Mungkin Julian sadar, atau juga mungkin tidak. Aku secara terang-terangan menatapnya dengan kebingungan. Seharusnya ia tahu kalau aku sedang mencuri pandang terhadapnya. Maksudku, dengan wajahn setampan itu, dan juga tubuh yang hot, aku jamin tidak ada satupun wanita yang tal bertekuk lutut kepada Julian. He's too hot to being handled.
"Kak nuggetnya boleh buat Emy?"
Emily menyenggol tanganku, dan pandanganku langsung beralih kepada Emily yang menunjuk ke arah makananku yang masih hampir utuh. Padahal seharusnya aku buru-buru makan agar bisa menggantikan Julian menyuapi Shofia. "Ambil aja, Em. Kakak nggak makan banyak kok. Soalnya nanti makan lagi di rumah."
"Tante masih cerewet ternyata ya kak," kata Emy sambil tertawa. Ia mengambil nuggetku dan aku ikut tertawa.
"Kamu kaya nggak tau mamaku aja, Em. Kalo aku nggak makan di rumah, bisa-bisa aku dituduh makan terus di lusr terus ujungnya aku di suruh tidur di luar aja karena nggak makan makanan masakan mama."
Emily tertawa terbahak-bahak karena ia rupanya masih ingat betapa cerewetnya mamaku. Emily dulu kan suka menginap di rumahku karena terkadang Bibi Hilmi bekerja, dan almarhum paman juga bekerja. Tapi yang membuatku bingung, kenapa Emily masih ingat ya? Itu kan kejadian sudah hampir 8 tahun yang lalu.
Lalu kenapa aku juga ingat hal itu ya? Padahal kata mama, aku lupa ingatan. Tapi kenapa ingatan setelah lulus SMA saja yang tak kuingat? Aneh, haha. Mungkin aku harus makan banyak otak-otak agar ingatanku tidak cepat hilang. Padahal kan aku masih muda.
"Emy jadi inget, Kak Noah kan punya boxer yang gambar hulk. Karena Emy nggak suka sama boxernya, jadi Emy sembunyikan di bawah mesin cuci."
Aku tertawa mendengar celotehan Emily. Lalu jadi teringat bagaimana Noah merajuk dan menangis karena boxer kesayangannya hilang. Terus pada akhirnya ibu dan appa membelikan boxer untuknya yang baru, kali ini gambar iron man, dan dia sangat menyukai boxernya yang baru itu sampai lupa kalau boxer lamanya sebetulnya bergambar Hulk.
Saking asiknya mengobrol dengan Emily, aku sampai lupa kalau saat ini, Julian lah yang menatapku dengan fokus karena aku keasikkan ngobrol. Rupanya saat aku mengobrol tadi, ia sudah selesai makan, dan saat ini sedang fokus menyuapi Shofia sambil mendengarkan aku bercerita.
"E-Eh kamu udah selesai makan?" tanyaku merasa tidak enak. Padahal seharusnya aku yang buru-buru menyelesaikan makanku untuk menyuapi Shofi, tapi malah ujungnya Julian lagi yang mengurus Shofia dengan baik dan telaten. Aku jadi merasa tak berguna di hadapan Julian.
"Tidak apa. Kamu lanjutkan saja mengobrolnya."
Ucapannya barusan malah jadi tambah membuat aku merasa bersalah. Akhirnya dengan cepat aku memasukkan makanan ke dalam mulut, mengunyahnya dan langsung menelannya. Tapi naasnya, aku malah tersedak sampai terbatuk-batuk.
Julian dengan sigap memberikan aku teh ocha yang ada di hadapan kami. Setelah aku minum, ia juga menepuk pelan belakang punggungku, membuat tubuhku anehnya merasa lega. "Jangan makan terlalu cepat. Sistem pencernaanmu tidak terlalu baik."
DEG
Heh? Sejak kapan? Taehyung saja tidak tahu kalau aku punya sistem pencernaan buruk. Aku sendiri juga bahkan tidak tahu. Yang aku tahu, aku memang jarang BAB, bahkan bisa 3 hari sekali. Karena itu aku biasanya malas makan dan hanya makan sedikit, dan lama.
"Julian apa kamu mengenalku?"
Julian yang sedang memukul pelan punggungku langsung menghentikan aksinya. Ia lalu kembali fokus menyuapi Shofia dan seolah menghiraukan pertanyaanku. Iya sih, cukup aneh aku bertanya begitu. Lagipula, mana mungkin kan Julian mengenalku? Ia bahkan baru bertemu aku seminggu yang lalu. Cukup aneh kalau Julian benar-benar sudah mengenalku sebelum ini.
***
Usai makan di restoran cepat saji tadi, bukannya pulang, Julian malah membawa kami masuk ke dalam mall. Kami menuju Time Zone yang ada di lantai paling atas mall, tempat terdingin yang biasa aku rasakan kalau mau nonton di bioskop.
