak," ucap Emily sambil memberikan bantal yang diambilnya dari kamar tamu kepadaku.
Aku pun berdiri, mendekat ke arah Julian, lalu berjongkok di hadapannya. Aku ragu untuk membangunkannya, tapi aku juga ragu untuk tidak membangunkannya karena aku takut lehernya akan pegal tidur tanpa bantal di lantai yang hanya beralaskan karpet.
Akhirnya, aku memutuskan untuk menaruh bantal di kepalanya tanpa membangunkannya.
Hati-hati, aku pun berlutut, kemudian memegang bantal di sebelah kanan kepala Julian. Lalu aku mendekat ke arah kepalanya, mulai mengangkat sebelah kepalanya dengan tangan kanan.
Saat aku mengangkat kepalanya pelan, mata Julian terbuka, dan aku yang berada di depan wajahnya menjadi terkejut hingga langsunt menjauhkan wajahku segera dari posisi aneh itu. Julian langsung terduduk setelah sadar atas apa yang baru saja akan kulakukan.
"Anu, bantal," sebutku tak menjelaskan apapun.
Julian lalu melirik ke kirinya tepatnya ke arah bantal yang kutaruh di sana, ia kemudian mengangguk-angguk, namun ia menampakkan wajah kecewa.
Aku tak mengerti kenapa ia harus kecewa, tapi aku juga jadi merasa tidak enak hati. Apakah maksudnya Julian kecewa karena tidurnya terganggu?
"Bangunkan aku pukul 10 oke?" ucapnya dengan susah payah.
Aku menjawabnya dengan mengangguk dan memberikan gesture jari oke kepadanya. Julian pun kembali menidurkan tubuhnya, kali ini kepalanya ada di atas bantal, dan matanya langsung terpejam. Mungkin karena terlalu terang, ia menutupi matanya, dan aku terlalu canggung jika masih terus menatapnya yang sedang tertidur itu.
Duh Rain, seharusnya kau biarkan saja Julian tidur. Pasti dia kesal karena kubangunkan tadi.
***
Setelah main selama hampir 1 jam penuh, akhirnya Sofia mengantuk. Mungkin karena ia memang terbiasa tidur di jam 9 malam. Emily bahkan sudah pergi ke kamarnya dan mematikan lampu, sedangkan aku saat ini sedang membuatkan s**u untuk Sofia, agar gadis manis itu bisa tidur di kamarnya.
Setelah membuatkan s**u untuk Sofia, aku menggendong gadis kecil itu menuju kamarnya sendiri, aku menidurkannya ke atas kasurnya dan memastikan Sofia bisa tidur nyaman dan tak akan terjatuh dari kasur jika ia tak sengaja bergerak saat tidur.
Setelah mengantarkan Sofia tidur, aku pun mendatangi ruang TV yang masih menyala. Julian masih terlelap di sana, dan tampaknya ia tidur dengan sangat nyaman seolah rumahnya sendiri.
Tuh kan, tanpa sadar aku jadi memerhatikannya lagi. Bahkan kali ini aku memerhatikannya dari jarak dekat. Habis bagaimana ya? Aku merasa sangat dekat dengan Julian meskipun kami tak saling mengenal. Apakah kami calon soulmate?
Haha apa sih Rain. Bicara apa aku ini. Sudah jelas soulmate-ku adalah Taehyung.
Tapi jujur saja, melihat mata lentik Julian yang tertidur, aku ingin sekali meraihnya dan merabanya. Namun aku langsung terdiam kaku saat lagi-lagi mata Julian terbuka.
Ia langsung duduk dan membuat aku juga dengan canggung menjauh darinya. Ia mengucek matanya dengan polos kemudian menatap ke sekeliling. Mungkin bingung karena sudah sepi. "Sofi dan Emy sudah tidur," jelasku.
"Oh syukurlah."
Julian kemudian berdiri. Ia langsung pergi meninggalkan aku yang masih terduduk di karpet dengan kebingungan. Namun Julian berhenti berjalan sebelum benar-benar menghilang dari pandanganku.
"Setelah aku keluar, kunci semua pintu ya? Jangan kemana-mana. Telepon aku jika ada masalah."
Aku mengangguk dengan polos, kemudian Julian baru benar-benar menghilang dari hadapanku.
Julian, dia kenapa misterius sekali sih?