Happy readings..!!
???
"Kalo lo kalah,lo harus ngabulin permintaan gw Zee"Dika menatap ZeeZee dengan sombongnya.
ZeeZee pun tak kalah semangat,dia membalas tatapan Dika "aku pasti menang Dika,dan kamu yang akan ngabulin permintaan aku"
ZeeZee sebenarnya ragu dengan tantangan ini,tapi dia juga gengsi untuk mengakuinya dan otomatis Dika akan menang.
ZeeZee menelan ludahnya kasar melihat dua piring mie goreng level 3.Boro-boro level 3,makan bakso di kantin aja udah kepedesan.Dia berusaha menyemangati diri sendiri jika dia pasti menang.
Cuma level 3 Zee,lebay lo!! Dika pasti kalah,dia kan anak mama,dia juga ga bakal kuat,batin ZeeZee.
Dika langsung mengambil sumpit dan melahap mie nya dengan rakus.ZeeZee kaget melihat itu,tak mau kalah dia juga memakan mie nya.
Dika bahkan telah menghabiskan setengahnya.Dika makan tanpa menyentuh gelasnya sama sekali sedangkan ZeeZee,sedari tadi dia hanya minum dan baru makan beberapa kali.
"Oke fix,gw menang" kata Dika dengan sombongnya.
Dia mengansurkan piring yang telah kosong itu kepadaku.
Aku pikir dia benar-benar anak mama,aarrgghh.. aku menyesal mengajak dia kesini,batin ZeeZee.
Dika menopang dagunya dengan kedua tangan dan terus tersenyum puas.
"Oke aku kalah"kataku kemudian.
"Gitu dong,sportif"kata Dika kemudian mengambil tissu dan mengelap dahiku yang berkeringat.
Jangan tanya aku bagaimana,tentu saja pipiku merona merah. Di tambah dengan bibirku yang bengkak ingin meledak rasanya karena kepedesan. Aku gugup dan bingung harus berbuat apa. Aku kemudian melakukan hal yang sama pada Dika. Mengambil tissu dan mengelap wajahnya yang dipenuhi keringat.
Kami saling menatap dan sesaat kemudian kami sama-sama tertawa.
"Wajah lu jelek banget Zee,pipi gembul,bibir lu juga jadi dower noh,kalo ga bisa makan yang pedes-pedes ga usah sok-sok an nantangin orang"katanya kemudian.
"Lu juga ngaca woi,tampang lu lebih parah dari gw,lu menang juga gegara beruntung,gw sengaja aja ngalah biar lu seneng."kata ku tak ingin kalah.
"Udah kalah masi aja sombong"katanya kemudian mencubit pipiku gemas.
????
Selama di motor,aku hanya diam. Ya aku kesal karena kalah. Katakan saja aku kekanak-kanakan tapi,bukan seperti ini yang aku inginkan. Dika pasti senang sekali dan akan minta yang macam-macam.
"Ekkhmm" Dika berdehem dan aku hanya diam.
"Zee.." panggilnya lagi.
"Apasih Dik.." ucapanku terpotong karena lagi-lagi Dika mencubit pipiku asal.
"Lepas Dika.. sakit" kataku.
"Ga mau,nyubit pipi kamu jadi hobi baru aku sekarang"katanya lagi.
"Ini beneran sakit tau" dia kemudian melepaskan tangannya dari pipiku.
Aku menunggu Dika di parkiran sebuah swalayan. Katanya,dia mau beli sesuatu. Aku menundukkan kepala menatap sepatuku. Ahh... akhir-akhir ini aku bahagia sekali,bahkan aku lupa soal itu.
Ya tentang rahasiaku yang nanti akan kuceritakan secara perlahan.
Tiba-tiba seseorang menyodorkan ice cream kepadaku. Aku mendongakkan kepala dan tersenyum,siapa lagi kalau bukan Dika.
Kami berhenti di depan sebuah taman yang tak jauh dari swalayan tadi. Aku langsung turun dari motor Dika dan berlari.