Saat sampai di Time Zone, rupanya Julian sudah punya kartu, dan ia tinggal top up kartunya untuk diisi uang elektronik untuk bermain di semua wahana yang Time Zone punya.
Yang membuatku kaget adalah, Julian tidak tanggung-tanggung mengeluarkan uang untuk kami. Pasalnya kan, dia cuma orang yang tinggal di kosan milik Bibi Hilmi. Tapi dia membiayai makanan kami, mengantar kami kemanapun, dan sekarang? Dia top up untuk kartu Time Zone sampai 500 ribu rupiah. Apakah dia sekaya itu? Dia gabut dan kaya, begitu ya?
Well, bukannya aku julid sih. Aku juga dapat untung kalau dia sebaik ini. Tapi tetap saja hati nuraniku berkata kalau sebuah kebaikan tidak mungkin datang begitu saja. Entah dia butuh sesuatu nantinya, atau memang dia sudah mendapatkannya dan sedang membayarnya. Tapi, orang macam Julian tak akan jahat kan kepada keluarga Bibi Hilmi?
"Hei, jangan banyak melamun oke?"
Aku tersadar saat Julian menyentuh pundakku. Aku menatap Emily yang sudah memegang kartu sambil berlari bersama Shofia yang ingin naik ke atas kuda terbang yang lucu.
Aku menatap Julian yang juga menatapku dengan dalam. Anehnya hatiku langsung merasa mencelos melihat betapa dalam pandangannya terhadapku. Aku seolah tenggelam di dalam sana dan tak bisa bangkit sampai akhirnya Emily menarik tanganku ke arah Shofia yang sedang menunggu di bawah kuda terbang.
"Kak Rain gendong Shofia," ucap Emily.
Aku menghiraukan tatapan Julian barusan, dan langsung saja mengangkat Shofia naik ke atas kuda terbang tersebut. Aku memasangkan belt yang ada di kuda terbangnya dan Emily yang menggesek kartunya agar Shofia bisa bersenang-senang dengan mainan tersebut.
Sesekali aku menengok ke arah Julian yang tampak hanya terdiam sambil duduk tak jauh dari kami. Aku menggelengkan kepala, tak ingin memikirkan soal Julian lagi. Aku menatap Shofia yang justru kini sedang tertawa dengan lebar. Tawa Shofia mengingatkan aku kepada seseorang. Tapi anehnya aku tidak tahu tawa siapa.
Saat permainannya sudah usai, aku menggendong Shofia turun ke bawah. Ia langsung berlari menghampiri Emily yang saat ini bermain pukul tikus dengan palu.
Mungkin karena aku, Emily, juga Shofia sudah masuk lebih dalam, akhirnya Julian jadi mengikuti kami masuk. Ujungnya ia malah ikut bermain dengan kami, dengan cara ikut menekan tikus yang keluar jika Shofia bingung harus memukul yang mana.
Aku tertawa karena sesekali tangan Julian harus kena pukul palu yang dipegang Shofia karena tangannya menekan tikus duluan daripada palunya Shofia.
Usai bermain pukul tikus, Shofia langsung lari lagi ke wahana lempar bola basket. Julian membantu Shofia dengan menggendongnya, lalu melempar bolanya ke dalam ring dengan mudah. Aku ikut membantu dengan memasukkan bola basketnya ke dalam ring. Sementara itu, kami bertiga, sedang bersaing dengan Emily yang juga bermain di ring sebelah.
Setelah permainan usai, rupanya Emily yang menang karena mendapat poin lebih banyak. Gadis itu tertawa riang sambil merobek tiket yang didapat dan membawanya. "Tuh kan aku yang menang," kata Emily dengan bangga.
Aku hanya mengusap-usap rambutnya karena merasa gemas. Bisa-bisanya ia menganggap ini turnamen sungguhan. Melihat ada pop corn yang dijual di Time Zone, aku pun menatapnya lama. Bingung ingin membeli atau tidak. Kalaupun ingin membelinya, aku harus membeli yang rasa apa supaya Emily dan Shofia juga mau memakannya?
Lagi-lagi Julian sadar. Ia tak menunggu aku atau menanyakan rasa apa yang kusuka. Ia langsung membelilan popcorn dengan rasa caramel dan membelinya sebanyak 3 buah. Satu untukku, rasa salt untuknya, dan caramel juga untuk Emily.
"Terima kasih, Julian," ucap Emy yang langsung dibalas Julian dengan usapan tangannya ke atas rambut Emy.
Setelah itu, kami pun memilih untuk masuk ke foto box. Emily dengan sangat pandai memencet-mencet hal yang aku tak mengerti. Kami bisa melihat wajah kami di kamera yang ada di sana. Karena ada emot lucu, kami pun tertawa karena Shofi tertawa sangat lebar setelah melihat dirinya sendiri ada di sana dengan emot yang lucu.
Julian juga tertawa bersamaku, dan aku akhirnya menyadari sesuatu.
Tawa Shofia, mirip dengan tawa Julian.