"Nad!"
"Boss lo telepon tuh, Nad!"
"Nada! Demi! Angkat dulu!"
Yang pertama, biasanya Nada yang bangun terlebih dulu. Karena Natan tipe orang suka ngaret dan kebo kronis. Tidak ada catatan adiknya yang setengah berandal itu akan bangun di bawah jam 6 pagi.
Yang kedua, Nada tidak suka Natan teriak-teriak begini untuk membangunkan tidurnya. Apalagi suaranya yang besar khas remaja puber itu benar-benar menganggu telinganya. Tidak bisakah tangannya mengulur untuk sekadar menggoyangkan bahu Nada? Itu sepertinya akan lebih sopan.
Dan yang ketiga, seingatnya Nada sudah resmi resign. Entah matahari di luar sana sudah setinggi overthingking Nada, atau jalanan Kemang yang sudah sepadat jadwal les nya Natan──namun Nada tidak punya lagi agenda untuk dikerjakan. Lantas, kenapa si Direktur senewen itu menelponnya pagi-pagi seperti ini?
Tunggu! Agam menelpon!?
"Hah?" Dengan muka setengah konyolnya itu, Nada terduduk. Dia belum siap untuk ini tentu saja. Seharusnya Nada bahkan mengumpulkan nyawa dan menggeliat ria terlebih dulu! Sekarang rasakan, tulang-tulang Nada seperti langsung kembali kaku seakan terkena hujaman es.
Wajah tak terima Natan jelas kentara. Bukan rambutnya saja, garis mukanya yang turut acak-acakan itu sudah menjelaskan betapa terusiknya dia sekarang ini.
Sepertinya bunyi dering ponsel Nada yang bisa saja membuat bumi Jakarta gonjang-ganjing juga membuat pikiran Natan juga gonjang-ganjing. Pasalnya, Nada sudah terbiasa tidak akan mengatur ponsel menjadi mode silent jika tidak sedang masuk ke ruangan Agam.
"Bos lo tuh jawab dulu. He pretty bothering. Subuh gini telepon juga ngapain coba. Heran gue," protes Natan.
Dia melemparkan ponsel berlogo apel keluaran terbaru itu ke atas perut Nada, "Lagian lo kenapa sih taruh hp di atas meja belajar gue. Tau sendiri meja belajar gue tuh udah full of s**t,"
Nada ketiduran di sofa karena ngantuk berat. Keberhasilannya untuk resign dari cekikan holding company itu tentu membuat Nada harus euforia. Karena temannya pada sibuk, jadi semalam dia hanya casual drink sambil makan ceker pedas. Namun, setelah itu rasa kantuk Nada benar-benar tak tertahan lagi hingga dia bahkan lupa gosok gigi.
"Gue?" Nada menjedanya dengan menyibak kardigan yang dia selimutkan untuk kakinya, "Terus semalem yang pinjem hp gue buat nebeng transfer m-banking tapi belum dikembaliin siapa, sih? Kang cilok?"
Natan mengerling, tangannya itu menggaruk tengkuknya ragu hingga dia menemukan memorinya yang akhirnya tersusun rapi semalam. Natan hanya nyengir dan minta maaf pada Nada
"Habis bos lo tuh lihat aja udah telepon berapa kali. Berisik banget. Eh──" Natan berbalik sekejap dengan sebuah garis di antara alisnya, "Lo udah beneran resign 'kan, Nad? Kok masih di-contact gitu sama mantan bos lo?"
Nada menguap sejurus sebelum sudut matanya melirik jam pada dinding apartemen. Matanya cukup melotot melihat jarum jam yang masih menunjukan pukul setengah 6 pagi lebih sedikit.
Telepon di pagi hari seperti ini memang kebiasaan lama Agam saat Nada masih menjadi sekretaris-nya, namun kini Nada 'kan sudah resign! Ada perlu apa lagi memangnya si Direktur muka sadis itu menelpon Nada sepagi ini.
"Udah, Tan. Tau tuh, mau ngajak adu jotos kali," Nada mengerucutkan bibirnya seraya mengecek notifikasi panggilan tak terjawab dari Agam yang sebanyak 4 kali.