"Cepetan Dika,nanti ice creamnya meleleh".
"Bentar Zee,tunggu..".
"Iihh.. kamu mah lama".
"Tunggu bentar Zee,kamu mau kaya gitu terus sampe taman ? Itu helm kamu belum di lepas"kata Dika tersenyum mengejek.
Ya,benar saja. Aku belum melepas helmku,aku berlari menghampiri Dika dengan malu-malu kemudian memberikan helm padanya.
"Ceroboh sih"dia kemudian mengacak-ngacak rambutku.
Aku segera memakan ice cream yang jika telat 3 detik saja akan meleleh.
"Pelan-pelan Zee,makan nya jangan berantakan" kata Dika lalu membersihkan bibirku.
Aku hanya tersenyum simpul dan kembali memakan ice cream itu,masa bodo dengan wajahku yang entah sudah seperti apa penampakannya.
"Jadi,aku mau kamu ngabulin permintaan aku Zee" kata Dika yang sudah terlebih dahulu menghabiskan ice creamnya.
Aku hampir saja menelan cone ice cream ini,aku lupa dengan taruhan itu.
"Yaudah,mau minta apaan ? Jangan minta jajan aku seminggu ya Dika,jajan aku mah dikit,masak kamu tega sih"kataku dengan memelas.
Dika membentuk lengkungan tipis di wajahnya,senyum yang aneh,batinku.
"Tadi sebelum kalah padahal kamu bilang apapun lho Zee,suka-suka aku dong pengen minta apa".
"Iya deh. Berhubung aku sportif dan baik hati,jadi kamu pengennya apaan?"jawabku.
Dika kemudian menuntunku berdiri berhadapan dengannya. Waahh.. jantungku menggila,Dika terus memandangku sementara aku menunduk salah tingkah. Aku mengepalkan tangan kuat-kuat.
"Zee.."panggil Dika.
"I-iya" jawabku tanpa menatapnya.
"Kalo ngomong sama orang tuh mukanya ditatap Zee..".
Aku memberanikan diri menatap Dika,untuk sepersekian detik kami saling menatap dengan jantungku yang terus berlari-larian di dalam.
"Tutup mata kamu Zee" pinta Dika.
1 detik..
2 detik..
3 detik..
Aku menjitak kepala Dika.
"Aww.. ngerusak suasana aja sih"kata Dika meringis kesakitan.
"Kamu sih,kan tadi aku udah bilang jangan minta yang aneh-aneh"ketusku.
"Emang aku minta yang aneh-aneh ? Aku cuma minta kamu nutup mata aja"katanya tak kalah sengit.
Aku akhirnya mengalah dan menghembuskan nafas kasar
"iya deh,tapi janji ya jangan aneh-aneh".
"Yaudah tutup mata lagi"katanya.
Aku menutup mata tapi kemudian aku sedikit membukanya lagi,mengintip Dika yang sedang melepas kacamatanya.Aku semakin gugup dan membuka mata lagi.
"Tuh kan,kamu pasti aneh-aneh deh,kenapa pake lepas kacamata segala. Ga enak tau Dika,banyak orang disini".
"Emang kamu mikir aku mau ngapain?"kini Dika terlihat sedang menggodaku.
Pipiku merona merah,ya benar juga,apa yang aku pikirkan tentang Dika. Aku menggeleng kemudian menutup mata lagi.
"Ya udah,cepetan.Biar semuanya cepet selesai,aku mau pulang"kataku kemudian.
"Ga sabaran banget sih"kata Dika yang sepertinya memang sengaja menggodaku dari tadi.
"Bacot..!! Kalo kelamaan,aku tinggal pulang nih"kataku yang masih menutup mata.
Dika memegang kedua lenganku,aku juga. Aku memegang kedua lengannya kuat.Dia mendorong tubuhku semakin dekat padanya. Deru nafas Dika bahkan terasa dikulit wajahku. Lalu kemudian..
.
.
.
.
.