Mukanya menjadi sukar dijelaskan ketika ada pesan dari Agam tatkala status Nada sudah berganti menjadi online. Nada menaikkan kedua alisnya tinggi, tak biasanya Agam betah melek mata untuk melihat banyak pesan di salah satu aplikasi chat seperti ini. Status Agam yang online benar-benar bisa dihitung jari berapa kali dalam sehari.
Nada bersumpah, saat dia bekerja dengan Agam dulu, pria itu hanya online mungkin saat jam makan siang, atau malam setelah pulang kerja. Itu pun, jika Agam sudah meneruskan lemburan kerjaan di rumah, dia tak akan mengotak-atik ponselnya lagi.
Satu-satunya cara yang efektif agar cepat dibalas Agam adalah dengan telepon, ya, jika kamu memang berani untuk telepon Agam dan mendengar suara berat menyeramkannya itu secara langsung.
Pak Agam: Bisa ktmu jm mkan siang?
Nada menghela berang. Agam itu Direktur, apa pria itu tidak mengerti EYD? Nada selalu sebal menerima pesan dengan singkatan-singkatan seperti ini. Dikira Nada itu ahli sandi morse?
Nada: Maaf, urusan apa ya pak? Kan saya sudah bukan bagian dari samudra group.
Pak Agam: Sekretaris baru sdh ckup kompten, tp sy tdk bisa selalu cerewet buat bkin dia bisa menyesuaikan diri sm kebiasaan sy. Ini pribadi. Tlong km handle, nnti sy beri komisi.
Mata Nada membesar. Dia mengernyitkan dahi tanda ketidak inginannya berurusan dengan Agam lagi. Mulutnya berdesis untuk menekan gejolak dalam otaknya yang sudah menguap. Jarinya kelihatan mengetik dengan sisa kemarahan pada ujung-ujung kukunya.
"Hendal handel hendal handel enak aja. Gue bukan babu lo lagi, ya, Wikranegara," gumam Nada setelah memberi balasan pada Agam jika dia menolaknya.
Pria 34 tahun itu benar-benar tidak waras, Nada rasa. Bahkan setelah resign pun, Nada yang juga harus ribet untuk membuat sekretaris baru Agam itu bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan Agam yang sudah mendarah daging. Dipikir Nada guru les privat?
Tidakkah gadis itu juga tidak ingat dengan pesan Nada, dan pantangan, serta mitos menjadi sekretaris seorang Direktur berlabel Ivander Agam Wikranegara. Mungkin jika mengingatnya saja, itu sudah cukup membantu.
Memang begitu. Bekerja di bawah Agam punya pantangan tersendiri. Namun, Nada tak bisa mengungkapkannya satu per satu, karena demi apapun mulut Nada akan berbusa. Bahkan, Agam juga memiliki beberapa mitos menyeramkan yang semerbak di kantor meski itu semua sebenarnya zonk. Apakah itu bukan hal gila? Saking sadisnya, Agam sampai punya mitos!
Diberkati dengan ketampanan tingkat dewa dan kepintaran paripurna, nyatanya tak juga membuat Agam bakal dilirik wanita-wanita di Samudra Group. Rata-rata mereka sudah tahu betapa dingin dan menjengkelkannya pria itu di dunia profesional.
Nada yakin, wanita yang berani menyukai Agam pasti berada di luar lingkungan Samudra Group. Belum saja mereka mendengar betapa kerasnya sarkasme Agam yang selalu bikin makan hati.
Bahkan saat itu banyak staff dan direksi Samudra ragu dengan mental Nada kala bekerja dengan Agam, apakah masih baik-baik saja atau sudah putus satu kabel?
Jangan lagi ditanya sudah putus berapa. Jika mental Nada baik-baik saja, dia tak akan mungkin minta resign dari Samudra Group. Orang-orang berlomba untuk bisa menjadi bagian dari Samudra, gaji menjadi staff bahkan sudah terbilang tinggi. Namun tidak dan terima kasih, Nada benar-benar tak akan rujuk dengan Agam untuk menjadi sekretaris lagi!
"Eh, lo ujian, 'kan? Kok gak siap-siap? Kemang ke Kebayoran Baru ya deket, tapi lo pikir jalanan Jakarta sebebas lo buang kentut?"
Natan yang hendak masuk ke kamar lagi itu mengerang dan mengacak-acak rambutnya. Dia berbalik pada Nada dengan muka setengah horor agar mulut gadis 27 tahun itu cepat mengatup. Natan memang benci jika karakter cerewet Nada yang seperti ibu-ibu kompleks itu sudah mode-on.
"Tidur bentar doang, Nad. Gak telat gak. I swear," janjinya.
Nada membalas tatapan Natan dengan iris mengancam. "Terserah. Kalau lo sampai telat dan gak boleh ikut ujian, gue gak mau ke sekolah buat jemput lo di ruang BK. Just mind your own business gimana caranya,"
"You wish," balasnya enteng sambil kembali masuk ke kamar.
Rencana Nada untuk bangun siang seperti orang-orang nowadays gagal. Nada adalah orang yang susah tidur lagi jika sudah dibangunkan seperti ini. Oh God! Ini semua karena Agam! Sudah resign pun Nada masih harus pusing. Memang sebenarnya Nada harus block kontak Agam di dalam ponselnya sekarang juga.
Pak Agam: I swear u've to handle this.
Notifikasi pop up nyatanya muncul kembali, dan sukses membuat Nada berniat membanting ponselnya sepagi ini. Sudah berapa derajat darahnya itu mendidih di dalam sana. Hanya melihat ketikan Agam saja Nada sudah sebal, belum lagi jika melihat muka jutek pria itu kembali.
Nada: I just can't. I'm busy as hell~
Pak Agam: Busy for what? Kamu msih pengangguran kn?
Oh Mommy! Nada benar-benar ingin menggiling Agam!
Nada: Sibuk ga harus perihal corporate kan pak.
Nada mengantongi ponselnya itu dengan terburu sebelum dia menyeret kakinya untuk pergi ke dapur. Dia harus memasak dan menyiapkan sarapan untuk Natan. Hidup berdua dengan adik lelakinya itu memang membuat Nada harus mendadak menjadi seorang mama muda.
Apalagi Natan cowok bandel yang sukanya pulang malam. Nada harus banyak-banyak mengatur kesabarannya itu agar tidak meletup. Untung saja Natan tak sampai suka menghabiskan uang dengan open table di diskotik mahal.
Setelah resmi pindah kewarganegaraan, ibunya itu ikut tinggal di Swedia bersama suami barunya. Alih-alih beli rumah, Nada ingin beli apartemen saja. Pikirnya, jika Nada sudah tidak tinggal di sini, apartemen yang dia beli bisa buat investasi.
Sebadung apapun watak Natan, namun pemuda itu nyatanya lebih memilih melanjutkan sekolah di Indonesia. Katanya, dia tidak bisa meninggalkan teman-teman kocaknya serta asap polusi Jakarta. Namun, satu-satunya hal yang membuat pemuda itu sulit untuk meninggalkan negeri tercinta adalah kue cubit bang Jana dan soto Betawi di Kelapa Dua.
Sepersekian menit tak terjamah, ponsel Nada kembali bergetar. Gadis itu dengan malas merogoh saku celananya setelah meletakan pisau ke atas meja pantry.
Pak Agam: (send a picture) Sy sdh transfer ke m-banking km, itu komisi pribadi dari sy. Silahkan datang ke cafe yg biasa sy datangi buat ktmu sama wanda, and you can teach her how the secretary works. Thanks in advance.
Nada kontan membelalak. Lipatan pada tangannya yang menggenggam bahkan sudah nyaris seputih pualam. Ingin sekali gadis itu meremukkan apapun di sini sekarang.
Mau tidak mau, Nada harus menemui Agam dan membereskan ini secepatnya. Nada akan meminta Agam untuk tidak berhubungan dengannya lagi. Nada akan mengembalikan uang 2 juta dari Agam yang barusan pria itu transfer. Nada benar-benar tidak ingin lagi berurusan dengan Agam!
Nada benci Agam!